Kamis, 28 Februari 2013

Hari Rabu yang Kacau


Rabu ini, 10 Oktober 2012 adalah hari yang diajadwalkan bagi kami untuk berangkat ke Manggarai. Sekitar pukul 07.30 kami harus berada di gedung auditorium Unnes guna mengikuti upacara pelepasan. Acara yang direncanakan dihadiri oleh Pak Menteri Pendidikan ternyata hanya bisa dihadiri oleh wakilnya. Salah satu mata acaranya yaitu “pemakaian jaket”, dengan lagu pengiring “Bagimu Negeri”..
Padamu negeri, kami berbakti
Oh, tak kuasa aku meneteskan air mata. Syair lagu tersebut menyadarkanku bahwa kami mempunyai janji tanggung jawab yang besar terhadadap negeri ini: berbakti dan mengabdi. Jaket kebanggaan SM-3T sudah terpakai, itu artinya kami secara resmi telah dilepas untuk melunasi janji kami: berbakti dan mengabdi kepada negeri.
Upacara pelepasan telah usai, Pak Wamen beserta rombongan telah meninggalkan auditorium ini. Namun peserta SM-3T dan mahasiswa yang hadir tidak bisa langsung pergi karena masih ada satu acara lagi yang harus kami ikuti, yaitu Seminar Kewirausahaan. “Pendidikan Karakter” adalah salah satu materi yang wajib diikuti oleh peserta SM-3T dengan pemateri Ayu Dyah Pasha. Nama itu sungguh menarik bagiku. Terbayang olehku seorang wanita cantik, artis yang biasa muncul di layar kaca, juga seorang wanita karir. Eits tapi tunggu dulu, ada yang lebih menarik perhatian bagi sejumlah peserta seminar. Seorang perempuan muda dengan tinggi tak jauh beda denganku, mengenakan gaun rok pendek, sangat seksi dan memamerkan paha mulusnya. Terang saja semua mata tertuju padanya. Yang lebih membuat kami bertanya-tanya, dia mengenakan jaket almamater Unnes. Oh oh siapa dia? Moderator seminar. Apa??? Seorang moderator acara seminar di lingkungan pendidikan tampil dengan dandanan seperti itu, rasa-rasanya sungguh tidak tepat.
Ah, acara macam apa ini. Tak tahukah panitia, banyak hal yang harus kami siapkan. Beberapa jam lagi kami harus berangkat. Banyak hal melintas di pikiranku. Aku belum menemui temanku, aku belum mengambil ijazah, aku belum pamitan ke kantor jurusan, aku belum mengaktifkan SMS Banking, aku belum perpisahan dengan anak-anak kos, aku belum membeli beberapa barang yang perlu aku bawa, aku juga belum selesai berbenah. Rasanya ingin berteriak. Aku belum begini, aku belum begitu.
Pembicara di depan tidak aku hiraukan. Apa yang dibicarakannya tidak aku dengarkan. Aku sibuk sendiri. Sibuk merencanakan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan sesusai acara ini. Ya ampun ini acara tidak penting sekali. Aku yakin dalam hati seluruh peserta SM-3T sudah sangat ingin meninggalkan ruangan ini.
Aku ke belakang dulu ah, menemui seseorang yang akan menyampaikan seseuatu, titipan dari sahabat karibku. Aku mendapat sebuah bingkisan, entah isinya apa, nanti kubuka di kos saja. Aku kembali ke tempat dudukku. Bingkisan itu aku letakkan di bawah kursi yang ada di depanku. Aku kembali mendengar pemateri; hanya mendengar, tidak mendengarkankan. Pikiranku tertuju pada bingkisan yang aku terima. Rasa penasaran mengajakku untuk membuka bingkisan itu. Ahaaa… Aku mendapatkan sebuah kompas. Terima kasih kawan. Aku yakin akan sangat berguna.
Tik tok tik tok… Kembali mendengar perempuan itu berceramah. Sangat buang-buang waktu. Aku memikirkan hal apa lagi yang bisa aku kerjakan. Aku lantas mengajak temanku –yang belum wisuda- untuk mengambil ijazah. Baiklah kawan, mari kita mengambil kenang-kenangan kuliah 8 semester kita.
 Senang sekali ijazah sudah di tangan. Tak apa tak ikut wisuda, aku sudah rela.
Kembali ke auditorium, kembali dengan kebosanan, dan kembali dengan kegalauan. Ayolah, cepatlah selesai, cepatlah pukul 12. Akhirnya selesai juga. Bergegas keluar, berkumpul, pembagian kartu identitas, dan mengisi kuisioner. Boleh pulang tidak ini? Menunggu beberapa saat hingga akhirnya boleh pulang.
Setelah pulang kos, aku menuju ke kantor jurusan. Berharap dapat berjumpa dengan teman-teman sebelum aku berangkat, juga berpamitan dengan dosen-dosenku. Kantong semangat semakin penuh. Ya!
Tujuan selanjutnya mengaktifkan SMS Banking di kantor BNI. Mengambil nomor antrian, masih 7 antrian lagi. Oh tidak, teller B biasanya betah berlama-lama melayani pelanggan. Aku memutuskan meninggalkan bank sebentar, untuk kemas-kemas barang. Setelah itu aku kembali ke bank. Masih tiga antrian lagi. Huh… Harusnya tadi aku lebih lama meninggalkan bank. Tapi taka pa, setidaknya tadi aku suudah menghemat waktu. Ayo ayo, kurang setengah jam lagi aku harus berkumpul di depan auditorium, sementara nomor antrianku belum juga dipanggil.
Akhirnya tiba giliranku. Untung sang teller mengerti akan kebutuhanku. Aku butuh cepat, teller bekerja cepat. Terima kasih mbak atas pelayanan yang prima.
Setelah meniggalkan kantor BNI, langsung pergi ke toserba untuk membeli beberapa barang yang sempat terlupa. Kemudian menuju kos. Aku harus berpamitan sekaligus menyampaikan kenang-kenangan kepada mereka. Dua puluh lima kamar aku datangi satu per satu. Alamaaak… Banyak benar penghuni kosku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.15. Beberapa SMS berdatangan menginstruksikan untuk segera menuju halaman auditorium tempat bus menunggu kami yang akan berangkat ke Manggarai.
Bapak, ibu, dan adik tidak bisa mengantar keberangkatanku. Ada senangnya, ada sedihnya. Senangnya, pasti tak akan banyak air mata. Sedihnya, tak bertemu mereka. Untung ada pacarku yang setia mengantarku kesana kemari selama persiapan dan saat pemberangkatan. Di halaman auditorium, pakdhe dan budhe sudah menungguku di sana. Kami berbincang-bincang sambil menunggu bus berangkat. Saat-saat yang “tidak diinginkan” pun tiba. Aku harus masuk bus. Tanpa sadar air mataku menetes. Aku pikir tak akan ada tangis, namun apa daya aku tak kuasa menahannya. Sampai jumpa ayahku, sampai jumpa ibuku, sampai jumpa adikku, sampai jumpa pacarku, sampai jumpa teman-temanku, sampai jumpa Unnesku, satu tahun lagi aku pasti kembali.
SM-3T, Maju Bersama!