Sabtu, 21 April 2012

Pantun dan Pantoum


PENGANTAR

PANTUN
PANTUN adalah genre kesusasteraan tradisional Melayu yangberkembang di seluruh dunia khususnya di Nusantara sejak ratusan tahun lampau.Pantun adalah simbol artistik masyarakat Nusantara dan ia adalah lambang kebijaksanaan berpikir. Pantun sering dijadikan sebagaialat komunikasi. Pantun bersifatringkas, romantik dan mampu mengetengahkan aspirasi masyarakat dengan lebih jelas.Ia begitu sinonim dengan pemikiran dan kebudayaan masyarakat nusantara danMalaysia. Di Nusantara, pantun wujud dalam 39 dialek Melayu dan 25 bukan dialek.Pantun juga didapati turut berkembang di selatan Burma,Kepulauan Cocos, Sri Lanka,Kemboja, Vietnam serta Afrika Selatan(kerana pengaruh imigran dari Indonesia danMalaysia).Pantun di Malaysia dan Indonesia telah ditulis sekitar empat abad lalu.Malah, ia mungkin berusia lebih tua daripada itu seperti tertulis dalam Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu. Menyedari kepentingan pantun dalam memartabatkanbudaya Melayu, Jabatan Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Negara di Kementerian.Za'ba dalam bukunya Ilmu Mengarang Melayu menjelaskan, "Perkataan pantunitu pada mulanya dipakai orang dengan makna seperti atau umpama." Ada pendapatmengatakan perkataan pantun adalah daripada bahasa Minangkabau iaitu panuntun yang bermaksud pembimbing atau penasihat yang berasaskan sastera lisan dalampengucapan pepatah dan petitih yang popular dalam masyarakat tersebut. Sehingga hari ini, pantun sering digunakan dalam upacara peminangan danperkahwinan atau sebagai pembuka atau penutup bicara dalam majlis-majlis rasmi.Umumnya terdapat dua jenis utama pantun iaitu pantun berkait dan pantun tidakberkait.Bilangan baris dalam setiap rangkap pantun dikenali sebagai kerat. Lima bentukutama pantun ialah pantun dua kerat, pantun empat kerat, pantun enam kerat, pantunlapan kerat dan pantun dua belas kerat. Pantun yang popular digunakan ialah pantundua kerat dan empat kerat.Setiap pantun mesti mempunyai pembayang dan maksud pantun. Pembayang dalam setiap rangkap adalah separuh pertama daripadakeseluruhan jumlah baris dalam rangkap berkenaan. Separuh kedua dalam setiap rangkap pantun pula ialah maksud atau isi pantun. Antara ciri-ciri lain yang ada dalam sebuah pantun ialah pembayangnyamempunyai hubungan yang rapat dengan alam dan persekitaran yang rapat denganpengucapnya seperti yang terdapat dalam contoh pantun dua kerat berikut:Sebab pulut santan terasa,Sebab mulut badan binasaRima pantun yang baik berakhir dengan ab,ab bagi pantun empat kerat dan a,a bagi pantun dua kerat. Selain daripada pembayang, maksud dan rima, pantun jugaterikat dengan hukum suku katanya. Bagi pantun Melayu, suku kata untuk setiap barisialah antara lapan hingga dua belas suku kata sahaja.Melalui bentuknya yang kemas dan padat, pantun berjaya menjadi alat yangpenting untuk menghibur, memberi nasihat, menduga akal, meluahkan perasaan danmenyedapkan cakap. Pantun turut berfungsi sebagai media untuk menyampaikanhasrat yang seni atau rahsia yang tersembunyi melalui penyampaian yang berkias.Orang melayu mencipta pantun untuk melahirkan perasaan mereka secaraberkesan tetapi ringkas,kemas,tepat dan menggunakan bahasa yang indah-indah.Padazaman dahulu kala masyarakat melayu belum lagi pandai menulis dan membaca.Hal inidemikian kerana, masyarakat Melayu pada waktu itu belum lagi bertamadun. Keadaanini telah membuktikan bahawa orang melayu sebelum tahu menulis dan membaca telahpandai mencipta dan berbalas-balas pantun antara satu sama lain.Keadaan inimembolehkan kita menganggap pantun itu sebagai pusaka orang melayu sejak turun-temurun lagi yang menjadi identiti masyarakat melayu bak kata pepatah tak kenalmakatak cinta.pantun tetap dipertahankan oleh orang melayu walaupun zaman telahberubah.
Menurut kajian bahawa pada abad yang ke-17 barulah sempurnabentuk,isi,maksud dan alasan pantun itu.Keadaan ini dapat dibuktikan di dalam rencanaHamzah Fansuri yang telah meninggal dunia dalam tahun 1630.Pantun pada mulanya adalah senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan.Dalam kesusasteraan, pantun pertama kali muncul dalam
Sejarah Melayu dan hikayat-hikayat popular yang sezaman. Kata pantun sendiri mempunyai asal-usul yang cukuppanjang dengan persamaan dari bahasa Jawa yaitu kata parik 
yang berarti pari, artinyaparibasa atau peribahasa dalam bahasa Melayu. Erti ini juga berdekatan denganumpama dan seloka yang berasal dari India.Sedangkan kata pantun sendiri menurut Dr. R. Brandstetter, seorangberkebangsaan Swiss yang ahli dalam perbandingan bahasa berkata bahwa pantun berasal dari akar kata tun, yang terdapat dalam berbagai bahasa Nusantara, misalnyadalam bahasa Pampanga, tuntun berarti teratur; dalam bahasa Tagalog tonton berarti bercakap menurut aturan tertentu; dalam bahasa Jawa Kuno, tuntun berarti benangdan atuntun yang berarti teratur dan matuntun yang berarti memimpin; dalam bahasaToba pantun berarti kesopanan atau kehormatan. Dalam bahasa Melayu, pantun berartiquatrain, yaitu sajak berbaris empat, dengan rima a-b-a-b. Sedangkan dalam bahasaSunda, pantun berarti cerita panjang yang bersanjak dan diiringi oleh muzik.Menurut R. O. Winstedt yang setuju dengan pendapat Brandstetter mengatakanbahwasannya dalam bahasa Nusantara, kata-kata yang mempunyai akar kata yang berarti  baris, garis´, selanjutnya akan mempunyai arti yang baru yaitu ³kata-kata yangtersusun´ baik dalam bentuk prosa maupun puisi.
Ada satu perkara yang menarik yang kemudian telah diselidiki oleh beberapa orangsarjana, yakni mengenai ada tidaknya hubungan semantik {makna} antara pasanganpertama dengan pasangan kedua pada sebuah pantun. Sebagai contoh adalah pada pantun berikut:
Telur itik dari Sanggora
Pandan terletak dilangkahia
Darahnya titik di Singapura
Badannya terlantar ke Langkawi 

Dari pantun di atas menurut Pijnapple dalam satu kertas kerja yang dibacakan didepan Kongres Sarjana Ketimuran VI di Leiden, pada tahun 1883 mengatakan bahwa antara pasangan pertama {biasa disebut sampiran} dan pasangan kedua {biasa disebutisi} mempunyai suatu hubungan yang erat.Pijnapple, dalam analisisnya pada pantun di atas mengatakan bahwa Sanggorayang terletak di pantai timur Malaya {dekat Siam} sangat jauh letaknya. Tetapi tikar pandan yang terletak di depan kita sangat dekat. Seluruh pantun ini menunjukkanbahwa pembunuhan terjadi jauh dari tempat perkuburan. Tetapi menurut Ch. A. vanOphuijsen bahwa mencari hubungan antara kedua pasangan itu adalah pekerjaan yangsia-sia belaka. Karena ia kemudian memberikan contoh pada suatu pantun yangdirasanya sama sekali tidak mempunyai hubungan antara pasangan yang pertamadengan pasangan yang kedua. Pantunnya adalah sebagai berikut:
Satu, dua, tiga, enam 
Enam dan satu jadi tujuh
Buah delima yang ditanam
Buah berangan hanya tumbuh.

Pantun ialah puisi lama yang terikat oleh syarat-syarat tertentu (jumlah baris, jumlah suku kata, kata, persajakan, dan isi).
Ciri-ciri pantun adalah
a. Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang merupakan satu kesatuan yang disebut bait/kuplet.
b. Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku kata).
c. Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi pantun), separoh bait berikutnya merupakan isi (yang mau disampaikan).
d. Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (ab-ab atau abc-abc atau abcd-abcd atau aa-aa)
e. Beralun dua
Berdasarkan bentuk/jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan menjadi
a. Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris tiap bait.
b. Pantun kilat/karmina, yiatu pantun yang hanya tersusun atas dua baris.
c. Pantun berkait, yiatu pantun yang tersusun secara berangkai, saling mengkait antara bait pertama dan bait berikutnya.
d. Talibun, yaitu pantun yang terdiri lebih dari empat baris tetapi selalu genap jumlahnya, separoh merupakan sampiran, dan separho lainnya merupakan isi.
e. Seloka, yaitu pantun yang terdiri dali empat baris sebait tetapi persajakannya datar (aaaa).
Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi
a. Pantun anak-anak
- pantun bersuka cita
- pantun berduka cita
b. Pantun muda
- pantun perkenalan
- pantun berkasih-kasihan
- pantun perceraian
- pantun beriba hati
- pantun dagang
c. Pantun tua
- pantun nasihat
- pantun adat
- pantun agama
d. Pantun jenaka
Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang. Contoh:
Di mana kuang hendak bertelur
Di atas lata dirongga batu
Di mana tuan hendak tidur
Di atas dada dirongga susu
e. Pantun teka-teki
f. Pantun Kepahlawanan
Pantun kepahlawanan adalah pantun yang isinya berhubungan dengan semangat kepahlawanan
Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).

 

Peran pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir. Pantun melatih seseorang berpikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata.
Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

PANTOUM
Pada abad kesembilan belas pantun dibawa oleh Voctor Hugoke dalam sastra Perancis. Victor Hugo, penyair Perancis yang dianggap agung, pada tahun 1829 menghasilkan “Les Orientales” (Puisi-puisi ketimuran) yang di dalamnya termuat “Les Papillons”, sebuah puisi yang memiliki ciri-ciri pantun dan dinamakan “PANTOUM”. Mungkin bentuk dan isi pantun memukau penyair-penyair romantisme, sehingga ciptaan Victor Hugo diikuti oleh penyair romantisme yang lain. Pada tahun 1836  Theophile Gautier menulis puisi yangs angat mirip dengan ciri-ciri pantun dan dapat dikategorikan sebagai genre pantoum. Pada tahun 1857 Theodore Banville menghasilkan puisi berkait yang anatara lain berjudul “Harmonie du Soir” (Keselarasan Senja). Pada tahun 1884 leconte de Lisle menulis puyisi yang diberi judul “Pantoum Malais” (Pantun Melayu). Pada tahun itu pula Verlain menertawakan Leconte de Lisle dengan menciptakan “Pantoum Neglige” (Pantun Plesetan), yang sama sekali tidak menghiraukan ciri-ciri pantaum yang biasa, tetapi masih tetap dinyatakan mirip bentuk pantun.
Bentuk pantoum rupanya sangat digemari oleh penyair-penyair romantis Perancis dan ditulis pada periode Romantisme atau pada abad ke-19. Yang menjadipermasalahan dalam sastra bandingan ialah: dari manakah asal pantoum (genetik pantoum); bagaimana terjadi kesejajaran antara pantun dengan pantoum; sejauh mana pengaruh pantun terhadap pantaum?
Melalui “Larousse Encyclopedique” dapat ditemukan catatan yang menyatakan bahwa “Pantoum” atau “Pantoun” itu merupakan sejenis puisi berbentuk tetap yang dipinjamkan daripada puisi Melayu oleh kaum romantis Perancis; dan dalam “Petit Robert” disebutkan bahwa pantoum adalah sejenis puisi asli Melayu.
Dari manakan Victor Hugo menemukan bentuk pantun yang kemudian populer di Perancis pada periode Romantisme? Pada abad ke-17 bangsa Eropa sudah sampai ke Asia dan pulau-pulau sekitarnya. Mula-mula hanya berdagang, tetapi kemudian menguasai wilayah yang didatangi itu. Inggris, pada abad ke-18 telah menjadi penguasa di India dan kerajaan-kerajaan Melayu. Pada tahun 1770-an seorang sarjana Inggris menyelidiki tata bahasa Melayu, dan pada tahun 1812 diterbitkan sebagai buku dengan judul “Grammer of Malayan Language” di London. Mungkin buku yang ditulis oleh William Mursden inilah yang dibaca oleh Hugo, dan di buku itu pula Hugo menemukan pantun Melayu. Jadi pantun dapat mengembara sampai ke Perancis karena perantaraan William Mursden.
Penyair-penyair Romantis Perancis segera memiliki kecenderungan menulis puisi-puisi yang “dipengaruhi” pantun tentulah mempunyai kaitan yang sangat erat dengan falsafah Romantisme. Victor Hugo sebagi penyair agung dan penting dalam kesustraan Perancis pada khususnya, dan kesusatraan dunia pada umumnya, menghasilkan implikasi yang tidak kecil dalam masalah ini. Ketika pertama kali Victor Hugo memunculkan puisi pantoum dalam masyarakat Perancis, tentu puisi itu dianggap sebagai karya aslinya yang memukau.
Masyarakat Perancis pada waktu itu dalam Revolusi Industri. Masyarakat terdiri atas tiga golongan, yaitu kaum borjuis, kaum Romantisme, dan kaum Marxist.
Kaum borjuis adalah kelas atas, cara hidupnya kapitalistikj dan mementingkan diri sendiri. Kaum marxist adalah kelas bawahan, kaum pekerja dan dan kaum tertindas. Kaum borjuis dan Marxist selalu bertentangan, terutama dalam bidang politik. Kaum Romantisme adalah kelas menengah, terdiri atas para pengarang. Bagi kaum Romantisme, manusia, alam, alam metafisika merupakan satu kesatuan. Pertentangan kaum borjuis dengan kaum Marxist bersifat politik, mencetuskan ketegangan kelas, dan ini tentunya juga memisahkan mereka dari alam nyata dan alam metafisika. Bagi kaum romantis, kedua alam itu merupakan sumber kekeyaan intuitif dan aspirasi yang harus dipertahankan. Begitulah cita dan citra Romantisme, maka tidak mengehrankan mengapa pantoum yang dimunculkan oleh Victor Hugo itu mudah mendapat tempat dari hati penyair-penyair Romantis, yang kemudian mengikuti jejak Victor Hugo dengan menghasilkan puisi yang bercirikan pantun, dengan melakukan serba sedikit penyesuaian mengikuti cita rasa perpuisian dalam kesusatraan Perancis.
Menurut Suzuki, pantun merupakan “suatu hasil kesusastraan yang tulen Melayu, dan yang dapat mengemukakan sikap kepribadian Melayu”. Apakah sikap dan kepribadian Melayu ity? Hal ini harus dilihat dalm konteks pendangan hidup Melayu. Bagi orang Melayu, dirinya, alamnya (segala yang ada disekitarnya, seperti pohon, bukit, sungai, dsb.) dan alam supernatural atau alam metafisika dianggap mempunyai pertalian yang sangat erat, malah berada dalam satu kesatuan. Pertalian orang Melayu dengan alam nyata dan alam supernatural, mengakibatkan terwujudnya nilai menghargai, menghormati, dan menyayangi manusia dengan dirinya, dengan sesama manusia, dengan alam, dan denga alam supernatural atau alam metafisika. Segala nilai ini memang jelas terpancar dalam pantun Melayu dan sekaligus memperlihatkan keterkaitan manusia dengan unsur-unsur alam. Seperti pantun di bawah ini :
Anak ayam turun sepuluh,
Mati seekor tinggal sembilan.
Bangun pagi sembahyang Subuh,
Minta ampun kepada Tuhan.
Pantun itu menunjukkan hubungan tiga unsur sekaligus dalam satu kesatuan yaitu “anak ayam” (unsur alam), “bangun pagi” dan “minta ampun” (perbuatan manusia yang menunjukkan penglibatan diri), dan “Tuhan” (unsur alam metafisik). Hubungan ketiga unsur tersebut tidak sekadar menunjukkan terwujudnya satu kesatuan, tetapi malah memiliki keharmonisan yang bersifat intiutif.
Jadi apabila “keistimewaan” ketimuran alam Melayu seperti ini dimunculkan oleh Victor Hugo, tentulah menarik minat penyair-penyair Romantisme Perancis yang sangat dahaga akan unsur dan nilai seperti ini. Tidak mengherankan jika penyair-penyair romantis Perancis tersebut terpengaruh oleh ciri dan bentuk pantun dalam karya puisi mereka. Hal ini dinyatakan sebagai pengaruh karena menurut J.T. Shaw:  “Pengaruh adalah proses transmisi dan reorganisasi tanpa sadar” atau menurut Ulrich Weisstein: “Pengaruh merupakan satu bentuk peniruan yang terjadi tanpa disadari”.
Kedua jenis puisi tersebut dibandingkan karena telah memenuhi syarat yang harus dipenuhi dari segi genre dan tipe sudah sama, sehingga kedua jenis karya sastra tersebut dapat dibandingkan. Selain itu, ketiga syarat yang harus dipenuhi dalam pembandingan karya sastra adalah berbeda bahasanya, berbeda wilayahnya, dan berbeda politiknya telah dipenuhi oleh kedua karya sastra tersebut.


DENGARLAH PANTUN

Buah ara batang dibantun
Mari dibantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
Pantun tidak mengata orang.

Mari dibantun dengan parang,
Berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
Janganlah syak di dalam hati.

Berangan besar di dalam padi,
Rumpun buluh dibuat pagar.
Pantun tidak mengata orang,
Maklumlah pantun saya baru belajar.

Rumpun bulu dibuat pagar,
Cempedak dikerat-kerati.
Maklum pantun tidak belajar,
Saya budak belum mengerti.
(dari “PUISI LAMA” oleh St. Takdir Alisyahbana)


VICTOR HUGO
LES PAPILLONS

Les papillons jouent sur leurs ailes,Iis volent
Vers le mer, pres dela chainedes Mon coeur
S’est sentir malade dans ma poitrine
Depuis mes premiers kours jus’qual’heure presente.

Iis volent vers le mer, pres de la chaine de roches,
La vautour dirige son essor vers Bandam.
Depuis mes premiers kours jus’qual’heure presente.
J’ai admire bien jaunes gens.

La vautour dirige son essor vers Bandam
Et lisse tomber de ses plums a Patani
J’ai admire bien jeunes gens,
Mais nul n’ est a comparer a L’objet de mon choix

Iilaisse tomber de ses plumes a Patani
Voici deux jeunes pigeons!
Aucum jeune homme ne peut comparer a celui de mon choix,
Habile comme il l’est a toucher le cour.

Terjemahan oleh Harry Aveling

KUPU-KUPU

Kupu-kupu terbang melintang,
Terbang di laut di hujung karang.
Hati di dalam menaruh bimbang,
Dari dahulu sampai sekarang.

Terbang di laut di hujung karang,
Burung besar terbang ke Banda.
Dari dahulu hingga sekarang,
Banyak muda sudah kupandang

Burung besar terbang ke Banda,
Bulunya lagi jatuh ke pantai.
Banyak muda sudah kupandang,
Tiada sama mudaku ini.

Bulunya lagi jatuh ke Pantai,
Dua puluh anak merpati.
Tidak sama mudaku ini,
Sungguh pandai membujuk hati.










PELAKSANAAN PERBANDINGAN

a.       Lapis norma yang pertama adalah lapis bunyi. Rangkaian bunyi yang terdapat pada puisis lama berjudul “Dengarlah Pantun” memiliki bunyi yang cukup merdu. Bunyi akhir pada setiap bait tersebut memilki arti tersendiri.

Buah ara batang dibantun
Mari dibantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
Pantun tidak mengata orang.

            Bunyi akhir pada larik pertama bait pertama “un” pada kata dibantun yang berarti “ditarik agar lepas” memiliki kesesuaian dengan bunyi akhir pada larik ketiga pada kata pantun. Kata pantun “un” memilki kesesuaian dengan larik kedua. Perbedaannya terdapat pada nama masing-masing larik. Larik pertama tersebut disebut dengan sampiran, dan larik ketiga disebut dengan isi. Bunyi akhir pada larik kedua yaitu “ang”. Bunyi tersebut sama dengan bunyi akhir pada larik keempat. Parang pada larik kedua tersebut memilki kesinambungan dengan kata dibantun pada larik pertama. Kedua kata akhir tersebut memilki pengertian bahwa untuk membantun buah ara tersebut ditarik agar lepas dengan menggunakan bantuan parang. Keempat bunyi akhir tersebut disesuaikan dengan larik sebelum dan sesudahnya pada bait tersebut, sehingga bunyi akhir memiliki arti tersendiri.

Kupu-kupu terbang melintang,
Terbang di laut di hujung karang.
Hati di dalam menaruh bimbang,
Dari dahulu sampai sekarang.

Bunyi akhir pada bait pertama puisi lama yang berjudul “Kupu-Kupu” tersebut adalah ‘ang’. Semua larik yang terdapat pada bait tersebut memilki bunyi akhir yang sama.
            Keempat bunyi akhir tersebut disesuaikan dengan konvensi bahasa pada masa itu. Bunyi akhir tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga menimbulkan arti.
Mari dibantun dengan parang,
Berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
Janganlah syak di dalam hati.
           
Pada bait kedua, bunyi akhir larik pertama adalah “ang”. Bunyi akhir tersebut sama dengan bunyi akhir pada larik ketiga. Larik pertama memilki kata akhir yaitu orang, dan pada larik ketiga memilki kata akhir orang. Persamaan bunyi akhir pada kedua kata tersebut berarti adanya kesesuaian antara kedua larik tersebut. Persamaan bunyi akhir pada larik kedua dan keempat adalah “i” pada kata “padi” dan “hati”. Kedua kata tersebut bunyi akhirnya disesuaikan agar membentuk suatu arti.

Terbang di laut di hujung karang,
Burung besar terbang ke Banda.
Dari dahulu hingga sekarang,
Banyak muda sudah kupandang

Bunyi akhir pada bait kedua “Kupu-Kupu” tersebut memilki bunyi akhir “ang”, “a”, “ang”, dan “ang”. Bunyi akhir pada larik kedua berbeda dengan dengan bunyi akhir pada larik yang lainnya. Perbedaan bunyi akhir tesebut menimbulkan kurangnya estetik atau keindahan pada pantun tersebut. Selain itu, perbedaan bunyi kahir tersebut menimbulkan arti yang sukar untu ditebak karena dirasa tidak berkesinambungan.

Berangan besar di dalam padi,
Rumpun buluh dibuat pagar.
Pantun tidak mengata orang,
Maklumlah pantun saya baru belajar.
           
            Pada bait ketiga puisi lama tersebut memilki bunyi akhir ‘i’, ‘ar’, ‘ang’, ‘ar’. Berbeda dengan bait-bait sebelumnya yang memilki kesamaan bunyi akhir pada setiap larik, antara sampiran dan isi. Pada bait ketiga tersebut memiliki bunyi akhir yang agak kacau. Larik ketiga pada bait tersebut memilki keterkaitan dengan larik ketiga pada bait kedua, sehingga isi yang terdapat pada pantun bait ketiga tersebut memilki kesinambungan dengan isi pada bait kedua. Bunyi akhir yang terdapat pada bait tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap isi yang ingin disampaikan oleh pentun tersebut, meskipun dari segi keindahan bunyi akhir sangat kurang karena tidak memiliki kesamaan pada bunyi akhir.

Burung besar terbang ke Banda,
Bulunya lagi jatuh ke pantai.
Banyak muda sudah kupandang,
Tiada sama mudaku ini.

Bunyi akhir yang tedapat pada bait ketiga puisi “Kupu-Kupu” tersebut ialah “a”, “i”, “ang”, dan “i”. Seperti halnya dengan bunyi akhir yang terdapat pada bait kedua puisi lama tersebut, pada bait ketiga puisi lama tersebut memiliki bunyi akhir yang berbeda setiap lariknya. Perbedaan bunyi akhir tersebut tampaknya mengurangi keindahan pada pantun tersebut. Perbedaan bunyi akhir dirasa mengganggu atau mempengaruhi arti yang terdapat dalam bait tersebut sehingga antara sampiran dan isi kurang sesuai atau kaurang nyambung.  

Rumpun bulu dibuat pagar,
Cempedak dikerat-kerati.
Maklum pantun tidak belajar,
Saya budak belum mengerti.

            Bunyi akhir pada bait keempat yaitu ‘ar’, ‘i’, ‘ar’, ‘i’. Masing-masing bunyi akhir tesebut memilki kesamaan dengan dengan bunyi akhir tiap larik antara sampiran dengan isi. Bunyi akhir yang terdapat pada masing-masing larik pada bait tersebut menimbulkan keindahan bunyi pada bait tersebut. Bunyi akhir pada bait tersebut menimbulkan arti yang saling berkaitan.



Bulunya lagi jatuh ke Pantai,
Dua puluh anak merpati.
Tidak sama mudaku ini,
Sungguh pandai membujuk hati.
           
Bunyi akhir puisi lama “Kupu-Kupu” pada bait keempat yaitu “i”. Keemapat larik tersebut memiliki kesamaan bunyi akhir, namun cara pengucapannya berbeda. Hal tersebut terlihat pada kata “pantai”. Kata “pantai” tersebut meskipun berakhiran dengan huruf “i”, namun cara pengucapannya berbeda yaitu “ai”. Namun, perbedaan tersebut tidak begitu mengurangi keindahan pada puisi lama tersebut, karena bunyi akhir setiap larik pada bait tersebut hampir mirip meskipun tdak sama persis. Perbedaan bunyi akhir pada salah satu larik pada bait tersebut, tidak begitu berpengaruh terhadap isi pantun yang ingin disampaikan.

b.      Lapis Arti
Lapis arti berupa rangkaian fonem, suku kata, frase, dan kalimat.

Buah ara batang dibantun
Mari dibantun dengan parang.
Hai saudara dengarlah pantun,
Pantun tidak mengata orang.

Isi yang terdapat dalam pantun tersebut adalah bahwa pantun tidak pernah mengata orang. Hal tersebut dapat dilihat dari keterikatan atau pertalian anatara kata-kata yang terdapat dalam sampiran dan isi. Kata bantun yang yang terdapat dalam bait tersebut berarti “menarik supaya lepas”. Kata bantun tersebut diperkuat dengan kata parang. Parang merupakan senjata tajam. Kaitan antara kata bantun dengan parang adalah jika ingin lepas haris dibantu dengan senjata tajam yaitu parang.
Kata “bantun” pada larik pertama memiliki persamaan bunyi akhir dengan “pantun” pada larik ketiga. Kata bantun yang memilki arti menarik supaya lepas, diseimbangkan dengan kata “pantun” yang yang biasanya pantun tersebut menarik orang untuk mendengarkannya. Persamaan bunyi akhir pada kata “bantun” dan “pantun” memiliki kesamaan pada arti pula, yaitu sama-sama dugunakan untuk menarik.
Kata “parang” tersebut berkaitan dengan kara “orang”. Parang merupakan senjata tajam, dan orang pun dapat menjadi tajam dengan perkataannya. Tajamnya orang dapat diibaratkan dengan parang. Disamakan ata dipadakan dengan parang karena untuk menyamakan bunyi akhir pada pantun tersebut agar pantun menjadi indah.

Kupu-kupu terbang melintang,
Terbang di laut di hujung karang.
Hati di dalam menaruh bimbang,
Dari dahulu sampai sekarang.

Arti yang terdapat pada serangkaian kata tersebut memiliki arti yang culup luas. Pilihan kata yang digunakan untuk pantu tersebut merupakan pilihan kata yang indah sehingga menimbulkan arti yang indah pula. Arti dari serangkaian kata “terbang melintang” pada larik pertama berkaitan dengan kata “bimbang” pada larik ketiga. Terbang melintang yang terdapat pada larik pertama tersebut diibartakan sebagai orang yang sedang dalam kebimbangan sehingga ia berjalan kesana kemari tak tentu arah tujuan. Seperti halnya dengan kata “dihujung karang” dengan kata “sekarang”. Di hujung karang merupakan sebuah ungkapan yang menandakan bahwa kehidupan yang tidak pernah berakhir meskipun dalam goncangan ombak yang terus melanda hingga saat ini yang disimbolkan dengan kata “sekarang”. Lapis ati yang terdapat pada bait tersebut memiliki arti yang sangat dalam.

Mari dibantun dengan parang,
Berangan besar di dalam padi.
Pantun tidak mengata orang,
Janganlah syak di dalam hati.

Arti yang terdapat pada bait tersebut adalah mengenai kekurang percayaan terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Serangkaian kata “dibantun dengan parang” memiliki arti bahwa jika ingin melepaskan sesuatu agar lebih mudak dibantu dengan senjata tajam. Senjata tajam tersebut dianalogikan dengan perkataan orang. Perkataan orang yang sangat tajam yang biasa dilakukan tidak terjadi pada pantun. Pantun biasnya berisi “penghalus” dari setiap perbuatan atau perkataan. Jika orang mengatakan hal pedas mengenai diri sendiri atau mengkritik diri dengan kata-kata pedasnya, selayaknya kita tidak perlu “syak” di dalam hati, “Syak” yang dimaksudkan adalah rasa kurang percaya, tidak yakin, dan ragu-ragu. Kekurangpercaan tersebut diakibatkan oleh perkataan atau perbuatan orang terhadap diri kita.

Terbang di laut di hujung karang,
Burung besar terbang ke Banda.
Dari dahulu hingga sekarang,
Banyak muda sudah kupandang

Pantun tersebut memiliki arti perjuangan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya larik yang berbunyi “terbang di laut di hujung karang, dri dahulu hingga sekarang, banyak muda sudah kupandang” dari serangkaian kata tersebut telah dapat membuktikan bahwa manusia yang dianalogikan dengan seekor burung besar yang terbang ke Banda untuk mencari cinta sejatinya dari dahulu hingga sekarang, hingga ia telah merasakan banyaknya lawan jenis yang sudah ia kenal namun ia tetap dengan pendiriannya yang dibuktikan dengan adanya larik “terbang di laut di hujung karang”. Larik tersebut menadakan bahwa sebesar apapun badai atau ombak yang menimpanya ia tetap dapet terbang di ujung karang yang berarti di tempat yang cukup berbahaya.

Berangan besar di dalam padi,
Rumpun buluh dibuat pagar.
Pantun tidak mengata orang,
Maklumlah pantun saya baru belajar.
           
Arti yang terdapat pada bait ketiga puisi lama tersebut adalah seseorang yang pempunyai pelindung atau pengetahuan walau hanya dengan belajar perlahan. “Berangan besar di dalam padi” memilki arti yang cukup luas. Kata padi biasanya digunakan untuk orang emiliki banyak ilmu yang kian berisi kian merunduk. Angan-angan tersebut di tanam di dalam hatinya agar ketika ia menjadi sesorang berhasil ia menjadi seperti padi, yang kian berisi kian merunduk. “Rumpun buluh menjadi pagar”, serangkaian kata tersebut dapat diartikan bahwa agama yang sudah ada pada diri seseorang harus dibuat pagar untuk menjaga iman yang dimiliki seseorang karena setiap iman manusia memilki tingkatan yang berbeda. “Pantun tidak mengata orang”, arti dari rangkaian kata tersebut adalah bahwa pantun diibaratkan dengan orang yang telah mendalami ilmu padi sehingga orang yang telah memiliki banyak ilmu tdak mungkin akan mencela orang lain meskipun ilmu yang didapatkan masih jauh dari sempurna.

Burung besar terbang ke Banda,
Bulunya lagi jatuh ke pantai.
Banyak muda sudah kupandang,
Tiada sama mudaku ini.

Arti yang terdapat pada bait puisi lama tersebut adalah kerapuhan karena sudah merasa cukup usia. Perjuangan yang dilakukan tak seperti dulu ketika masih muda. “Bulunya lagi jatuh ke pantai”, rangkaian kata tersebut menandakan bahwa seseorang yang terbang ke Banda atu negeri orang demi mencari sang kekasih hati kini telah layu karena usia yang sudah cukup tua. Ketika ia muda ia telah banyak mengecap banyak kehidupan, mengarungi liku-liku kehidupan. Kini ia telah mencapai usia lanjut, perjuangannya tak seperti dahulu ketika ia masih muda. Ia mulai loyo dan mulai jatuh perlahan.

Rumpun bulu dibuat pagar,
Cempedak dikerat-kerati.
Maklum pantun tidak belajar,
Saya budak belum mengerti.

Arti yang terdapat dalam bait tersebut adalah seseorang yang memiliki iman atau pengetahuan yang cukup lembek atau kurang, sehingga harus benar-benar dijaga agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak diinginkan. Cempedak merupakan nama buah seperti nangka namun memiliki daging buah yang lebih lembek daripada nangka, sehingga dapat dianalogikan dari cempedak tersebut bahwa seseorang yang memilki pengetahuan dan pengalaman yang dangkal harus dipagar seperti dalam serangkaian kata “rumpu buluh dibuat pagar”. Buluh merupakan nama lain dari bambu yang biasanya digunakan untuk dibuat pagar. Maka keimanan atau pengetahuan seseorang yang belum benar-benar kuat harus dipagari seperti pada ungkapan tersebut. Pada isi yang teradapat dalam bait tersebut mencerminkan bahwa ia bukanlah orang yang telah memiliki banyak pengetahuan atau pengalaman karena ia tidak belajar, sehingga dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.

Bulunya lagi jatuh ke Pantai,
Dua puluh anak merpati.
Tidak sama mudaku ini,
Sungguh pandai membujuk hati.

Arti pada bait tersebut adalah adanya atau datangnya kembali penyemangat hidup yang tadinya semnagat untuk hidup telah musnah atau telah tiada. Penyemangat itu dibawa oleh orang-orang di sekitarnya yang menyayanginya dan merasa iba melihat perjuanagn yang telah dilakukan. Semangat yang telah jatuh kemudian datang kembali dengan dibawa oleh orang-orang disekitarnya. Orang-orang disekitarnya pintar mebujuk hati sehingga semangat itu telah kembali meskipun tak seperti ketika ia masih muda.

c.       Lapis Dunia
Lapis dunia menggambarkan dunia pengarang yang digunakan untuk mengungkapkan isi hatinya.  Lapis dunia yang digunakan pada puisi lama berjudul “Dengarlah Pantun” adalah diibaratkan dengan ilmu padi dan kehidupan nyata seseorang. Sedangkan lapis dunia yang digunakan pada “Kupu-Kupu” adalah suasana alam terbuka yang dimisalkan dengan laut dan tempat atau wilayah lain bertolak dari keseharian manusia.
Bait pertama pada puisi lama “Dengarlah Pantun” memiliki dunia bahwa manusia memilki sifat sperti parang, yang memilki perkataan yangs angat tajam. Bait kedua memilki dunia bahwa menjadi seseorang harus seperi padi yang tidak pernah menyakiti hati orang lain. Bait ketiga memiliki dunia harus saling menjaga hati sesama, meskipun ilmu yang didapatkan belum sempurna. Begitupun dengan bait keempat yang memiliki dunia bahwa seseorang yang memilki ilmu yang cukup rendah harus benar-benar dijaga agar tidak mudah dibodohi oleh orang lain.
Adapun bait pertama pada puisi lama berjudul “Kupu-Kupu” memilki dunia bahwa seseorang yang memilki kebimbangan yang tak berujung, yang dianalogikan dengan keadaan alam terbuka dengan buktu adanya burung dan laut, sehingga cakupan dunia yang pengarang gunakan tidak hanya berkutat pada dalam diri sesorang, melainkan pada dunia luar. Begitupun dengan bait kedua, ketiga, dan keempat. Ketiga bait tersebut memilki persamaan dunia yaitu sama-sama berada di sebuah kota atau wilayah tettentu yang menggambarkan alam terbuka pula.

d.      Lapis Metafisis
Lapis metafisis berupakan lapis yang menumbulkan pembaca tersebut merenungkan (berkontemplasi) isi dari setiap puisi lama yang diungkapkan.
Lapis metafisis yang terdapat pada puisi lama “Dengarlah Pantun” adalah setiap manusia hendaknya tidak saling menyakiti dan saling menjaga hati agar tidak ada hati yang tersakiti. Selain itu juga setiap manusia diharapkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya agar tdak mudah dibodohi oleh orang lain ataupun oleh keadaan.
Lapis metafisis yang terdapat pada puisi lama yang berjudul “Kupu-Kupu” mengajak kita untuk tak pernah putus asa dalam menghadapi hidup dan selalu berjuang meskipun hingga ke negeri orang untuk mencari pengalaman hidup.

Persamaan kedua puisi tersebut adalah sama-sama menceritakn tentang kehidupan manusia dan perjuangan untuk hidup. Sedangkan perbedaan dari kedua puisi tersebut adalah jika puisi yang berjudul “Dengarlah Pantun” memilki cakupan pengungapan hanya pada diri manusia yang diibaratkan dengan keadaan lingungan sekitar, sedangkan pada puisi kedua yang berjudul “Kupu-Kupu” memilki cakupan wilayag pengungkapan perasaan yang lebih luas, tidak hanya dari dalam diri seseorang, tetapi juga mencakupi wilayah lain atau kota atau bahkan negara lain. Sehingga cakupan pengungkapan wilayah pada puisi “Kupu-Kupu” lebih luas jika dibandingkan dengan puisi “dengarlah Pantun”.


SIMPULAN

Berdasarkan pada pelaksannan pembadingan kedua puisi tersebut, kedua puisi yang dibandingkan sama-sama memilki bentuk empat baris seuntai dan terdiri atas empat bait.
Diksi yang digunakan pada kedua puisi lama tersebut secara keseluruhan telah menggunakan diksi yang tepat, meskipun ada beberapa penggunaan diksi yang kurang tepat sehingga menimbulkan ketidaksesuaian dengan isi.
Masyarakat lingkungan pencipta pada puisi lama yang berjudul “Dengarlah Pantun” menggunakan masyarakat dalam satu wilayah yaitu menggambarkan wilayah Indonesia yang diidentikan dengan padi, sedangkan pada puisi kedua pencipta menggunakan cakupan wilayah yang lebih luas yaitu menggunakan nama-nama daerah di negara Eropa, sehingga cakupan lingkungan penciptanya lebih luas.
Pantun dan Pantoum tidak berdiri sendiri, tetapi saling mempengaruhi. Di dalam ciri-ciri pantun terdapat genre pantoum sehingga antara pantun dan pantoum tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan saling mempengaruhi. Bahkan di dalam pembuatan pantoum cenerung mengabaikan ciri-ciri pantaoum, tetapi terdapat ciri-ciri pantun di dalam pantoum tersebut.
Secara langsung pantun berpengaruh terhadap pantoum di Perancis. Pada dasarnya, pantau merupakan tiruan atau saduran dari pantun, karena jika dilihat dari sejarah dan ciri-ciri yang terdapat di dalam pantoum, pantaoum memilki ciri-ciri yang hampir sama dengan pantun, begitu pula dengan bentuk yang dimiliki oleh pantoum memiliki bentuk yang sama dengan pantun.