Kamis, 22 Maret 2012

Modul Kuliah Perpustakaan Sekolah BAB 3: RUANG DAN PERLENGKAPAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH


BAB 3
RUANG DAN PERLENGKAPAN
PERPUSTAKAAN SEKOLAH


Setiap perpustakaan memiliki kebutuhan ruangan sendiri-sendiri berdasarkan jumlah pemakai, macam kegiatan, dan pemanfaatannya yang berbeda. Oleh karena itu, kebutuhan ruang untuk perpustakaan sekolah berbeda dengan kebutuhan ruang untuk perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini disebutkan oleh para siswa yang banyak melakukan kegiatan belajar di dalam ruang kelas. Mereka berkunjung dan memanfaatkan ruang perpustakaan hanya pada jam-jam tertentu. Semakin lengkap perlengkapannya semakin menunjang penyelenggaraan perpustakaan sekolah. Ruang dan perlengkapan yang tersedia harus ditata dan dirawat dengan baik sehingga benar-benar menunjang penyelenggaraan perpustakaan sekolah secara efektif dan efisien. 

A.     Ruang/gedung Perpustakaan
Ruang perpustakaan sekolah bisa berupa ruang seperti ruang kelas karena memang yang ada hanya ruang kelas biasa yang kebetulan tidak terpakai, dan bisa berupa gedung khusus yang dalam pembangunannya memang direncanakan untuk perpustakaan sekolah. Apapun bentuknya baik berupa ruang kelas ataupun gedung khusus harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu untuk penyelenggaraan perpustakaan sekolah.
Luas gedung atau ruang perpustakaan sekolah tergantung jumlah murid yang dilayani. Dalam “Buku Pedoman Pembakuan Pembangunan Sekolah”, dijelaskan ukuran gedung atau ruang perpustakaan sekolah untuk masing-masing tipe sekolah. Kiranya dapat dijadikan pedoman dalam pendirian gedung atau ruang perpustakaan sekolah.
Untuk SD rata-rata luas ruangannya 56 m2
SMP rata-rata luas ruangannya antara 100-400 m2, dan SMA rata-rata luas ruangannya antara 100-300 m2.

B.      Peralatan dan Perlengkapan
Selain memerlukan gedung atau ruang, penyelenggaraan perpustakaan sekolah memerlukan sejumlah peralatan dan perlengkapan, baik untuk pelayanan kepada pengunjung maupun untuk “processing” bahan-bahan pustaka dan ketatausahaan.
Untuk peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat bahan habis pakai dan ada pula yang bersifat tahan lama. Untuk peralatan yang habis pakai misalnya buku inventaris, buku induk, kartu anggota, lem,tinta stempel, dsb. Untuk peralatan yang tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, misalnya mesin ketik, penggaris, gunting, pelubang kertas, bantal stempel, berkas jepitan, dsb.
Perlengkapan atau meubelair yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah rak buku, rak surat kabar, rak majalah, meja sirkulasi, lemari atau kabinet katalog, kereta buku, dan papan display.

C.      Tata Ruang
Penataan ruang perpustakaan perlu dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan berbagai aspek. Tata ruang perpustakaan sekolah adalah penataan atau penyusunan segala fasilitas perpustakaan sekolah di ruang atau gedung yang tersedia. Penataan ruang perpustakaan sekolah sangat penting, sebab dengan penataan ruang tersebut memungkinkan pemakaian ruang perpustakaan sekolah lebih efisien, memperlancar para para petugas dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, mencegah adanya rasa terganggu antara yang satu pihak dengan pihak yang lain.
Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruangan perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang sebagai berikut:
1.      Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.
2.      Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.
3.      Penempatan perabot, seperti meja, kursi, dan rak hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus.
4.      Jarak satu meubelair dengan lainnya dibuat agak lebar agar orang yang lewat lebih leluasa.
5.      Bagian-bagian yang mempunyai tugas sama, hampir sama, atau merupakan kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.
6.      Bagian yang menangani pekerjaan yang bersifat berantakan seperti pengolahan, penjilidan dan pengetikan, hendaknya ditempatkan yang tidak tampak oleh khalayak umum (pengguna perpustakaan).
7.      Apabila memungkinkan, semua petugas dalam satu unit/ ruangan duduk menghadap ke arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang.
8.      Alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dalam satu garis lurus.
9.      Ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas, dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa.
10.  Perlu ada lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi musibah/ kebakaran.
Penempatan ruang perpustakaan sekolah hendaknya di lokasi yang strategis. Sebab perpustakaan merupakan komponen utama pendukung kegiatan belajar-mengajar.
Agar menghasilkan penataan ruang perpustakaan yang optimal serta dapat menunjang kelancaran tugas perpustakaan sebagai lembaga pemberi jasa, sebaiknya pustakawan perlu memperhatikan aspek/hal-hal berikut ini:
1.      Aspek fungsional; bahwasannya penataan ruang harus mendukung kinerja perpustakaan secara keseluruhan baik bagi petugas perpustakaan maupun bagi pemakai perpustakaan. Penataan yang fungsional dapat tercipta jika antar ruangan mempunyai hubungan  yang fungsional dan bahan pustaka, peralatan dan pergerakan pemakai perpustakaan dapat mengalir dengan lancar. Antar ruang saling mendukung sehinggal betul-betul tercipta fungsi penataan ruangan secara optimal.
2.       Aspek psikologis pengguna; dilihat dari aspek ini tujuan penataan ruangan adalah agar pengguna perpustakaan merasa nyaman, leluasa bergerak di perpustakaan dan merasa tenang. Kondisi ini dapat diciptakan melalui penataan ruangan yang harmonis dan serasi, termasuk dalam hal penataan hal perabot perpustakaan.
3.      Aspek estetika; pada aspek ini perlu diperhatikan. Keindahan penataan ruang perpustakaan salah satunya bisa melalui penataan perabot yang digunakan. Jika perpustakaan bersih dan penataannya serasi maka pemakai akan merasa ingin berlama-lama berada di perpustakaan. 
4.  Aspek keamanan bahan pustaka; berkaitan dengan tata ruang, keamanan bahan pustaka bisa dikelompokkan dalam 2 bagian. Pertama faktor keamanan bahan pustaka dari akibat kerusakan secara alamiah, dan kedua adalah faktor kerusakan/kehilangan bahan pustaka karena faktor manusia. Penataan ruang harus memperhatikan kedua faktor tersebut. Hindari masuknya sinar matahari secara langsung dengan intensitas cahaya yang tinggi, apalagi sampai mengenai koleksi bahan pustaka. Penataan ruang yang fungsional mampu menciptakan pengawasan terhadap keamanan koleksi perpustakaan secara tidak langsung dari kerusakan faktor manusia.