Selasa, 21 Februari 2012

Soal dan Jawaban Tugas Mata Kuliah Sastra Bandingan


1.        Apakah perbedaan makna “kesusastraan kreatif” (literature) dengan “kesusastraan ilmiah” (literary of . . .)? Terangkan dan masing-masing berilah contoh!
Jawab:
Perbedaan makna “kesusastraan kreatif” (literature) dengan “kesusastraan ilmiah” (literary of . . .) ialah terletak pada sifatnya. “Kesusastraan kreatif” (literature) bersifat kreatif dan merupakan hasil cipta pengarang. Sedangkan “kesusastraan ilmiah” (literary of . . .) bersifat ilmiah dan merupakan hasil penelitian sarjana atau peminat sastra.

2.        Ilmu sastra terdiri dari cabang-cabang ilmu sastra, yaitu; teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Apakah dasar pembagian tersebut?
Jawab:
Pembagian tersebut ialah berdasarkan pada sifat-sifat penting.

3.        Ilmu sastra juga terdiri dari cabang-cabang ilmu sastra, yaitu: sastra nasional, sastra bandingan, dan sastra umum. Apakah dasar pembagian itu?
Jawab:
Pembagian tersebut ialah berdasarkan pada wilayah penelitian.

4.        Sebutkan dua konsep pengertian dalam batasan (definisi) Sastra Bandingan, dan masing-masing berilah sebuah contoh!
Jawab:
Dua konsep pengertian dalam batasan (definisi) Sastra Bandingan ialah:
a.       Kajian bandingan secara sistemik sastra-sastra antar negara (tanpa batasan negara, antar bangsa) dan
b.      Kajian hubungan secara sistemik antara sastra dan seni atau ilmu lain atau kepercayaan, seperti seni musik, seni lukis, seni tari, falsafah, sejarah politik, ekonomi, sosiologi, psikologi, agama, dsb. (tanpa batas ilmu, interdisipliner)

5.        Kapan dan dimana disiplin sastra bandingan lahir? Sebutkan seorang pelopornya!
Jawab:
Disiplin sastra bandingan lahir di Perancis pada abad ke-18. Salah seorang pelopornya ialah Jean Marie Carre.

6.        Mengapa dan bagaimana timbulnya dua madzab (madzab Perancis dan madzab Amerika) dalam Sastra Bandingan? Terangkan menurut pengetahuan Saudara!
Jawab:
Timbulnya dua madzab (madzab Perancis dan madzab Amerika) dalam Sastra Bandingan karena mula-mula muncul disiplin sastra bandingan di Perancis pada abad ke-18. Kemudian pada abad ke-19 sampai sekarang berkembang dengan pesat di Amerika Serikat. Dari perkembangan inilah timbulnya dua mazhab dalam Sastra Bandingan.

7.        Novel “Uncle Tom’s Cabin” karya Henriette Stowe merupakan sastra nasional mana? Bagaimana novel tersebut dapat diangkat sebagai sastra dunia?
Jawab:
Novel “Uncle Tom’s Cabin” karya Henriette Stowe merupakan sastra nasional Amerika.
Novel tersebut dapat diangkat sebagai sastra dunia karena dapat mengangkat harkat dan derajat manusia. Novel tersebut mengisahkan tentang penderitaan kaum budak (bangsa Negro) di Amerika. Novel ini merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan dihapuskannya perbudakan di Amerika Serikat.

8.        Apakah yang disebut “pengaruh” dalam karya sastra? Terangkan, bila perlu berilah contoh!
Jawab:
“Pengaruh” dalam karya sastra ialah sesuatu yang merangsang seseorang berkarya. Karena sesungguhnya karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan.
Contoh: terciptanya karya sastra karangan HAMKA “Tenggelamnya Kapal van der Wick” dipengaruhi oleh “Majdulin” karangan Mustafa Luthfi al Manfaluthi.

9.        Apakah yang disebut pengaruh dalam sastra bandingan? Bagaimana berlakunya?
Jawab:
Pengaruh dalam sastra bandingan ialah kajian sastra dua buah negara yang persoalannya siapa mempengaruhi siapa, yang sering menjadi permasalahan ialah hubungan tema, sikap, dan teknik antara pengarang yang satu dengan pengarang lain, atau antara dua kumpulan karya yang berlainan etnik.

10.    Tunjukkan proses berlakunya pengaruh sampai lahirnya karya sastra baru (yang dipengaruhi)!
Jawab:
Seorang pengarang mendapat sumber penulisan apabila mendapat sesuatu yang baru dan menarik. Sumber ini perlu dikaji, mula-mula disusun melalui transmisi dan reorganisasi. Hasil terakhir, setelah digabung dengan permainan simbol dan bahasa, terjelmalah sebuah karya baru dengan cita rasa serta nilai yang baru pula.

11.    Kemukakan pendapat Haskel Block mengenai “pengaruh”! Tunjukkan pula persamaan Haskel Block dengan Rene Wellek.
Jawab:
Haskel Block melihat pengaruh sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pengarang, yaitu pada proses penciptaan yang dilakukannya.
Persamaan Haskel Block dengan Rene Wellek yaitu tentang pentingnya pengaruh bagi seorang pengarang.

12.    Kapan dan pengaruh kebudayaan manakah kesusastraan Jawa berkembang menjadi kesusastraan tulisan? Bila perlu berilah contoh!
Jawab:
Kesusastraan Jawa berkembang menjadi kesusastraan tulisan pada abad ke-7 dan mendapat pengaruh dari India, yakni aksara “Dewa Nagari”.

13.    Kapan dan dari kebudayaan manakah “aksara jawi” dalam kesusastraan Melayu? Sebutkan pula dua buah karya sastra yang disadur ke dalam kesusastraan Melayu!
Jawab:
“Aksara Jawi” dalam kesusastraan Melayu berkembang sekitar abad ke-7 dan pengaruh dari kebudayaan Arab. Dua buah karya sastra yang disadur ke dalam kesusastraan Melayu ialah Mahabarata dan Ramayana.

14.    Tunjukkan pengaruh Rabinranat Tagore terhadap pengarang-pengarang kita. Sebutkan karya sastranya yang berpengaruh baik dalam kesusastraan Barat maupun kesusastraan Timur! Mengapa dan kapan hal tersebut terjadi?
Jawab:
Rabinranat Tagore mempengaruhi pengarang-pengarang Indonesia sehingga mereka gemar menggunakan bentuk prosa liris. Karya sastranya yang berpengaruh baik dalam kesusastraan Barat maupun kesusastraan Timur ialah “Gitanjali” dan “Tukang Kebun”. Hal itu terjadi karena Rabinranat Tagore merupakan penyair Asia yang pertama mendapatkan hadiah Nobel untuk kesusastraan pada tahun 1913.

15.    Mengapa Sanusi Pane, penyair pujangga baru, mendapat gelar “Bapak Soneta Indonesia”? Sebutkan sebuah kumpulan puisinya!
Jawab:
Sanusi Pane, penyair pujangga baru, mendapat gelar “Bapak Soneta Indonesia” karena beliau mendapat pengaruh bentuk soneta dari sastra Belanda dan beliau melakukan transmisi serta reorganisasi sehingga tercipta soneta Indonesia.

16.    Sebutkan pengarang terkenal dalam “Sastra Melayu-Tionghoa” dengan sebuah karya sastranya yang terkenal pula! Ceritakan pula bagaimana karya sastranya itu tercipta dan bagaimana kemasyurannya!
Jawab:
Pengarang terkenal dalam “Sastra Melayu-Tionghoa” ialah Lie Kim Hok, dengan karya sastranya yang terkenal ialah “Syair Cerita Siti Akbari”. Karya sastra tersebut terbit pada tahun 1884 yang merupakan karya saduran dari “Syair Abdul Muluk”.

17.    Sebutkan nama pengarang “Senapati Pamungkas”, dan sebutkan pula bentuk karyanya, serta tunjukkan pengaruh manakah itu?
Jawab:
Pengarang “Senapati Pamungkas” ialah Arswendo dan S.H. Mintardjo, merupakan karya yang berbentuk cercil dan mendapat pengaruh kuat dari cara berkisah cercil Cina.

18.    Kemukakan bagaimana Chairil membawa pembaruan bahasa Indonesia, sehingga kemudian diberi gelar “Pelopor Angkatan 45”?
Jawab:
Chairil Anwar membawa pembaruan bahasa Indonesia dengan menterjemahkan. Dalam menterjemahkan, seorang pengarang menciptakan bahasa yang setepat-tepatnya untuk mengalihkan pengalaman unik yang ada dalam bahasa sumber, yang sangat mungkin tidak pernah dihayatinya. Paksaan semacam itulah yang telah menjadikan penyair tersebut terus menerus bersaha menajamkan kepekaannya dalam berbahasa. Hasilnya adalah Bahasa Indonesia yang baru, yang melewati orang-orang sezamannya, yang sampai sekarang pun masih kita rasakan.

19.    Sebutkan seorang penyair atau novelis kita yang membawa pembaharuan kesusastraan kita!
Jawab:
Seorang penyair atau novelis kita yang membawa pembaharuan kesusastraan kita adalah Chairil Anwar.

20.    Tunjukkan persamaan dan perbedaan antara novel “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” oleh HAMKA dan “Majdulin” oleh Lutfi al Manfaluti!
Jawab:
Persamaannya ialah terletak pada tema, alur, penokohan, dan sudut pandang. Keduanya sama-sama bertema kasih tak sampai, beralur tarik lurus, dan penokohan yang datar, serta sudut pandang orang ketiga.
Perbedaannya terletak pada latar: novel “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” berlatar Minangkabau, sedangkan “Majdulin” berlatar          Mesir.                         

21.    Apa yang dimaksud dengan “kaidah genetik”? Apa pengkajian genetik itu?
Jawab:
“Kaidah genetik” ialah salah satu aspek kajian sastra bandingan yang mengkaji tentang asal usul karya sastra.

22.    Apakah perbedaan “saduran/ adaptasi” dengan “peniruan/ imitasi”? “Jan Smees” karya J. van Maurik diindonesiakan oleh Merari Siregar menjadi “Cerita Si Djamin dan Si Djohan”. Karya sastra itu merupakan terjemahan atau saduran? Kemukakan jawaban saudara dengan alasan.
Jawab:
Saduran (adaptasi) ialah penulisan kembali suatu karya sastra dalam genre yang berbeda dengan genre pertama. Sedangkan peniruan (imitasi) ialah penulisan kembali suatu karya sastra tanpa melewati proses tansmisi dan reorganisasi.
“Jan Smees” karya J. van Maurik diindonesiakan oleh Merari Siregar menjadi “Cerita Si Djamin dan Si Djohan” merupakan karya saduran. karya sastra tersebut merupakan saduran karena “Cerita Si Djamin dan Si Djohan” masih mengekalkan tema dan alur pada karya “Jan Smees”, tetapi memindahkan unsur-unsur struktural lain (seperti tokoh dan penokohan, latar) kepada pewarnaan setempat (local colour), dalam hal ini ialah budaya bangsa Indonesia.

23.    Apa yang dimaksud dengan “terjemahan”? Apa pentingnya karya terjemahan, dan apa fungsi karya terjemahan bagi pembaca?
Jawab:
Terjemahan adalah pemindahan suatu karya sastra dalam suatu bahasa ke bahasa yang lain. Terjemahan merupakan suatu unsur yang dapat dikaji untuk mengungkap asal-usul sebuah karya. Bagi pembaca, karya terjemahan berfungsi sebagai panduan bagi pembaca dalam memilih bahan bacaan sastra terjemahan yang bermutu, serta sebagai panduan mengenai perbedaan atau kelemahan sebuah karya terjemahan dibandingkan dengan karya asalnya.

24.    Apa makna “plagiat”? Mengapa dan bagaimana “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” dianggap plagiat?
Jawab:
Plagiat (jiplakan) ialah pengambilan bahan karya sastra orang lain yang dikemukakan sebagai karya sendiri.
“Tenggelamnya Kapal van der Wijck” dianggap plagiat dengan menjiplak “Majdulin” karya Mustafa Luthfi al Manfaluthi.

25.    Mengapa dalam sejarah kesusastraan kita sering terjadi “heboh plagiat sastra”? Kemukakan apa yang Saudara ketahui!
Jawab:
Dalam sejarah kesusastraan kita sering terjadi “heboh plagiat sastra” karena pengertian plagiat itu subjektif, dan mungkin saja keliru dengan gejala pengaruh, saduran, atau tiruan. Mungkin saja terjadi kekeliruan atau salah tafsir terhadap unsur-unsur yang diperbincangkan.