Selasa, 21 Februari 2012

PSIKOLINGUISTIK DAN IMPLIKASINYA



PSIKOLINGUSITIK DAN IMPLIKASINYA




Oleh:
ü Annisa Citra Sparina           2101408034
ü Diyamon Prasandha            2101408035
ü Khoirul Abidin                    2101408071
Rombel          : 1
\


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011




PSIKOLINGUISTIK DAN IMPLIKASINYA

Tujuan pengajaran bahasa ialah menjadikan si terdidik tuntas berbahasa yang baik dan benar. Untuk mencapai tujuan itu seorang guru harus berupaya dalam berbagai segi, antara lain yang berhubungan dengan ilmu pendukung profesi. Oleh karena psikolinguistik berhubungan dengan  bahasa bahkan dapat digunakan untuk menunjang pengajaran bahasa, maka seorang guru sebaiknya dibekali dengan psikolinguistik. Berhubungan dengan persoalan-persoalan yang ada, implikasi sosiolinguistik dikaitkan dengan beberapa hal.

1.  Psikolinguistik dan Kurikulum
Kurikulum berperan penting dalam pembaharuan pendidikan. Kurikulum itu sendiri berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan garis politik kebijakan pemerintah.
Oleh karena kurikulum berisi butir-butir kependidikan yang akan dicapai, maka dengan sendirinya psikolinguistik harus tercermin dalam butir-butir kurikulum. Misalnya yang berhubungan dengan mata pelajaran, manakah yang didahulukan, menyimak atau berbicara. Dilihat dari psikolinguistik tentu menyimak yang harus didahulukan karena ketika seorang lahir, maka kegiatan menyimak yang lebih banyak menyita waktunya.

2.  Psikolinguistik dan Guru
Salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru yakni menguasai bahan, dalam hal ini bahasa, dan lebih khusus lagi bahasa Indonesia. Sebagai seorang guru bahasa Indonesia, kita dituntut untuk menguasai bahasa Indonesia. Untuk menguasai bahasa Indonesia dengan baik, sebaiknya seorang guru dibentengi dengan linguistik dan subdisiplin lainnya seperti sosiolinguistik, linguistik terapan, dan psikolinguistik. Hal yang berhubungan dengan psikolinguistik, misalnya tuntutan untuk memahami dan menerapkan teori akuisisi bahasa.
Salah satu teori akuisisi bahasa, yakni teori behavioral. teori ini mengatakan bahwa anak yang lahir tidak membawa potensi bahasa. Lepas dari benar tidaknya teori ini, seorang guru bahasa dapat menerapkan teori ini untuk kepentingan pengajaran bahasa. Oleh karena teori berasumsi bahwa anak tidak membawa potensi bahasa, maka seorang guru bahasa harus memberikan kesempatan yang luas kepada si terdidik untuk memperoleh pengalaman dengan menggunakan bahasa yang sedang dipelajarinya. Guru harus memberikan rangsangan banyak kepada si terdidik agar ia banyak bereaksi. Guru harus melatih si terdidik untuk memperoleh pengalaman dalam pola-pola itu menjadi kebiasaan dan akhirnya pola-pola teresbut keluar secara otomatis apabila diperlukan. Dengan demikian guru tidak hanya berceramah, tetapi banyak memberika aktivitas dengan jalan memberikan rangsangan.
Guru yang baik akan berusaha meningkatkan profesinya dengan bantuan ilmu yang relevan. Ia selalu mengoresi dirinya, apakah bahan yang ia ajarkan dimengerti si terdidik, dan apakah bahan diajarkannya bermakna dalam kehidupan si terdididk?
Dilihat dari segi linguistik, seorang guru bahasa sebaiknya mempertimbangkan tiga faktor linguistik, yakni a) faktor kesukaran bawaan, 2) faktor hubungan bahasa yang dipelajari dengan bahasa ibu, dan 3) faktor pengalaman belajar bahasa yang dipelajari.

3.  Psikolinguistik dan dengan Segi Si Terdidik
Ketika seorang guru memprogramkan bahasa sajiannya, ia akan mempertimbangkan apakah bahan itu beriorientasi pada guru, pada tujuan, atau pakah berorientasi pada si terdidik. Kalau sajian itu berorientasi pada guru maka akan terlihat adalah guru yang berceramah, guru yang aktif. Kalau sajian itu berorientasi pada tujuan maka aktivitas guru yakni mengupayakan agar tujuan pengajaran tercapai, dan kalau sajian berorientasi pada si terdidik maka akan terlihat aktivitas si terdidik yang dikelola guru untuk mencapai tujuan. Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi si terdidik untuk mengubah tingkah laku berbahasa sesuai dengan sajian yang telah diprogramkan.                            
Dalam kaitan dengan psikolinguistik, guru hendaknya memperhatikan tingkat kematangan si terdidik dan teori yang relevan. Misalnya dalam teori ekuisisi bahasa dan teori mentalis. Teori ini mengasumsikan bahwa anak yang lahir telah membawa potensi bahasa. Potensi ini akan berkembang apabilakematangan untuk itu tiba. Tugas guru yakni menelusuri potensi bawaan. Penelusuran tidak saja berlangsung di kelas, tetapi juga di luar kelas bahkan ketika guru dan murid mengaadakan karyawisata. Hendaknya diingat bahwa terdidik adalah makhluk individual dan sekaligus makhluk sosial. Oleh karena itu faktor individual itu maka kapasitasnya untuk belajar bahasa tidak sama bagi semua orang (Wilkins, 1972:178) Si terdidik diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kapasitasnya. Tugas guru hanya membimbing dan mengukuhkan aktivitas yng bermakna. Si terdidik harus dihargai sebagai individu yang berpotensi dan harus mengembangkan potensi yang dimilkinya.

4.        Psikolinguistik dan Perencanaan Pengajaran Bahasa
Pengajaran bahasa yang dimaksud disini yakni pengajaran bahasa yang akan dilaksanakan oleh guru untuk sekali pertemuan. Perencanaan pengajaran bahasa untuk sekali pertemuan dianggap mewakili setiap kali guru akan melaksanakan kegiatan merencanakan pengajaran. Seorang guru yang baik akan memprogramkan pengajaran bahasa sedemikian rupa sehingga tujuan yang diruumuskan dapat tercapai. Guru masuk ke kelas dengan program yang jelas. Guru tidak datang dengan membawa banyak buku lalu itu dibuka semua dii meja, dan akan berceramah seperti seorang penjual obat. Dikaitkan dengan psikolinguistik, perlu dibatasi pada pendekatan yang digunakan. Pendekatan dimaksud dapat dilihat dari segi si terdidik. Di lihat dari segi si terdidik, pendekatan dapat bersifat individual atau bersifat kelompok. Pendekatan yang dikaitkan dengan teori tertentu, semisal pendekatan behavioral atau mentalis. Yang selalu diingat adalah tujuan yang hendak dicapai.
5.        Implikasinya dalam Pemilihan Materi Penyusunan Silabi
Pemilihan materi berkaitan dengan perencanaan pengajaran secara menyeluruh. Untuk  melakukan pemilihan materi itu perlu diketahui tujuan, tingkat dan waktu yang tersedia. Tujuan mengacu pada ketercapaian instruksional yang direncanakan, tingkat mengacu pada kesukaran dan kemudahan yang akan tercrmin dalam aktivitas belajar bahasa yang sedang dipelajari, sedangkan waktu mengacu pada rentangan durasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan instrusional. Materi itu sendiri telah ada dalam kurikulum.
Dilihat dari segi psikolinguistik materi yang akan diberikan sebaiknya harus dipertimbangkan berdasarkan.
a.       Tingkat kesukaran
b.       Dapat diajarkan
c.       Usia
d.      Sikap si terdidik
e.       Kebergunaan
Materi yang sulit tentu akan sulit pula diajarkan, dan akan sulit bagi si terdidik yang tingkatannya belum sesuai serta tidak menarik si terdidik karena materi itu asing dalam kehidupan.
Psikolinguistik dapat dimanfaatkan pula untuk menyusun silabi. Untuk menyusun silabi pokok-pokok yang perlu dikembangkan adalah.
1.      Disiplin ilmu
2.      Ruang lingkup ilmu
3.      Jenjang pendidikan
4.      Sifat sekolah
5.      Tujuan yang hendak dicapai
Jenis-jenis silabi yang perlu dikembangkan adalah
1. silabi nasional, yakni silabi yang menekankan ide apa yang akan dikemukakan dalam ujaran.
2. Silabi fungsional yakni silabi yang menekankan maksud komunikasi. Jadi silabi yang menekankan fungsi.
3. silabi komunikatif, yakni silabi yang menekankan segi komunikatifnya
(Suzanne, 1983:2-7)
Selain jenis silabi, perlu pula dipertimbangkan pendekatan yang digunakan untuk menyusun silabi. Howatt ( corder, 1974:19-20) mengemukakan dua pendekatan, yakni pendekatan berurutan dan pendekatan spiral (linear and spiral syllabuses). Silabi berurutan berarti materi dsusun berurutan, misalny fonologi, morfologi, sintaksis. Pendekatan berurutan memepersyaratkan urutan materi menurut garis, materi yang telah diberikan tidak akan diulangi lagi pada kelas-kelas selanjutnya.Pendekatan spiral atau yang biasa disebut silabi bertahap berulang adalah pendekatan silabi yang mempersyaratkan penyusunan silabi yang diberikan secara bertahap dan akan diulangi pada kelas-kelas yang berlebihan tinggi. Sudah barang tentu pada pendekatan  spiral terjadi perluasan pendalaman. Dilihat dari segi psikolinguistik, pendekatan spiral yang baik diterapkan. Keutungan pendakatan ini, yakni si terdidik tidak terlalu dibebani dengan bahan yang belum sesuai dengan kematangannya dan ia dapat mengulangi bahan yang telah pernah diperolehnya tetapi sudah lebih meluas dan mendalam.

6.      Psikolinguistik  implikasinya dalam penilaian
Menilai berati mengukur ketercapaian seseorang dalam rentangan program intruksioanal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk mengadakan penilaian perlu dipertanyakan, (i) siapa yang menilai, (ii) siapa yang dinilai (iii) alat apa yang digunakan untuk menilai, (iv) kapan diadakan penilaian, (v) sampai dimana bahan yang akan dinilai, (vii) patokan apa yang akan digunakan untuk menilai, (viii) bagaimana pengolahan penilaian, dan (ix) apakah tindak lanjut hasil penilaian. Pada waktu seorang guru memprogramkan pelajaran, apakah untuk satu semester atau untuk sekali pertemuan soal penilaian selalu termasuk dalam butir-butir yang diprogramkan, kalau guru memprogramkan pelajaran untuk sekali pertemuan tentu yang terbayang padanya yakni penilaian awal dan peniaian akhir dalam pertemuan itu. Kalau ia memprogramakan pelajaran untuk satu semester, maka terbayang padanya penilaian awal, tengah dan akhir semester. Penilaian ini baik untuk sekali pertemuan maupun untuk program semester selalu disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang  hendak dicapai.
      Banyak alat yang dapat digunakan untuk menilai,. Salah satu untuk menilai, adalah tes. Bentuk tes bermacam-macam pula, dan yang dikenal adalah (i) bentuk esai, dan (ii) bentuk objektif. Bentuk objektif terdiri dari,(i) mengisi, (ii) pilihan ganda (iii) menjodohkan, dan (iv) benar-salah.seandainya sikap berbahasa yang akan dinilai, maka ada dua bentuk tes yang dikenal, yakni Carrol and Sapon’s Modern Language Aptitude Test(MLAT), dan Pimsleur’s Language Apititude Battery (LAB) yang keduanya dkembangkan di AS (Wilkins, 1972:178-180).
Pada LAB terdapat unsur linguistik yang nonlinguistik. Hal yang dites adalah
1.      Kosakata dalam bahasa
2.      Kemampuan menghasilkan kalimat baru berdasarkan pola yang ada
3.      Kemampuan membedakan bunyi bahasa pada bunyi baru
4.      Tes hubungan antara lambang dan buni bahasa
Dilihat dari segi psikolinguistik yang perlu dikembangkan adalah
1.      Si terdidik
2.      Bahan yang akan diujikan
3.      Kapan penilaian dilaksanakan
Hal yang berhubungan dengan si terdidik, misalnya usia, latar belakang dan ekonomi. Hal yang berhubungan dengan bahan, misalnya tingkat kesukaran dan berhubungan dengan penilaian dilaksanakan.


Sumber:

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya,1997
Tarigan, HenryGuntur, Psikolinguistik. Bandung: angkasa, 1985

________, Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa,1988

Winkel,WS. Psikologi Pengajaran. Jakarta:Gramedia 1989



Tidak ada komentar:

Posting Komentar