Sabtu, 21 April 2012

STRUKTURALISME


STRUKTURALISME

A.    Lahirnya Strukturalisme
Strukturalimse lahir dari pergeseran wacana tentang masyarakat dan pengetahuan. Jadi, pada awalnya strukturalisme adalah sebuah gerakan intelektual yang mendasarkan diri pada usaha untuk memahami masyarakat sebagai sistem realitas yang menyeluruh yang ditekankan pada bangunan intelektualnya (Lechte dalam Elmubarok, 2009:55).
Strukturalisme secara etimologis berasal dari kata structura, bahasa latin, yang berarti bentuk atau bangunan. Pada perkembangan selanjutnya menganggap jabaran umum strukturalisme sebagai sebuah gerakan intelektual yang mengisolasikan struktur umum aktivitas manusia. Strukturalisme menjadi disiplin yang terus berkembang dan meliputi berbagai bidang, termasuk sastra, linguistik, anthropologi, sejarah, sosio-ekonomi dan psikologi. Strukturalisme sastra bersinggungan dengan ranah teks sastra.
Strukturalisme Saussurean mengenalkan sebuah pengertian tentang struktur Saussure menitikberatkan praktek-praktek  material adalah car ditemukannya makna struktur yang sebenarnya. Konsep dasar Saussure menjelaskan bahwa bahasa (langue) adalah perbedaan dimana sistem sendiri adalah produk perbedaan tersebut.bahasa hanya bisa bermakna ketika dipahami melalui sistem-sistem bahasa dalam suatu konfigurasi linguistik atau totalitas perubahan sistem-sistemnya. Untuk mendapatkan totalitas tersebut harus dilakukan pendekatan bahasa dengan perspektif sinkronis. Di mana suatu fenomena tekstual hanya bisa ditemukan melalui pendekatan kekiniannya (sinkronis) ketimbang perkembangan historisna (diakronis).

B.     Strukturalisme Levi-Strauss
1.      Levi-Strauss, Bahasa dan Kebudayaan
Dalam memandang suatu kebudayaan pada suatu suku bangsa, Levi-Strauss memilih menggunakan model-model pendekatan linguistik. Ia memandang bahasa dan kebudayaan bukan menganggap ada hubungan kausalitas antara dua fenomena tersebut. Namun, hal tersebut dianggap sebagai hasil dari aneka aktifitas yang pada dasarnya mirip atau sama, yaitu keduanya merupakan produk atau hasil dari aktifitas nalar manusia.
            Di samping itu, secara implisit Levi-Strauss menganggap teks naratif seperti mitos-mitos dalam masyarakat sejajar dengan kalimat karena di antara ciri keduanya terdapat kemiripan : (a) Teks dapat mewujudkan dan mengekspresikan pikiran seorang pengarang seperti kalimat. (b) Teks dapat diartikulasikan dari bagian-bagian seperti halnya kalimat. Kalimat dapat diartikulasikan oleh kata-kata yang membentuk kalimat tersebut dari sebuah teks adalah kumpulan bagian-bagian yang membentuk suatu cerita.

2.      Levi-Strauss dan Linguistik Struktural
            Ketika berbicara tentang strukturalisme, apalagi strukturalisme Levi-Strauss, kita tidak bisa melepaskan peran tiga tokoh linguistik besar, Ferdinand de Saussure, Roman Jakobson, dan Nikolai Troubetzkoy.
            Ada lima pandangan Ferdinand de Saussure yang kemudian menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang (a) penanda dan petanda, (b) bentuk dan isi, (c) langue dan parole, (d) sinkronik dan diakronik, serta (e) sintagmatik dan paradigmatik.
            Tanda merupakan satuan dasar bahasa yang tersusun dari dua relata yang tidak terpisahkan, yaitu citra bunyi (image accoustique) sebagai unsur penanda (signifiant) dan konsep sebagai petanda (signifient).
            Penanda atau acuan keberadaannya tidak bersifat fisik, melainkan bisa saja berupa buah pikiran tertentu, suatu sosok di alam mimpi, atau mungkin makhluk khayali. Apabila acuan adalah suatu objek yang ditunjuk oleh tanda, maka petanda adalah semata-mata sebuah representasi mental dari apa yang diacu tersebut (Barthes, 1971:42-44; Saussure, 1966:66-67; Budiman 2004:47 dalam Elmubarok 2009: 60). Kedua elemen tanda ini sungguh-sungguh menyatu dan saling bergantung satu sama lain. Penanda dan petanda dapat dibedakan, tetapi pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Tiada petanda tanpa penanda dan begitu juga sebaliknya. Kombinasi dari konsep dan citra bunyi inilah yang kemudian menghasilkan tanda.

a.      Bentuk (Forme) dan Isi (Content)
Forme atau bentuk dan isi atau content oleh Gleason (dalam Elmubarok, 2009:61) diistilahkan dengan exdpression dan content.baginya bentuk dan isidianggap berwujud bunyi dan idea. Namun bagi Saussure membandingkan formed an content dengan permainan catur, yaitu papan dan biji dianggap tidak terlalu penting. Dalam permainan yang penting yaitu fungsinya yang dibatasi dan keberadaan aturan permainannya. Sedang Ahimsa-Putra (dalam Elmubarok 2009:61) membedakan antara formed dan content dengan memberikan contoh kereta api. Aktifitas kereta api contohnya ketika hari senin menaiki kereta A dari Bandung ke Jakarta lalu pada hari selasa kita menaiki kereta A dari Jakarta ke Bandung. Dua aktifitas itu bisa dikatakan menaiki kereta yang sama, namun boleh jadi lokomotif dan gerbongnya berbeda. Begitu pula halnya dengan kata-kata. Setiap kata mempunyai makna yang berbeda pada setiap penggunya. Walaupun demikian kata tersebut tetaplah satu atau sama.
b.      Bahasa (Langue) dan Ujaran atau Tuturan (Parole)
Langue adalah bahasa sebagai objek social yang murni dan keberadaanya terletak diluar individu. Bahasa merupakan seperangkat konvensi sistematik yang berperan pentiung dalam komunikasi, yang merupakan institusi social yang otonom yang tidak terikat pada tanda-tandabahasa juga merupakan system social. Sebagai system social bahasa tersusun sejumlah elemen yang sekaligus merupakan ekuevalen dari kuantitas benda-benda. Dapat dianalogikan sebagai mata uang logam. Selain bernilai sejumlah barang tertentu disisi lain uang tersebut memiliki nilai dengan mata uang logam lainnya.(Barthes. 1971:14; Budiman, 2004: 39; Saussure 1961:114 dalam Elmubarok 2009: 62).
Sedang parole merupakan bagian bahasa yang sepenuhnya individu. parole  dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan penutur mampu menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya.

c.       Sinkronik dan Diakronik
Istilah ini berasal dari Yunani dengan awalan sin- dan dia- masing-masing berarti bersama dan melalui. Bagi Saussure, linguisitik harus memperhatikan sinkronik sebelum diakronik. Lingusitik sinkronik mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan waktu. Dalam hal ini yang menjadi perhatian yaitu bahasa Majapahit, bahasa  Jawa pada msa kerajaan Demak dan lain-lain. Studi sinkronik lebih bersifat horisontal, yang lebih tertuju pada pada satu bahasa pada suatu periode.
Linguistik diakronik subdisiplin ilmu linguistik yang menyelidiki suatu perkembangan suatu bahasa dari waktu ke waktu (Sobur dalam Elmubarok, 2009:63). Bahasa dapat dipandang dari dua sudut pandang, yaitu bahasa sebagai system yang berfungsi pda sat tertentu dan sekaligus dapat menyoroti perkembangannya.
d.      Sintagmatik dan Paradigmatik
Relasi-relasi sintagma sering disebut sebagai relasi linier karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangkaian tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu. Sedang dalam relasi paradigmatik setiap tanda berada dalam kodenya sebagaiu bagian dari suatu paradigma. Keterkaitan tersebut bisa saja didasarkan atas kesamaan dan juga perbedaan sebelum tanda-tanda muncul dalam tuturan. Dengan kata lain kata-kata tertentu secara potensial saling berasosiasi di dalam rangkaian memori, di dalam benak, sebagai bagian dari gudang batiniah yang membentuk bahasa masing-masing penutur.

3. Roman Jakobson dan Fonem
            Jika Saussure lebih banyak mempengaruhi Levi-Strauss tentang hakikatdari cirri-ciri fenomena budaya, maka Jakobson dengan linguistic strukturalnya lebih memberikan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami dan menangkap tatanan yang berada di balik tatanan budaya yang begitu variatif . Pandangan Jakobson yang menganggap fonem sebagai satuan bunyi yang terkecil dan membedakan makna, yang tak dapat bervariasi tanpa mengubah kata di mana fonem tersebut berada atau dengan kata lain fonem adalah unsure terkecil yang membedakan makna. Fariasi fonemis dalam ajaran Jakobson dianggap penting perbedaan fonem tersebut lebih Nampak jika kita tempatkan dalam konteks yang lebih luas yaitu fonem-fonem yang sama relasinya dengan fonem yang lain pada system bahasa tertentu. Langkah-langkah analisis structural yang dilakukan oleh Jakobson atas fonem antara lain :
a.       Mencari distinctive features (cirri pembeda) yang membedakan tanda-tanda kebehasaan satu dengan yang lainnya.
b.      Memberikan cirri menurut features tersebut pada masing-masing istilah.
c.       Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah –istilah kebahsaan mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainnya.
d.      Menentukan tanda-tanda yang penting secara paradigmatic.

4. Nikolai Troubetzkoy dan Analisis Struktural
Nikolai Troubetzkoy merupakan seorang ahli fonologi dari Rusia. Kajian fonem dalam pandangannya adalah suatu konsep linguistik dan bukan konsep psikologis, artinya ide tersebut berasal dari ahli bahasa dan bukan diambil dari pemakai bahasa karena fonem tersebut tidak diketahui oleh mereka.
Berkenaan dengan fenomena kebahasaan, Levis Strauss mengutip bahwa Troubetzkoy mengatakan bahwa analisis struktural dalam fonologi memerlukan: (1) Beralih dari tataran yang disadari ke nirsadar; (2) Memperhatikan relasi-relasi antaristilah atau antarfonem tersebut dan menjadikan dasar analisisnya; (3) Memperhatikan sistem-sistem fonemis, dan (4) Merumuskan hukum gejala bahasa yang mereka teliti.

C. Makna, Struktur, dan Transformasi Levi-Strauss
Struktur adalah suatu model yang dikembangkan oleh antropologi untuk memahami dan menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya dan tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri. Struktur dibedakan atas dua bagian, yaitu struktur luar dan struktur dalam. Struktur luar dalah relasi-relasi antar unsur yang dapat kita buat atau bangun berdasarkan ciri-ciri luar atau ciri-ciri empiris dan relasi-relasi tersebut. Sedangkan struktur dalam adalah sususnan tertentu yang dibuat berdasarkan struktur lahir yang berahasil dibuat namun tidak selalu tampak pada sisi empiris dari fenomena yang kita pelajari.
Jika struktur dianggap sebagai jalan untuk memahami fenomena budaya, maka transformasi dalam pengertian Levi-Strauss adalah alih rupa yang mengandung makna transformasi hanya perubahan yang terjadi di permukaan saja, sedangkan pada tataran yang lebih dalam lagi tidak terjadi perubahan (Elmubarok, 2009:68).
Selain transformasi pada bahasa, transformasi yang paling dekat dengan antropologi struktural adalah pada musik. Dari musik yang didengar dapat ditulis dalam bentuk not-not. Dari not-not itu pemusik memainkan musik yang tidak lain adalah menerjemahkan musik tersebut kemudian lahir suara-suara yang didengar dan direkam , itulah yang disebut dengan tranformasi.
Dalam pandanganLevi-Strauss  struktur kebudayaan dianggap seperti transformasi dari struktur-struktur tertentu atau bisa sebaliknya. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam meneliti kebudayaan dapat mengikuti urutan-urutan tranformasi sebagai satu kesatuan, untuk menentukan struktur dari fenomena yang diteliti.

a.      Levi-Strauss dan Beberapa Asumsi Dasar
Beberapa asumsi dasar yang dianut oleh Levi-Strauss yang berbeda dengan para ahli antropologilainnya, yaitu:
1.      Strukturalisme beranggapan bahwa berbagai aktivitas sosial dan hasilnya seperti upacara-upacara, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal dan sebagainya dapat dikatakan seperti bahasa (Lane dalam Elmubarok  2009:69) yang menerapkan tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu.
2.      Pada diri manusia terdapat suatu kemampuan dasar untuk menyusun struktur pada gejala-gejala yang dihadapinya. Dengan kemampuan dasar itu manusia dapat melihat struktur di balik berbagai macam gejala atau fenomena kebudayaan. Struktur tersebut dibedakan atas dua bentuk, yaitu struktur luar dan struktur dalam. Jika struktur luar dapat disadari oleh pelakunya, sedangkan struktur dalam tidak disadari oleh pelakunya atu disebut dengan nirsadar.
3.      Suatu istilah ditentukan maknanya berdasarkan relasi-relasi pada titik waktu tertentu secara sinkronis. Jika dalam menjelaskan suatu gejala sosial, strukturalisme tidak mengacu pada sebab-sebab yang merupakan hubungan relasi diakronis, tetapi mengacu pada relasi sinkronis yaitu berupa hukum-hukum transformasi. Transformasi yang dimaksudkan bukan perubahan yang berkonotasi historis tetapi suatu proses olah-rupa.
4.      Relasi-relasi pada struktur dapat disederhanakan menjadi oposisi berpasangan yang terdiri atas dua bentuk. Pertama, oposisi binear yang bersifat eksklusif, misalnya oposisi antara ‘p’ dan-p’ atau menikah dan tidak menikah. Kedua adalah oposisi binear yang tidak bersifat eksklufif yang ditemukan dalam berbagai kebudayaan, misalnya oposisi antara air-api, siang-malam, matahari-rembulan, dan sebagainya.

3. Levi-Strauss dan Mitos
a.      Mitos dan Nalar Manusia
Prinsip dasar manusia bisa diketahui melalui nalar manusia. Jika prinsip nalar itu dicari pada kalangan orang Barat, maka bukan orang-orang yang sudah modern, tetapi pada orang-orang yang masih primitif yang belum terkontaminasi oleh modernitas. Orang-orang sepeti ini ditemukan di belantara hutan Amerika Selatan. Berbagai fenomena budaya muncul sebagai perwujudan nalar, tetapi tidak semua fenomena  dapat dianalisis dengan cara tertentu untuk dapat menemukan strukturnya, maka yang sesuai adalah mitos.
Mitos dalam pandangan Levi-Strauss tidak beda dengan sejarah atau kenyataan, karena sesuatu yang oleh masyarakat tertentu dianggap benar-benar terjadi sesuai kenyataan, sebenarnya hanya dongeng yang tidak masuk akal. Dengan demikian mitos menutut Levi-Struss adalah dongeng.
Dongeng sebagai mitos dalam konteks Levi-strauss mengandung pengertian sebuah cerita yang lahir dari imajinasi manusia berupa cermin dari kehidupan sehari-hari. Karena bersifat imajinatif, maka dongeng merupakan ekspresi bebas manusia sehingga yang terjadi adalah cerita yang tidak masuk akal.

b.      Mitos dan Bahasa
Levi-Strauss menganalisis mitos dengan menggunakan model-model dari linguistik didasarkan terutama pada persamaan-persamaan yang tampak antara mitos dan bahasa. Persamaan bahasa dan mitos yang dilihat oleh Levi-Strauss adalah:
1.      Bahasa adalah sebuah media, alat atau sarana untuk komunikasi, untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.
2.      Mengikuti pandangan Saussure bahwa bahasa mempunyai dua aspek yaitu langue dan parole.
Bahasa sebagai suatu langue berada dalam waktu yang terbalik, karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis, tapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu ini, sehingga parole oleh Levi-Strauss dianggap berada dalam waktu yang tidak berbalik. Jika parole sebagai salah satu aspek dari bahasa tidak dapat terlepas dari perangkap waktu, maka mitos berada pada reversible time, yakni waktu yang terbalik. Pola-pola mitos menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

c.       Mitos dan Musik
Mitos dan musik bekerja melalui penyesuaian dua jenis kisi : kisi internal dan kisi eksternal. Kisi internal terdiri atas irama-irama visceral, seperti inner, alami atau natural, yang merupakan fungsi dari otak manusia. Kisi eksternal atau kultural mengacu pada diskontinuitas yang sudah ada sejak semula, yaitu dari suara-suara musik yang telah sepenuhnya menjadi objek budaya. Pada dasarnya antara mitos dan musik adalah bahasa. Namun keduanya melebihi bahasa lisan karena makna mitos tidak dapat dipahami kata demi kata.
Mitos bekerja di atas dua kontinum dengan dua aspek. Satu aspek bersifat eksternal, yang berupa barbagi peristiwa bersejarah atau dianggap bersejarah, yang membentuk suatu kontinum yang tidak terbatas. Dari kontinum ini masyarakat mengambil sejumlah peristiwa dan menggubahnya menjadi mitos mereka. Aspek internal meliputi perioditas yang berada pada otak manusia, irama-irama organisme tubuh manusia, kekuatan ingatan serta kekuatan orang yang mendengarkan.

d. Analisis Structural Mitos
Analisis strukturl juga diilhami oleh teori komunikasi. Dalam teori komunikasi mitos merupakan kisah yang mengandung pesan.

1.      Mencari Miteme
Miteme adalah unsur-unsur konstruksi wacana mitis yang juga merupakan satuan kosokbali, relative dan negatif.
Setiap mitos dapat dipenggal menjadi segmen/peristiwa-peristiwa. Setiap segmen harus memperlihatkan relasi antarindividu yang merupakan tokoh dalam sebuah cerita/ menunjuk status individu di situ.
Dalam sebuah kisah (mitos), makna tidak ditunjukkan secara lugas melainkan menunjukkan pandangan mengenai dunia, masyarakat dan sejarahnya.

2.      Menyusun Miteme
Mitos memiliki waktu mitologis yang bisa berbalik / tidak, revesible/ nonrevessible, sinkronis/diakronis/sindiakronis, untuk itu miteme yang ada harus disusun agar dapat menemukan pesan yang diharapkan.

Analisis Struktural terhadap Mitos-mitos
1.      Levi Strauss dan Kisah Oedipus
Beberapa miteme yang ditemukan :
a.       Kadmos mencari Eropa, saudara perempuannya yang dilarikan oleh Zeus
b.      Kadmos membunuh naga
c.       Orang-orang Spartoi yang muncul dari  bumi (Gigi naga yang disebarkan di tanah) hasil dari dan saling membunuh
d.      Oedipus membunuh ayahnya, Laios
e.       Oedipus membunuh Spinx (sebenarnya Spinx bunuh diri karena Oedipus bisa menjawab teka-tekinya)
f.       Oedipus mengawini ibunya sendiri
g.      Eteokles membunuh Polyneikes, saudara laki-lakinya
h.      Antigone mengubur Polyneikes meski dilaran
Levi Strauss juga menemukan tokoh dengan nama yang khas
a.       Labdakos (lumpuh)
b.      Laois (pincang)
c.       Oedipus (kaki yang bengkak)
Miteme tersebut disusun kemudian menunjukkan relasi-relasi yang dapat ditunjukkan secara langsung maupun tersirat dalam rupa :
a.       Relasi antar manusia, hewan, dan mahkluk supranatural
b.      Relasi antar kategori makanan
c.       Relasi antar suara dan kesenyapan
d.      Relasi antar bau dan rasa
e.       Relasi antar jenis pakaian
f.       Relasi antar fungsi tubuh
g.      Relasi antar perubahan musim dan cuaca
Dengan demikian mitos mampu memperlihatkan berbagai bentuk symbol yang mengalami transformasi yang mengikuti aturan-aturan logika tertentu

2.      Levi Strauss dan Mitos-mitos Indian Amerika
Dalam cerita Baroro : asal muasal penyakit
Levi menyimpulkan penguburan merupakan proses peralihan dari hidup kekematian. Demikian juga dengan penyakit, kedaan sakit yang ditimbulkan oleh penyakit adalah keadaan di antara hidup dan mati.

3.      Mitos dan Sinkretisasi Islam di Jawa
Sinkretisme (adaptasi) adalah upaya untuk mengolah, menyatukan, mengkombinasikan, dan menyelelaraskan duat atau lebih system prinsip yang berlainan atau berlawanansedeemikinan rupa sehingga terbentuk suatu system prinsip baru yang berbeda dengan prinsip-prinsip sebelumnya.
o   Babad Tanah Jawi menyatakan bahwa para nabi, para dewata, tokoh-tokoh pewayangan dan raja raja Jawa, semuanya berasal dari Nab Adam yang diyakini sebagai nenek moyang manusia dan nabi yang pertama.(dengan menggabungkan tokoh pewayangan dalam system silsilah dengan para nabi yang berasal dari budaya Islam dan raja-raja Jawa, orang Jawa lantas dapat menggabungkan elemen kjedua budaya tersebut)
o   Kisah jimat Kalimasada (sebenarnya merupakan kisah rekaan dhalang sendiri). Dalam kisah ini menyebutkan masuknya Yudistira dalam agama Islam. Kisah ini merupakan wujud suatu upaya untuk menggabungkan mitos Hindu-Jawa dan mitos sufi Jawa untuk menunjukkan peralihan dari agama Hindu ke Agama Islam.
o   Mitos Nyai Roro Kidul yang menikah dengan raja jawa, dan raja ini akan memantakan Islam sebagai agama kerajaan. Maka tokoh dari dunia lelembut ini bisa menjadi simbol bahwa unsur pra Islam tidak lagi bertentangan dengan Islam, bahkan elemne elemen pra Islam mendukung dan mensahkan kehadiran elemen-elemen Islam.

Etnosains dan Etnometodologi : Sebuah Perbandingan
Etno berarti folk, maksudnya dalam pendekatan ini seorang peneliti berusahauntuk memahami dan menjelaskan pandangan-pandangan mereka tanpa menilai baik dan buruk atau salah dan benar. Sains menjelaskan pada hal hal yang pasti dan sudah jadi, sedangkan metodologi merupakan metode, cara-cara, namun tidak bnerpengaruh padda hal-hal penilaian. Keduanya tidak menuju kea rah baik dan buruk namun lebih menekankan pada kaitannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.

1.      Etnosains
Dalam aliran antropologi aliran etnosains merupakan pendekatan dengan metode baru namun dasarnya bukan merupakan hal yang baru. Dalam membandingkan kebudayaan-kebudayaan di belahan dunia, terdapat beberapa masalah yang kadang tidak disadari oleh masyarakat kemudian muncul dan menjadi penghambat bagi studi perbandingan budaya tersebut.
Tiga masalah dalam studi perbandingan budaya (Goodenough) :
a.       Ketidaksamaan data etnografi yang disebabkan oleh perbedaan minat para ahli antropologi.
b.      Masalah sifat data. Seberapa jauh data yang tersedia benar-benar dapat dibandingkan, data tersebut melukiskan gejala yang sama dalam masyarakat yang berbeda.
c.       Perbedaan klasifikasi data oleh tiap ahli
Dua ahli yang memiliki konsep yang sama dapat berlainan dalam menggunakan konsep itu untuk masyarakat yang diteliti.
Masalah-masalah yang dihadapi oleh para ahli antropologi dalam pelukisan kebudayaan mendorong mereka untuk menemukan formula yang tepat. Linguistik kemudian menjadi salah satu alternatif yang ditemukan, pendekatan secara fonemik dan fonetik. Fonemik menggunakan cara penulisan bunyi bahasa menurut cara yang digunakan oleh pemakai bahasa, sedangkan fonetik memakai simbol-simbol bunyi bahasa yang ada pada peneliti (Ahli bahasa) atau Alphabet Fonetica, contoh penulisan yang berbeda untuk kata teras yang berarti pekarangan rumah (teras) dan inti atau pejabat teras ( tȏras). Masalah yang timbul kemudian dari pemakaian model linguistik adalah mengharuskan peneliti untuk menguasai bahasa setempat.
Masalah-masalah antropologi dapat digolongkan menjadi tiga yang bertitik tolak pada definisi kebudayaan yaitu :
a.       Kebudayaan sebagai ‘forms of things that people have in mind’.
b.      Kebudayaan yang terpenting adalah aturan-aturan.
c.       Kebudayaan sebagai alat atau sarana yang dipakai untuk ‘perceiving’ dan ‘dealing with circumstances’, yang berarti alat untuk menafsirkan berbagai macam gejala yang ditemui.
Tiga macam arah penelitian ini disebut sebagai alairan etnosains. Kata Ethnosience berasal dari kata yunani ethnos yaitu bangsa dan kata latin scientia yaitu pengetahuan (Werner dan Fenton dalam Elmubarok, 2009:80). Definisi Etnosains adalah pengetahuan yang ada atau dimiliki suatu bangsa atau suku bangsa tertentu atau subkultur tertentu.

2. Etnometodologi (Etmotodology)
            Dasar etnometodologi adalah konsepnya tentang natural attitude, yang menghubungkan filsafat fenomonologi dengan sosiologi. Konsep ini pengetengahkan bahwa Ego yang berada dalam situasi tertentu biasanya menggunakan penalaran yang sifatnya praktis. Ego tidak mempertanyakan lagi secara detail apa yang ada disekitarnya karena dia menganggap bahwa apa yang dihadapinya tidak berbeda dengan hal yang sama yang telah ditemuinya kemarin atau dulu (Phillipson dalam Elmubarok 2009:81).
Natural attitude aatu commensence reality dibedakan menjadi dua ; theorical attitude dan mythical religious attitude (Husserl). Yang kemudian konsep Husserl dilanjutkan dan diterapkan oleh Schutz dalam ilmi sosial. Dan menurutnya konsep intersubjektif adalah adfanya timbal balik perspektif, di mana mencakup dua macam idealisasi (Phillipson dalam Elmubarok, 2009:82)
a.       Pertama, interchangability of view points
b.      Kedua congruence of system of relevance
Definisi etnometodologi menurut Garfinkel :
a.       Kegiatan-kegiatan interaksi sehari-hari mempunyain sifat sistematis dan terorganisir bagi orang-orang yang terlibat didalamnya.
b.      Menekankan pada perbedaan antara ekspresi yang sifatnya objketif dan indeksikal
Tujuan etnometodologi adalah mencari dasar-dasar yang mendukung interaksi sosial, atau dengan kata lain etnometodologi berusaha mendapatkan basic rule-nya, yaitu ‘resource we employ in our mutual construction and regociation of our everyday practical activities’ (Phlillipson dalam Elmubarok 2009: 82).

6. Analisis Strukturalisme dan James Bond
            Strukturalisme sebagai sebuah metode mempunyai sedikit kedekatan dengan analisis budaya populer, meskipun anggapan tersebut tidak sampai sepenuhnya pada seluruh penulis. Eco termasuk dalam lingkup yang setuju pada peranggapan itu, melakukan kajian strukturalisme terhadap novel-novel James Bond karya Ian Flemming. Dalam kajian ini Eco menitikberatkan perhatiannya dalam mengungkap aturan-aturan invarian yang mengatur budaya naratif dari novel tersebut sehingga menjadi novel populer dan memiliki daya tarik pada khalayak. Dalam kajiannya Eco berusaha untuk mengkonstruk beberapa seri oposisi. Oposisi-oposisi tersebut dapat dikombinasi ulang serta bersifat langsung dan universal, seperti posisi binernya Levi-Strauss dalam kajiannya terhadap mitos kekerabatan dan sistem perkawinan di pedalaman Brazil. Eco memandang struktur naratif novel-novel tersebut mempresentasikan suatu variasi modern pada tema universal pertarungan antara baik dan jahat.


DAFTAR PUSTAKA

Elmubarok, Zaim. 2009. Pengantar Ilmu Kebudayaan. Semarang: