Kamis, 28 Februari 2013

SM-3T: Ya atau Tidak!


Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) merupakan program yang digalakkan pemerintah dalam upaya pemerataan pemerolehan pendidikan. Selama satu tahun mengabdi di luar Jawa, peserta SM-3T harus meninggalkan keluarga, pacar, dan teman-teman. Oh tidak, saat itu saya sangat galau pemirsa!
         Antara ikut dan tidak. Sebenarnya program ini sudah aku nantikan saat aku masih mahasiswa. Dengan program ini, tentunya pengalaman yang amat luar biasa akan aku dapatkan.
         Saya bimbang, antara ya atau tidak. Hal utama yang membuat saya berat untuk mengikuti program ini bukan karena saya harus jauh dari tanah Jawa, namun karena saya harus merelakan tidak mengikuti prosesi wisuda. Bagaimana tidak, upacara wisuda yang sangat dinanti-nantikan selama 8 semester kuliah harus saya tinggalkan. Perayaan kelulusan harus saya lewatkan. Sungguh berat memutuskannya.
         Ditambah lagi bisnis kain flenel yang sudah saya rintis harus saya mulai dari awal lagi ketika saya kembali dari tanah pengabdian nanti. Kerja sama diantara pelanggan, reseller, dan relasi yang sudah dibangun sedikit demi sedikit, harus rela digugurkan. Ah, bimbangnya.
         Ayo Citra, bukankah kamu sudah menunggu kesempatan ini? Ya, pendaftaran SM-3T 2012 gelombang I sudah ditutup ketika aku belum menyelesaikan studiku. Gerbang emas pendaftaran SM-3T 2012 dibuka kembali di gelombang II, janganlah kamu sia-siakan!
         Hari lebaran aku gunakan untuk bersilaturahmi, juga untukmeminta pendapat akan hal ini. Hampir semua keluargaku member dukungan positif. Ada kata-kata dari pakdhe yang membuatku sangat yakin untuk mengikuti program ini. “Jika berniat baik, insyaallah akan diberikan yang terbaik.
         Baiklah, malam harinya aku memutuskan untuk mengikuti program ini, semangat mengabdi di pelosok negeri. Aku buka lamannya dan mengikuti semua alur pendaftarannya.
         Astaga, salah satu syarat mendaftar adalah harus mengunggah scan-an ijazah atau SKL (bagi lulusan 2012). Oh tidak, aku belum punya SKL. Sekarang tanggal 21, pendaftaran ditutup tanggal 26 Agustus, kantor baru aktif tanggal 22 Agustus karena libur hari raya Idul Fitri, sedangkan tanggal 25 dan 26 libur akhir pekan.
         Aku harus bergegas ke Semarang untuk mengurus penerbitan SKL. Ini hari ketiga lebaran, aku masih ingin bersua dengan keluarga, dan aku pun masih ingin menikmati jajanan khas lebaran. Rencana-rencana kegiatan lebaran sudah tersusun rapi, mendadak jadi kacau gara-gara aku harus ke kampus. Niatku sudah bulat, keesokan harinya aku langsung berangkat ke Semarang.
        Arus lalu lintas di musim lebaran padat sekali. Aku berangkat menggunakan bus karena motorku aku tinggalkan di kos. Aku menanti bus berjam-jam. Semua bus yang lewat penuh penumpang sehingga tak bisa mengangkutku. Aku lelah dan ingin menyerah, namun ketia aku melihat ayah yang mengantarku di perempatan itu, semangatku muncul kembali. Hingga pada akhirnya aku mendapatkan bus yang bisa mengangkutku, meski penuh sesak dan harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

        Sesampainya di kos, aku memutuskan untuk tidur di kos teman. Di hari ketiga lebaran, memang kos dengan penghuni hampir 50 anak sangat sepi, palingan hanya ada anak-anak Medan yang tidak pulang kampung. Memasuki tengah malam dan pergantian hari, banyak SMS masuk teman-teman, juga ada telepon dari pacarku. Dia orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ya ampun, aku hampir lupa bahwa ini hari ulang tahunku. Keesokan paginya ayah, ibu, dan adik meneleponku. Oh, so sweet… Terima kasih semuanya.
        Aku harus cepat ke kampus untuk mengumpulkan tanda tangan sebagai syarat penerbitan SKL. Kampus begitu sepi, tak seperti biasa banyak terdengar canda tawa para mahasiswa. Sebagian besar sivitas akademika masih menikmati lontong opor mereka.
        Pertama, aku harus menemui sekjur. , aku harus menemui sekjur. Yapz, tanda tangan beliau langsung aku dapatkan. Selanjutnya kajur. O wow… Dimanakah beliau? Oh tidak, beliau hadir tadi pagi, kabarnya sekarang sedang menyervis kendaraannya. Aku memutuskan menunggu dalam kegelisahan. Bisakah SKL aku dapatkan besok? Tik tok tik tok… Beliau tak kunjung hadir, aku memutuskan untuk meneleponnya. Dari percakapan, kami akan bertemu besok pagi. Ah, tau begitu, harusnya aku ke Semarang besok saja, harusnya hari ini aku masih bersua dengan keluarga, harusnya aku masih menikmati jajanan khas lebaran. Hah… Sudahlah.
        Keesokan harinya aku pergi ke kampus pagi-pagi. Tak perlu menunggu lama, pak Kajur tiba. Kupersilakan mas-mas yang datang lebih awal yang juga ingin bertemu dengan pak kajur, entah untuk keperluan apa. Tiba giliranku, langsung saja aku masuk ruangan beliau dan menyampaikan keperluanku. Aku ceritakan keperluanku membuat SKL untuk mendaftar SM-3T. Segenap doa dan dukungan aku dapatkan. Jadi bertambahlah semangatku.
        Dengan penuh girang aku segera menuju dekanat untuk mendapatkan tanda tangan pak Dekan. Aku langsung menuju ke lantai II, dimana ruang dekan berada. Tapi kecewa aku dapatkan, tak ada seorangpun di ruang itu, pun asisten beliau. Lantas aku ke lantai I, dari pak satpam aku dapatkan info bahwa pak dekan sedang di kampus pascasarjana karena akan menguji tesis. Apa? Aku tersentak lemas. Apakah harus menusul beliau ke kampus pascasarjana? Aku duduk dengan pasrah di ruang tengah dekanat, haruskah aku menunggu beliau disini, atau haruskah menusul beliau ke kampus pascasarjana? Aku masih duduk, hanya melamun. Jika aku ke kampus pascasarjana, belum tentu bisa langsung bertemu beliau karena beliau sedang menguji tesis. Jika aku menunggu disini, belum tentu beliau akan kembali, bisa saja beliau langsung pulang ke rumah. Aaargh… Apakah SKL bisa aku dapatkan hari ini? Jika tidak kudapatkan, pupus sudah kesempatanku ikut SM-3T tahun ini. Itu artinya sia-sia aku ke Semarang, sia-sia pula aku meninggalkan perayaan lebaranku bersama keluarga.
        Di tengah kegalauan, terlihat beberapa dosen dan pejabat jurusan keluar dari ruang rapat. Kuamati mereka satu persatu, berharap ada orang yang kucari diantara kerumunan itu. Yaps, mataku berhasil membidik pak Agus Nuryatin, pak dekan yang aku tunggu-tunggu. Tak perlu piker panjang, aku bergegas menghampiri beliau. Beliau sangat mendukung niatanku untuk mengikuti program SM-3T. Asiiik, kantong semangatku semakin besar.
        Ini hari Jumat, sekarang pukul 11.30 WIB. Sebentar lagi waktu istirahat bagi pegawai dekanat. Aku menyodorkan kertas yang berisi tanda tangan- tanda tangan yang berhasil aku kumpulkan kepada petugas pembuat SKL. Pak, apakah SKL saya bisa jadi hari ini? Kira-kira jadi jam berapa? Pak, tolong ya, hari ini harus jadi. Pak, SKL ini Akan saya gunakan untuk mendaftar SM-3T. Aku terus merengek memohon. Lalu aku dapatkan jawaban: bisa diambil nanti siang seusai istirahat, kira-kira pukul 13.00. Yes!
Seperti yang telah dijanjikan, kira-kira pukul 13.00 aku ke dekanat. SKL pun aku dapatkan. Tak lupa aku berterima kasih dan memohon dukungan serta doa dari bapak itu.
        Sepulang dari dekanat, aku langsung melanjutkan proses pendaftaran yang sempat terhenti karena SKL. Sip, formulir pendaftaran telah terisi lengkap. Leganya aku. Tinggal menunggu pengumuman seleksi admisnistrasi.

Alhamdulillah lolos. Aku harus mengikuti tes selanjutnya, yaitu tes online. Tes ini terdiri atas tiga tes, yaitu tes potensi akademik, tes keterampilan dasar, dan tes keprodian. Aku sedikit banyak belajar tipe-tipe tes CPNS dan membuka-buka kembali modul kuliah.
Tes online bisa aku lalui dengan lancar, tidak sesulit yang aku bayangkan. Tidak perlu menunggu lama, pengumuman muncul beberapa jam lebih awal dari yang telah dijadwalkan.

Tahap selanjutnya aku harus mengikuti tes wawancara. Bingung apa saja yang harus aku pelajari untuk tes ini, yang jelas aku sudah menyiapkan berkas berkas persyaratan yang harus dibawa.
Saatnya menunggu pengumuman hasil tes wawancara. Entah kenapa, menunggu pengumuman tes kali ini lebih menegangkan ketimbang menunggu pengumuman tahap-tahap sebelumnya. Pengumuman tak kunjung keluar. Aku begadang sampai tengah malam di ruang TV ditemani ayah dan ibu. Ayolah pengumuman, lekaslah muncul. Dag dig dug. Sangat mengantuk, namun tak berhasrat untuk tidur. Dan setelah berhasil membuat galau seluruh calon peserta SM-3T seantero nusantara, akhirnya….

Meski masih ada tahap-tahap tes selanjutnya, namun sejak saat ini bisa aku katakan, SM-3T: Ya!
SM-3T, Maju Bersama!