Kamis, 22 Maret 2012

PERAN GURU DALAM PELAJARAN BERBICARA


PERAN GURU DALAM PELAJARAN BERBICARA


Menurut haliday (1975) anak didik itu belajar berbahasa, belajar melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa. Pengembangan bahasa pada anak memerlukan kesempatan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, kita membutuhkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan yang banyak atau kaya bagi anak didik untuk menggunakan bahasa di dalam cara-cara yang fungsional (Pinnel dan Matlin 1989: 2).
Di sini peran guru sangat mendominasi kegiatan anak didik berbicara karena guru sebagai sumber ilmu bagi mereka belajar. Bayangkan saja jika seorang guru tidak menguasai cara mengajar dan mengondisikan anak didiknya, pastilah materi yang disampaikan tidak dapat terserap oleh anak didik secara optimal. Melalui Psikolinguistik guru diharapkan mampu menemukan satu pemecahan masalah untuk mengatasi hambatan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan berbicara dalam kegiatan belajar mengajar sangatlah penting. Biasanya banyak anak didik dan malah sebagian besar anak didik hanya duduk dan pasif menerima materi ajar dari guru bahkan saat pelajaran berbicara di kelas anak didik merasa kurang bersemangat bahkan takut untuk memulai berbicara.
Adapun cara-cara yang bisa dilaksanakan untuk membantu anak didik aktif berbicara di dalam kelas adalah dengan memberi motivasi kepada mereka dengan pengarahan yang tepat. Sering-sering melontarkan pertanyaan ke tiap-tiap anak didik agar seluruh anak didik terlatih untuk siap menjawab pertanyaan dan menyampaikan gagasannya di dalam kelas, dengan cara seperti itu anak didik akan termotivasi dan bersaing secara sehat saat pelajaran berbahasa di kelas. Membacakan pengalaman di depan kelas, presentasi, drama, membaca puisi ataupun berpidato. Yang terpenting guru harus mampu menghidupkan suasana kelas agar anak didik berani berbicara di kelas.
Walaupun banyak guru yang belum memenuhi standar kalifikasi pendidikan, sekitar 47,5% yang belum memenuhi standar kualifikasi sebagai guru, tetap saja keberadaan guru dalam suatu proses pembelajaran sesungguhnya memiliki peran dan kedudukan yang signifikan. Dr. George Lozanov, seorang peneliti pendidikan dan tokoh Metode Pembelajaran Cepat dari Bulgaria mengatakan “pengaruh guru sangat jelas dalam kesuksesan anak didik” (Lozanov, 1980). Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh pencetus Metode Belajar Quching (quantum teaching) Bobbi de Porter (2002) yang berujar bahwa “guru sebagai penggubah keberhasilan belajar anak didik”.
Kedua pendapat tokh tersebut barangkali ada benarnya juga, anak didik akan lebih terkembangkan potensi, bakat dan minatnya manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya. Ketika di kelas, sebenarnya guru dituntut tidak hanya sebagai pen-transfer pengetahuan saja tetapi juga mampu memrankan diri sebagai pewaris nilai, pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, direktur dan motivator (Hamalik, 2001).
Kemahiran dan keleluasaan guru dalam menyampaikan materi juga sangat berpengaruh. Banyak anak didik yang tidak berani berbicara karena krisis kepercayaan diri. Mereka khawatir bicaranya salah dan jawabannya tidak benar. Meski kadang kala ada satu, dua, atau bahkan lebih jenis anak didik yang diam di kelas. tapi di sini mungkin bisa saja sebagai tantangan bagi guru untuk membuat anak didik tersebut aktif berbicara dalam kegiatan pelajaran berbicara di kelas.
Dan yang paling ditekankan dalam Psikolinguistik adalah bagaimana guru dapat menyelaraskan kejiwaan anak didik mereka dalam menyikapi pelajaran berbicara. banyak faktor psikis yang mendominasi anak saat berbicara, seperti: rasa takut, was-was, grogi, keluar keringat dingin, dan ketakutan-ketakutan mereka lainnya yang mengakibatkan banyak anak didik enggan aktif berbicara di dalam pelajaran berbicara maupun dalam proses belajar mengajar lainnya.
Hal yang dapat dilakukan untuk membuat ketakutan mereka sedikit hilang adalah dengan cara bertanya kepada mereka keluhan apa yang dirasakan saat mereka dituntut berbicara ataupun menjawab pertanyaan. Cara ini juga dapat ditempuh dengan cara menyuruh mereka menulisnya di dalam kertas dan kemudian dibaca satu persatu keluhan tersebut. Setelah itu, guru memberikan solusi dan cara menyelesaikan yang tepat kepada mereka. Diharapkan dengan cara sepeti itu anak didik bisa mengambil simpulan bahawa pelajaran berbicara itu menyenangkan. Dengan cara seperti itu juga diharapkan para anak pesertta didik tersebut dapat atau dan mengerti bagaimana mengatasi ketakutan di dalam dirinya yang selalu membuat mereka takut dan tidak berani berbicara di dalam kelas. Jika mereka telah terlatih untuk selalu berani mengungkapkan pendapat dan pikiran mereka, pastilah keberhasilan pembelajaran akan tercapai.
Anak didik akan bersemangat dan termotivasi jika guru yang mengajar mereka juga penuh semangat dan penuh dengan motivasi. Layaknya peribahasa “like son, like father” (anak akan mirip seperti orang tuanya “ayahnya”). Sama saja dengan guru dan anak didik, jika output yang diberikan seorang guru bagus pastinya produk yang dihasilkan juga akan baik pula. Tujuan seorang guru yang paling utama adalah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui anak didik yang dididiknya di bangku sekolah. Apapun peranannya seorang guru harus bisa berperan di segala bidang. Sebagai motivator, pembimbing, informan, pendidik, dll.



Sumber:
Pelangi Pembelajaran Bahasa: Tinjauan Semata Burung Psikolinguistik karangan Dr. Subyantoro, M.Hum. halaman 67-69