Sabtu, 21 April 2012

ANALISIS KESINAMBUNGAN DALAM WACANA CERPEN “GERHANA MATA” KARYA DJENAR MAESA AYU


ANALISIS KESINAMBUNGAN DALAM WACANA CERPEN “GERHANA MATA” KARYA DJENAR MAESA AYU

Abstrak: Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui kesinambungan topik yang terdapat dalam wacana cerpen “Gerhana Mata” karya Djenar Maesa Ayu. Data kesinambungan ini diambil secara analisis terhadap cerpen “Gerhana mata”. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis kesinambungan topik. Dari hasil analisis diperoleh topik di di dalam wacana cerpen. Untuk menentukan kesinambungan topik dalam wacana, dapat ditentukan melalui kriteria-kriteria kesinambungan topik dengan memberikan nilai pada setiap kriteria yang ada pada wacana.

Kata kunci: wacana, kesinambungan, kalimat, topik.


PENDAHULUAN
Wacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang tersusun oleh kalimat atau kalimat-kalimat (ujaran, baik lisan maupun tulisan) yang membentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun manifestasi fonetisnya (realisasi). Menurut Kridalaksana (1978) wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar dalam hierarki gramatikal. Namun, dalam realisasinya wacana dapat berupa karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklpodedia), paragraf, kalimat, frase, bahkan kata yang membawa amanat lengkap. Pada hakikatnya, wacana merupakan rangkaian kalimat-kalimat. Sedangkan menurut Crystal (dalam Hartono 2000: 10), wacana merupakan rangkaian sinambung kalimat yang lebih luas daripada kalimat, sedangkan dari sudut pandang psikolinguistk, wacana merupakan suatu proses dinamis pengungkapan dan pemahaman yang mengatur penampilan orang dalam interaksi kebahasaan. Pada dasarnya, permasalahan wacana adalah permasalahan yang kompleks. Artinya, suatu rentetan kalimat belum tentu dinamakan wacana bila rentetan kalimat itu tidak memberikan informasi yang lengkap.
Wacana dapat dikatakan baik apabila memiliki topik didalamnya. Selain topik, ada juga tema dan judul yang memiliki kedudukan dalam sebuah wacana. Antara topik, tema dan judul haruslah membentuk suatu kesinambungan dengan isi yang disampaikan. Dalam artikel analisis topik dan kesinambungannya ini, akan digunakan wacana cerpen yang diambil dari surat kabar Kompas, dengan judul cerpen “Gerhana Mata” karya Djenar Maesa Ayu.
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Kesinambungan topik dalam wacana cerpen “Gerhana Mata”, karya Djenar Maesa Ayu. (2) Analisis wacana cerpen berjudul “Gerhana Mata” berdasarkan kriteria kesinambungan topik.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulisan artikel dengan judul “Analisis Kesinambungan dalam Wacana Cerpen “Gerhana Mata”, karya Djenar Maesa Ayu ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan unsur-unsur yang menjadikan suatu wacana berkesinambungan. (2) Mengetahui apakah wacana cerpen yang berjudul “Gerhana Mata” adalah suatu wacana yang berkesinambungan atau tidak.

KAJIAN TEORETIS
Definisi Wacana
Menurut Kridalaksana (1985:184) wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap unsurnya. Pendapat ini menghapus pandangan lama bahwa wacanalah yang merupakan satuan bahasa yang paling lengkap, maka dimulailah analisis terhadap wacana. Sementara itu, Edmonson (dalam Hartono 2000: 15) berpendapat bahwa wacana adalah suatu peristiwa yang terstruktur yang diwujudkan di dalam perilaku linguistik atau yang lainnya. Batasan wacana yang lebih maju dikemukakan oleh Longacre (dalam Hartono 2000:16), yang berpendapat bahwa wacana merupakan suatu rentetan kalimat yang membentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonetisnya. Berbagai macam definisi wacana telah dikemukakan oleh beberapa ahli. Namun, dari sekian banyak perbedaan definisi wacana, pada dsarnya menekankan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar (Chaer 1994: 267). Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan), tanpa keraguan apa pun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, berarti wacana itu dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan persyaratan kewacaan lainnya.  
Pendapat lain tentang wacana yang memperhatikan kapaduan dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah Stubbs, Kridalaksana, dan Alwi et.al. (dalam Hartono 2000: 18), yang berpandangan bahwa wacana merupakan satuan bahasa di atas kalimat, baik lisan maupun tulis, yang tersusun secara berkesinmabungan dan membentuk kepaduan. Kepaduan yang dibangun oleh kesinmabungan pengertian  merupakan karakteristik yang penting yang harus ada pada sebuah wacana yang baik.
Dari berbagai pendapat mengenai wacana, Darma (2009:3) dapat menarik kesimpulan wacana merupakan rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan koheren, yang dibentuk oleh unsur-unsur segmental dalam sebuah wacana yang paling besar.

Topik dan Kesinambungan   
Suatu wacana dikatakan baik apabila di dalam wacana tersebut terdapat satu topik yang terfokus pada sebuah wacana. Kesinambungan topik merupakan cara suatu topik utama dijalinkan dalam suatu urutan klausa maupun kalimat yang tersusun membentuk suatu rangkaian yang sinambung (Seng dalam Hartono 2000: 1995: 21) untuk memahami kesinambungan topik, setidaknya kita harus memahami kesinmabungan pada sebuah wacana. Hal ini disebabkan kesinmabungan wacana merupakan satu proses yang kompleks. Dalam kesinambungan topik ada tiga aspek utama, yaitu : 1) kesinambungan tema (thematic continuity); 2) kesinmabungan tindakan (action continuity); 3) kesinambungan topik/peserta (topics/participants continuity) (Seng dalam Hartono 2000:130)
Menurut Dardjowidjojo (dalam Hartono 2000:18) kesinambungan dan keteraturan rentetan kalimat dalam wacana itu terjadi karena adanya benang pengikat yang mempertalikan satu proposisi dengan proposisi yang lain, yang kemudian lebih dikenal dengan konsep kohesi.
Di dalam sebuah wacana, topik sebagai suatu konteks. Topik dapat menentukan sifat kewacanaan. Topik-topik berita menentukan struktur wacana sesuai dengan tuntutan topik berita. Topik-topik ilmiah juga menuntut digunakannya wacana ilmiah. Topik-topik narasi juga menuntut digunakannya wacana narasi. Dalam wacana narasi banyak ditemukan bahasa yang berbunga-bunga atau gaya bahasa yang sedikit ditemukan dalam wacana lain. Dalam hal ini, cerpen termasuk di dalam wacana narasi. Di dalam bahasa cerpen, lebih menekankan pada gaya bahasa atau bahasa yang berbunga-bunga sehingga, bahasa yang terdapat di dalam wacana cerpen merupakan bahasa yan indah.
Berdasarkan bentuk konstituen yang menandainya, topik dalam wacana narasi dapat dibedakan atas topik berbentuk kata dan topik berbentuk frase. Kata yang dapat menjadi topik dalam wacana narasi adalah kata yang berkategori nomina, khususnya nomina yang berupa persona atau yang mengalami personifikasi. Adapun frase yang dapat manjadi topik dalam wacana narasi adalah frase yang berkategori nominal, khususnya frase nominal yang intinya berupa persona atau mengalami personifikasi. Frase berkategori nominal yang dapat menjadi topik wacana narasi adalah frase endosentris atributif.
Kesinambungan tematik mencakupi unit wacana yang lebih besar. Kesinmabungan tersebut merujuk tema utama dalam suatu wacana. Kesinmbungan tindakan merujuk pada suatu kejadian dalam suatu wacana. Lazimnya, urutan kejadian yang dimaksud itu ditandai dengan subsistem ‘tense aspect-modality’ (Givon dalam Hartono 2000:133). Kesinambungan topik/peserta merupakan topik yang dibincangkan dalam urutan klausa atau kalimat.
Dalam menentukan kesinambungan topik, terdapat tiga kriteria yang dapat dijadikan dasar. Ketiga kriteria tersebut adalah (1) jarak rujuk kembali (look back reference); (2) kemungkinan gangguan (potencial interference), dan (3) perihal kontinuitas (persistance) (Seng 1995:24). Ketiga kriteria itu diberi nilai dengan perhitungan angka.  
Wacana cerpen yang berjudul “Gerhana Mata”, akan dianalisis dengan menggunakan kesinambungan topik, karena setiap kalimat pada wacana tersebut mengandung topik “kebutaan” yang penulis analogikan dengan sebuah “gerhana”.

METODE
Berdasarkan kajian teoretis tentang wacana di atas, wacana cerpen yang berjudul Gerhana Mata akan menggunakan analisis kesinmabungan topik. Di dalam kesinambungan topik, hal yang perlu diperhatikan adalah mencari topik di setiap kalimat-kalimat di dalam wacana cerpen.
Dalam menentukan kesinambungan topik, terdapat tiga kriteria yang dapat dijadikan dasar. Ketiga kriteria tersebut adalah (1) jarak rujuk kembali (look back reference); (2) kemungkinan gangguan (potencial interference), dan (3) perihal kontinuitas (persistance) (Seng dalam Hartono 2000:132).
Kriteria pertama, jarak rujuk kembali. Ukuran ini digunakan untuk melihat jarak di antara penyebutan topik pertama kali dengan penyebutan topik kedua kalinya, ketiga, dan seterusnya. Jarak topik dinyatakan dengan bilangan klausa ke belakang dalam suatu wacana dari nilai terendah sampai nilai tertinggi. Nilai terndah adalah 1 dan nilai tertinggi adalah 20. Nilai 1 diberikan bila topik itu pernah disebut pada klausa sebelumnya. Nilai 2. 3 dan seterusnya diberikan mengikuti jarak di antara penyebutan pertama dan kedua. Tingkat kesinambungan topik dikatakan tinggi dengan kriteria ini bila jarak di antara penyebutan pertama dan kedua berjarak satu klausa ke belakang. Semakin banyak jumlah klausa yang menyisipi semakin rendah kesinambungan topik wacana tersebut. Apabila tidak terdapat topik dalam sebuah kalimat, namun topik pantas dimasukkan kedalamnya, maka berilah angka 0 pada tempat yang dapat dibubuhi topik. Jarak Antar Klausa/kalimat  = ...    Jumlah Klausa/Kalimat Untuk menghitung jarak rujuk kembali dengan menggunakan rumus berikut :
Jika hasilnya bernilai < 1, maka jarak rujuk kembalinya baik. Namun jika hasilnya bernilai > 1, maka jarak rujuk kembalinya buruk, karena jarak rujuk kembali antara topik pada kalimat utama, terdapat jauh pada klausa atau kalimat. Kriteria kedua, kemungkinan gangguan. Ukuran ini digunakan untuk melihat gangguan dari topik lain dalam lingkungan tiga klausa ke belakang dari topik utama. Faktor kemungkinan gangguan dinyatakan degan nilai 1 dan 2. Nilai 1 diberikan bila tidak terdapat gangguan dari topik lain dalam lingkungan 3 klausa ke belakang karena di dalam wacana hanya memiliki satu topik. Sedangkan nilai 2 diberikan bila terdapat gangguan atau hadirnya topik lain dalam lingkungan 3 klausa/kalimat ke belakang, karena di dalam wacana tersebut memiliki dua topik. Apabila tidak terdapat topik dalam sebuah kalimat, namun topik pantas dimasukkan kedalamnya, maka memberi  angka 0 pada tempat yang dapat dibubuhi topik. Kriteria ketiga adalah berterusan (persistence). Kriteria ini digunakan untuk melihat kepentingan suatu topik dalam wacana. Topik yang muncul pada kalimat pertama, diberikan nilai 0. Lalu diberikan nilai 1, 2, 3, jika kalimat setelahnya juga memuat topik secara berturut-turut. Jika pada sebuah kalimat tidak memuat topik, maka kalimat tersebut tidak diberi nilai, atau sama saja 0. Bila kalimat setelahnya memuat topik, kembali diberikan nilai 0, dan kembali diberikan nila 1, 2, dan seterusnya jika topik dimuat secara berturut-turut. Dan begitu seterusnya hingga akhir wacana.Apabila tidak terdapat topik dalam sebuah kalimat, namun topik pantas dimasukkan kedalamnya, maka berilah angka 0 pada tempat yang dapat dibubuhi topik. Sehingga pada wacana cerpen Gerhana Mata akan ditentukan tema, topik, serta judul, dan juga akan dianalisis kesinambungan  topik berdasarkan kriteria di atas.   



PEMBAHASAN
Kesinambungan Topik dalam Wacana Cerpen Gerhana Mata
            Suatu wacana dapat dikatakan berkesinambungan jika isi materi sesuai dengan judul, dan judul sesuai dengan topik. Secara keseluruhan, topik menjadi acuan penting bagi sebuah wacana agar dapat dikatakan sebuah wacana yang berkesinambungan. Untuk menganalisis kesinambungan topik, digunakan sebuah wacana cerpen yang diambil dari surat kabar Kompas, yang berjudul “Gerhana Mata” dengan wacana di bawah ini:

Gerhana Mata
Karya: Djenar Maesa Ayu

Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.
Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin…
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Mungkin…
Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.
Wacana di atas memiliki tema “Cinta Buta”, karena pada cerpen tersebut mengisahkan si Saya yang mencinatai seorang laki-laki beristri, tetapi tidak pernah menghiraukan perkataan orang-orang di sekitarnya bahkan dirinya sendiri. Yang ia inginkan hanyalah cinta yang tidak pernah memandang apa pun. Cinta yang ia miliki adalah cinta buta, tetapi tokoh “saya” menyebutnya dengan “gerhana mata”. Sedangkan topik pada wacana cerpen tersebut adalah “Gerhana Mata” karena yang lebih banyak dibicarakan adalah cinta yang tumbuh dalam hati si “saya” kepada seorang laki-laki beristri. Sehingga topik pada wacana cerpen berjudul “Gerhana Mata”, karya Djenar Maesa Ayu adalah “Gerhana Mata” yang setara dengan cinta buta. Bentuk topiknya berupa frase, yaitu Gerhana Mata. Sedangkan judulnya adalah “Gerhana Mata”, sesuai dengan topik yang membahas mengenai cinta buta yang dimiliki tokoh saya. Namun, tokoh saya menyebut ‘cinta buta’ yang dimilikinya dengan sebutan Gerhana Mata.
Berdasarkan data wacana cerpen di atas, wacana cerpen tersebut berjenis topik persona. Karena pada wacana tersebut yang dibahas adalah tokoh “ia” yang merupakan seorang laki-laki beristri yang dicintai oleh tokoh “saya”. Tokoh saya memiliki cinta kepada seorang laki-laki yang tidak seharusnya ia cintai, sehingga tokoh saya menamakan cintanya itu cinta buta yang biasa disebutnya dengan Gerhana Mata.

Kriteria Kesinambungan Topik
1.      Jarak Rujuk Kembali
Pada cerpen  Gerhana Mata ini terdapat 116 kalimat dengan jarak rujuk pada topik yang berbeda pada tiap kalimatnya. Jumlah jarak rujuk pada wacaa cerpen di atas adalah sebanyak 103 jarak. Dengan perincian sebagai berikut. Jarak penyebutan topik pertama ke topik kedua adalah 27 klausa. Dari penyebutan topik kedua ke penyebutan ketiga adalah 14 klausa, dan dari penyebutan ketiga menuju keempat adalah 62 klausa. Sehingga jarak rujuk pada wacana cerpen di atas adalah 103. Untuk menentukan jarak rujuk kembali digunakan rumus sebagai berikut:


Jarak antarklausa        
                                                            = ...  jumlah klausa/kalimat
Jumlah Kalimat

Sehingga,        103
                                    = 0,888 jumlah klausa/kalimat
                        116

Dari hasil penghitungan jarak rujuk kembali diperoleh hasil 0,888. Hal ini berarti jarak rujuk kembali dalam wacana cerpen Gerhana Mata di atas <1, sehingga kesinambungan topiknya baik.
Dengan penggalan cerpen sebagai berikut:
Gerhana Mata
..................................
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu.
.........................
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.

2.      Kemungkinan Gangguan
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada kemungkinan gangguan akan diberikan nilai 1 jika tidak ada gangguan pada klausa atau kalimat setelahnya. Namun jika terdapat gangguan topik lain pada klausa atau kalimat setelahnya, maka diberikan nilai 2. Dalam wacana cerpen Gerhana Mata di atas, terdapat 25 kalimat yang tidak memiliki gangguan, dan 10 kalimat yang memiliki gangguan. Perbandingan persentase antara kalimat yang tidak memiliki gangguan dan kalimat yang memiliki gangguan adalah 21,55% : 8,62%. Dengan perincian hitungan sebagai berikut: kalimat yang tidak memiliki gangguan adalah 25/116X100=21,55% dan kalimat yang memiliki gangguan adalah 10/116X100=8,62%. Itu artinya, pada wacana cerpen di atas memiliki gangguan topik sebanyak 100%-21,55% = 78,45%. Wacana cerpen tersebut memiliki kemungkinan  gangguan topik sebanyak 78,45 persen, sehingga nilai gangguan dari wacana tersebut bernilai 2.
Gangguan kalimat yang terdapat pada penggalan cerpen adalah sebagi berikut:

Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
...........................
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
..................................
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.
..................................
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.

3.      Berterusan
Semakin banyak topik yang muncul secara berturut-turut dalam wacana, maka semakin tinggi pula tingkat kesinambungannya. Pada topik utama diberi nilai 0, pada kalimat setelahnya yang mengandung topik diberi nilai 1,2,3, dan seterusnya. Pada wacana cerpen Gerhana Mata di atas, topik disebutkan sebanyak 19 kali. Namun, topik berterusan hanya muncul 4 kali, dengan topik terusan hanya 1, 2, dan bahkan 0 pada setiap topik yang muncul. Jika dihitung dari jumlah topik terusan, nilai berterusan wacana cerpen Gerhana Mata adalah 4. Dengan bukti penggalan cerpen seperti berikut:
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis diperolah: (1) tema topik wacana cerpen tersebut. Tema cerpen Gerhana Mata adalah Cinta Buta, sedangkan topik wacana tersebut adalah Gerhana Mata. (2) Kesinambungan Topik dengan berpedoman pada tiga kriteria kesinambungan topik, yaitu jarak rujuk kembali, kemungkinan gangguan, dan berterusan. Dari masing-masing kriteria tersebut diperoleh hasil jarak rujuk diperoleh hasil 0,888. Hal ini berarti jarak rujuk kembali dalam wacana cerpen Gerhana Mata di atas <1, sehingga kesinambungan topiknya baik. Kemungkinan gangguan wacana cerpen tersebut memiliki kemungkinan gangguan topik sebanyak 78,45 persen, sehingga nilai gangguan dari wacana tersebut bernilai 2. Kriteria berterusan pada wacana cerpen Gerhana Mata di atas, topik disebutkan sebanyak 19 kali, topik berterusan muncul 4 kali, dengan topik terusan hanya 1, 2, dan bahkan 0 pada setiap topik yang muncul. Jika dihitung dari jumlah topik terusan, nilai berterusan wacana cerpen Gerhana Mata adalah 4. Dengan demikian, cerpen “Gerhana Mata”, karya Djenar Maesa Ayu merupakan wacana cerpen yang memiliki kesinambungan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Hartono, Bambang. 2000. Kajian Wacana Bahasa Indonesia. Semarang: Unnes.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya.


LAMPIRAN
Gerhana Mata
Karya: Djenar Maesa Ayu

Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.
Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin…
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Mungkin…
Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.

Sumber: Kumpulan Cerpen Kompas