Selasa, 21 Februari 2012

METODE, MODEL DAN TEKNIK PEMBELAJARAN MENULIS


METODE, MODEL DAN TEKNIK
PEMBELAJARAN MENULIS

A.    METODE
Metode pembelajaran menulis adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya aspek ketrampilan menulis.

1.      Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Keunggulan:
a.    Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
b.   Berpikir dan bertindak kreatif.
c.    Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
d.   Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
e.    Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
f.    Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
g.   Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan:
a.    Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
b.   Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

2. Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
a.    Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b.   Menyajikan materi sebagai pengantar.
c.    Guru menunjukkan/ memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
d.   Guru menunjuk/ memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
e.    Guru menanyakan alasan/ dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
f.    Dari alasan/ urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/ materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
g.   Kesimpulan/ rangkuman
Keunggulan:
a.     Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
b.   Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kelemahan:
a.    Memakan banyak waktu
b.   Banyak siswa yang pasif.

3.      Model Examples Non Examples
Examples non examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus/ gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
a.    Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b.   Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
c.    Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/ menganalisa gambar.
d.   Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
e.    Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
f.    Mulai dari komentar/ hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
g.   Kesimpulan.
Keunggulan:
a.    Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
b.   Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
c.    Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya
Kelemahan:
a.    Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
b.   Memakan waktu yang lama.

4.      Metode Langsung
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.



Langkah-langkah:
a.    Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi.
b.   Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

5.      Metode Sugesti-Imajinasi
Pada prinsipnya, metode sugesti-imajinasi adalah metode pembelajaran menulis dengan cara memberikan sugesti lewat lagu untuk merangsang imajinasi siswa. Dalam hal ini, lagu digunakan sebagai pencipta suasana sugestif, stimulus, dan sekaligus menjadi jembatan bagi siswa untuk membayangkan atau menciptakan gambaran dan kejadian berdasarkan tema lagu. Respons yang diharapkan muncul dari para siswa berupa kemampuan melihat gambaran-gambaran kejadian tersebut dengan imajinasi-imajinasi dan logika yang dimiliki lalu mengungkapkan kembali dengan menggunakan simbol-simbol verbal.
Langkah-langkah:
a.    Tahap perencanaan (prapembelajaran)
-   Penelaahan materi pembelajaran
-   Pemilihan lagu sebagai media pembelajaran
-   penyusunan ancangan pembelajaran.
b.   Tahap kedua (pelaksanaan)
- Pretes: untuk mengukur kemampuan atau pengetahuan yang dimiliki siswa
-  Penyampaian tujuan pembelajaran
- Apersepsi: menjelaskan hubungan antara materi yang telah diajarkan dengan materi yang akan diajarkan.
-  Penjelasan praktik pembelajaran dengan media lagu
-  Praktik pembelajaran
- Pascates: Siswa menulis sebuah karangan tanpa didahului dengan kegiatan mendengarkan lagu
c. Evaluasi
Keunggulan:
a.    Pemilihan lagu yang bersyair puitis membantu para siswa memperoleh model dalam pembelajaran kosakata
b.   Pemberian apersepsi tentang keterampilan mikrobahasa yang dilanjutkan dengan pembelajaran menulis menggunakan metode sugestiimajinasi dapat diserap dan dipahami dengan lebih baik oleh para siswa
c.    Sugesti yang diberikan melalui pemutaran lagu merangsang dan mengkondisikan siswa sedemikian rupa sehingga siswa dapat memberika respons spontan yang bersifat positif. Dalam hal ini, respons yang diharapkan muncul dari para siswa berupa kemampuan menggali pengalaman hidup atau mengingat kembali fakta-fakta yang pernah mereka temui, mengorganisasikannya, dan memberikan tanggapan berupa ide-ide atau konsep-konsep baru mengenai pengalaman atau fakta-fakta tertentu
d.   Peningkatan penguasaan kosakata, pemahaman konsep-konsep dan teknik menulis, serta imajinasi yang terbangun baik berkorelasi dengan peningkatan kemampuan siswa dalam membuat variasi kalimat.


Kelemahan:
a.    Penggunaan metode sugesti-imajinasi tidak cukup efektif bagi kelompok siswa dengan tingkat keterampilan menyimak yang rendah
b.   Metode ini sulit digunakan bila siswa cenderung pasif


B.  MODEL
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas.
1.      Model Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses
Model pembelajaran menulis dengan pendekatan proses meliputi lima tahap, yakni pramenulis, menulis draf, merevisi, menyunting, dan mempublikasi (Tomkins & Hoskisson, 1995).
a. Pramenulis adalah tahap persiapan untuk menulis. Adapun hal-hal yang dilakukan siswa dalam tahap ini adalah: 1) memilih topik, 2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca, dan 3) memperoleh dan menyusun ide-ide.
b.Tahap menulis draf, siswa diminta hanya mengekpresikan ide-ide mereka ke dalam tulisan kasar.
c. Tahap merevisi, siswa memperbaiki ide-ide mereka dalam karangan. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah: 1) membaca ulang seluruh draf, 2) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan dengan teman dalam kelompok,
d.                  Merevisi, mengubah tulisan dengan memperhatikan reaksi, komentar atau masukan dari teman atau guru.
e. Menyunting, mengadakan perubahan-perubahan aspek mekanik karangan. Siswa memperbaiki karangan mereka dengan memperbaiki ejaan atau kesalahan mekanik yang lain. Tujuannya adalah untuk membuat karangan lebih mudah dibaca orang lain. Adapun aspek-aspek mekanik yang diperbaiki adalah penggunaan huruf besar, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah dan kosakata serta format karangan.
f. Tahap publikasi, tahap akhir menulis, siswa mempublikasikan tulisan mereka dalam bentuk yang sesuai atau berbagi tulisan dengan pembaca yang telah ditentukan.

2.      Model Pembelajaran Menulis Imajinatif
Dalam proses pembelajaran menulis Imajinatif ini  siswa diajarkan menguasai kompetensi menulis/mengarang secara bebas sesuai imajinasinya sendiri-sendiri. Di sini siswa diberi kebebasan untuk menuangkan segala ide/gagasan, pendapat/opini, imajinasi atau daya khayal, dsb ke dalam bentuk tulisan/karangan.
Langkah-langkah:
a.    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
b.   Guru menjelaskan secara singkat cara membuat sebuah tulisan/karangan.
c.    Guru membagikan kertas kerja sejumlah siswa.
d.   Setiap siswa membuat tulisan/karangan dengan daya cipta dan kreasinya sendiri.
e.    Setelah selesai, guru menunjuk  salah satu siswa untuk menampilkan/membacakan hasil tulisannya/karangannya.
f.    Setiap satu siswa selesai langsung diberi aplaus. Siswa yang lain diberi kesempatan menyampaikan tanggapan, pendapat, kritik  atau saran atas karangan siswa tersebut.
g.   Guru menunjuk siswa lain atau menawarkan siswa lain yang menyatakan siap untuk membacakan karangannya.
h.   Demikian seterusnya sampai seluruh siswa tampil membacakan hasil karangannya.
i.     Evaluasi, meliputi isi karangan, kalimat, pilihan kata, penggunaan ejaan, tanda baca, dsb
j.     Kesimpulan.


C. TEKNIK
Teknik pembelajaran adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung.
Teknik pembelajaran menulis adalah cara mengajarkan (menyajikan atau memantapkan) bahan-bahan pelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya aspek ketrampilan menulis. Berikut ini beberapa teknik pembelajaran menulis:
1.   Teknik pancingan kata kunci
Salah satu upaya inovatif dalam mengemas pembelajaran menulis puisi adalah dengan aplikasi teknik pancingan kata kunci.
Langkah-langkah:
a.    Guru bertindak sebagai pemancing dengan menawarkan kata kunci
b.   Siswa mencermati kata kunci model
c.    Siswa mengembangkan kata kunci dalam baris
d.   Siswa mengembangkan kata kunci dalam bait
e.    Siswa dapat menulis puisi utuh
Keunggulan:
Siswa yang mulanya sulit untuk menemukan kata-kata yang cocok untuk dituangkan dalam puisi menjadi lebih terbantu, karena teknik ini melatih siswa dari satu kata kemudian bertahap menjadi baris kemudian bait, begitu seterusnya sampai menjadi puisi yang utuh.
Kelemahan:
Siswa yang merasa sudah bisa, akan cenderung dibatasi dalam pemilihan katanya. Jadi sebaiknya seorang guru dapat memahami kondisi siswa.

2.   Teknik 3M
Teknik 3M merupakan singkatan dari mengamati, meniru, dan menambahi. Teknik 3M ini sesungguhnya bukanlah hal yang sangat baru. Teknik ini terilhami dari apa yang diajarkan Mardjuki (dalam Harefa, 2002:31), seorang penulis kreatif yang cukup dikenal oleh para wartawan di Yogyakarta di tahun 80-an, kepada calon-calon penulis muda, yaitu dengan 3N-nya (niteni, norokke, nambahi). Teknik ini biasanya diterapkan dalam menulis teks berita.
Langkah-langkah:
a.    Mengamati diartikan sebagai kegiatan melihat dengan cermat dan teliti mengenai sebuah objek. Dalam kaitannya dengan pembelajaran menulis teks berita, siswa mengamati model teks berita yang dimuat dalam surat kabar atau yang disediakan guru. Hasil yang diharapkan dari kegiatan mengamati adalah pembelajar menemukan unsur-unsur berita dan pola-pola penulisan teks berita.
b.   Menirukan dalam konteks pembelajaran bukan diartikan sebagai kegiatan “menjiplak”. Hal yang harus ditiru bukan kata per kata, kalimat per kalimat tetapi unsur-unsur yang harus ada dalam teks berita dan pola-pola penulisan teks berita sehingga siswa dapat menulis teks berita dalam berbagai pola dan variasi.
c.    Menambahi merupakan wahana bagi siswa untuk memberikan warna khas terhadap tulisannya sehingga berbeda dengan objek tiruannya. Artinya, bila dalam objek tiruan ada unsur-unsur berita yang belum tertulis, siswa menambahi sehingga menjadi lebih lengkap unsur-unsur beritanya.
Keunggulan:
Mempermudah siswa untuk menguasai kompetensi menulis teks berita. Dengan langkah-langkah dari mengamati, menirukan, dan menambahi siswa diharapkan dapat menulis teks berita sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya.
Kelemahan:
Siswa cenderung menjiplak dari contoh yang sudah ada. Siswa menjadi terpatok untuk menulis hal yang sama, sehingga kemampuannya kurang berkembang.


3.   Teknik Field Trip
Field trip ialah teknik belajar mengajar anak didik dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar. Hal ini sangat sesuai untuk meningkatkan pembelajaran menulis deskripsi.
Langkah-langkah:
a.    Guru membuka interaksi dengan siswa untuk memperkenalkan rencana kegiatan dalam pembelajaran menulis deskripsi.
b.   Guru dan siswa menyepakati trip yang akan dikunjungi dan waktu yang dipilih untuk pemebelajaran menulis deskripsi.
c.    Siswa dan guru bersama-sama mengunjungi tempat yang dituju, contohnya museum.
d.   Guru membimbing siswa untuk segera menulis dan mendeskripsikan suatu objek yang telah dipilih.
e.    Guru merefleksi tulisan yang sudah ditulis oleh siswa.
Keunggulan:
a.    Meningkatnya kualitas pembelajaran menulis siswa, ditandai dengan timbulnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan menulis.
b.   Keaktifan siswa dalam pembelajaran meliputi aktif bertanya maupun memberikan tanggapan, aktif mengerjakan tugas serta menjawab pertanyaan guru.
c.    Memudahkan siswa untuk menuangkan ide-ide kedalam tulisan.
d.   Siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dilihatnya
e.    Siswa lebih nyaman dan senang ketika pembelajaran berlangsung.
Kelemahan:
a.    Membutuhkan waktu yang lama.
b.   Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
c.    Guru membutuhkan tenaga ekstra untuk dapat membimbing siswa satu per satu.

4.   Teknik pengandaian 180o berbeda
Teknik ini adalah teknik yang membantu siswa dalam menulis cerita khususnya narasi. Teknik ini dinamakan dengan pengandaian 180o karena cara yang digunakan adalah membalikkan tokoh cerita yang sudah ada atau lazim dimasyarakat. Misalnya cerita Malin Kundang yang menjadi tokoh jahat adalah Malin. Dengan teknik ini siswa  menulis dengan tokoh jahatnya adalah Ibu Malin.
Langkah-langkah:
a.    Mencatat yang terlintas, yaitu tuliskan sebanyak mungkin kata yang terlintas dalam pikiran setelah mendengar suatu kata. Misalnya, ketika dikatakan “sandal jepit”, tuliskan “alas kaki, murah, toilet, licin, santai, dsb”. Kegiatan ini adalah aktivitas pembuka untuk melepaskan sekat-sekat keraguan serta melatih kreativitas berpikir. Umumnya kendala menulis adalah (a) keraguan untuk memulai menulis, (b) keraguan untuk merangkai jalan cerita, dan (c) keraguan apakah tulisannya bagus atau tidak.
b.   Mendeskripsikan, yaitu memberikan gambaran tentang suatu objek, tempat, suasana, tokoh, penokohan, dsb. sehingga pembaca seolah-olah dapat merasakan, melihat, mendengar, mencium apa yang dideskripsikan penulis. Latihan pendeskripsian dilakukan dengan cara (a) mendeskripsikan sesuatu yang terlihat, (b) mendeskripsikan sesuatu yang terdengar, (4) mendeskripsikan sesuatu yang tercium, dan (d) mendeskripsikan sesuatu yang teraba. Latihan ini dilakukan satu per satu agar pendeskripsian dapat lebih terfokus dan mendalam (detail).
c.    Menggunakan pengandaian 180° berbeda. Latihan menulis cerita tidak harus dimulai dengan sesuatu yang baru. Latihan dapat dimulai dengan sesuatu yang sudah dikenal semua siswa. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki gambaran umum tentang apa yang akan dituliskan. Tapi, agar cerita tetap menarik, siswa diharuskan menulis cerita dengan karakteristik tokoh yang berbeda 180°. Misalnya, bila siswa hendak menuliskan kembali cerita “Si Kancil”, maka karakteristik Kancil yang biasanya lebih cerdik daripada Buaya, kali ini diubah 180° berbeda sehingga Buaya dibuat lebih cerdik.
d.   Menggunakan berbagai sudut pandang (point of view). Sudut pandang artinya dari pandangan mana peristiwa-peristiwa dalam cerita dipaparkan, apakah dari sudut pandang pengarang, tokoh A, atau tokoh B. Di dalam cerita yang utuh, sudut pandang selalu berubah. Oleh karena itu, perubahan sudut pandang merupakan bagian yang harus dilatihkan agar siswa dapat membuat cerita yang lebih variatif dan menarik. Pada cerita Si Kancil (dengan 180° berbeda), pertama-tama siswa diminta untuk menuliskan cerita dengan sudut pandang Si Kancil. Selanjutnya, siswa diminta untuk membuat cerita tersebut dengan sudut pandang Buaya.
Keunggulan:
a.    Siswa merasa termotivasi dengan menggunakan teknik yang berbeda dari biasanya dalam menulis,
b.   Suasana menulis lebih inovatif dan menyenangkan,
c.    Siswa dapat mengeksplor imajinasinya dalam menulis cerita.
Kelemahan: belum dapat ditemukan dalam penerapan teknik ini.

5.   Teknik kancing gemerincing
Teknik kancing gemerincing adalah teknik yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis dalam melengkapi cerita rumpang. Teknik ini menggunakan kancing sebagai alat perantara untuk membantu pembelajaran.
Langkah-langkah:
a.    Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4 orang.
b.   Cerita yang rumpang dibagikan kepada masing-masing siswa, kemudian siswa menelaah dan membaca teks tersebut dengan maksud mengetahui maksud cerita asalnya.
c.    Setiap siswa dalam kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama untuk memikirkan kalimat-kalimat yang tepat dan memadukan kalimat dengan kalimat sehingga cerita tersebut menjadi runtut.
d.   Kancing-kancing dalam kotak dibagikan pada siswa masing-masing mendapat dua buah kancing.
e.    Guru memberikan penjelasan teknik melengkapi cerita rumpang dengan berdiskusi menggunakan media kancing sebagai berikut:
ü Semua anggota kelompok harus mengemukakan pendapatnya yaitu kalimat yang tepat untuk melengkapi cerita rumpang sehingga cerita menjadi padu.
ü Jika salah satu teman sedang berbicara mengemukakan pendapatnya, maka siswa yang lain harus mendengarkan pendapat teman tersebut dan yang telah berbicara mengemukakan pendapatnya harus menyerahkan salah satu kancingnya dan meletakkannya di tengah-tengah kelompok.
ü Jika kancing yang dimiliki seorang siswa telah habis, dia tidak boleh berpendapat lagi sampai rekan-rekannya juga menghabiskan kancing mereka.
ü Jika kancing yang dimiliki oleh siswa dalam satu kelompok sudah habis, sedangkan tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesempatan untuk membagikan kancing lagi dan prosedur atau caranya diulangi lagi.
f.    Guru menugaskan siswa untuk melengkapi cerita rumpang dengan teknik kancing gemerincing yang telah dijelaskan.
g.   Siswa melengkapi cerita rumpang dengan bimbingan guru.
h.   Guru memberikan kesempatan untuk bertanya.
i.     Setelah siswa dalam kelompoknya menyelesaikan tugas melengkapi cerita rumpang, maka kelompok tersebut harus mengoreksi hasil tulisannya.
j.     Setelah semua kelompok mengoreksi, maka setiap kelompok mandapat kesempatan untuk memamerkan hasil kerja pada kelompok lain dengan teknik keliling kelompok.
k.   Setiap kelompok berkesempatan membaca hasil menulis cerita dari tiap-tiap kelompok, hal ini dimaksudkan agar dapat mengapresiasi hasil karya orang lain.
l.     Guru melakukan penilaian terhadap hasil menulis siswa dalam menulis melengkapi cerita rumpang dan menilai kelompok yang kerjanya bagus.
m. Diakhir kegiatan yaitu diskusi untuk memberi tanggapan terhadap hasil karya orang lain.
n.   Merefleksikan hasil kegiatan siswa
o.   Siswa bersama-sama guru membuat kesimpulan
Keunggulan:
a.    Suasana pembelajaran menulis lebih inovatif, sehingga siswa lebih tertarik untuk mau mengikuti pembelajaran.
b.   Memotivasi siswa bersaing dengan sehat.
Kelemahan:
Membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses pembelajaran.















Sumber Pustaka:
Haryadi. 2010. Model Pembelajaran. Semarang: Unnes
Rahim, Farida. 2007. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Sapani, Suardi, dkk. 1997. Teori Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.