Sabtu, 13 April 2013

Keturunan Manusia Purba yang Masih Bertahan


Senin yang cerah ini kami melakukan perjalanan ke Liang Bua. Dalam bahasa Manggarai, Liang Bua berarti gua yang sejuk. Liang Bua adalah sebuah gua di bukit batu kapur yang termasuk gua berukuran besar. Menurut pemandu, Om Cornelis Jaman, panjang gua ini sekitar 50 m, lebar sekitar 40 m, dan tinggi sekitar 25 m. 

Liang Bua terletak sekitar 25 km dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Untuk menuju kesana, ada angkutan umum yang beroperasi yaitu bemo dan otto truck. Namun berhubung jadwal angkutan umum tersebut tidak tentu, maka kami memutuskan untuk menuju kesana dengan menggunakan sepeda motor. Jalan menuju gua itu berkelok dan tanpa penunjuk arah. Ruas jalannya sempit, hanya bisa dilewati satu mobil saja. Selain itu juga banyak jalan berlubang. Maka berhati-hatilah saat menuju kesana.

  Liang Bua berada di kampung Rampasasa, desa Waemulu, Kecamatan Wae Ri’i. Situs ini berada tak jauh dari persawahan dan dikelilingi hutan. Tidak jauh dari situs ini terdapat museum kecil. Di museum tersebut, kita dapat memperoleh banyak informasi terkait dengan situs Liang Bua. 


Situs ini menjadi terkenal setelah ditemukannya fosil spesies manusia kerdil, yang kemudian dinamai Homo Florensiensis. Dari fosil yang ditemukan, menunjukkan bahwa spesies ini memiliki postur paling tinggi hanya sepinggang manusia modern.
Berbicara tentang manusia purba di zaman modern memang selalu menarik. Yang lebih menariknya lagi, di kampung sekitar Liang Bua kita dapat bertemu dengan para keturunan kerdil yang masih tersisa. Konon kabarnya, semua warga kampung tersebut berukuran mini. Namun akibat perkawinan silang, sekarang populasi manusia kerdil di kampung tersebut semakin berkurang. Pak Victor Darung namanya, salah seorang keturunan manusia kerdil yang berhasil kami temui. Berhubung saya tidak tinggi-tinggi amat, ya jadilah begini. malah terlihat seperti dua orang kerdil. Wkwkwk.



SM-3T, Maju Bersama!
Senin, 18 Maret 2013