Senin, 15 April 2013

Kostum Pengawas UN



Ujian Nasional kali ini berbeda dengan ujian nasional tahun-tahun sebelumnya bagiku. Beberapa kali  aku menjadi peserta, dan selebihnya hanya pendengar beritanya saja. Nah, sekarang giliran aku nih jadi pengawas. Tahun ini merupakan tahun pertamaku menjadi pengawas Ujian Nasional.
Ada hal menarik bagiku yang belum pernah aku temui. Selama aku menjadi peserta UN dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas, aku belum pernah mendapati pengawas ujianku mengenakan seragam yang aneh-aneh. Maksudku, mereka hanya mengenakan pakaian seragam harian yang biasa mereka kenakan pada saat mengajar.
Lalu apa yang berbeda dengan di sini?
Di sini, ketika guru menjadi pengawas ataupun panitia ujian, harus mengenakan seragam. Atasan warna putih, bawahan warna hitam, serta memakai dasi warna hitam. Bagi ibu guru, memakai dasi kupu-kupu. “Itu tradisi kami di Manggarai,” tambah kepala sekolahku ketika memberi pengarahan kepada anak buahnya yang akan dikirim menjadi pengawas silang.
Seketika itu juga, pikiran konyolku langsung melayang-layang. Terbayang olehku waitress genit yang mengenakan kemeja putih ketat, rok mini warna hitam, mengenakan dasi kupu-kupu, dikucir dua, trus pake bando kuping kelinci. Wuahahaaa… gag mungkin banget gue ngawas ujian pake kostum kek gitu….
Hus hush hus… Pikiran konyolku aku raibkan. Pikiranku pun segera tertuju pada rok hitam. Mampus, rok item gue kan bolong gara dimakan tikus. Oh, it’s a big no!
Rok hitam. Ya, rok hitam satu-satunya yang aku bawa berlubang karena kerakusan tikus yang numpang hidup di kontrakanku. Agar tetap bisa kupakai, dengan sedikit kreasiku, rok itu aku berhasil aku daur ulang. Sekarang, rok itu berubah menjadi agak sedikit unyu dan kurang formal jika aku kenakan untuk mengawasi ujian.
rokku setelah aku hias tampak depan

rokku bolong karena tikus


Tak kehabisan akal, aku langsung menghubungi teman-teman yang memungkinkan dapat member pinjaman rok hitam. Bisa saja sih aku beli rok hitam, tapi dalam waktu dekat ini sepertinya aku tidak pergi ke kota. Jadi, ambil amannya saja (lebih tepatnya, ambil iritnya saja :D) aku memutuskan untuk pinjam. Baik, masalah rok terselesaikan.
Sekarang giliran pikiranku pindah ke dasi kupu-kupu. Tentu saja dasi kupu-kupu tidak pernah masuk dalam daftar barang bawaan yang aku bawa dari Jawa, dan sekarang aku membutuhkannya.
Hmmm…. Mau pinjam rekan guru, ya pastinya mereka pakai untuk diri sendiri. Mau pinjam teman, mana mungkin pula mereka bawa dari Jawa, atau mungkin juga malah mereka juga mau pakai untuk mereka sendiri. Ahaaa! Ide cemerlangku muncul. Aku akan membuat dasi kupu-kupu. Aku kan kreatif. Hahahaaa…. Aku akan membuatnya dari kain flannel yang ibu paketkan beberapa bulan lalu. Dan inilah hasilnya. Taraaaaaa…..
Masalah selanjutnya yaitu sepatu. Sepatu oh sepatu… Hampir semua sepatuku sekarang berubah menjadi buruk rupa. Bagaimana tidak, keadaan halaman sekolah yang penuh lumpur, juga jalan berbatu memaksa sepatuku harus bekerja ekstra. Akibatnya keadaan mereka kini seperti ini. 
sepatu naas 1
 
sepatu naas 2














sepatu naas 3





 
Bisa saja sih aku beli sepatu, tapi kembali lagi bahwa dalam waktu dekat ini sepertinya aku tidak pergi ke kota. Jadi kuputar akalku sedemikian rupa dan memutuskan untuk mengelem hak sepatu naas 3 yang patah hingga akhirnya dapat kupakai kembali. 
Yupz, semua sudah beres. Kini aku tinggal mengenakan baju putih, rok hitam, dasi kupu-kupu, dan sepatu. Jeng jeng jeeeng…. 
eiiits jangan seperti ini !!!!!
Ganti! Ganti! Ganti!
Nah ini baru cakeeep...
       
        Saatnya beraksi menjadi pengawas UN. Anak-anak, kerjakan dengan jujur ya ^.^



 


SM-3T, Maju Bersama!
Senin, 15 April 2013