Kamis, 22 Maret 2012

PEMEROLEHAN BAHASA ANAK DALAM BERBICARA


PEMEROLEHAN BAHASA ANAK DALAM BERBICARA


Semua orang mempunyai bahasa dan juga menggunakan bahasa untuk komunikasi atau berbicara dengan orang lain. Bahasa digunakan setiap saat dan setiap waktu yang dimulai dari kita bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia dengan cara berbicara. Manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa berbicara dengan manusia lain. Tanpe berbicara dengan manusia yang lain, manusia tidak dapat berkomunikasi dengan baik untuk menyampaikan ide-idenya sehingga tidak akan ada peradaban manusia seperti sekarang ini.
Bahasa didapat manusia sejak masih kecil dengan cara mengajarkan anak kecil untuk berbicara. Pembelajaran berbicara pada waktu anak-anak dilakukan sedikit demi sedikit karena seorang anak kecil tidak dapat langsung diajarkan berbicara seperti orang dewasa. Sejak dari bayi seorang anak sudah diajar untuk berbicara, hal ini terlihat dengan adanya orang tua yang mengajak berbicara anaknya meskipun sang anak sendiri belum paham bahkan belum mengerti untuk dapat diajak berbicara. Tetapi orang tua selalu mengajak berbicara anaknya agar merangsang anak untuk berbicara. Seorang anak kecil akan meniru  bicara seseorang yang selalu mengajaknya bicara sehingga kita sering melihat seorang anak mengucapkan kata-kata yang kita gunakan untuk berbicara dengan anak tersebut meskipun dalam pengucapannya seorang anak masih belum jelas.
Menurut Yudibrata (1997: 68) bentuk komunikasi prabicara bayi antara lain tangisan, ocehan dan celotehan, isyarat, dan ungkapan emosional. Menangis merupakan sarana komunikasi yang pertama dilakukan oleh seorang bayi meskipun tangisan itu tanpa kata-kata. Dengan menangis seorang bayi berharap bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya tahu keinginan dan kebutuhannya. Selanjutnya orang yang ada di sekitar bayi tersebut mengucapkan suara dengan nada serta isyarat dengan tangan agar mempermudah bayi untuk paham tentang apa yang diucapkan kepadanya. Pada masa bayi mengoceh biasanya bayi mengucapkan kata-kata yang mudah untuk diucapkan dengan cara coba-coba serta meniru ucapan orang yang ada di sekitarnya. Seorang bayi hanya mengucapkan kata yang mudah tersebut secara berulang-ulang misalnya saja orang dewasa mengucapkan kata makan tetapi bayi berceloteh [ma] dan diulang-ulang sehingga terdengar menjadi [ma-ma-ma], tetapi yang dimaksud adalah makan.
Berbicara merupakan keterampilan yang kompleks dan membutuhkan waktu yang lama dan dengan ketekunan yang sangat tinggi agar mahir berbicara dengan lancar. Menurut Hurlock (1999: 85) belajar berbicara mencakup tiga tugas yang sulit dan tidak saling berhubungan yaitu bayi belajar bagaimana mengucapkan kata-kata, mrnggunakan kosakata dengan menghubungkan pengertiannya dengan kata-kata yang dpat dipergunakan untuk menyampaikan maksudnya pada orang lain, dan menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang dimengerti orang lain. Belajar berbicara dengan orang lain merupakan salah satu dari tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh seorang guru terhadap anak didiknya terutama dalam bidang komunikasi untuk seorang anak. Seorang anak k ecil memiliki keinginan untuk belajar berbicara yang kuat karena berbicara merupakan sarana komunikasi untuk berhubungan dengan anak-anak yang lain sehingga mudah untuk berbicara dengan teman sebayanya. Selain itu, berbicara juga merupakan sarana untuk melatih anak dalam mengungkapkan pendapat serta keinginan dan kebutuhannya.
Masa sekolah merupakan masa dimana adanya perkembangan yang sangat pesat dalam penguasaan bahasa yang merupakan penambahan kosakata, penguasaan dalam pengucapan kata-kata dan menggabungkannya menjadi kalimat. Pada masa sekolah keterampilan berbicara yang pertama dilakukan adalah mengucapkan kata-kata. Dalam hal ini guru berperan untuk membantu anak didik mempelajari bagaimana pengucapan kata yang benar. Guru dalam melakukan pembelajaran menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah yang berlaku. Dalam berbicara guru secara tidak langsung akan menjadi contoh bagaimana cara berbicra yang benar dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Guru juga harus meningkatkan kemampuannya dalam berbicara sehingga apa yang disampaikannya dapat mudah dimengerti oleh anak didiknya. Sebaliknya anak didik juga harus memiliki kemampuan untuk memahami maksud yang disampaikan oleh gurunya sehingga akan terjalin komunikasi dan tidak akan terjadi salah pengertian antara guru dan anak didik dalam berkomunikasi.
Guru dalam proses pembelajaran keterampilan berbicara mempunyai peranan yang sangat penting. Guru memupuk rasa percaya diri dan keberanian dari anak didiknya untuk berbicara dalam mengungkapkan ide-ide serta pikirannya tanpa rasa takut untuk salah. Anak didik yang baru pertama kali berbicara di depan orang lain dalam mengungkapkan ide-idenya akan merasa grogi atau kurang percaya diri bahkan ada yang nervous akibatnya apa yang akan disampaikan menjadi hilang dan anak didik akan menjadi lupa apa yangg akan dibicarakannya. di sinilah peran guru dalam memberikan motivasi dan dorongan serta pengarahan kepada anak didiknya bahwa keterampilan berbicara perlu dilakukan berulang-ulang kali di depan orang lain di depan kelas agar anak didik menjadi lancar berbicara dan merasa percaya diri terhadap apa yang akan disampaikannya. Dengan melatih keterampilan berbicara anak didik secara tidak langsung akan menambah kodakata atau perbendaharaan katanya dan anak didik mampu dengan mudah merangkai kata-kata sehingga menjadi kalimat yang padu.
Menurut Natawijaya (1985: 36) faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara antara lain intelegensi, jenis disiplin, posisi urutan, besarnya keluarga, status sosial ekonomi, status ras dan berbahasa dua. Di sekolah anak didik yang memiliki intelegensi tinggi akan cepat menguasai keterampilan berbicara, tetapi hal itu juga harus didukung dengan adanya percaya diri dan kemauan dari anak didik untuk berusaha dalam menguasai kata dan mengaplikasikannya secara langsung sehingga dapat membentuk kalimat yang tepat dalam berbahasa. Bahasa merupakan kunci dalam keterampilan berbicara karena dalam berbicara akan terjadi komunikasi antara orang satu dengan orang yang lain dengan menggunakan kata-kata sehingga terangkai menjadi kalimat. Kata-kata yang dipakai dalam berbahasa merupakan bagian dalam berbahasa. Oleh karena itu, guru membantu berperan dalam mengembangkan keterampilan berbicara anak didik. Guru membantu anak didik dalam belajar berbahasa. Jadi, tugas dan tanggung jawab guru dalam perkembangan keterampilan berbicara anak didik sangat menentukan kemampuan anak didik dalam berbicara. Selain itu, masa kecil juga menentukan seorang anak didik dalam ketermpilan berbicara.



Sumber:
Pelangi Pembelajaran Bahasa: Tinjauan Semata Burung Psikolinguistik karangan Dr. Subyantoro, M.Hum. halaman 71-73