Kamis, 22 Maret 2012

STB: Sebagai Tonggak Sejarah Teater Klangenan


STB: Sebagai Tonggak Sejarah Teater Klangenan

Studiklub Teater Bandung (STB) adalah salah satu kelompok teater (modern) di Indonesia (Bandung) yang berdiri pada 30 Oktober 1958 (dimotori oleh dua tokoh penting; Jim Adhilimas dan Suyatna Anirun). Kepeloporan STB dimulai justru pada saat ‘demam teater’ tahun 1950-an begitu membahana di berbagai kota besar di Indonesia. Sayangnya, ledakan seni teater pada waktu itu terlampau banyak melahirkan produksi-produksi teater yang asal menghibur, permukaan (tidak mendalam), dan sangat amatiran, karena rata-rata senimannya tidak hendak menggeluti dunia teater dengan sungguh-sungguh.
Ada suatu anggapan bahwa Studiklub Teater Bandung (STB) adalah kelompok teater (modern) tertua di Indonesia. Jika anggapan itu memang penting dalam wacana teater Indonesia, tentu harus diperlukan parameter tersendiri untuk dijadikan ukuran atau patokan: dalam konteks seperti apa STB layak dinilai sebagai kelompok teater tertua di Indonesia. Sehubungan dengan hal di atas, ada dua sudut pandang yang cukup berhraga untuk dilihat yang ditawarkan dua tokoh sejarawan teater dan budayawan di kota Bandung. Kedua tokoh itu adalah Jakob Sumardjo dan Saini KM.
Jakob Sumardjo dalam magnum opus-nya, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia (1992), menyebutkan bahwa ‘ayah kandung’ atau pelopor utama teater modern di Indonesia adalah kelompok Sandiwara Penggemar Maya yang didirikan di jaman Jepang, pada 27 Mei 1944, oleh Usmar Ismail beserta adiknya Dr. Abu Hanifah (Taufik El-Hakim), Rosihan Anwar, dan beberapa tokoh lain. Kelompok ini, dalam amatan Sumardjo, tampil ke depan memelopori seni teater ketika dunia seni saat itu tengah ditandai oleh kencangnya persaingan antara generasi tua (Pujangga Baru) dan generasi muda yang menuntut pembaharuan konsepsi (ber)kesenian. Gagasan-gagasan dan gairah baru yang dilontarkan generasi muda saat itu merebak baik di lingkungan sastra (Chairil Anwar), teater (Usmar Ismail), musik (Cornel Simanjuntak) maupun seni rupa (Affandi, Resobowo).


Mengapa kelompok Sandiwara Penggemar Maya?
Menurut Sumardjo, kelompok-kelompok teater amatir sebelumnya, yang muncul dari lingkungan kaum terpelajar, bersifat musiman belaka dan berpentas hanya dalam rangka mencari dana organisasi. Sedangkan Maya adalah kelompok pertama yang terus mementaskan lakon-lakon drama, baik karangan sendiri maupun karya terjemahan atau saduran lakon-lakon Barat terkemuka. Dan pementasan-pementasan dengan cara dan gaya semacam itu terus bertahan sampai dasawarsa-dasawarsa berikutnya.
Sumardjo melihat bahwa meskipun saat itu Maya bersifat amatir namun telah dapat mengupayakan pementasan secara tetap, dengan mekanisme pengelolaan produksi yang dilakukan oleh orang-orang yang mempelajari seluk-beluk pementasan teater modern dari literatur Barat, sehingga profesionalisme dan kualitas kerja manajemen produksi telah menjadi pegangan utama. Dan cara kerja Maya rupanya sangat berpengaruh serta dijadikan orientasi oleh kelompok-kelompok teater tahun 1950-an. Terlebih lagi setelah Usmar Ismail membentuk Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955, yang dampaknya—seperti dilaporkan dalam catatan Sumardjo—sangat besar bagi petumbuhan minat kaum terpelajar/mahasiswa dalam mengembangkan teater modern di berbagai kota. Termasuk di Bandung, dengan berdirinya STB sebagai kelompok teater (modern) yang dianggap tertua di Indonesia.
Lain halnya menurut pandangan Saini KM menyebutkan STB sebagai kelompok teater modern yang mula-mula menghasilkan pencapaian-pencapaian artistik teater yang mumpuni dengan segenap idealisme dan profesionalisme kerja teater mereka, dan terus berkesinambungan. Hal ini adalah sebuah fakta yang mendorong penilaian masyarakat (Bandung) yang menganggap STB sebagai kelompok teater tertua. Semua pencapaian itu diraih dalam konteks penikmatan teater sebagai ajang klangenan (pemuas rasa batin untuk kesenangan/pemuliaan kebutuhan rohaniah semata-mata) para pelaku dan anggota-anggotanya.
Sejak awal berdirinya, menurut Saini, STB adalah murni pengabdi estetika teater yang tak pernah tergoda untuk melacurkan keseniannya menjadi alat pemuas kebutuhan fisik (jasmaniah) dan mengubah orientasi keseniannya ke arah yang dipenuhi pernak-pernik materi. Bagi Saini, STB adalah organisasi teater pertama yang dikelola oleh orang-orang yang menguasai dan benar-benar fasih tentang tata drama, sastra, filsafat, dan prinsip-prinsip pemanggungan teater modern sebagaimana sumber-sumber aslinya, untuk kemudian diterjemahkan ke atas pentas dengan pola-pola kajian dan pendekatan dramaturgi yang total, juga karena mereka menguasai benar aspek-aspek praktiknya.
“Langka sekali pada zaman itu ada sebuah kelompok teater yang jika mau memanggungkan karya Chekov, atau Ibsen, atau Shakespeare, misalnya, mereka kaji betul secara cerdas dan mendalam siapa itu Chekov, Ibsen, atau Shakespeare, berikut pendekatan-pendekatan teaterikalnya. STB adalah kelompok teater awal yang tahu persis bedanya realisme Ibsen dengan Chekov. Atau bagaimana semestinya memainkan Shakespeare di atas pentas. Bahkan mereka sangat mendalami dua metode terpenting dari seni peran, yakni inner-action dari Stanislavsky dan efek-pengasingan-nya Brecht. Dua metode paling mendasar dan paling berpengaruh dalam seni akting,” cetus Saini.
Atas kesungguhan dan idealisme mereka dalam menyelami seni drama, seni akting, dan seni teater (pertunjukan) secara mendalam itulah, dalam pandangan Saini, mereka benar-benar bisa dianggap telah menciptakan tradisi teater modern yang baru pada jamannya, tanpa terpengaruh oleh kondisi maupun pendekatan-pendekatan kerja kreatif kelompok-kelompok teater saat itu. Meskipun, karena spiritnya adalah klangenan, mereka kerap kali harus merogoh kocek sendiri demi mengongkosi idealisme yang memang bukan murahan itu.
STB sangat meyakini teater sebagai sesuatu yang not for sale, karena hakikat teater bukan barang dagangan. Teater adalah sesuatu yang harus diberi dan dihidupi terus-menerus oleh para pendukungnya, bukan sesuatu yang bisa dituntut agar mampu menghidupi, begitu menurut keyakinan orang-orang STB. Untuk bisa menghidupi teater tentu orang harus punya penghidupan. Maka anggota STB dipersilahkan bertebaran di muka bumi untuk mencari penghidupan di lapangan apa pun, begitu istilahnya. Bahkan dipersilahkan untuk menggunakan ‘jurus’ teater jika itu memungkinkan dan dibutuhkan. Tetapi saat datang ke teater, bawalah sesuatu untuk diberikan kepada teater. Orang akan segera kecewa jika masuk ke STB dengan memendam banyak pengharapan duniawi. Karena STB penyuguh ‘makanan rohani’ sebagaimana mestinya fungsi-fungsi seni yang lain. Jadi, terlepas dari apakah STB merupakan kelompok teater modern tertua di Indonesia atau bukan, orang tentu punya sudut pandang dan parameternya masing-masing untuk menilainya.

**(Yanuaris Fernanda, 2101408032, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2008, Universitas Negeri Semarang)**