Kamis, 22 Maret 2012

Modul Kuliah Perpustakaan Sekolah BAB 4: BAHAN PUSTAKA


BAB 4
BAHAN PUSTAKA


A.     Pengertian
Perpustakaan sekolah akan dapat berfungsi sebagai tempat belajar, sumber informasi dan pendukung kurikulum apabila di dalam perpustakaan sekolah tersebut tersedia bermacam-macam bahan pustaka. Dengan adanya bahan pustaka, murid-murid dapat belajar dan mencari informasi yang diinginkan. Koleksi bahan pustaka ini jumlah dan jenis serta kualifikasi minimalnya sudah ditentukan, dan sudah diolah/diproses sehingga siap dipinjam atau dimanfaatkan oleh pemakai. Setelah memenuhi persyaratan minimal diupayakan pengembangannya. Setiap perpustakaan biasanya telah menetapkan standar koleksinya, baik dalam hal jumlah, jenis, variasi, mutu, subjek, dan fokus maupun masa periode penerbitannya. Koleksi perpustakaan merupakan faktor terpenting bagi perpustakaan. Hal itu sesuai dengan konsep sebuah perpustakaan sebagai pusat informasi, pendidikan, pembelajaran, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Jika perpustakaan sekolah  kurang memiliki bahan-bahan pustaka, atau jarang bahkan tidak pernah ditambah dengan bahan-bahan pustaka yang baru akan ketinggalan zaman dan lambat laun murid-murid kurang senang mengunjungi perpustakaan sekolah. Bahan pustaka yang diterima perpustakaan sekolah terdiri dari bahan pustaka buku dan bahan pustaka non buku. Bahan pustaka buku terdiri dari buku teks, buku ajar, buku referensi, buku paket, majalah, Koran, dan lainnya. Sedangkan bahan pustaka non buku dapat terdiri dari globe, mikrofis, kaset, piringan hitam, CD, dan lainnya. Oleh Karena itu perlu pengadaan bahan-bahan pustaka secara terus menerus dan melakukan pemilihan yang tepat, yang sesuai dengan kurikulum di sekolah.

Jenis-jenis bahan pustaka ditinjau dari bentuk fisiknya, yaitu:
1.      Bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, seperti buku tentang psikologi, buku Bahasa Indonesia, buku-buku tentang ilmu pengetahuan sosial, buku-buku tentang agama, buku-buku tentang ilmu pengetahuan alam.
2.      Bahan-bahan pustaka bukan berupa buku, seperti surat kabar, majalah, peta, globe, piringan hitam.
Bahan-bahan pustaka yang bukan berupa buku ini dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.      Bahan-bahan tertulis, seperti surat kabar, majalah, brosur, laporan, karangan-karangan, kliping.
b.      Bahan-bahan berupa alat pengajaran, seperti piringan hitam, radio, tape recorder, filmslide, projektor, filmstrip projektor, E-book, E-journal.
Jenis-jenis bahan pustaka ditinjau dari isinya, yaitu:
  1. Bahan-bahan pustaka yang isinya fiksi atau disebut buku-buku fiksi, seperti buku cerita anak-anak, cerpen, novel, novelet, roman, drama, puisi, pantun, syair.
  2. Bahan-bahan pustaka yang isinya non fiksi atau disebut buku-buku non fiksi, seperti buku referensi, kamus, biografi, ensiklopedi, majalah, dan surat kabar.

A.     Pengadaan
Pengadaan bahan-bahan pustaka adalah mengusahakan bahan-bahan pustaka yang belum dimiliki perpustakaan sekolah, dan menambah bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki perpustakaan sekolah tetapi jumlahnya masih terbilang sedikit atau kurang. Pengadaan bahan pustaka merupakan rangkaian dari kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan.

Dalam pengadaan bahan-bahan pustaka, guru pustakawan hendaknya meminta saran-saran, baik kepada Kepala Sekolah, guru-guru, maupun kepada murid-murid. Permintaan saran tersebut semua keputusan pengadaan terletak pada keputusan guru pustakawan yang semestinya mempertimbangkan apa yang sangad dibutuhkan dalam pengadaan bahan pustaka, keadaan keuangan, sarana dan prasarana perpustakaan sekolah. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghindari bahan pustaka yang sebenarnya kurang bermanfaat bagi pengguna perpustakaan masuk ke dalam jajaran koleksi.
Secara umum pengadaan bahan pustaka di lingkungan perpustakaan mencakup 3 kegiatan utama, yaitu:
1.      pemilihan atau seleksi bahan pustaka
2.      pengadaan bahan pustaka melalui pembelian, tukar menukar, penerimaan hadiah, dan penerbitan sendiri oleh perpustakaan
3.      inventarisasi bahan yang telah diadakan serta statistik pengadaan bahan pustaka.
Untuk perpustakaan sekolah pada umumnya menerima dropping buku dari Pemerintah, baik buku pelajaran, buku-buku penunjang, maupun buku bacaan.
Dalam perencanaan pengadaan barang-barang pustaka, ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh guru pustakawan, langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Inventarisasi bahan-bahan pustaka yang harus dimiliki.
Untuk menginventarisasi bahan-bahan pustaka in guru pustakawan bisa berpedoman kepada buku-buku yang memuat daftar bahan pustaka. Buku tersebut dapat diperoleh salah satunya dari penerbit-penerbit buku, dalam katalog buku (daftar buku) terdapat bermacam-macam judul buku. Ciri-ciri setiap judul dijelaskan secara terinci, seperti pengarangnya, penerbitnya, kota terbitnya, tahun terbitnya, jumlah halaman, ukuran buku, harganya, bahakan uraian singkat isi bukunya. Hala ini mempermudah guru pustakawan apabila sewaktu-waktu akan memesan buku-buku tertentu kepenerbit. Cara lain yang dapat ditempuh oleh guru pustakawan untuk memperoleh daftar buku atau katalog buku adalah menghubungi lembaga-lembaga tertentu yang memang sering keli mengeluarkan atau menerbitkan buku-buku. Di Indonesia ada banyak lembaga yang menerbitkan buku-buku, antara lain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Biro Pusat Statistik, LP3ES, UNESCO.   
2.      Inventarisasi bahan-bahan pustaka yang dimiliki.
Untuk menginventarisasi bahan-bahan pustaka ini guru pustakawan bisa berpedoman kepada buku induk perpustakaan sekolah. Apabila perpustakaan sekolah tersebut belum memiliki buku induk maka guru pustakawan harus menginventarisasi semua bahan-bahan pustaka, dan tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu sedini mungkin semua bahan-bahan pustaka harus dimasukkan ke dalam buku induk. Selain itu kiranya akan lebih baik apabila penginventarisasiannya digolong-golongkan menurut subyek atau jenisnya sehingga dapat diketahui bahan-bahan pustaka subyek atau jenis mana yang terasa sangat dibutuhkan oleh perpustakaan sekolah.
3.      Analisis kebutuhan bahan-bahan pustaka.
Berdasarkan inventarisasi di atas guru pustakawan sudah bisa menginventarisasi bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan. Bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan itu yang dimaksud adalah bahan-bahan yang seharusnya dimiliki atau tersedia di perpustakaan, tetapi bahan-bahan pustaka tersebut belum dimiliki oleh di perpustakaan sekolah. Cara yang dapat ditempuh untuk menganalisis bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan adalah membandingkan antara inventarisasi bahan pustaka yang harus dimiliki dengan hasil inventarisasi bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki.
4.      Menetapkan prioritas.
Apabila hasil analisis kebutuhan bahan-bahan pustaka menunjukkan bahwa bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan sangat banyak, sementara dana yang ada tidak cukup, maka perlu dibuatkan prioritas dari seluruh bahan pustaka yang dibutuhkan, sehingga dapat ditetapkan bahan-bahan pustaka yang mana yang harus segera diusahakan.
Ada beberapa hal yang perlu dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan prioritas, antara lain:
a.      Kurikulum sekolah
b.      Bakat dan minat murid-murid
c.       Pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan murid-murid
d.      Tingkat usia murid-murid
e.      Sumber-sumber pengadaan bahan pustaka
f.        Keadaan ruang dan peralatan perpustakaan sekolah yang tersedia
g.      Anggaran yang tersedia untuk pengadaan bahan-bahan pustaka.  
5.      Menentukan cara pengadaan bahan-bahan pustaka
Langkah terakhir dalam perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka adalah menentukan cara pengadaannya. Jadi setelah menentukan buku-buku mana yang harus segera diusahakan, maka ditentukan cara pengadaannya, mungkin dengan cara membeli , hadiah, menyewa dan sebagainya.
Pada umumnya bahan-bahan pustaka yang berupa buku merupakan bantuan atau ‘dropping’ dari Pemerintah, tetapi bantuan tersebut terbatas dan tidak selalu ada, sehingga guru pustakawan dituntut untuk mengusahakan bahan-bahan pustaka dengan cara lain.
Ada beberapa cara yang ditempuh oleh guru pustakawan untuk memperoleh bahan-bahan pustaka, antara lain dengan cara membeli, hadiah atau sumbangan, tukar menukar, meminjam dan membuat sendiri.

B.      Pengolahan
Sebelum bahan pustaka disusun ke dalam rak/almari maka perlu diadakan pengolahan. Yang dimaksud dengan pengolahan buku adalah rangkaian pekerjaan dalam mempersiapkan buku agar mudah diperoleh dan diketahui informasi yang ada di dalamnya.
1.      Inventarisasi
Bahan-bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dicatat di dalam buku induk. Pencatatan bahan-bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah disebut inventarisasi bahan pustaka. Penginventarisasian bahan-bahan pustaka ini pada waktu bahan pustaka datang, yaitu setelah guru pustakawan mengecek keadaan bahan-bahan pustaka tersebut. Penginventarisasian ini dilakukan gunanya untuk memudahkan guru pustakawan dalam merencanakan pengadaan bahan-bahan pustaka, memudahkan guru pustakawan dalam melakukan pengawasan terhadap bahan-bahan pustaka yang ada, dan memudahkan guru pustakawan dalam membuat laporan tahunan. 
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan inventarisasi bahan-bahan pustaka meliputi sebagai berikut:
a)      Memberi stempel pada bahan pustaka
b)      Mendaftar bahan pustaka
2.      Klasifikasi
Setelah semua bahan pustaka diinventaris ke dalam buku induk, maka langkah selanjutnya adalah mengklasifikasi bahan-bahan pustaka tersebut sehingga mudah dipergunakan oleh pengunjung. Klasifikasi berasal dari kata ‘classification’ (bahasa Inggris), yang berasal dari kata ‘to classify’ , yang berarti menggolongkan dan menempatkan benda-benda yang sama di suatu tempat. Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah sangat penting karena untuk menolong murid-murid dan pengunjung lainnyadi dalam mencari buku-buku yang diperlukan.
Tujuan klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
a)      Untuk mempermudah murid-murid di dalam mencari buku-buku yang sedang diperlukan.
b)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mencari buku-buku yang dipesan oleh murid-murid atau pengunjung lain.
c)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mengembalikan buku-buku pada tempatnya.
d)      Mempermudah guru pustakawan mengetahui perimbangan bahan pustaka.
e)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam menyusun suatu daftar bahan-bahan pustaka yang berdasarkan sistem klasifikasi.
Prinsip-prinsip Pengklasifikasian
Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah bukan merupakan pekerjaan mudah, apabila mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah berdasarkan bentuk fisiknya atau berdasarkan abjad judul bukunya itu tidak terlalu sulit, tetapi apabila sistem klasifikasi yang dipergunakan berdasarkan subyeknya maka pelaksanaannya akan lebih sulit.
Sekedar sebagai pedoman, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah yang menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan subyeknya, agar proses klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah dapat berjalan lancar, yaitu sebagai berikut:
1.      Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, pertama-tama berdasarkan subyeknya. Kemudian berdasarkan bentuk penyajiannya atau bentuk karyanya.
2.      Khususnya buku-buku yang termasuk karya umum dan kesusastraan hendaknya lebih diutamakan pada bentuknya.
3.      Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya memperhatikan tujuan pengarangnya.
4.      Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah itu pada subyek yang sangat spesifik.
5.      Apabila sebuah buku yang membahas dua atau tiga subyek, klasifikasilah buku tersebut pada subyek yang dominan.
6.      Apabila ada sebuah buku yang membahas dua subyek dengan perimbangan subyek yang sama, maka klasifikasilah buku tersebut itu pada subyek yang paling banyak bermanfaat  bagi pemakai perpustakaan sekolah.
7.      Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya guru pustakawan mempertimbangkan keahlian pengarangnya.
8.      Apabila ada sebuah buku perpustakaan yang membahas dua subyek yang sama perimbangannya dan merupakan bagian dari suatu subyek yang lebih luas, maka klasifikasikanlah buku tersebut pada subyek yang lebih luas.
9.      Apabila ada sebuah buku perpustakaan sekolah yang membahas tiga subyek atau lebih, tetapi tidak jelas subyek mana yang lebih diutamakan oleh pengarangnya, dan merupakan bagian dari suatu subyek yang lebih luas, maka klasifikasinya buku tersebut pada subyek yang lebih luas.
Sistem Klasifikasi
            Dalam sistem klasifikasi bisa berdasarkan ciri-ciri buku, sehingga buku-buku yang bercirikan sama bisa dikelompokan menjadi satu. Ada beberapa sistem klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, antara lain:
  1. Sistem abjad nama pengarang
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar abjad nama pengarangnya. Buku-buku yang huruf pertama dari pengarangnya sama dikelompokkan menjadi satu. Misalnya ada sepuluh buku yang harus diklasifikasi, dan nama-nama pengarangnya adalah Badrullah, Drs. Achmad Yamin, K.H. Asrori, Drs. Syamsul Arifin, Dr. Alwi Mustofa, Alimoedikin, Prof. Dr. Sukiman, MA, Badruz Zamin, H. Buchari, Dr. Abd. Kadir. Maka buku-buku yang nama pengarangnya dimulai dengan huruf A dikelompokkan menjadi satu. Begitu pula buku-buku yang nama pengarangnya dimulai dengan huruf B dan S.
  1. Sistem abjad judul buku
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar abjad judul bukunya. Buku yang huruf pertama dari judul sama dikelompokkan menjadi satu. Misalnya ada lima buku yang harus diklasifikasi, seperti berikut ini.
a.      Analisis Bahasa, oleh W.F. Mackey
b.      Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, oleh Drs. Ibrahim Bafadal, M.Pd
c.       Pemimpin dan Kepemimpinan, oleh Dra. Kartini Kartono
d.      Evaluasi Pendidikan, oleh Drs. Wayan Nurkancana dan Drs. P.P.N. Sumartana
e.      Administrasi Perkantoran Modern, oleh The Liang Gie
Maka buku-buku yang judul bukunya dimulai dengan huruf A dikelompokkan menjadi satu, begitu pula buku-buku yang judulnya dimulai dengan huruf E dan P dikelompokkan menjadi satu.
  1. Sistem kegunaan buku
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar kegunaannya. Buku-buku referensi dikelompokkan menjadi satu, buku-buku cerita dikelompokkan menjadi satu, buku-buku ilmu pengetahuan dikelompokkan menjadi satu tempat, dan begitu juga buku-buku yang terdiri dari jenis yang sama dikelompokkan menjadi satu tempat.  

  1. Sistem penerbit
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar penerbit buku. Di Indonesia terdapat banyak penerbit, seperti Gunung Agung, Balai Pustaka, Bumi Aksara, Sinar Grafika, Erlangga, Penerbit Yayasan Kanisius, Bintang Pelajar, Andi, Aneka Ilmu, dan sebagainya. Buku-buku yang penerbitnya sama dikelompokkan menjadi satu dan ditempatkan pada suatu tempat tertentu.
  1. Sistem bentuk fisik
Pada sistem ini, bahan-bahan pustaka dikelompokkan atas dasar bentuk fisiknya. Ada bahan pustaka yang berupa buku dan ada yang berupa bukan buku seperti majalah, brosur, surat kabar, dan sebagainya. Maka bahan-bahan pustaka yang berbentuk buku dikelompokkan menjadi satu, semua surat kabar ditempatkan pada satu tempat yang sama, begitu juga dengan brosur dan majalah dikelompokkan menjadi satu pada bentuk yang masing-masing sama. Buku-buku perpustakaan sekolah dapat pula dikelompokkan secara spesifik lagi berdasarkan ukurannya seperti tebal tipisnya dan berat ringannya.
  1. Sistem bahasa
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas bahasa yang digunakan. Buku-buku perpustakaan sekolah yang berbahasa Indonesia dikelompokkan menjadi satu, yang berbahasa asing dikelompokkan menjadi satu, dan begitu juga buku-buku yang berbahasa daerah dikelompokkan menjadi satu tempat tersendiri.
  1. Sistem subyek
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar subyek atau isi yang terkandung di dalam buku tersebut. Misalnya buku yang membahas tentang pendidikan dikelompokkan menjadi satu, buku-buku yang membahas tentang politik dikelompokkan menjadi satu tempat, dan buku-buku tentang pertanian dikelompokkan menjadi satu, dan seterusnya.

Subyek Berkelas
            Yang dimaksud dengan subyek berkelas adalah penentuan subyek sebuah buku dengan menggunakan notasi yang diambil dari bagan klasifikasi. Subyek atau cakupan bidang ilmu dinyatakan dengan notasi baik angka ataupun abjad atau gabungan keduanya. Klasifikasi digunakan untuk menyatakan subyek berkelas adalah bagan klasifikasi seperti
  1. Dewey Decimal Classification (DDC) yang dalam istilah Indonesia dikenal dengan Klasifikasi Persepuluh Dewey
Sistem klasifikasi DDC ini ditemukan oleh Melville Louis Kossuth Dewey. Ia mengelompokkan koleksi berdasarkan subyek/pokok masalah dengan notasi angka persepuluh. Masing-masing kelompok nanti dibagi lagi menjadi subyek yang lebih kecil yang disebut divisi. Dari divisi akan dibagi lagi menjadi lebih kecil disebut subdivisi. Dari subdivisi ini dibagi lagi menjadi pembagian yang lebih rinci lagi (bagan lengkap).
Contoh: Kelas utama (Ringkasan I)
000 – Karya Umum
100 – Filsafat
200 – Agama
300 – Ilmu Sosial
400 – Bahasa
500 – Ilmu Pengetahuan Murni
600 – Ilmu Pengetahuan Terapan/Teknologi
700 – Seni, Olahraga
800 – Kesusasteraan
900 – Sejarah, Geografi
  1. Universal Decimal Classification (UDC)
  2. Library of Conggres Classification (LCC)
Langkah-langkah yang harus ditempuh guru pustakawan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
a.      menentukan system klasifikasi
b.      menyiapkan bagan klasifikasi
c.       menyiapkan buku-buku
d.      menentukan subyek buku
e.      menentukan nomor klasifikasi
3.      Katalogisasi
Pengkatalogisasian adalah proses pembuatan daftar pustaka (buku, majalah, CD, film, mikro, peta, dan lainnya) berurut milik suatu perpustakaan yang berisi informasi/keterangan-keterangan lengkap dari bahan pustaka tersebut. Jadi yang perlu dikatalog tidak hanya koleksi berupa buku-buku saja, tetapi seluruh bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, baik bahan pustaka berupa buku dan berupa bukan buku. Sedangkan informasi atau keterangan yang lengkap misalnya judul buku, nama pengarang, edisi atau jilid (jika ada), kota terbit, penerbit, tahun terbit, tebal dan sebagainya. Kartu-kartu yang dibuat adalah : kartu katalog utama (shelf-list), kartu katalog pengarang, kartu katalog judul, dan kartu katalog subyek.  
Tujuan dan fungsi katalog adalah untuk memudahkan menemukan kembali bahan pustaka yang telah disimpan. Kebiasaan pemakai dalam mencari bahan pustaka sering kali hanya menyebutkan nama pengarang, judul, nomor klass, bahkan hanya subyeknya saja. Dengan demikian kehadiran katalog pada perpustakaan berfungsi sebagai saran untuk menemukan bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan. Oleh karena itu pembuatan dan penyelenggaraan catalog harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang dapat memberi kemudahan pada pemakai.  
Tujuan pengkatalogan menurut C.A. Cutter adalah:
a.      memudahkan seseorang (pemakai) menemukan sebuah karya yang telah diketahui pengarang, judul, atau subyeknya;
b.      memperlihatkan apa yang dimiliki perpustakaan melalui nama pengarang, subyek dan jenis literaturnya;
c.       membantu pemilihan sebuah karya seperti dalam hal edisi secara bibliografis dan karakternya (topik).
Fungsi katalog pada perpustakaan:
  1. catatan lengkap atau sebagian koleksi perpustakaan;
  2. kunci untuk menemukan karya yang diperlukan;
  3. sumber yang memberikan alternative pilihan karya;
  4. sumber penyusunan bibliografis;
  5. alat Bantu pengingat koleksi.
Informasi yang dibutuhkan dalam pembuatan kartu katalog adalah:
  1. Tajuk , terdiri dari nama pengarang atau badan korporasi yang dipilih sebagai entri utama, dan atau judul bahan pustaka
  2. Batang tubuh entri, terdiri dari judul dan pernyataan kepengarangan; judul, termasuk judul alternative jika ada; judul pararel atau informasi lain tentang judul jika ada; pernyataan kepengarangan
  3. Edisi, terdiri dari pernyataan edisi (nomor atau edisi, atau gabungan keduanya); pernyataan kepengarangan yang berhubungan dengan edisi tertentu
  4. Spesifikasi materi atau jenis bahan pustaka, terdiri dari pernyataan skala dan proyeksi untuk bahan kartografik; penandaan abjad dan atau kronologis untuk terbitan berseri
  5. Penerbitan, distribusi terdiri dari tempat terbit, distribusi (jika ada); nama penerbit, distributor (bila ada); tahun terbit, distribusi (bila ada) termasuk hak cipta jika perlu; nama pencetak, tempat percetakan, tahun percetakan jika nama penerbit tidak diketahui
  6. Deskripsi fisik, terdiri dari keterangan kuantitas (misalnya jumlah halaman, jilid bila ada); rincian fisik lainnya (misalnya illustrasi, dsb); dimensi (misalnya tinggi buku dinyatakan dengan cm.); materi pelengkap (misalnya peta, buku pedoman) dicetak terpisah dari bahan pustaka yang dikatalog
  7. Seri jika ada, terdiri dari judul seri; judul pararel seri; keterangan judul lain; pernyataan kepengarangan sehubungan dengan seri; penomoran; subseri
  8. Catatan (ditulis sebagai paragraph terpisah), informasi yang dianggap perlu untuk dicantumkan pada bagian dari katalog misalnya Bibliografi, Indeks, dan sebagainya.
  9. Nomor standard an keterangan ketersediaan, terdiri dari nomor standar (ISBN dan ISSN); keterangan ketersediaan (misalnya harga atau untuk siapa terbitan tersebut disediakan)
  10. Jejakan, terdiri dari entri tambahan untuk pengarang, editor, penerjemah; entri tambahan untuk judul; entri tambahan untuk seri.
Macam-macam katalog ditinjau dari segi bentuknya:
  1. Katalog berkas (sheaf catalogue)
Katalog berkas merupakan salah satu bentuk catalog yang bisa dibuat dari kertas manila atau kertas tulis biasa. Katalog berkas ini terdiri dari beberapa lembar yang diikat menjadi satu secara longgar saja. Ukuran setiap lembarnya biasanya 20x10 cm. Setiap satu ikatnya bisa berisi 500 sampai dengan 650 lembar yang setiap lembarnya hanya berisi uraian satu buku. Adapun cara mengikatnya bisa dengan cara dijilid atau diikat dengan tali atau kawat seperti album.
  1. Katalog buku (book catalogue)
Katalog buku merupakan salah satu bentuk catalog tercetak yang berbentuk buku. Setiap lembarnya bisa berisi uraian beberapa judul buku. Pada catalog ini, setiap lembarnya telah tersedia kolom-kolom untuk cirri-ciri buku, seperti kolom judul, kolom pengarang, kolom kota terbit, kolom penerbit, kolom tahun terbit, dan sebagainya. Karena kolom-kolom setiap lembarnya telah tercetak maka catalog ini sering disebut dengan catalog tercetak. Pembuatan catalog buku ini hamper sama dengan buku daftar buku atau buku induk perpustakaan sekolah.
  1. Katalog kartu (card catalogue)
Katalog kartu merupakan salah satu bentuk catalog yang biasanya dibuat dari kertas manila putih yang berukuran 12½ x 7½ cm. Pada setiap lembar kartu catalog hanya berisi uraian satu judul buku. Di tengah-tengah bagian bawahnya diberi lubang untuk memasukkan tusuk pengaman. Kartu catalog ini disusun dan disimpan di dalam kotak laci catalog, yang setiap kotaknya bisa berisi kurang lebih seribu kartu.
4.      Peralatan dan Perlengkapan pustaka
Selain memerlukan gedung atau ruang, penyelenggaraan perpustakaan sekolah memerlukan sejumlah peralatan dan perlengkapan, baik untuk pelayanan kepada pengunjung maupun untuk proses pengolahan bahan pustaka dan ketatausahaan.
a.      peralatan perpustakaan sekolah
peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat habis pakai dan ada yang bersifat tahan lama. Peralatan habis pakai adalah peralatan yang relative cepat habis. Sedangkan peralatan yang tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang relative lama.
1)      peralatan habis pakai : pensil, pensil warna, pena (ballpoint), kertas untuk mengetik, kertas untuk membuat label, kertas untuk kantong buku dan slip tanggal, kertas manila untuk membuat katalog dan kartu buku serta kartu peminjaman, formulir pendaftaran, kertas bergaris untuk mencatat sesuatu, blangko surat, buku catatan, amplop bermacam-macam ukuran, buku inventaris bahan-bahan pustaka, buku inventaris peralatan perpustakaan, karbon, kertas marmer, kertas stensil, buku induk peminjaman, kartu anggota, tinta, tinta gambar, tinta stensil, tinta stempel, penghapus pensil, penghapus tinta, penghapus mesin ketik, tali, karet, pita, kawat, paku bermacam-macam ukuran, lem perekat, kertas perekat, kuitansi, jepitan kertas, kapur tulis, kapur barus, benang, jarum, spidol, obat pencegah hama atau jamur buku.
2)      Peralatan tahan lama : mesin ketik, mesin stensil, mesin hitung, keranjang sampah, kotak surat, jam dinding, pisau, gunting, pelubang kertas, penggaris, bantalan stempel, berkas jepitan, stempel huruf, stempel tanggal, stempel angka, stempel inventaris perpustakaan sekolah, daftar klasifikasi, daftar buku atau katalog buku, papan tulis, papan pengumuman, mesin pengikat kertas, penjepret kawat (stepler), palu, sapu, kemoceng, alat pemadam kebakaran, alat semprot memberantas hama buku, ember, lampu.
b.      Perlengkapan perpustakaan sekolah
Perlengkapan atau meubelair yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah rak buku, rak surat kabar, rak majalah, kabinet gambar, meja sirkulasi, lemari atau kabinet catalog, kereta buku dan papan display. Pengadaan setiap perlengkapan harus mempertimbangkan hal-hal seperti nilai efisiensi pengeluaran uang, efisiensi dalam pengaturannya, mutu baik, enak dipakai, dan menarik bagi penglihatan. Usahakan masing-masing jenis perlengkapan itu seragam baik bentuknya maupun warnanya. Misalnya bentuk meja dan kursi belajar semuanya sama, bentuk rak semuanya sama, begitu pula perlengkapan lainnya sehingga tampak rapid an indah bila dipandang.