Sabtu, 21 April 2012

MENGENAL KEBUDAYAAN SUNDA



Latar Belakang
Kebudayaan merupakan suatu hasil karya, daya cipta atau pemikiran manusia atau gagasan-gagasan manusia yang diwujudkan. Secara antropologi-budaya dapat dikatakan bahwa yang disebut suku bangsa Sunda adalah orang-orang yang secara turun temurun menggunakan bahasa ibu bahasa Sunda serta dialeknya dalam kehidupan sehari-hari, dan berasal dan bertempat tinggal di daerah Jawa barat, daerah yang juga sering disebut Tanah Pasundan atau Tatar Sunda. (Koentjoron Ningrat:307)
Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan dari beraneka ragam kebudayaan di Indonesia. Kebudayaan Sunda biasanya dimiliki oleh penduduk yang bertempat tinggal sebagian besar di wilayah Jawa Barat dan sebagian kecil dari daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun yang memiliki kebudayaan yang khas sekali dengan kebudayaan Sunda adalah daerah Jawa Barat. Daerah yang lain sudah mendapat campuran atau sudah terkontaminasi dengan budaya yang lain, misalnya dengan budaya Jawa Tengah.
Daerah yang berbatasan langsung dengan daerah Jawa Barat misalnya kecamatan Dayeuhluhur yang berkabupaten Cilacap, Jawa Tengah adalah daerah Jawa Tengah namun memiliki bahasa ibu atau bahasa sehari-hari yaitu dengan Bahasa Sunda. Sebagian besar penduduk Dayeuhluhur bahkan tidak dapat berbahasa Jawa karena bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah Bahasa Sunda, sehingga mereka tidak paham atau bahkan tidak mengerti dengan bahasa Jawa. Namun jika pada anak-anak sekolah sebagian ada yang mengerti dengan bahasa Jawa karena di sekolah-sekolah terdapat satu pelajaran yaitu Bahasa Jawa.
Dalam pelajaran bahasa Jawa di daerah tersebut siswa sedikit kesulitan untuk mendalami atau untuk memahami bahasa tersebut. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa menguasai Bahasa atau kebudayaan tersebut. Dalam pelajaran tersebut siswa dituntut untuk bisa membaca wacana yang menggunakan bahasa Jawa, bahkan siswa juga dituntut untuk dapat menulis huruf Jawa. Namun karena tidak ada pembiasaan diri menggunakan bahasa Jawa, maka siswa sangat kesusahan karena mereka terbiasa menggunakan bahasa sehari-hari yaitu bahasa Sunda. Jika ada seseorang atau beberapa orang di daerah tersebut berdialek dengan menggunakan bahasa Jawa sering disebut orang aneh. 
Istilah Sunda kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta yakni sund atau suddha yang berarti bersinar, terang, atau putih. Dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) dan bahasa Bali dikenal juga istilah Sunda dalam pengertian yang sama yakni bersih, suci, murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada. Dengan adanya pengertian Sunda yang seperti itulah, maka di daerah Sunda jarang ditemukan orang-orang yang memiliki sifat buruk, karena hukum alam Sunda masih sangat tinggi. Seperti halnya di daerah Kecamatan Dayeuhluhur. Hukum alam Dayeuhluhur akan berpihak pada masyarakat yang memiliki hati yang bersih.
Pada kebudayaan Sunda yang lebih menonjol terlihat adalah dialek antara daerah. Meskipun dalam satu suku Sunda, tetapi terdapat logat atau dialek yang sangat beragam. Dalam bahasa Sunda dialek yang dapat dibilang merupakan dialek paling halus adalah dialek yang terdapat di daerah Tasikmalaya dan dialek Bandung, Sumedang, dan Cianjur. Sampai sekarang dialek penduduk Cianjur mesih dianggap dianggap dialek terhalus dalam Bahasa Sunda. Sementara dialek yang dianggap kasar misalnya dialek pada penduduk Banten dan Krawang.  
Dalam bahasa Sunda tidak mengenal tingkatan bahasa, lain halnya dengan Bahasa Jawa. Jika pada Bahasa Jawa mengenal bahasa ngoko, krama, krama inggil, namun dalam Bahasa Sunda tidak mengenal istilah tersebut. Dalam Bahasa Sunda yang ada adalah bahasa halus dan kurang halus. Bahasa halus adan kurang halus tersebut tiap daerah berbeda-beda. Jika menurut penduduk yang bertempat tinggal di daerah Banten bahasa yang diucapkan tersebut adalah halus, lain halnya menurut penduduk yang bertempat tinggal di daerah Bandung atau Cianjur, menurut penduduk bandung atau Cianjur bahasa yang digunakan oleh penduduk Banten adalah Bahasa yang kurang halus atau bahasa yang Kasar. Perbedaan tersebut bergantung dari kronologis daerah tersebut.
Bahasa Sunda yang halus atau Bahasa Priangan memiliki kronologis sejarah karena pengaruh kebudayaan dari kerajaan Mataram Islam. Dalam sejarah disebutkan bahwa pada abad ke-19 terjalin kekerabatan dan kebudayaan antara bangsawan dari Suku Sunda dengan kaum Bangsawan dari Solo dan Yogyakarta. Seperti telah kita ketahui bersama dialek yang terdapat pada penduduk Solo adalah dialek atau bahasa yang cukup halus atau bahkan dalam kebudayaan Jawa dialek penduduk solo adalah dialek terhalus. Namun disamping pengaruh kebudayaan dan kekerabatan antara Suku Sunda dengan Solo dan Yogyakarta, faktor yang sangat mempengaruhi terhadap kehalusan dalam suatu dialek adalah keadaan wilayah.
Faktor geografis sangat berpengaruh terhadap suatu kebudayaan. Dalam kebudayaan Sunda wilayah yang memiliki keadaan geografis berupa daerah dataran tinggi memiliki bahasa yang cukup halus yang disebut dengan daerah Priangan. Daerah Priangan memiliki bahasa yang terhalus dalam bahasa Sunda. Lain halnya dengan daerah yang keadaan geografisnya berada di pesisir utara atau daerah yang dekat dengan pantai utara seperti daerah Bogor, Banten, dan Cirebon. Di daerah yang wilayah geografisnya dekat dengan Pantai Utara, bahasa atau dialeknya dianggap kurang halus. Hal tersebut dimungkinkan karena faktor kebiasaan penduduk dalm bermata pencaharian. Misalnya di daerah Bogor. Daerah Bogor merupakan daerah puncak dengan penduduk yang mayoritas bermata pencaharian berkebun yaitu berkebun teh. Penduduk yang bertempat tinggal di wilayah kebun teh memiliki perilaku atau sikap-sikap yang kasar atau keras. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya kekuasaan wilayah atau kesewenang-wenangan dari orang-orang memiliki jabatan tinggi dibanding dengan penduduk biasa. Misalnya para “mandor” di kebun teh tersebut memiliki kewenangan yang tinggi terhadap penduduk yang jabatannya lebih rendah, sehingga kadang-kadang “mandor” tersebut berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan di daerah pesisir pantai Utara misalnya daerah Banten dan Cirebon, kekurang halusan dalam berbahasa tersebut adalah disebabkan oleh kebiasaan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pantai memiliki kehidupan yang sangat keras. Hal tersebut juga sangat berpengaruh terhadap halus tidaknya suatu bahasa yang digunakan.
Dalam perkembangannya, istilah Sunda digunakan juga dalam konotasi manusia atau sekelompok manusia, yaitu dengan sebutan urang Sunda (orang Sunda). Di dalam definisi tersebut tercakup kriteria berdasarkan keturunan (hubungan darah) dan berdasarkan sosial budaya sekaligus. Menurut kriteria pertama, seseorang bisa disebut orang Sunda, jika orang tuanya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu ataupun keduanya, orang Sunda, di mana pun ia atau mereka berada dan dibesarkan.   
Menurut kriteria kedua, orang Sunda adalah orang yang dibesarkan dalam lingkungan sosial budaya Sunda dan dalam hidupnya menghayati serta mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam hal ini tempat tinggal, kehidupan sosial budaya dan sikap orangnya yang dianggap penting. Bisa saja seseorang yang orang tuanya atau leluhurnya orang Sunda, menjadi bukan orang Sunda karena ia atau mereka tidak mengenal, menghayati, dan mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai sosial budaya Sunda dalam hidupnya.
Dalam konteks ini, istilah Sunda, juga dikaitkan secara erat dengan pengertian kebudayaan. Bahwa ada yang dinamakan Kebudayaan Sunda, yaitu kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan berkembang di kalangan orang Sunda yang pada umumnya berdomosili di Tanah Sunda. Dalam tata kehidupan sosial budaya Indonesia digolongkan ke dalam kebudayaan daerah. Di samping memiliki persamaan-persamaan dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, kebudayaan Sunda memiliki ciri-ciri khas tersendiri yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain.

Budaya Saling Asih, Asuh, dan Asah
Secara umum, masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, sering dikenal dengan masyarakat yang memiliki budaya religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo "silih asih, silih asah, dan silih asuh" (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi). Di samping itu, Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan (handap asor), rendah hati terhadap sesama; penghormatan kepada orang tua atau kepada orang yang lebih tua, serta menyayangi orang yang lebih kecil (hormat ka nu luhur, nyaah ka nu leutik); membantu orang lain yang membutuhkan dan yang dalam kesusahan (nulung ka nu butuh nalang ka nu susah), dsb.     
"Silih asih, silih asah, dan silih asuh" (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi), merupakan pameo budaya yang menunjukkan karakter yang khas dari budaya religius Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya.
Saling asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religius-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta kasih Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Dengan ungkapan lain, saling asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang kemudian melahirkan moralitas egaliter (persamaan) dalam masyarakat. Dalam tradisi masyarakat saling asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior maupun inperior sebab menentang semangat ketuhanan dan semangat kemanusiaan. Mendudukan manusia pada kedudukan superior atau inperior merupakan praktek dari syirik sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior (tinggi), berarti mendudukkan manusia sejajar dengan Tuhan dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang inperior (rendah), berarti mengangkat dirinya sejajar dengan Tuhan. Dalam masyarakat saling asih manusia didudukkan secara sejajar (egaliter) satu sama lainnya. Prisip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, ta'awun (kerjasama) dan sikap untuk senantiasa bertindak adil. Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat teratur, dinamis dan harmonis.           
Tradisi (budaya) saling asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan masyarakat sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial.         
Budaya saling asih ini dapat mengangkat harkat dan martabat seseorang yang dahulunya telah terasing. Biasanya banyak orang yang bepergian ke luar kota selama beberapa tahun, namun ketika ia kembali ke kampung halamannya ia merasa seperti orang asing di kampungnya sendiri. Dengan adanya budaya saling asih tersebut, warga di kampung asalnya tidak mengasingkannya melainkan menganggap seperti keluarganya sendiri dan mereka akan langsung menyambutnya dengan baik dengan tidak mengasingkannya.
Selain budaya saling asih, dalam masyarakat Sunda yang sangat religius kepentingan kolektif maupun pribadi mendapat perhatian yang serius melalui saling mengontrol dengan adanya kepedulian antarsesama. Pada masyarakat Sunda, penduduk tidak mementingkan kepentingan dirinya sendiri, namun lebih mengutamakan kepentingan bersama sehingga tercipta hubungan yang sangat harmonis antarwarga masyarakat. Semua hal tersebut dikembangkan dalam tradisi atau budaya saling asuh. Budaya saling asuh inilah yang kemudian memperkuat ikatan emosional yang telah dikembangkan dalam tradisi saling asih pada masyarakat yang religius. Oleh karena itu, dalam masyarakat yang religius ini jarang sekali ditemui adanya konflik dan kericuhan antarpenduduk, namun ketika ada kelompok lain yang mengusik ketenangannya, maka mereka akan bangkit melawan secara kompak (simultan). Kepedulian antarsesama sangatlah tinggi pada masyarakat Sunda yang religius. 
Budaya silih asuh inilah yang merupakan manifestasi akhlak Tuhan yang maha pembimbing dan maha menjaga, kemudian dilembagakan dalam silih amar makruf nahy munkar. Dalam budaya Sunda, sistim keagamaan sangatlah kental terutama agama Islam. Agama Islam tersebar luas di tanah Sunda, sehingga masyarakat Sunda lebih dominan beragama Islam.
Budaya silih asuh merupakan etos pembebasan masyarakat yang religius dari kebodohan, keterbelakangan, kegelisahan hidup dan segala bentuk kejahatan. Dengan adanya budaya silih asuh inilah masyarakat mendapatkan pencerahan untuk hidupnya agar setiap masyarakat memiliki kehidupan masa depan yang lebih cerah, memiliki masa depan yang gemilang guna membangun masa depan diri sendiri.
Selain budaya saling asih dan saling asuh, pada masyarakat Sunda terdapat pula budaya saling asah. Saling asah adalah  semangat interaksi untuk saling mengembangkan diri ke arah penguasaan dan penciptaan iptek sehingga masyarakat memiliki tingkat disiplin dan otonomi yang tinggi.
Masyarakat saling asah adalah masyarakat yang saling mengembangkan diri untuk memperkaya khazanah pengetahuan dan teknologi. Masyarakat sekitar tidak menutup diri terhadap perkembangan tekhnologi yang semakin hari semakin berkembang. Masyarakat terus dapat mengikuti berbagai perkembangan dengan teknologi sehingga masyarakat tidak tertinggal dengan perubahan zaman. Tradisi seperti itulah yang dapat membuat masyarakat semakin berkembang dan tidak lagi tertinggal dengan perubahan zaman yang semakin hari semakin berkembang.
Tradisi saling asah melahirkan etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat. Etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat yang religius merupakan upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap yang lain sebab tanpa tradisi iptek dan semangat ilmiah suatu masyarakat akan mengalami ketergantungan sehingga mudah tereksploitasi, tertindas, dan terjajah.
Tradisi saling asah yang terdapat dalam masyarakat Sunda memberikan manfaat yang sangat besar. Masyarakat kini bisa hidup mandiri tanpa harus mengandalkan orang lain atau bergantung terhadap orang lain. Masyarakat yang masih bergantung dengan orang lain sangatlah mudah dipengaruhi oleh orang lain sehingga tidak memiliki pendirian yang tetap dan akan tertindas dengan adana iptek yang semakin berkembang. Pikiran yang masih bisa goyah karena keterbelakangan iptek menyebabkan berbagai macam pengaruh dapat masuk ke dalam dirinya dengan sangat mudah. Namun dengan adanya budaya atau tradisi saling asah semua itu dapat dihindari. Masyarakat memiliki pendirian yang statis dan tidak mudah digoyahkan ataupun dipengaruhi oleh orang lain atau tertindas dengan iptek yang semakin maju.
Dalam masyarakat religius yang saling asah, ilmu pengetahuan, dan teknologi mendapat bimbingan etis sehingga iptek tidak lagi angkuh, tetapi tampak anggun, bahkan memperkuat ketauhidan. Integrasi iptek dan etika ini merupakan terobosan baru dalam kedinamisan iptek dengan membuka dimensi transenden, dimensi harapan, evaluasi kritis, dan tanggung jawab.
Dalam masyarakat Sunda perkembangan iptek sangat bersahabat, sehingga masyarakat sangt mudah mengikuti perkembangn zaman tersebut. Perkembangn iptek pada masyarakat sekitar tampak selaras dengan keadaan dan kondisi masyarakat Sunda yang sangat religius dan menghormati perkembangn iptek. Perkembangan iptek dan adanya etika yang sangat dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat merupakan suatu kesempatan yang baru dalam perubahan iptek yang semakin hari semakin berubah pesat.
Budaya saling asahlah yang mengantarkan masyarakat menuju perkembangan dan perubahan zaman yang menjauhkan masyarakat dari keterbelakangan pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya budaya inilah masyarakat akan semakin maju dan berkembang dan dapat mengikuti perkembangan zaman dengan mudah.   
Dengan demikian, budaya saling asih, saling asah dan saling asuh tetap akan selalu relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Melalui strategi budaya saling asih, saling asah saling asuh, manusia modern akan dapat dikembalikan citra dirinya sehingga akan terbatas dari kegelisahan, kebingungan, dan penderitaan serta ketegangan psikologis dan etis. Adanya budaya tersebut sangat berpengaruh terhadap masyarakat, terutama pada masyarakat Sunda karena budaya tersebut hanya terdapat di dalam masyarakat Sunda. Seperti yang telah kita ketahui masyarakat Sunda sangat menjunjung tinggi budaya tersebut.

Kesusastraan Sunda                 
Di dalam tradisi Sunda atau dalam kebudayaan Sunda juga terdapat sebuah kesusastraan. Kesusastraaan dalam budaya Sunda hampir sama seperti kebudayaan pada umumnya. Diantaranya adalah pantun, wiracarita, lagu daerah Sunda dan masih banyak yang lainnya. Pada kebudayaan Sunda jika seseorang sedang menceritakan sejarah-sejarah yang ada pada kerajaan Sunda, maka dia biasanya menggunakan alat musik kecapi sebagai pengiringnya. Cerita-cerita tersebut biasanya dalam bentuk roman yang kemudian dibuat dalam bentuk cerita.
Cerita-cerita pantun tersebut biasanya menceritaka tentang raja-raja pada zaman dahulu. Masyarakat Sunda pada zaman dahulu lebih mengagungkan raja Sunda yang terkenal dengan Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi merupakan raja terkuat di Sunda. Bagi orang sunda atau masyarakat Sunda, cerita-cerita pantun itu sudah memiliki khas dalam hati seluruh masyarakat Sunda. Permainan-permainan pantun yang ada pada masyarakat Sunda merupakan suatu permainan yang dapat menggugah perasaan-perasaan masyarakat Sunda pada umumnya yang semakin lama dimainkan maka akan semakin terkenang. Itulah kelebihan permainan pantun pada masyarakat Sunda.
Permainan pantun-pantun tersebut biasanya dimainkan atau dilakukan ketika santai. Ketika mereka sedang berkumpul dengan sanak saudara atau bahkan dengan tetangga, pada saat itulah permainan pantun mulai dimainkan. Pada saat-saat itulah merupakan saat yang menyenangkan bagi masyarakat sunda. Karena pada saat itu mereka bisa bercengkrama bersama.
Cerita wawacan dalam bahasa sunda banyak diambil dari cerita-cerita Islam. Wawacan biasanya menggunakan tulisan pegon. Tulisan pegon merupakan tulisan yang menggunakan huruf Arab gundul. Wawacan merupakan cerita yang berbentuk puisi dan biasanya dinyanyikan dalam membacanya. Wawacan yang ahulu biasa dinyanyikan disebut dengan beluk. Biasanya seorang membacakan saatu kalimat dari wawacan yang berbentuk puisi tembang dari Jawa, dan yang satu menyanyikannya. Orang yang membaca puisi dan yang menyanyikannya biasanya duduk di tikar di bawah atau bahkan sambil tidur-tiduran. Semua itu terlihat anah bagi orang yang belum mengetahui kebudayaan sunda sebenarnya, namun bagi orang sunda kebiasaan tersebut sungguh sangat menyenangkan.
Untuk bidang sastra, wawacan yang lain adalah bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Misalnya, Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Keang Santang, Wawacan Syeh Abdul Kodir Jaelani, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kesenian yang lain adalah beluk. Lain halnya dengan wawacan. Meskipun sama-sama dinyanyikan, namun suasana yang dipakai tersebut berbeda. Jika wawacan biasa diperdendangkan untuk hiburan semata, namun jika beluk dinyanyikan untuk menunggui orang yang baru melahirkan. Biasanya dinyanyikan hampir semalam suntuk. Namun sayang, sekarang ini kesenian beluk sudah jarang diperdengarkan atau bahkan mungkin tidak ada lagi orang yang memperdengarkan beluk. Hal tersebut bisa saja dikarenakan oleh perkembangan zaman.
Selain pantun, beluk dan wawacan, dalam kesussastraan Sunda juga terdapat berbagai macam cerita rakyat seperti Sangkuriang yang menceritakan tentang terjadinya Gunung Tangkubanprahu dan danau purba di dataran tinggi Bandung. Sangkuriang menceritakan tentang seorang anak yang mencintai seorang wanita yang ternyata ibu kandungnya sendiri. Sangkuriang marah karena  wanita tersebut menolak untuk dinikahi. Wanita tersebut memberi persyaratan kepada Sangkuriang untuk membuat perahu, namun harus selesai sebelum pertanda pagi muncul yaitu sebelum ayam berkokok yang menandakan pagi telah tiba. Namun dengan kekuatan wanita itu, pertanda pagi pun datang meskipun sebenarnya pagi belum tiba. Sangkuriang  pun marah kemudian  menendang perahu yang telah ia buat sehingga tertelungkup. Itulah cerita terjadinya Gunung Tangkubanprahu yang ada di daerah Bandung. Gunung Tangkubanprahu tersebut kini menjadi objek wisata yang  ramai dikunjungi. Selain karena pemandangannya yang indah, tetapi juga Gunung Tangkubanprahu tersebut merupakan salah satu cerita sejarah dari daerah Sunda.
Satu macam cerita rakyat dari Sunda yaitu cerita si Kabayan. Si Kabyan merupakan cerita rakyat yang sangat merakyat di daerah Sunda dan setiap orang di sunda pasti mengetahui cerita tersebut karena tersebut dikenal oleh semua kalangan. Si Kabayan merupakan seorang lelaki yang bodoh dan pemalas, namun kadang-kadang di suatu waktu dia menjadi orang yang cerdik.
Kesusastraan-kesusastraan Sunda itu bukan suatu unsur kebudayaan yang hanya dikenal di lingkungan kecil saja, akan tetapi dikenal secara luas oleh semua kalangan dalam masyarakat. Seperti dalam permainan reog, permainan tersebut selalu menyesuaikan dirinya dengan setiap zaman. Sehingga permainan reog dapat dinikmati oleh setiap generasi dan dapat dengan mudah diterima masyarakat. Hal itu merupakan suatu ciri bahwasannya bahasa dan Sastra Sunda merupakan bagian yang sangat diperlukan dari kehidupan sehari-hari pada masyarakat Sunda.
Disamping bahasa sunda yang menjadi identitas paling menonjol pada masyarakat sunda, ciri kepribadian yang lain adalah bahwa orang sunda sangat mencintai dan menghayati keseninnya. Masyarakat Sunda sangat menjunjung tinggi kesenian dan bahasa daerahnya. Dari bahasa dan keseniannya dan dari cara masyarakat Sunda bersikap dalam kesehariannya, dapat digambarkan bahwa masyarakat Sunda adalah manusia yang optimis, suka dan mudah gembira namun mudah sedih atau mudah marah juga karena orang Sunda merupakan orang yang sangat perasa sehingga kadang-kadang orang menyebutnya bahwa orang Sunda merupakan orang yang pundungan, artinya mudah marah. Memiliki watak yang terbuka juga merupakan salah satu sifat dari orang-orang Sunda.
Setiap kebudayaan dan kesenian pada daerah Sunda selalu dihormati oleh seluruh warga masyarakat. Di daerah Sunda, jika ada orang yang tidak dapat menghargai bahkan tidak dapat menghayati kesenian dan kebudayaannya, biasanya mendapatkan hukuman dari masyarakat yang secara tidak langsung yaitu dikuciklan dari daerahnya. Masyarakat Sunda menganggap kebudayaan tersebut merupakan warisan dari para leluhur yang harus tetap dicintai dan dihormati keberadaannya. Masyarakat Sunda tetap menjunjung tinggi kebudayaan tersebut meskipun dengan berbagai perubahan namun tetap mementingkan kebudayaan semula dengan tanpa menghilangkan kebudayaan yang asli.
Budaya Sunda dikenal sebagai budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah ramah tamah yang dalam bahasa Sundanya disebut dengan someah, murah senyum, lemah lembut dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya dan kultur dari masyarakat Sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana cara menggunakan bahasa halus untuk orang tua. 
Karakter manusia Sunda yang ramah tamah dan sopan santun sampai saat ini masih melekat pada diri masyarakat Sunda. Meskipun kita tidak mengetahui perbedaan masyarakat Sunda dan masyatakat yang lainnya, namun dengan melihat sikap dan perilaku orang Sunda yang ramah tamah dalam berbahasa maka kita sudah dapat menebak bahwa ia adalah masyarakat Sunda. Masyarakat Sunda pada umumnya murah pada senyumnya. Jika orang Sunda bertemu dengan orang lain, baik itu masyarakat Sunda iti sendiri ataupun masyarakat yang lain meskipun tidak saling kenal, maka ia akan memberikan senyuman yang sangat lembut terhadap orang ia jumpai, apalagi jika sebelumnya ia saling bertatap muka maka senyumanlah yang akan ia berikan. Itulah sebabnya mengapa orang Sunda dikatakan dengan masyarakat yang murah senyum.    
Kebudayaan Sunda masa kini sudah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh pertambahan penduduk dan perkembangan zaman. Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan masyarakat dan aspek kebudayaan. Yang tadinya setiap ibukota kecamatan masih memperlihatkan suasana ketenangan dan kedamaian, kini berubah menjadi pemusatan-pemusatan penduduk yang ramai dan penuh dinamik. Hal tersebut terjadi setelah terjadinya perang dunia ke-II yang telah mengakibatkan banyak perubahan khususnya pada kebudayaan.

Kesenian Sunda
Wayang Golek
Setelah zaman pantun berakhir, yang merupakan pertanda bahwa Pajajaran telah jatuh, maka dikenal dengan adanya zaman wayang. Zaman wayang merupakan zaman yang mendapat pengaruh dari Mataram Islam. Cerita-cerita wayang yang muncul pada daerah tersebut merupakan cerita-cerita wayang yang berasal dari epos Ramayana dan Mahabarata. Namun pada zaman sekarang ini, kesenian atau cerita-cerita wayang yang diperankan atau ketika dimainkan sudah mendapat variasi-variasi karangan khusus dari dalang yang memainkan kesenian wayang tersebut. Dalang merupakan motor atau penggerak setiap tokoh pada wayang, jadi dalang harus menguasai watak tokoh pada wayang.
Kesenian wayang pada daerah Sunda merupakan suatu hiburan. Pertunjukan wayang di Sunda biasanya diadakan atau dielenggarakan jika ada orang yang hajatan kemudian mengadakan hiburan wayang, kemudian jika memperingati hari-hari besar atau bahkan jika menyambut tamu agung. Pertunjukan atau kesenian wayang menjadi suatu kesenian andalan di daerah Sunda. Kesenian wayang yang menjadi hiburan bagi orang Sunda tersebut bagi yang menyaksikannya tokoh pada wayang tidak begitu diperhatikan atau bagi penonton tidak begitu menarik. Yang menarik perhatian penonton atau yang lebih menghibur penonton adalah kepiawaian atau ketrampilan sang dalang ketika memainkan setiap tokoh wayang tersebut, atau bahkan penonton lebih tertarik kepada sinden-sinden yang menyanyikan lagu Sunda ketika wayang dimainkan.
Di daerah Sunda wayang yang dimaksud adalah wayang golek, bukanlah wayang kulit. Meskipun kebanyakan orang Sunda beragama Islam, namun orang Sunda memberikan tempat tertentu untuk wayang sebagai kebudayaan. Orang Sunda menganggap wayang sebagai kebudayaan karena di dalam wayang tersebut terdapat unsur kesenian yaitu seni sastra, seni tembang dan gamelan. Kesenian wayang masih banyak dimainkan di daerah pedesaan ataupun di perkotaan.
Wayang golek adalah sebuah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita pewayangan. Dimainkan oleh seorang Dalang, yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang dimainkan.  Wayang golek sangat digemari oleh masyarakat Sunda khususnya. Lazimnya wayang golek dipergelarkan pada malam hari sampai dini hari. Biasanya kesenian wayang golek dimainkan selama semalam suntuk dengan seorang dalang, sinden, dan penabuh gamelan yang tanpa mengenal lelah. Jika mereka sudah mencintai terhadap kesenian tersebut, maka perasaan lelah, suntuk atau pun capek tidak lagi mereka rasakan.
Dalam pertunjukan wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita Mahabarata dan Ramayana dengan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa dialog yang diiringi dengan gamelan Sunda yang biasa disebut dengan salendro, yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selenten, satu perangkat boning, satu perangkat boning ricik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong) ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.
Pementasan wayang golek pada masa kini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi relevan dengan kebutuhan masyarakat pada lingkungannya. Wayang golek biasanya digunakan sebagai keperluan spiritual maupun keperluan material. Wayang golek kadangkala digunakan dalam kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada suatu perayaan, baik hajatan dalam rangka khitanan, ataupun dalam kegiatan pernikahan, biasanya masyarakat Sunda lebih memilih kesenian wayang golek.

Jaipongan
Selain wayang golek, kebudayaan Sunda yang lain adalah tari jaipongan. Jaipongan merupakan suatu jenis seni  tari yang lahir melalui kreativitas seorang seniman asal Bandung yakni Gugum Gumbira. Ia mendapatkan inspirasi gerakan-gerakan tarian dari kesenian rakyat yaitu Ketuk Tilu. Dari gerakan-gerakan ketuk tilu itulah ia dapat mengembangkan gerakan menjadi tari jaipongan.
Tari jaipongan biasanya dipentaskan jika ada acara-acara tertentu, misalnya acara pernikahan. Di daerah Sunda khususnya di daerah pedesaan, tari jaipongan merupakan acara yang sangat menyenangkan. Selain para penari yang menari di atas panggung, kadangkalanya ada juga warga sekitar atau tamu undangan yang ikut menari pula. Dengan seperti itulah tarian jaipongan akan semakin ramai.
Gerakan tubuh yang sangat indah dari para penari, biasanya mengundang kemeriahan dari acara tersebut. Meriah tidaknya acara jaipongan tersebut bergantung dari para penari dan pengiring musik, begitu pula dengan sinden yag menyanyikan tembang Sunda dengan sangat merdu, maka akan menambah semaraknya suasana acara tersebut. Gerakan-gerakan penari yang begitu luwes atau tidak kaku dengan balutan busana yang sangat sederhana menandakan bahwa masyarakat Sunda memang masyarakat yang sangat merakyat.
Kehadiran tari jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi dalam menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya tarian rakyat tersebut kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Terkadang masyarakat Sunda yang tinggal di  kota sering mengesampingkan kebudayannya sendiri dan lebih mengutamakan kebudayaan yang lainnya. Mereka menganggap tarian rakyat tersebut sebagai tarian yang ‘ndeso’.
Namun lain halnya dengan masyarakat kota yang masih sangat mencintai budayanya, mereka menganggap bahwa Tari Jaipongan merupakan salah satu kebanggan tarian dari Jawa Barat. Hal ini nampak pada acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat kemudian mereka menyambutnya dengan dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian halnya dengan misi-misi kesenian ke manca negara yang senantiasa dilengkapi dengan kesenian tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.

Angklung
Kesenian terkenal pada masyarakat Sunda yang selanjutnya adalah angklung. Angklung merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Angklung terbuat dari bambu yang dibunyikan dengan cara digoyangkan. Bunyi yang dihasilkan oleh angklung tersebut kerena adanya benturan pada pipa bambu, sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 dalam setiap ukuran. Ukuran angklung bermacam macam, ada yang berukuran kecil adapula yang berukuran besar. Ukuran-ukuran tersebut memiliki nada yang berbeda-beda.
Kemunculan angklung berawal dari ritual padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh dengan subur. Pada masyarakat Sunda, Dewi Sri merupakan dewi padi. Fungsi angklung selain untuk memenggil Dewi Sri, angklung berfungsi pula sebagai penyemangat dalam pertempuran.
Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Sisingaan
Selain wayang golek, jaipong, dan angklung kesenian Sunda yang lain adalah sisingaan. Sisingaan merupakan suatu khas masyarakat Sunda yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Sisingaan tersebut biasanya di pentaskan jika ada seorang anak laki-laki akan disunat atau seorang tokoh masyrakat. Anak laki-laki yang akan disunat atau seorang tokoh masyarakat tersebut dinaikkan ke atas sisingaan yang di atasnya telah disiapkan tempat duduk.
Para pemain sisingaan pada umumnya adalah lelaki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri atas 8 orang penggotong singa (1 boneka singa digotong oleh 4 orang), seorang pemimpin kelompok, beberapa orang pemain waditra, dan satu atau dua orang menjadi jajangkungan. Laki-laki yang bertugas menjadi jajangkungan berjalan menggunakan bambu yang panjang yang biasanya disebut dengan egrang. Dalam melakukan permainan ini dibutuhkan ketrampilan yang khusus dari setiap pemain, karena dalam melakukan permainan ini dibutuhkan tim yang kompak. Dalam permainan ini tidak bisa dilakukan dengan sendiri-sendiri. Tim yang kompak akan membuat permainan berjalan secara sempurna, baik dari yang memainkan atau yang memegang boneka singa, ataupun yang memainkan musik. Semuanya harus berlangsung selaras agar tidak terjadi ketidaktepatan antara pemain dengan yang memainkan musik. Pemain musik dalam sisingaan dinamakan dengan nayaga.
Itulah mitos berdirinya sebuah kesenian Sunda yang bernama sisingaan. Meskipun kesenian sisingaan tidak terlalu merakyat di kalangan masyarakat Sunda, tetapi masyarakat Sunda sangat menghargai kebudayan tersebut karena sisingaan merupakan kebudayaan asli dari Jawa Barat. Kemungkinan besar yang sering mengadakan kesenian sisingaan adalah orang-orang tertentu saja (kalangan atas) karena untuk mengadakan kesenian tersebut membutuhkan biaya yang cukup banyak. Sehingga tidak semua kalangan dapat mengadakan kesenian tersebut.
Dalam permainan sisingaan banyak sekali nilai positif yang bisa kita ambil, diantaranya adalah kerjasama, kekompakan, kerajinan, dan ketekunan. Nilai kerjasama diperlihatkan dari adanya kebersamaan melestarikan budaya leluhur yang semakin hari semakin berkurang, namun mereka tetap melestarikannya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan dengan lancar. Semua itu karena adanya kekompakan antarpemain. Lancar tidaknya permainan tersebut bergantung dari kekompakan antarpemain. Nilai kerja keras dan ketekunan terlihad dari penguasaan gerakan-gerakan tarian. Gerakan-gerakan tersebut tidaklah mudah karena pemain harus menari sambil membawa boneka singa. Karena itulah ketekunan dan kerja keras sangan diperlukan demi kalancaran permainan tersebut.






Sumber Pustaka

Koentjaraningrat. 1987. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.