Minggu, 08 April 2012

Analisis Wacana: kohesi konjungsi dalam cerpen: “Iman Versus Superman”


Abstrak

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemarkah kohesi konjungsi yang terdapat dalam wacana: cerpen “Iman Versus Superman”. Kohesi yang membangun wacana itu ada beberapa macam. Salah satunya adalah kohesi konjungsi keberadaan kohesi konjungsi dalam cerpen: “Iman Versus Superman”. Pemarkah konjungsi dalam teks cerpen itu mencakup konjungsi (a) adservatif (namun, tetapi), (b) konjungsi kausal (sebab, karena), (c) konjungsi korelatif (apalagi, demikian juga), (d) konjungsi subordinatif (meskipun, kalau), (e) konjungsi temporal (sebelumnya, sesudahnya, lalu, kemudian).
Kata kunci: pemarkah, kohesi, wacana, konjungsi.

I.     PENDAHULUAN
Salah satu pembangun wacana adalah kohesi. Wacana tanpa kohesi bagaikan keberadaan suatu teks yang tidak memiliki suatu kekuatan. Kohesi juga merupakan konsep makna yang mengacu pada hubungan makna yang terdapat dalam sebuah teks. Hubungan makna di dalam teks itu demikian eratnya sehingga menimbulkan perpaduan yang kokoh. Karena suatu teks dapat dikatakan wacana apabila memiliki sebuah makna.
Sebuah wacana merupakan suatu jalinan atau penyatuan bagian-bagian wacana sehingga menjadi satu wacana utuh. Jalinan unsur-unsur wacana itu dapat berupa oleh alat-alat kohesi yang mencakupi: referensial, substitusi, elipsis, konjungsi, dan leksikal. Alat-alat kohesi yang menandai hubungan kohesif suatu wacana memiliki perangkat-perangkat tertentu.
Sesuai dengan judul dan pokok persoalan, tulisan ini hanya akan membahas satu alat kohesi wacana, yaitu konjungsi dengan berbagai tipenya. Wacana yang akan dipergunakan sebagai medan pembahasan adalah cerpen sebagai bahan ajar siswa kelas VII yang berjudul “Iman Versus Superman”.

II.  Tinjauan pustaka
Kepustakaan dalam tulisan ini merupakan ramuan selektif dari pendapat para linguis. Pokok-pokok teori yang digunakan adalah sebagai berikut.
A.  Pengertian Wacana
Istilah wacana digunakan oleh para linguis Indonesia sebagai terjemahan dari istilah bahasa Inggris discource. Dalam bidang linguistik, wacana berarti rangkaian sinambung kalimat yang lebih  luas daripada kalimat (Crystal, 1985).
Sebuah wacana merupakan unit bahasa yang terikat oleh suatu kesatuan. Kesatuan dalam wacana menurut Halliday dan Hasan (1979:1) adalah kesatuan yang bersifat semantis. Jadi, sebuah kesaatuan yang bukan dipandang dari segi bentuknya, melainkan dari segi maknanya. Oleh karena itu, sebuah wacana tidak selalu harus direalisasikan dalam bentuk rangkaian kalimat-kalimat. Sebuah wacana dapat ditemukan dalam bentuk sebuah kalimat bahkan dapat pula berupa frasa atau kata dengan konteks dan situasi.
Adapun yang terpenting bahwa sebuah wacana harus dapat memberikan interprestasi bermakna bagi pendengar atau pembaca. Suatu wacana  yang dapat diinterprestasi adalah wacana yang komunikatif. Wacana yanng komunikatif menurut Beagrande, 981: Renkema (1993: 34-37) adalah wacana yang memiliki: Pertama, kohesi, yaitu hubungan di mana interprestasi sebuah unsur teks tergantung pada unsur lain dalam teks. Unsur tersebut dapat berupa kata dengan kata, kalimat dengan kalimat lain yang berlaku pada bahasa tertentu. Kohesi dapat pula disebut  sebagai pertalian bentuk. Ciri-ciri yang membentuk kepaduan bentuk itu antara lain referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, dan hubungan leksikal (Halliday dan Hassan 1976). Kedua, koherensi, yaitu hubungan yang mengacu pada sesuatu yanng ada di luar teks. 'sesuatu' biasanya berupa pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca atau pendengar. Ketiga, intersionalitas berarti bahwa penutur atau penulis mempunyai tujuan yang hendak dicapai lewat pesan yang disampaikan, misalnya penyampaian informasi atau memperdebatkan opini. Keempat, keberterimaan berarti bahwa deretan kalimat bisa dikategorikan sebagai wacana jika dapat diterima oleh pembaca. Kelima, keinformatifan penting dalam sebuah wacana. Wacana harus mengandung informasi baru. Jika pembaca sudah tahu segala sesuatu yang ada dalam teks berarti tidak informatif. Sama halnya, jika pembaca tidak tahu dengan apa  yang ada dalam wacana, wacana tersebut bukanlah sebuah wacana. Keenam, situasionalitas penting dalam wacana. Jadi, penting sekali mempertimbangkan situasi pada waktu wacana dibuat dan mengenai hal apa. Yang terakhir, intertekstualitas berarti bahwa deretan kallimat dihubungkan oleh bentuk atau makna dengan deret kalimat lain.
B.  Kohesi Konjungsi
Halliday dan Hassan (1979) merinci kohesi atas kohesi gramatikal dan leksikal. Kohesi gramatikal dibagi menjadi empat macam, yaitu: (a) pengacuan, (b) penyulihan, (c) pelesapan, (d) konjungsi. Kohesi leksikal dibedakan atas dua macam, yaitu (a) reiterasi, dan (b) kolokasi. Setiap kategori terbagi atas sub-subkategori.
Kohesi adalah salah satu pembangun sebuah wacana (teks) (Beaugrande, 1981; Renkema, 1993). kohesi merupakan suatu kekuatan yang mendukung keberadaan suatu teks. Halliday dan Hasan (1979:4) berpendapat bahwa kohesi merupakan konsep makna yang mengacu pada hubungan makna yang terdapat di dalam sebuah teks. Hubungan makna di dalam teks itu demikian artinya sehingga menimbulkan perpaduan yang kokoh.
Kohesi konjungsi dibedakan menjadi lima tipe, yaitu: (a) adversatif,  (b) konjungsi kausal, (c) konjungsi korelatif ,(d) konjungsi subordinatif, (e) konjungsi temporal (Harimurti Kridalaksana, 1984:105; HG Tarigan, 1987:101).
Pemarkah kohesi konjungsi adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa , kalimat dengan kalimat dan seterusnya (Harimurti Kridalaksana, 1984:105; HG Tarigan, 1987:101).
Menurut James (dalam HG Tarigan, 1987:97) suatu bentuk teks/wacana dikatakan bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian antara bentuk bahasa (language form) dengan konteksnya (situasinya (situasi internal  bahasa). Untuk dapat memahami kekohesifan itu, diperlukan itu, diperlukan pengetahuan dan penguasaan kaidah-kaidah kebahasaan, wawasan realitas, dan proses penalaran.
Pada kondisi tertentu, unsur-unsur kohesi menjadi kontributor penting bagi terbentuknya wacana yang koheren (Halliday dan Hassan, 1976; Gunawan Budi Santoso, 1998:28). namun demikkian perlu disadari bahwa unsur-unsur kohesi tersebut tidak selalu menjamin terbentuknya wacana yang utuh dan koheren. Alasannya, pemakaian alat-alat kohesif dalam suatu teks tidak langsung menghasilkan wacana yang koheren (Anton M. Moeliono, dkk, 1988:322). dengan kata lain, struktur wacana dapat dibangun tanpa menggunakan alat-alat kohesi. Namun idealnya, wacana yang baik dan utuh harus memiliki syarat-syarat kohesi sekaligus koherensi.
Dalam hubungan adservatif, konjungsi ditandai oleh kata namun, tetapi. Dalam hubungan kausal, konjungsi ditandai oleh kata sebab, karena. Dalam hubungan korelatif, konjungsi ditandai oleh apalagi, demikian juga. Dalam hubungan subordinatif, konjungsi ditandai oleh kata meskipun, kalau. Dalam hubungan  temporal, konjungsi ditandai oleh kata sebelum, sesudah, sekarang, setelah, lalu, kemudian, berikutnya (Harimurti Kridalaksana, 1984:105; HG Tarigan, 1987:101).
Dasar untuk menentukan sebuah pemarkah kohesi disebut pemarkah kohesi substitusi bila pemarkah itu menggantikan unsur lain yang ada di dalam teks atau di luar teks. Misalnya:
1. Tidak hanya kehilangan rumah, tetapi ia juga kehilangan seluruh keluarganya.
Kata tetapi pada contoh di atas masuk pada konjungsi adservatif

2. Sebelumnya Adhi tidak pernah mau sholat. Tetapi sejak kejadian kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya Adhi kini rajin beribadah sholat.
Kata sebelumnya pada contoh kalimat di atas merupakan penanda konjungsi temporal. Dan kata tetapi merupakan penanda konjungsi adservatif.
Atas dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konjungsi dalam bahasa Indonesia dapat berupa adversatif, kausal, korelatif, temporal, dan subordinatif.

III.   METODE
A.    Data
Data yang digunakan dalam analisis ini adalah cerpen “Iman Versus Superman”. Cerpen secara utuh sebagai berikut:

Iman Versus Superman
Oleh Uswatun

Sore itu, anak-anak di Kampung Damai berkumpul di lapangan bulutangkis. Di lapangan yang cukup luas tersebut, anak-anak asyik bermain.
Ada yang bermain kejar-kejaran. Ada yang berputar-putar mengendarai sepeda mini. Sejumlah anak duduk melingkar bemain monopoli. Sejumlah anak lagi sibuk bermain kelereng.
Di antara kumpulan anak yang bermain monopoli terdapat Iman. Bocah berusia sekitar tujuh tahun tersebut asyik bermain monopoli bersama empat teman sebayanya, yakni Ryan, Toyib, Inug, dan Yayat.
Permainan monopoli mereka sangat seru. Ryan, yang merupakan anak paling besar, menjadi pemenang. Ia berhasil mengumpulkan banyak uang dan memiliki sejumlah bangunan hotel di beberapa kompleks persil.
"Aku selalu menang. Tidak ada yang bisa mengalahkanku. Kalian tidak
bisa menang," kata Ryan dengan suara agak keras.
Wajah Ryan sangat ceria. Bibirnya dipenuhi senyum. Ia bangga mampu menang dalam permainan monopoli atas teman-temannya.
Namun, kemenangan tersebut membuat Ryan menjadi sombong. Ia melontarkan ejek kepada teman-temannya tersebut. Ejekan yang ia lontarkan paling sering ditujukan kepada Iman.
Ini karena Iman adalah anak yang sering kalah dalam permainan tersebut. Iman tidak memiliki banyak uang. Sebaliknya, ia mempunyai banyak utang.
Iman juga tidak mempunyai rumah apalagi hotel. Ia hanya memiliki sejumlah kartu kepemilikan kompleks persil yang sudah dihipotekkan ke bank.
Terlebih, dalam putaran kocokan terakhir, tokoh yang dimainkan Iman masuk ke dalam penjara. Ia pun harus rela dilewati teman-teman mainnya beberapa putaran karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya keluar dari penjara.
"Sudah tidak punya uang, masuk penjara lagi. Kacian deh lo," teriak Ryan.
Iman pun bersungut-sungut. Mukanya kecut.
Iman merasa sakit hati terus diejek oleh teman-temannya. Ia sangat dongkol.
Namun, ketika perasaan dongkol menderanya, Ryan memberi tahu trik atau rahasia kepada Iman agar bisa menang dalam permainan monopoli. Bahkan, trik menang itu bisa diterapkan dalam segala permainan.
"Mau, kalau aku beri tahu rahasianya biar selalu menang," kata Ryan.
Iman bersemangat. Ia ingin sekali mendengar penjelasan dari Ryan soal trik selalu menang dalam setiap permainan.
Ryan mendekati ke arah Iman. Toyib, Inug, dan Yayat ikut mengejek. Toyib, Inug, dan Yayat pun merapat. Mereka serius menanti penjelasan Ryan.
"Rahasianya sangat mudah. Kalau ingin menang, kalian harus pakai kaos bergambar Superman. Dijamin kalian akan selalu menang," jelas Ryan.
Ryan lantas menjelaskan panjang lebar mengenai Superman. Menurutnya, Superman adalah manusia super atau pahlawan. Sebagai manusia super, tidak ada yang bisa mengalahkannya.
"Superman itu selalu menang. Buktinya sekarang, aku pakai kaos gambar Superman, aku kan yang menang. Akulah Superman," tandas Ryan sambil membusungkan dada.
Beberapa hari kemudian, Iman minta dibelikan baju gambar Superman kepada ibu.
"Kalu pakai baju gambar Superman, Iman bisa menjadi anak super. Tidak selalu kalah saat bermain monopoli dengan teman-teman," kata Iman kepada ibu.
Merasa risih dengan rengekan Iman, ibu akhirnya menyanggupi untuk membelikan kaos bergambar Superman.
Akhirnya Iman memperoleh kaos bergambar Superman. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada ibu yang telah membelikan.
Sorenya, setelah mandi, Iman mengenakan kaos bergambar Superman. Ia bergegas menuju lapangan untuk menemui teman-temannya. Kebetulah Ryan, Toyib, Inug, dan Yayat sudah berada di sana.
Mereka sedang bermain monopoli, begitu melihat kehadiran Iman, Ryan segera mengajaknya bermain untuk menggantikan Yayat. Iman pun mengiyakan.
Namun, setelah beberapa kali putaran, Iman tidak berhasil membeli kompleks persil. Padahal, Ryan, Toyib, dan Inug sudah berhasil membeli sejumlah kompleks persil.
Beberapa putaran kemudian, Iman makin terjepit. Ketika lawan-lawan mainnya makin banyak memiliki kompleks persil dan rumah maupun hotel, Iman tidak mampu mengumpulkan kekayaan. Bahkan, di saat uang lawan-lawannya menumpuk, uang milik Iman menipis.
Iman menghela napas panjang. Ia kalah.
"Sudah pakai kaos Supermen, kok, tetap kalah ya," gumam Iman.
Iman pun kembali diejek teman-temannya. Terus diejek. Iman akhirnya menangis.
Ketika pulang, Iman mengadukan kejadian yang baru saja dialaminya kepada ibu. "Bu, kata Ryan kalu pakai kaos Superman bisa selalu menang saat bermain. Ternyata, kok, tidak. Iman tetap kalah. Ryan bohong. Karena kalah, Iman pun diejek," kata Iman.
Ibu tidak segera menyahut, ibu hanya menjawab dengan senyuman.
Tak lama kemudian ibu berujar, "Iman, bermain itu tidak ada kaitannya dengan kaos yang dipakai. Pantas Iman selalu kalah karena kamu kan anak yang paling kecil di antara teman-temanmu itu."
Mendengar jawaban ibu, Iman mulai menyadari sebab ia kalah. "Iya, Iman memang yang paling kecil," katanya dalam hati.
Sebelum Iman beranjak menuju kamarnya, ibu memberikan nasihat. "Iman, kalah atau menang itu biasa. Apalagi menang atau kalah dalam sebuah permainan. Hanya, pesan ibu, kalau kamu menang jangan lantas mengejek teman-temanmu yang kalah. Sebab, suatu saat Iman juga bisa kalah kan," jelasnya.
"Suatu hari, Iman pasti bisa menang saat bermain dengan teman-temanmu. Yang penting, jangan sombong kalau menang," ungkap ibu sambil menyentuh ujung hidung Iman.
Iman pun tersenyum. Ia berjanji akan melaksanakan nasihat ibu. Ia berjanji tidak akan mengejek teman-teman sepermainannya ketika ia menang saat bermain.
B.     Sumber Data
Cerpen “Iman Versus Superman” diambil dari buku Berbahasa Indonesia Untuk SMP Kelas VII karangan Dewi Indrawati dan Didik Durianto. terbitan Departemen Pendidikan Nasional.

IV.   HASIL PEMBAHASAN
A.    Kohesifitas Wacana Cerpen “Iman Versus Superman”
1.    Kohesifitas Wacana Cerpen “Iman Versus Superman” dari segi gramatikal
Kohesifitas wacana secara gramatikal dari cerpen tersebut menggunakan cara sebagai berikut:
a)    Pengacuan persona (referensi)
Cerpen “Iman Versus Superman” menggunakan referensi endofora anafora ini terlihat dalam kalimat “Sore itu, anak-anak di Kampung Damai bekumpul di lapangan bulutangkis. Di lapangan yang cukup luas tersebut, anak-anak asyik bermain”. Dilanjutkan dengan kalimat “Ada yang bermain kejar-kejaran. Ada yang berputar-putar mengendarai sepeda mini. Sejumlah anak duduk melingkar bemain monopoli. Sejumlah anak lagi sibuk bermain kelereng.”
Kalimat “ada yang bermain kejar-kejaran dan seterusnya merupakan referensi endofora anafora dari kalimat “anak-anak asyik bermain”. Kalimat tersebut adalah penjelasan dari kalimat sebelumnya.
Kata “Ia” dan “-nya” pada kalimat “Ia bangga mampu menang dalam permainan monopoli atas teman-temannya” dan “Ia melontarkan ejek kepada teman-temannya tersebut. Ejekan yang ia lontarkan paling sering ditujukan kepada Iman” mengacu pada Ryan. Hal ini merupakan referensi jenis referensi personal dengan kata ganti. Hal ini banyak ditemukan pada cerpen tersebut.
Kata “disana” pada kalimat “Kebetulah Ryan, Toyib, Inug, dan Yayat sudah berada di sana” merupkan referensi demonstratif dengan pronominalisasi kata tunjuk yang mengarah pada kata “lapangan” yang berada sebelum kata di sana muncul.
Cerpen tersebut juga menggunakan referensi komparatif seperti pada kalimat “Namun, setelah beberapa kali putaran, Iman tidak berhasil membeli kompleks persil. Padahal, Ryan, Toyib, dan Inug sudah berhasil membeli sejumlah kompleks persil.”. Kata padahal merupakan komparasi atau perbandingan yang digunakan untuk kesinambungan wacana cerpen tersebut.
b)   Subtitusi (penggantian)
Cerpen “Iman Versus Superman” tersebut mengandung subtitusi seperti pada kalimat “… berkumpul di lapangan bulutangkis. Di lapangan yang cukup luas tersebut, anak-anak asyik bermain.” Kata “bulutangkis” diganti dengan kalimat “yang cukup luas tersebut”.
Lalu, “Iman” diganti dengan kalimat “Bocah berusia sekitar tujuh tahun tersebut”. Kata Iman pada kalimat sebelumnya diganti dengan kalimat “Bocah berusia sekitar tujuh tahun tersebut”. Hal ini juga memberi nilai tambah pada kesinambungan wacana.
c)    Elipsis (pelesapan)
Pada cerpen di atas ada pelesapan kata “anak” pada kalimat “Ada yang bermain kejar-kejaran. Ada yang berputar-putar mengendarai sepeda mini.” Yang kalau tidak dilesapkan berbunyi “Ada anak yang bermain kejar-kejaran. Ada anak yang berputar-putar mengendarai sepeda mini.” Hal tersebut malah mengurangi kekohesifan wacana yang ada.
Begitu pula pada kalimat “Mereka sedang bermain monopoli, begitu melihat kehadiran Iman, Ryan segera mengajaknya bermain untuk menggantikan Yayat. Iman pun mengiyakan.” Kata “monopoli” pada kalimat “Ryan segera mengajaknya bermain untuk menggantikan Yayat” dilesapkan agar kohesifitas wacana lebih terbangun dibandingkan dengan wacana yang tanpa pelesapan. Pada kalimat “Ia berhasil mengumpulkan banyak uang dan memiliki sejumlah bangunan hotel di beberapa kompleks persil.” Juga terdapat pelesapan kata “ia” di antara kata “dan” dan “memiliki”.
d)   Perangkaian (Konjungsi)
Cerpen di atas mengandung konjungsi seperti pada kalimat “Ia berhasil mengumpulkan banyak uang dan memiliki sejumlah bangunan hotel di beberapa kompleks persil.”
Kata “namun” dan “bahkan” pada kalimat “……Ia sangat dongkol.
Namun, ketika perasaan dongkol menderanya, Ryan memberi tahu trik atau rahasia kepada Iman agar bisa menang dalam permainan monopoli. Bahkan, trik menang itu bisa diterapkan dalam segala permainan.” Merupakan perangkai atau konjungsi yang membangun kohesifitas wacana.

2.    Kohesifitas Wacana Cerpen “Iman Versus Superman” dari segi leksikal
Kohesifitas wacana secara leksikal dari cerpen tersebut menggunakan cara sebagai berikut:
a)     Sinonim
Sinonimi dalam cerpen tersebut terlihat pada kalimat “"Aku selalu menang. Tidak ada yang bisa mengalahkanku.” Kata aku dan ku merupakan sinonimi yaitu sinonimi morfem bebas (aku) dan morfem terikat (ku).
Lalu pada kalimat “Pantas Iman selalu kalah karena kamu kan anak yang paling kecil di antara teman-temanmu itu.". pada kalimat ini juga terdapat sinonimi antara morfem bebas (kamu) dan morfem terikat (mu).
b)   Repetisi
Cerpen di atas kohesi leksikal dengan repetisi terdapat pada kalimat “Di antara kumpulan anak yang bermain monopoli terdapat Iman. Bocah berusia sekitar tujuh tahun tersebut asyik bermain monopoli bersama empat teman sebayanya”. Kata bermain monopoli merupakan kata yang cukup penting dalam cerpen ini. Sehingga dengan pengulangan kata tersebut kohesifitas wacana tersebut terbangun.
Hal ini juga terdapat pada kalimat “Iman pun kembali diejek teman-temannya. Terus diejek.” Kata diejek yang diulang untuk memberikan penekanan dalam cerita.
c)    Kolokasi
Cerpen “Superman Versus Iman” di atas tidak mengandung kolokasi.
B.     Keutuhan Wacana Cerpen “Superman Versus Iman”
Wacana cerpen Berjudul “Superman Versus Iman” memiliki tingkat kohesi yang cukup tinggi baik dari segi gramatikal maupun leksikal. Dengan adanya referensi, subtitusi, ellipsis, konjungsi, sinonim, dan repetisi di dalamnya.
Unsur-unsur tersebut membuat kohesifitas wacana tersebut terbangun dan merupakan salah satu bahan dasar untuk membangun wacana yang utuh. Sehingga cerpen tersebut dapat dinikmati pembaca dengan keutuhannya.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada unsur-unsur lain yang membangun keutuhan suatu wacana seperti koherensi dan konteks. Karena wacana tidak hanya terbentuk dari diri sendiri berupa struktur pembentuk wacana yang utuh tetapi juga faktor-faktor yang lainnya.
Jadi, kohesi penting untuk suatu wacana tetapi faktor yang lain juga perlu diperhatikan agar suatu wacana dapat terbentuk secara utuh baik kotek maupun konteksnya.

V.      Simpulan
Pemarkah konjungsi dalam cerpen “Iman Versus Superman” mencakup 5 tipe, yaitu adversatif, kausal, korelatif, temporal, dan subordinatif.
Pemarkah kohesi konjungsi yang paling banyak muncul adalah kohesi korelatif, lalu subordinatif, temporal, adservatif, dan yang paling sedikit muncul adalah konjungsi kausal. Untuk lebih lanjut dapat dilakukan penelitian terhadap jenis kohesi lainnya pada cerpen tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Bambang. 2000. Kajian Wacana Bahasa Indonesia. Semarang: Unnes.
Idat, T. Fatimah DJ. 1994. Wacana: pemahaman dan hubungan antarunsur. Bandung: PT Eresco.
Indrawati, dewi dan Didik Durianto. 2007. Berbahasa Indonesia Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Mulyana. 2005. Kajian Wacana: teori, metode dan aplikasi prinsip-prinsip analisis wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
R.A, Syamsuddin, dkk. 1998. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.