Selasa, 21 Februari 2012

PERPUSTAKAAN SEKOLAH


BAB 1
KONSEP PERPUSTAKAAN SEKOLAH
A.   Pendahuluan
Perpustakaan sekolah mempunyai arti penting bagi keberhasilan pendidikan, karena perpustakaan sekolah merupakan sarana penunjang kegiatan belajar siswa. Salah besar bila suatu lembaga pendidikan seperti halnya sekolah, tidak mengedepankan perpustakaan.
Sering disebutkan bahwa perpustakaan merupakan jantungnya lembaga pendidikan, namun demikian masih ada beberapa lembaga pendidikan yang kurang respek terhadap perpustakaan. Ada juga yang beranggapan bahwa perpustakaan hanya merupakan tempat untuk menyimpan buku-buku. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman akan arti penting sebuah perpustakaan. Dan masih banyak pula lembaga pendidikan yang kurang memperhatikan perpustakaannya, dikarenakan perpustakaan menyerap banyak dana dan sama sekali tidak menghasilakan pendapatan secara finansial. Selain itu masih banyak pula perpustakaan yang dikelola/ditangani oleh tenaga yang tidak menguasai perpustakaan (kalau tidak boleh dikatakan tenaga seadanya). Padahal tidak demikian, karena perpustakaan harus selalu meng-update informasi-informasi baru dan menyebarluaskan kepada penggunanya, sehingga perpustakaan perlu untuk dikelola dengan sungguh-sungguh dan ditangani oleh tenaga yang profesional dibidangnya.
Bila memperhitungkan untung dan rugi, sebenarnya secara materi perpustakaan sekolah sangat menguntungkan bagi siswa, karena siswa tidak terbebani untuk membeli buku-buku yang diperlukan untuk memperkaya pengetahuannya. Sedangkan keuntungan buat guru adalah meringankan beban mencarikan literatur-literatur yang diperlukan siswa untuk pengayaan mata pelajaran yang diberikannya. Semua itu dapat diatasi dengan adanya perpustakaan sekolah yang benar-benar dikelola dengan baik dan benar sebagaimana perpustakaan-perpustakaan sekolah di negara maju. 
Perpustakaan adalah salah satu sumber belajar yang penting, tetapi bukan satu-satunya. Perpustakaan memungkinkan para tenaga pendidik, dan para peserta didik/murid memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan membaca bahan pustaka yang mengandung ilmu pengetahuan yang diperlukan.
Perpustakaan dapat diartikan sebagai suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang menghimpun, mengelola bahan-bahan pustaka, baik itu berupa buku-buku maupun bukan berupa buku yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh pemakainya.

B.  Hakekat
Salah satu ciri perpustakaan adalah adanya bahan pustaka atau sering juga disebut koleksi pustaka. Tetapi selain cirri tersebut ada beberapa ciri perpustakaan, yaitu sebagai berikut:
1.      Perpustakaan merupakan suatu unit kerja
2.      Perpustakaan mengelola sejumlah bahan pustaka
3.      Perpustakaan harus digunakan oleh pemakai
4.      Perpustakaan sebagai sumber informasi
 Perpustakaan sekolah pada hakekatnya adalah sistem pengelolaan informasi oleh sumber daya manusia yang terdidik dalam bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Dalam pengelolaan dan pemanfaatan perpustakaan diperlukan gedung/ tata ruang, anggaran, sarana dan prasarana yang memadai.
Perpustakaan Sekolah menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan. Perpustakaan sekolah merupakan sarana bagi para murid agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
C.      Arti dan Tujuan
Perpustakaan sekolah merupakan bagian dari sekolah dan juga bagian dari perpustakaan secara umum. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar siswa yang memegang peranan sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. 
Perpustakaan Sekolah adalah suatu perpustakaan yang berada di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan baik Sekolah Dasar maupun Sekolah. Untuk mengelola perpustakaan sekolah sebaiknya dilakukan oleh seorang pustakawan, bilamana tidak ada bisa menunjuk guru yang dianggap mampu mengelola perpustakaan sekolah. Tujuan perpustakaan sekolah merupakan bagian integral yang mendukung/ menunjang proses belajar mengajar, maka dalam pengadaan bahan pustaka hendaknya mempertimbangkan kurikulum sekolah serta selera para pembaca yang dalam hal ini adalah murid-murid.
Keberadaan perpustakaan sekolah yang representative dalam jangka panjang dimaksudkan untuk:
1.      Menumbuhkembangkan minat baca tulis guru dan siswa
2.      Mengenalkan teknologi informasi
3.      Membiasakan akses informasi secara mandiri
4.      Memupuk bakat dan minat

D.     Fungsi dan Tata Kerja
Memang apabila ditinjau secara umum, perpustakaan sekolah itu sebagai pusat belajar, sebab kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan murid-murid adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Tetapi tidak semua murid datang ke perpustakaan mempunyai maksud untuk belajar melainkan untuk mencari informasi atau bahkan hanyak untuk rekreasi. Beberapa fungsi perpustakaan sekolah antara lain:
a.      Fungsi Edukatif
Di perpustakaan sekolah disediakan koleksi putaka berupa buku dan non buku, bahan pustaka tersebut digunakan sebagai penunjang aktivitas sekolah sebagai proses pendidikan secara mandiri. Adanya perpustakaan sekolah dapat meningkatkan interes membaca murid-murid, sehingga teknik membaca semakin lama semakin dikuasai. Selain itu perpustakaan sekolah dalam hal pengadaan bahan pustaka disesuaikan dengan kurikulum sekolah, oleh sebab itu kiranya dapat kita katakan bahwa perpustakaan sekolah itu memiliki fungsi edukatif.
b.      Tempat Belajar
Selain mencari buku untuk penunjang belajar, murid-murid biasanya juga melakukan kegiatan berdiskusi di perpustakaan sekolah. Hal ini sangat didukung karena selain belajar secara mandiri, murid-murid juga gemar membahas satu atau beberapa mata pelajaran bersama teman grup atau berdiskusi secara bersama dengan memanfaatkan buku perpustakaan sebagai refgerensinya.
c.       Fungsi Penelitian/riset
Di perpustakaan telah diketahui bahwa banyak terdapat bahan pustaka, murid-murid dan guru dapat melakukan penelitian dengan mengumpulkan data atau keterangan yang diperlukan.
d.      Pemanfaatan teknologi informasi
Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya yang dapat dimanfaatkan. Dalam memperlancar proses belajar mengajar perlu pemanfaatan teknologi informasi yang notabene perpustakaan sebagai media aplikasi teknologi informasi dalam alih pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan sekolah perlu menyediakan computer berbasis internet, pangkalan data dalam bentuk CD, penyediaan buku elektronik (e-books), jurnal elektronik (e-journal), ensiklopedi elektronik, dan lainnya.
e.      Fungsi Rekreasi
Perpustakaan berfungsi sebagai tempat rekreasi bukan berarti secara fisik, tetapi secar psikologisnya. Contohnya jika ada buku yang berjudul “Malang Kota Indah”, maka murid-murid yang membacanya seakan-akan pergi ke sana karena dalam buku tersebut disajikan gambar gedungnya, tempat hiburannya, tempat pariwisatanya dan sebagainya, dimana murid-murid bisa membayangkan sedang berada di kota tersebut.
f.        Fungsi Informasi
Perpustakaan yang sudah maju tidak hanya menyediakan bahan-bahan pustaka berupa buku, tetapi juga menyediakan pustaka non buku, misalnya majalah, bulletin, peta, globe surat kabar, pamphlet dan dilengkapi dengan alat-alat pandang dengar misalnya berupa overhead projector, slide projector, pita kaset, CD dan lainnya. Semua ini akan memberikan keterangan atau informasi yang dibutuhkan murid-murid.









BAB 2
MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
A.   Pengertian
Perpustakaan tidak sekedar gedung/ruang sebagai tempat koleksi, tetapi juga sebagai unit/sistem informasi. Perpustakaan sekolah sebagai unit informasi akan memiliki kinerja yang baik bilamana dikelola dengan manajemen yang memadai. Sebagai system informasi, perpustakaan memiliki aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, dan penyebaran informasi.
Pengertian manajemen telah banyak dibahas oleh para ahli. Menurut Zulkifli Amsyah (2001:1) manajemen adalah proses kegiatan mengelola sumber daya manusia, materi dan metode berdasarkan fungsi-fungsi manajemen agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif.
Sedangkan konsep perpustakaan memang selalu identik dengan buku dan aspeknya. Sulistya-Basuki (1999:1) menyatakan bahwa: perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian, atau subbagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu serta digunakan untuk anggota perpustakaan. Dalam pengertian ini, perpustakaan identik dengan ruangan, koleksi, penyimpanan, dan pemanfaatannya.
Setelah mengetahui pengertian manajemen dan perpustakaan, maka untuk dapat merumuskan pengertian manajemen perpustakaan dapat menggabungkan kedua pengertian tersebut. Menurut Jo Bryson, (1990:4) manajemen perpustakaan sekolah merupakan upaya pencapaian tujuan dengan pemanfaatan sumber daya manusia, informasi, system, dan sumber dana dengan tetap memperhatikan fungsi manajeman, peran dan keahlian pengelolanya.


B.   Pengorganisasian
Pengertian umum organisasi adalah segenap proses kegiatan menata dan membagi pekerjaan yang akan dilakukan, mengelompokkan orang-orang yang akan mengerjakan pekerjaan tersebut, menetapkan wewenang dan tanggungjawab serta hubungan antar unit-unit dan individu sebagai pelaksana dari pekerjaan itu untuk mencapai tujuan tertentu dari organisasi tersebut.
Menurut Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah, Pekerjaan mengorganisasi di Perpustakaan Sekolah adalah:
“Rangkaian kegiatan mengelompokkan pekerjaan serta orang yang akan mengerjakan pekerjaan tersebut, menetapkan tugas, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing individu dan menetapkan hubungan antara unit-unit kerja yang ada untuk mencapai tujuan dari Perpustakaan Sekolah”.
Pengorganisasian merupakan penyatuan langkah-langkah dari seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan oleh elemen-elemen dalam suatu lembaga, hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas. Proses pengorganisasian sekolah akan berjalan baik apabila memperhatikan prinsip-prinsip organisasi sebagai landasan gerak.
Prinsip-prinsip organisasi tersebut adalah:
1.      Organisasi perpustakaan harus mempunyai tujuan.
Tujuan perpustakaan sekolah harus jelas dan diketahui oleh elemen yang terkait. Prinsip ini membawa konsekuensi, bahwa harus ada kesatuan pimpinan, dan kesatuan arah dan gerak.
2.      Harus ada pembagian kerja dan penugasan yang homogen.
Tanpa adanya pembagian tugas yang jelas akan terjadi tumpang tindih pekerjaan dan tidak mencapai efektifitas dan efisiensi pekerjaan. Pembagian kerja di perpustakaan misalnya, tugas pengadaan koleksi bahan pustaka; pengolahan bahan pustaka; layanan pengunjung; sosialisasi, promosi dan publikasi; menjalin mitra dan kerja sama; pembinaan dan pengembangan; deposit dan administrasi/tata usaha; pembinaan dan pengembangan.
3.      Prinsip setiap pelimpahan kekuasaan (tanggung jawab) dan tugas harus dilakukan dengan tepat dah jelas (pembagian wewenang).
Dengan adanya batas kewenangan ini masing-masing orang/kelompok akan memahami tugas, kewajiban, dan wewenangnya, merekan akan lebih berhati-hati dalam bertindak.
4.      Kesatuan komando.
Dalam sistem organisasi yang baik, harus ada kesatuan komando/perintah agar tidak terjadi kebingungan di tingkat pelaksana. Artinya, bahwa penyusunan setiap organisasi itu harus mengikuti garis-garis tata hubungan antara bawahan dan atasan sampai dengan titik puncak pimpinan organisasi perpustakaan.
5.      Koordinasi.
Koordinasi merupakan proses pengintregasian tujuan pada satuan-satuan yang terpisah dalam perpustakaan sekolah untuk memcapai tujuan secara efisien. Koordinasi ini penting bagi perpustakaan sekolah untuk menyatukan langkah, mengurangi benturan tugas, dan mengurangi timbulnya konflik internal.
6.      Prinsip komunikasi.
Kekompakan organisasi tergantung kepada komunikasi, yakni pertukaran informasi antar instansi di dalamnya. Kelancaran komunikasi akan mengurangi atau menghilangkan salah persepsi, kecurigaan ataupun penilaian yang keliru.
7.      Prinsip kewajiban pimpinan untuk mengadakan pengecekan terhadap pelaksanaan  perintah-perintahnya.
Pemantauan dan pengawasan ini bersifat organisasional yang merupakan bagian integral di dalam bagian kehidupan organisasi. Yang penting untuk diperhatikan, bahwa pemantauan dan pengawasan dari pimpinan jangan mengurangi rasa tanggung jawab bawahan.
8.      Prinsip kontinuitas.
Artinya pekerjaan atau usaha atau kegiatan perpustakaan harus berjalan terus, tidak boleh terhenti/berhenti, karena seseorang berhalangan sakit, keluar kota, cuti dan lain sebagainya.
9.      Prinsip saling asuh, asah, dan asih antara unit lini dan staf.
Hal ini penting sekali terutama di dalam organisasi yang sudah kompleks dengan bernagai kegiatan. Segala sesuatunya diselesaikan secara proporsional dan professional. Masing-masing pihak harus bisa mencegah jangan sampai, karena berbagai sebab atau hal, suatu unit kerja merasa lebih penting atau dipentingkan di atas unit kerja lain.
10.  Prinsip kehayatan (hidup).
Setiap organisasi diciptakan sedemikian rupa sehingga seolah-olah hidup (hayat) dan dinamis dalam menyelenggarakan semua aktivitasnya. Misalnya pengertian hayat dalam sebuah perpustakaan senantiasa mengembangkan berbagai kegiatan yang melibatkan partisipasi pengunjung perpustakaan.
11.  Prinsip (asas) tahu diri pada setiap diri dan setiap warga organisasi.
Hal ini berhubungan erat dengan disiplin dan asas pembagian tugas-tugas, tanggung jawab dan kekuasaan. Setiap orang di perpustakaan harus sadar dan tahu tentang posisinya di dalam jenjang organisasi dan berusaha untuk memegang teguh hal itu.
Faktor-faktor adanya suatu organisasi terdiri dari:
a.      Adanya sekelompok orang
b.      Adanya tujuan yang akan dicapai
c.       Adanya penataan kerjasama
d.      Adanya fasilitas sekalipun fasilitas yang paling sederhana
Perpustakaan Sekolah ditinjau dari struktur organisasinya yang dapat dibagi atas dua kelompok:
a.      Secara makro
b.      Secara mikro
Organisasi Perpustakaan Sekolah secara makro menggambarkan kedudukan Perpustakaan Sekolah dalam organisasi sekolah secara keseluruhan. Sedangkan secara mikro organisasi Perpustakaan Sekolah menggambarkan kedudukan unit-unit kerja dalam keseluruhanorganisasi Perpustakaan Sekolah. Mengingat pentingnya fungsi Perpustakaan Sekolah sebagai instansi pendidikan edukatif, bersama-sama dengan unsur pendidikan lainnya ikut menentukan berhasilnya proses pendidikan, maka kedudukan Perpustakaan Sekolah harus secara jelas tergambar di dalam struktur organisasi sekolah.

Kepala Perpustakaan
Unit Pelayanan Teknis
Unit Pelayanan Pembaca
Unit Tata Usaha

Gambar 1: Struktur Organisasi Perpustakaan Sekolah
Untuk dapat memperoleh hasil kerja yang baik, diperlukan kemauan dan kemampuan tenaga untuk bekerjasama sehingga dalam suatu organisasi perpustakaan perlu ada pembagian tugas untuk pelaksanaan yang meliputi:
* beban kerja yang harus dipikul
* jenis pekerjaan yang beragam
* kebutuhan berbagai macam spesialisasi
Pembagian tugas hendaknya dilaksanakan sesuai kemampuan, keahlian dan bakat dari petugas dalam organisasi tersebut. 
C.   Penganggaran
Anggaran adalah unsur utama untuk menyelenggarakan perpustkaan. Sebagian besar perpustakaan sekolah belum memiliki anggaran yang pasti. Hal ini kurang adanya perhatian perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Padahal tanpa adanya anggaran yang memadai, pelaksanaan perpustakaan akan tersendat-sendat. Anggaran erat hubungannya dengan perencanaan, karena sumber daya dan kegiatan akan memerlukan anggaran untuk mencapai tujuan perpustakaan.
Perpustakaan sekolah harus memperoleh dana yang mencukupi dan berlanjut untuk tenaga yang terlatih, materi perpustakaan, teknologi dan fasilitas serta aksesnya harus bebas biaya. Maka semua pustakawan harus mau dan mampu ikut ambil bagian dalam perencanaan biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan perpustakaan, paling tidak untuk kebutuhan satu tahun. Setiap perpustakaan harus membuat rencana anggaran dan mengajukannya kepada lembaga induknya atau lembaga yang berkewajiban memberi anggaran pada perpustakaan.
Untuk menjamin agar perpustakaan memperoleh bagian yang adil dari anggaran sekolah, dibawah ini beberapa faktor penting yang perlu dimengerti:
• memahami proses penganggaran sekolah
• menyadari jadwal siklus anggaran
• mengenal siapa yang menjadi tenaga penting
• memastikan bahwa segala kebutuhan perpustakaan teridentifikasi.
Rincian penggunaan anggaran perpustakaan pada umumnya dikelompokkan dalam beberapa bagian seperti:
1.      Operasional perpustakaan (pembayaran telepon, listrik, air)
2.      Pengadaan alat kantor (ATK) dan keperluan administrasi
3.      Pengadaan dan pengolahan bahan pustaka (misalnya, buku, terbitan berkala/majalah dan bahan terekam/tidak tercetak); biaya keperluan promosi (misalnya, poster)
4.      Pemeliharaan bahan pustaka
5.      Penyebaran informasi
6.      Pemasaran dan promosi jasa perpustakaan
7.      Perjalanan dinas
8.      Perbaikan dan perawatan gedung
9.      Perbaikan dan perawatan alat

Sebagai ketentuan umum, anggaran material perpustakaan sekolah paling sedikit adalah 5% untuk biaya per murid dalam sistim persekolahan, tidak termasuk untuk belanja gaji dan upah, pengeluaran pendidikan khusus, anggaran transportasi serta perbaikan gedung dan sarana lain.
Biaya untuk tenaga perpustakaan mungkin dapat dimasukkan di dalam anggaran perpustakaan, meskipun di sebagian sekolah hal itu lebih tepat dimasukkan di dalam anggaran staf umum. Hendaknya diperhatikan bahwa pada saat menghitung biaya tenaga untuk perpustakaan, maka pustakawan sekolah perlu dilibatkan. Jumlah uang yang tersedia untuk ketenagaan berkaitan erat dengan isu penting, seperti berapa lama jam buka perpustakaan dapat diselenggarakan dan standar serta bentuk layanan yang dapat diberikan. Proyek khusus dan perkembangan lainnya seperti kebutuhan rak baru memerlukan permintaan anggaran tersendiri.
Penggunaan anggaran harus direncanakan secara cermat untuk keperluan setahun serta berkaitan dengan kerangka kerja kebijakan. Laporan tahunan hebdaknya dapat memberikan gambaran bagaimana anggaran telah digunakan serta kejelasan apakah jumlah uang yang digunakan untuk perpustakaan telah mencukupi untuk tugas perpustakaan serta mencapai sasaran kebijakan. Pustakawan sekolah harus mengetahui secara jelas pentingnya anggaran yang cukup untuk perpustakaan, dan perlu menyampaikan ke manajemen senior karena perpustakaan melayani seluruh komunitas sekolah.


BAB 3
RUANG DAN PERLENGKAPAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
Setiap perpustakaan memiliki kebutuhan ruangan sendiri-sendiri berdasarkan jumlah pemakai, macam kegiatan, dan pemanfaatannya yang berbeda. Oleh karena itu, kebutuhan ruang untuk perpustakaan sekolah berbeda dengan kebutuhan ruang untuk perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini disebutkan oleh para siswa yang banyak melakukan kegiatan belajar di dalam ruang kelas. Mereka berkunjung dan memanfaatkan ruang perpustakaan hanya pada jam-jam tertentu. Semakin lengkap perlengkapannya semakin menunjang penyelenggaraan perpustakaan sekolah. Ruang dan perlengkapan yang tersedia harus ditata dan dirawat dengan baik sehingga benar-benar menunjang penyelenggaraan perpustakaan sekolah secara efektif dan efisien. 
A.     Ruang/gedung Perpustakaan
Ruang perpustakaan sekolah bisa berupa ruang seperti ruang kelas karena memang yang ada hanya ruang kelas biasa yang kebetulan tidak terpakai, dan bisa berupa gedung khusus yang dalam pembangunannya memang direncanakan untuk perpustakaan sekolah. Apapun bentuknya baik berupa ruang kelas ataupun gedung khusus harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu untuk penyelenggaraan perpustakaan sekolah.
Luas gedung atau ruang perpustakaan sekolah tergantung jumlah murid yang dilayani. Dalam “Buku Pedoman Pembakuan Pembangunan Sekolah”, dijelaskan ukuran gedung atau ruang perpustakaan sekolah untuk masing-masing tipe sekolah. Kiranya dapat dijadikan pedoman dalam pendirian gedung atau ruang perpustakaan sekolah.
Untuk SD rata-rata luas ruangannya 56 m2
SMP rata-rata luas ruangannya antara 100-400 m2, dan
SMA rata-rata luas ruangannya antara 100-300 m2.

B.      Peralatan dan Perlengkapan
Selain memerlukan gedung atau ruang, penyelenggaraan perpustakaan sekolah memerlukan sejumlah peralatan dan perlengkapan, baik untuk pelayanan kepada pengunjung maupun untuk “processing” bahan-bahan pustaka dan ketatausahaan.
Untuk peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat bahan habis pakai dan ada pula yang bersifat tahan lama. Untuk peralatan yang habis pakai misalnya buku inventaris, buku induk, kartu anggota, lem,tinta stempel, dsb. Untuk peralatan yang tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, misalnya mesin ketik, penggaris, gunting, pelubang kertas, bantal stempel, berkas jepitan, dsb.
Perlengkapan atau meubelair yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah rak buku, rak surat kabar, rak majalah, meja sirkulasi, lemari atau kabinet katalog, kereta buku, dan papan display.

C.      Tata Ruang
Penataan ruang perpustakaan perlu dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan berbagai aspek. Tata ruang perpustakaan sekolah adalah penataan atau penyusunan segala fasilitas perpustakaan sekolah di ruang atau gedung yang tersedia. Penataan ruang perpustakaan sekolah sangat penting, sebab dengan penataan ruang tersebut memungkinkan pemakaian ruang perpustakaan sekolah lebih efisien, memperlancar para para petugas dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, mencegah adanya rasa terganggu antara yang satu pihak dengan pihak yang lain.
Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruangan perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang sebagai berikut:
1.      Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.
2.      Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.
3.      Penempatan perabot, seperti meja, kursi, dan rak hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus.
4.      Jarak satu meubelair dengan lainnya dibuat agak lebar agar orang yang lewat lebih leluasa.
5.      Bagian-bagian yang mempunyai tugas sama, hampir sama, atau merupakan kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.
6.      Bagian yang menangani pekerjaan yang bersifat berantakan seperti pengolahan, penjilidan dan pengetikan, hendaknya ditempatkan yang tidak tampak oleh khalayak umum (pengguna perpustakaan).
7.      Apabila memungkinkan, semua petugas dalam satu unit/ ruangan duduk menghadap ke arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang.
8.      Alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dalam satu garis lurus.
9.      Ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas, dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa.
10.  Perlu ada lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi musibah/ kebakaran.
Penempatan ruang perpustakaan sekolah hendaknya di lokasi yang strategis. Sebab perpustakaan merupakan komponen utama pendukung kegiatan belajar-mengajar.
Agar menghasilkan penataan ruang perpustakaan yang optimal serta dapat menunjang kelancaran tugas perpustakaan sebagai lembaga pemberi jasa, sebaiknya pustakawan perlu memperhatikan aspek/hal-hal berikut ini:
1.      Aspek fungsional; bahwasannya penataan ruang harus mendukung kinerja perpustakaan secara keseluruhan baik bagi petugas perpustakaan maupun bagi pemakai perpustakaan. Penataan yang fungsional dapat tercipta jika antar ruangan mempunyai hubungan  yang fungsional dan bahan pustaka, peralatan dan pergerakan pemakai perpustakaan dapat mengalir dengan lancar. Antar ruang saling mendukung sehinggal betul-betul tercipta fungsi penataan ruangan secara optimal.
2.       Aspek psikologis pengguna; dilihat dari aspek ini tujuan penataan ruangan adalah agar pengguna perpustakaan merasa nyaman, leluasa bergerak di perpustakaan dan merasa tenang. Kondisi ini dapat diciptakan melalui penataan ruangan yang harmonis dan serasi, termasuk dalam hal penataan hal perabot perpustakaan.
3.      Aspek estetika; pada aspek ini perlu diperhatikan. Keindahan penataan ruang perpustakaan salah satunya bisa melalui penataan perabot yang digunakan. Jika perpustakaan bersih dan penataannya serasi maka pemakai akan merasa ingin berlama-lama berada di perpustakaan.
4.      Aspek keamanan bahan pustaka; berkaitan dengan tata ruang, keamanan bahan pustaka bisa dikelompokkan dalam 2 bagian. Pertama faktor keamanan bahan pustaka dari akibat kerusakan secara alamiah, dan kedua adalah faktor kerusakan/kehilangan bahan pustaka karena faktor manusia. Penataan ruang harus memperhatikan kedua faktor tersebut. Hindari masuknya sinar matahari secara langsung dengan intensitas cahaya yang tinggi, apalagi sampai mengenai koleksi bahan pustaka. Penataan ruang yang fungsional mampu menciptakan pengawasan terhadap keamanan koleksi perpustakaan secara tidak langsung dari kerusakan faktor manusia.  









BAB 4
BAHAN PUSTAKA
A.     Pengertian
Perpustakaan sekolah akan dapat berfungsi sebagai tempat belajar, sumber informasi dan pendukung kurikulum apabila di dalam perpustakaan sekolah tersebut tersedia bermacam-macam bahan pustaka. Dengan adanya bahan pustaka, murid-murid dapat belajar dan mencari informasi yang diinginkan. Koleksi bahan pustaka ini jumlah dan jenis serta kualifikasi minimalnya sudah ditentukan, dan sudah diolah/diproses sehingga siap dipinjam atau dimanfaatkan oleh pemakai. Setelah memenuhi persyaratan minimal diupayakan pengembangannya. Setiap perpustakaan biasanya telah menetapkan standar koleksinya, baik dalam hal jumlah, jenis, variasi, mutu, subjek, dan fokus maupun masa periode penerbitannya. Koleksi perpustakaan merupakan faktor terpenting bagi perpustakaan. Hal itu sesuai dengan konsep sebuah perpustakaan sebagai pusat informasi, pendidikan, pembelajaran, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Jika perpustakaan sekolah  kurang memiliki bahan-bahan pustaka, atau jarang bahkan tidak pernah ditambah dengan bahan-bahan pustaka yang baru akan ketinggalan zaman dan lambat laun murid-murid kurang senang mengunjungi perpustakaan sekolah. Bahan pustaka yang diterima perpustakaan sekolah terdiri dari bahan pustaka buku dan bahan pustaka non buku. Bahan pustaka buku terdiri dari buku teks, buku ajar, buku referensi, buku paket, majalah, Koran, dan lainnya. Sedangkan bahan pustaka non buku dapat terdiri dari globe, mikrofis, kaset, piringan hitam, CD, dan lainnya. Oleh Karena itu perlu pengadaan bahan-bahan pustaka secara terus menerus dan melakukan pemilihan yang tepat, yang sesuai dengan kurikulum di sekolah.



Jenis-jenis bahan pustaka ditinjau dari bentuk fisiknya, yaitu:
1.      Bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, seperti buku tentang psikologi, buku Bahasa Indonesia, buku-buku tentang ilmu pengetahuan sosial, buku-buku tentang agama, buku-buku tentang ilmu pengetahuan alam.
2.      Bahan-bahan pustaka bukan berupa buku, seperti surat kabar, majalah, peta, globe, piringan hitam.
Bahan-bahan pustaka yang bukan berupa buku ini dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.      Bahan-bahan tertulis, seperti surat kabar, majalah, brosur, laporan, karangan-karangan, kliping.
b.      Bahan-bahan berupa alat pengajaran, seperti piringan hitam, radio, tape recorder, filmslide, projektor, filmstrip projektor, E-book, E-journal.
Jenis-jenis bahan pustaka ditinjau dari isinya, yaitu:
  1. Bahan-bahan pustaka yang isinya fiksi atau disebut buku-buku fiksi, seperti buku cerita anak-anak, cerpen, novel, novelet, roman, drama, puisi, pantun, syair.
  2. Bahan-bahan pustaka yang isinya non fiksi atau disebut buku-buku non fiksi, seperti buku referensi, kamus, biografi, ensiklopedi, majalah, dan surat kabar.

B.      Pengadaan
Pengadaan bahan-bahan pustaka adalah mengusahakan bahan-bahan pustaka yang belum dimiliki perpustakaan sekolah, dan menambah bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki perpustakaan sekolah tetapi jumlahnya masih terbilang sedikit atau kurang. Pengadaan bahan pustaka merupakan rangkaian dari kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan.

Dalam pengadaan bahan-bahan pustaka, guru pustakawan hendaknya meminta saran-saran, baik kepada Kepala Sekolah, guru-guru, maupun kepada murid-murid. Permintaan saran tersebut semua keputusan pengadaan terletak pada keputusan guru pustakawan yang semestinya mempertimbangkan apa yang sangad dibutuhkan dalam pengadaan bahan pustaka, keadaan keuangan, sarana dan prasarana perpustakaan sekolah. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghindari bahan pustaka yang sebenarnya kurang bermanfaat bagi pengguna perpustakaan masuk ke dalam jajaran koleksi.
Secara umum pengadaan bahan pustaka di lingkungan perpustakaan mencakup 3 kegiatan utama, yaitu:
1.      pemilihan atau seleksi bahan pustaka
2.      pengadaan bahan pustaka melalui pembelian, tukar menukar, penerimaan hadiah, dan penerbitan sendiri oleh perpustakaan
3.      inventarisasi bahan yang telah diadakan serta statistik pengadaan bahan pustaka.
Untuk perpustakaan sekolah pada umumnya menerima dropping buku dari Pemerintah, baik buku pelajaran, buku-buku penunjang, maupun buku bacaan.
Dalam perencanaan pengadaan barang-barang pustaka, ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh guru pustakawan, langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Inventarisasi bahan-bahan pustaka yang harus dimiliki.
Untuk menginventarisasi bahan-bahan pustaka in guru pustakawan bisa berpedoman kepada buku-buku yang memuat daftar bahan pustaka. Buku tersebut dapat diperoleh salah satunya dari penerbit-penerbit buku, dalam katalog buku (daftar buku) terdapat bermacam-macam judul buku. Ciri-ciri setiap judul dijelaskan secara terinci, seperti pengarangnya, penerbitnya, kota terbitnya, tahun terbitnya, jumlah halaman, ukuran buku, harganya, bahakan uraian singkat isi bukunya. Hala ini mempermudah guru pustakawan apabila sewaktu-waktu akan memesan buku-buku tertentu kepenerbit. Cara lain yang dapat ditempuh oleh guru pustakawan untuk memperoleh daftar buku atau katalog buku adalah menghubungi lembaga-lembaga tertentu yang memang sering keli mengeluarkan atau menerbitkan buku-buku. Di Indonesia ada banyak lembaga yang menerbitkan buku-buku, antara lain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Biro Pusat Statistik, LP3ES, UNESCO.   
2.      Inventarisasi bahan-bahan pustaka yang dimiliki.
Untuk menginventarisasi bahan-bahan pustaka ini guru pustakawan bisa berpedoman kepada buku induk perpustakaan sekolah. Apabila perpustakaan sekolah tersebut belum memiliki buku induk maka guru pustakawan harus menginventarisasi semua bahan-bahan pustaka, dan tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu sedini mungkin semua bahan-bahan pustaka harus dimasukkan ke dalam buku induk. Selain itu kiranya akan lebih baik apabila penginventarisasiannya digolong-golongkan menurut subyek atau jenisnya sehingga dapat diketahui bahan-bahan pustaka subyek atau jenis mana yang terasa sangat dibutuhkan oleh perpustakaan sekolah.
3.      Analisis kebutuhan bahan-bahan pustaka.
Berdasarkan inventarisasi di atas guru pustakawan sudah bisa menginventarisasi bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan. Bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan itu yang dimaksud adalah bahan-bahan yang seharusnya dimiliki atau tersedia di perpustakaan, tetapi bahan-bahan pustaka tersebut belum dimiliki oleh di perpustakaan sekolah. Cara yang dapat ditempuh untuk menganalisis bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan adalah membandingkan antara inventarisasi bahan pustaka yang harus dimiliki dengan hasil inventarisasi bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki.
4.      Menetapkan prioritas.
Apabila hasil analisis kebutuhan bahan-bahan pustaka menunjukkan bahwa bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan sangat banyak, sementara dana yang ada tidak cukup, maka perlu dibuatkan prioritas dari seluruh bahan pustaka yang dibutuhkan, sehingga dapat ditetapkan bahan-bahan pustaka yang mana yang harus segera diusahakan.
Ada beberapa hal yang perlu dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan prioritas, antara lain:
a.      Kurikulum sekolah
b.      Bakat dan minat murid-murid
c.       Pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan murid-murid
d.      Tingkat usia murid-murid
e.      Sumber-sumber pengadaan bahan pustaka
f.        Keadaan ruang dan peralatan perpustakaan sekolah yang tersedia
g.      Anggaran yang tersedia untuk pengadaan bahan-bahan pustaka.  
5.      Menentukan cara pengadaan bahan-bahan pustaka
Langkah terakhir dalam perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka adalah menentukan cara pengadaannya. Jadi setelah menentukan buku-buku mana yang harus segera diusahakan, maka ditentukan cara pengadaannya, mungkin dengan cara membeli , hadiah, menyewa dan sebagainya.
Pada umumnya bahan-bahan pustaka yang berupa buku merupakan bantuan atau ‘dropping’ dari Pemerintah, tetapi bantuan tersebut terbatas dan tidak selalu ada, sehingga guru pustakawan dituntut untuk mengusahakan bahan-bahan pustaka dengan cara lain.
Ada beberapa cara yang ditempuh oleh guru pustakawan untuk memperoleh bahan-bahan pustaka, antara lain dengan cara membeli, hadiah atau sumbangan, tukar menukar, meminjam dan membuat sendiri.



C.      Pengolahan
Sebelum bahan pustaka disusun ke dalam rak/almari maka perlu diadakan pengolahan. Yang dimaksud dengan pengolahan buku adalah rangkaian pekerjaan dalam mempersiapkan buku agar mudah diperoleh dan diketahui informasi yang ada di dalamnya.
1.      Inventarisasi
Bahan-bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dicatat di dalam buku induk. Pencatatan bahan-bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah disebut inventarisasi bahan pustaka. Penginventarisasian bahan-bahan pustaka ini pada waktu bahan pustaka datang, yaitu setelah guru pustakawan mengecek keadaan bahan-bahan pustaka tersebut. Penginventarisasian ini dilakukan gunanya untuk memudahkan guru pustakawan dalam merencanakan pengadaan bahan-bahan pustaka, memudahkan guru pustakawan dalam melakukan pengawasan terhadap bahan-bahan pustaka yang ada, dan memudahkan guru pustakawan dalam membuat laporan tahunan. 
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan inventarisasi bahan-bahan pustaka meliputi sebagai berikut:
a)      Memberi stempel pada bahan pustaka
b)      Mendaftar bahan pustaka
2.      Klasifikasi
Setelah semua bahan pustaka diinventaris ke dalam buku induk, maka langkah selanjutnya adalah mengklasifikasi bahan-bahan pustaka tersebut sehingga mudah dipergunakan oleh pengunjung. Klasifikasi berasal dari kata ‘classification’ (bahasa Inggris), yang berasal dari kata ‘to classify’ , yang berarti menggolongkan dan menempatkan benda-benda yang sama di suatu tempat. Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah sangat penting karena untuk menolong murid-murid dan pengunjung lainnyadi dalam mencari buku-buku yang diperlukan.
Tujuan klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
a)      Untuk mempermudah murid-murid di dalam mencari buku-buku yang sedang diperlukan.
b)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mencari buku-buku yang dipesan oleh murid-murid atau pengunjung lain.
c)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mengembalikan buku-buku pada tempatnya.
d)      Mempermudah guru pustakawan mengetahui perimbangan bahan pustaka.
e)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam menyusun suatu daftar bahan-bahan pustaka yang berdasarkan sistem klasifikasi.
Prinsip-prinsip Pengklasifikasian
Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah bukan merupakan pekerjaan mudah, apabila mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah berdasarkan bentuk fisiknya atau berdasarkan abjad judul bukunya itu tidak terlalu sulit, tetapi apabila sistem klasifikasi yang dipergunakan berdasarkan subyeknya maka pelaksanaannya akan lebih sulit.
Sekedar sebagai pedoman, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah yang menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan subyeknya, agar proses klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah dapat berjalan lancar, yaitu sebagai berikut:
1.      Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, pertama-tama berdasarkan subyeknya. Kemudian berdasarkan bentuk penyajiannya atau bentuk karyanya.
2.      Khususnya buku-buku yang termasuk karya umum dan kesusastraan hendaknya lebih diutamakan pada bentuknya.
3.      Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya memperhatikan tujuan pengarangnya.
4.      Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah itu pada subyek yang sangat spesifik.
5.      Apabila sebuah buku yang membahas dua atau tiga subyek, klasifikasilah buku tersebut pada subyek yang dominan.
6.      Apabila ada sebuah buku yang membahas dua subyek dengan perimbangan subyek yang sama, maka klasifikasilah buku tersebut itu pada subyek yang paling banyak bermanfaat  bagi pemakai perpustakaan sekolah.
7.      Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya guru pustakawan mempertimbangkan keahlian pengarangnya.
8.      Apabila ada sebuah buku perpustakaan yang membahas dua subyek yang sama perimbangannya dan merupakan bagian dari suatu subyek yang lebih luas, maka klasifikasikanlah buku tersebut pada subyek yang lebih luas.
9.      Apabila ada sebuah buku perpustakaan sekolah yang membahas tiga subyek atau lebih, tetapi tidak jelas subyek mana yang lebih diutamakan oleh pengarangnya, dan merupakan bagian dari suatu subyek yang lebih luas, maka klasifikasinya buku tersebut pada subyek yang lebih luas.
Sistem Klasifikasi
            Dalam sistem klasifikasi bisa berdasarkan ciri-ciri buku, sehingga buku-buku yang bercirikan sama bisa dikelompokan menjadi satu. Ada beberapa sistem klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, antara lain:
  1. Sistem abjad nama pengarang
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar abjad nama pengarangnya. Buku-buku yang huruf pertama dari pengarangnya sama dikelompokkan menjadi satu. Misalnya ada sepuluh buku yang harus diklasifikasi, dan nama-nama pengarangnya adalah Badrullah, Drs. Achmad Yamin, K.H. Asrori, Drs. Syamsul Arifin, Dr. Alwi Mustofa, Alimoedikin, Prof. Dr. Sukiman, MA, Badruz Zamin, H. Buchari, Dr. Abd. Kadir. Maka buku-buku yang nama pengarangnya dimulai dengan huruf A dikelompokkan menjadi satu. Begitu pula buku-buku yang nama pengarangnya dimulai dengan huruf B dan S.
  1. Sistem abjad judul buku
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar abjad judul bukunya. Buku yang huruf pertama dari judul sama dikelompokkan menjadi satu. Misalnya ada lima buku yang harus diklasifikasi, seperti berikut ini.
a.      Analisis Bahasa, oleh W.F. Mackey
b.      Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, oleh Drs. Ibrahim Bafadal, M.Pd
c.       Pemimpin dan Kepemimpinan, oleh Dra. Kartini Kartono
d.      Evaluasi Pendidikan, oleh Drs. Wayan Nurkancana dan Drs. P.P.N. Sumartana
e.      Administrasi Perkantoran Modern, oleh The Liang Gie
Maka buku-buku yang judul bukunya dimulai dengan huruf A dikelompokkan menjadi satu, begitu pula buku-buku yang judulnya dimulai dengan huruf E dan P dikelompokkan menjadi satu.
  1. Sistem kegunaan buku
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar kegunaannya. Buku-buku referensi dikelompokkan menjadi satu, buku-buku cerita dikelompokkan menjadi satu, buku-buku ilmu pengetahuan dikelompokkan menjadi satu tempat, dan begitu juga buku-buku yang terdiri dari jenis yang sama dikelompokkan menjadi satu tempat.  

  1. Sistem penerbit
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar penerbit buku. Di Indonesia terdapat banyak penerbit, seperti Gunung Agung, Balai Pustaka, Bumi Aksara, Sinar Grafika, Erlangga, Penerbit Yayasan Kanisius, Bintang Pelajar, Andi, Aneka Ilmu, dan sebagainya. Buku-buku yang penerbitnya sama dikelompokkan menjadi satu dan ditempatkan pada suatu tempat tertentu.
  1. Sistem bentuk fisik
Pada sistem ini, bahan-bahan pustaka dikelompokkan atas dasar bentuk fisiknya. Ada bahan pustaka yang berupa buku dan ada yang berupa bukan buku seperti majalah, brosur, surat kabar, dan sebagainya. Maka bahan-bahan pustaka yang berbentuk buku dikelompokkan menjadi satu, semua surat kabar ditempatkan pada satu tempat yang sama, begitu juga dengan brosur dan majalah dikelompokkan menjadi satu pada bentuk yang masing-masing sama. Buku-buku perpustakaan sekolah dapat pula dikelompokkan secara spesifik lagi berdasarkan ukurannya seperti tebal tipisnya dan berat ringannya.
  1. Sistem bahasa
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas bahasa yang digunakan. Buku-buku perpustakaan sekolah yang berbahasa Indonesia dikelompokkan menjadi satu, yang berbahasa asing dikelompokkan menjadi satu, dan begitu juga buku-buku yang berbahasa daerah dikelompokkan menjadi satu tempat tersendiri.
  1. Sistem subyek
Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar subyek atau isi yang terkandung di dalam buku tersebut. Misalnya buku yang membahas tentang pendidikan dikelompokkan menjadi satu, buku-buku yang membahas tentang politik dikelompokkan menjadi satu tempat, dan buku-buku tentang pertanian dikelompokkan menjadi satu, dan seterusnya.

Subyek Berkelas
            Yang dimaksud dengan subyek berkelas adalah penentuan subyek sebuah buku dengan menggunakan notasi yang diambil dari bagan klasifikasi. Subyek atau cakupan bidang ilmu dinyatakan dengan notasi baik angka ataupun abjad atau gabungan keduanya. Klasifikasi digunakan untuk menyatakan subyek berkelas adalah bagan klasifikasi seperti
  1. Dewey Decimal Classification (DDC) yang dalam istilah Indonesia dikenal dengan Klasifikasi Persepuluh Dewey
Sistem klasifikasi DDC ini ditemukan oleh Melville Louis Kossuth Dewey. Ia mengelompokkan koleksi berdasarkan subyek/pokok masalah dengan notasi angka persepuluh. Masing-masing kelompok nanti dibagi lagi menjadi subyek yang lebih kecil yang disebut divisi. Dari divisi akan dibagi lagi menjadi lebih kecil disebut subdivisi. Dari subdivisi ini dibagi lagi menjadi pembagian yang lebih rinci lagi (bagan lengkap).
Contoh: Kelas utama (Ringkasan I)
000 – Karya Umum
100 – Filsafat
200 – Agama
300 – Ilmu Sosial
400 – Bahasa
500 – Ilmu Pengetahuan Murni
600 – Ilmu Pengetahuan Terapan/Teknologi
700 – Seni, Olahraga
800 – Kesusasteraan
900 – Sejarah, Geografi
  1. Universal Decimal Classification (UDC)
  2. Library of Conggres Classification (LCC)
Langkah-langkah yang harus ditempuh guru pustakawan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
a.      menentukan system klasifikasi
b.      menyiapkan bagan klasifikasi
c.       menyiapkan buku-buku
d.      menentukan subyek buku
e.      menentukan nomor klasifikasi
3.      Katalogisasi
Pengkatalogisasian adalah proses pembuatan daftar pustaka (buku, majalah, CD, film, mikro, peta, dan lainnya) berurut milik suatu perpustakaan yang berisi informasi/keterangan-keterangan lengkap dari bahan pustaka tersebut. Jadi yang perlu dikatalog tidak hanya koleksi berupa buku-buku saja, tetapi seluruh bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, baik bahan pustaka berupa buku dan berupa bukan buku. Sedangkan informasi atau keterangan yang lengkap misalnya judul buku, nama pengarang, edisi atau jilid (jika ada), kota terbit, penerbit, tahun terbit, tebal dan sebagainya. Kartu-kartu yang dibuat adalah : kartu katalog utama (shelf-list), kartu katalog pengarang, kartu katalog judul, dan kartu katalog subyek.  
Tujuan dan fungsi katalog adalah untuk memudahkan menemukan kembali bahan pustaka yang telah disimpan. Kebiasaan pemakai dalam mencari bahan pustaka sering kali hanya menyebutkan nama pengarang, judul, nomor klass, bahkan hanya subyeknya saja. Dengan demikian kehadiran katalog pada perpustakaan berfungsi sebagai saran untuk menemukan bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan. Oleh karena itu pembuatan dan penyelenggaraan catalog harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang dapat memberi kemudahan pada pemakai.  
Tujuan pengkatalogan menurut C.A. Cutter adalah:
a.      memudahkan seseorang (pemakai) menemukan sebuah karya yang telah diketahui pengarang, judul, atau subyeknya;
b.      memperlihatkan apa yang dimiliki perpustakaan melalui nama pengarang, subyek dan jenis literaturnya;
c.       membantu pemilihan sebuah karya seperti dalam hal edisi secara bibliografis dan karakternya (topik).
Fungsi katalog pada perpustakaan:
  1. catatan lengkap atau sebagian koleksi perpustakaan;
  2. kunci untuk menemukan karya yang diperlukan;
  3. sumber yang memberikan alternative pilihan karya;
  4. sumber penyusunan bibliografis;
  5. alat Bantu pengingat koleksi.
Informasi yang dibutuhkan dalam pembuatan kartu katalog adalah:
  1. Tajuk , terdiri dari nama pengarang atau badan korporasi yang dipilih sebagai entri utama, dan atau judul bahan pustaka
  2. Batang tubuh entri, terdiri dari judul dan pernyataan kepengarangan; judul, termasuk judul alternative jika ada; judul pararel atau informasi lain tentang judul jika ada; pernyataan kepengarangan
  3. Edisi, terdiri dari pernyataan edisi (nomor atau edisi, atau gabungan keduanya); pernyataan kepengarangan yang berhubungan dengan edisi tertentu
  4. Spesifikasi materi atau jenis bahan pustaka, terdiri dari pernyataan skala dan proyeksi untuk bahan kartografik; penandaan abjad dan atau kronologis untuk terbitan berseri
  5. Penerbitan, distribusi terdiri dari tempat terbit, distribusi (jika ada); nama penerbit, distributor (bila ada); tahun terbit, distribusi (bila ada) termasuk hak cipta jika perlu; nama pencetak, tempat percetakan, tahun percetakan jika nama penerbit tidak diketahui
  6. Deskripsi fisik, terdiri dari keterangan kuantitas (misalnya jumlah halaman, jilid bila ada); rincian fisik lainnya (misalnya illustrasi, dsb); dimensi (misalnya tinggi buku dinyatakan dengan cm.); materi pelengkap (misalnya peta, buku pedoman) dicetak terpisah dari bahan pustaka yang dikatalog
  7. Seri jika ada, terdiri dari judul seri; judul pararel seri; keterangan judul lain; pernyataan kepengarangan sehubungan dengan seri; penomoran; subseri
  8. Catatan (ditulis sebagai paragraph terpisah), informasi yang dianggap perlu untuk dicantumkan pada bagian dari katalog misalnya Bibliografi, Indeks, dan sebagainya.
  9. Nomor standard an keterangan ketersediaan, terdiri dari nomor standar (ISBN dan ISSN); keterangan ketersediaan (misalnya harga atau untuk siapa terbitan tersebut disediakan)
  10. Jejakan, terdiri dari entri tambahan untuk pengarang, editor, penerjemah; entri tambahan untuk judul; entri tambahan untuk seri.
Macam-macam katalog ditinjau dari segi bentuknya:
  1. Katalog berkas (sheaf catalogue)
Katalog berkas merupakan salah satu bentuk catalog yang bisa dibuat dari kertas manila atau kertas tulis biasa. Katalog berkas ini terdiri dari beberapa lembar yang diikat menjadi satu secara longgar saja. Ukuran setiap lembarnya biasanya 20x10 cm. Setiap satu ikatnya bisa berisi 500 sampai dengan 650 lembar yang setiap lembarnya hanya berisi uraian satu buku. Adapun cara mengikatnya bisa dengan cara dijilid atau diikat dengan tali atau kawat seperti album.
  1. Katalog buku (book catalogue)
Katalog buku merupakan salah satu bentuk catalog tercetak yang berbentuk buku. Setiap lembarnya bisa berisi uraian beberapa judul buku. Pada catalog ini, setiap lembarnya telah tersedia kolom-kolom untuk cirri-ciri buku, seperti kolom judul, kolom pengarang, kolom kota terbit, kolom penerbit, kolom tahun terbit, dan sebagainya. Karena kolom-kolom setiap lembarnya telah tercetak maka catalog ini sering disebut dengan catalog tercetak. Pembuatan catalog buku ini hamper sama dengan buku daftar buku atau buku induk perpustakaan sekolah.
  1. Katalog kartu (card catalogue)
Katalog kartu merupakan salah satu bentuk catalog yang biasanya dibuat dari kertas manila putih yang berukuran 12½ x 7½ cm. Pada setiap lembar kartu catalog hanya berisi uraian satu judul buku. Di tengah-tengah bagian bawahnya diberi lubang untuk memasukkan tusuk pengaman. Kartu catalog ini disusun dan disimpan di dalam kotak laci catalog, yang setiap kotaknya bisa berisi kurang lebih seribu kartu.
4.      Peralatan dan Perlengkapan pustaka
Selain memerlukan gedung atau ruang, penyelenggaraan perpustakaan sekolah memerlukan sejumlah peralatan dan perlengkapan, baik untuk pelayanan kepada pengunjung maupun untuk proses pengolahan bahan pustaka dan ketatausahaan.
a.      peralatan perpustakaan sekolah
peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat habis pakai dan ada yang bersifat tahan lama. Peralatan habis pakai adalah peralatan yang relative cepat habis. Sedangkan peralatan yang tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang relative lama.
1)      peralatan habis pakai : pensil, pensil warna, pena (ballpoint), kertas untuk mengetik, kertas untuk membuat label, kertas untuk kantong buku dan slip tanggal, kertas manila untuk membuat katalog dan kartu buku serta kartu peminjaman, formulir pendaftaran, kertas bergaris untuk mencatat sesuatu, blangko surat, buku catatan, amplop bermacam-macam ukuran, buku inventaris bahan-bahan pustaka, buku inventaris peralatan perpustakaan, karbon, kertas marmer, kertas stensil, buku induk peminjaman, kartu anggota, tinta, tinta gambar, tinta stensil, tinta stempel, penghapus pensil, penghapus tinta, penghapus mesin ketik, tali, karet, pita, kawat, paku bermacam-macam ukuran, lem perekat, kertas perekat, kuitansi, jepitan kertas, kapur tulis, kapur barus, benang, jarum, spidol, obat pencegah hama atau jamur buku.
2)      Peralatan tahan lama : mesin ketik, mesin stensil, mesin hitung, keranjang sampah, kotak surat, jam dinding, pisau, gunting, pelubang kertas, penggaris, bantalan stempel, berkas jepitan, stempel huruf, stempel tanggal, stempel angka, stempel inventaris perpustakaan sekolah, daftar klasifikasi, daftar buku atau katalog buku, papan tulis, papan pengumuman, mesin pengikat kertas, penjepret kawat (stepler), palu, sapu, kemoceng, alat pemadam kebakaran, alat semprot memberantas hama buku, ember, lampu.
b.      Perlengkapan perpustakaan sekolah
Perlengkapan atau meubelair yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah rak buku, rak surat kabar, rak majalah, kabinet gambar, meja sirkulasi, lemari atau kabinet catalog, kereta buku dan papan display. Pengadaan setiap perlengkapan harus mempertimbangkan hal-hal seperti nilai efisiensi pengeluaran uang, efisiensi dalam pengaturannya, mutu baik, enak dipakai, dan menarik bagi penglihatan. Usahakan masing-masing jenis perlengkapan itu seragam baik bentuknya maupun warnanya. Misalnya bentuk meja dan kursi belajar semuanya sama, bentuk rak semuanya sama, begitu pula perlengkapan lainnya sehingga tampak rapid an indah bila dipandang.


BAB 5
LAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

A.     Layanan Referensi
Pelayanan referensi adalah pelayanan dalam menggunakan buku-buku referensi. Buku-buku referensi adalah buku yang dapat memberikan keterangan tentang topik perkataan, tempat, peristiwa, data statistik, pedoman, alamat, nama orang, riwayat orang-orang terkenal. Di perpustakaan biasanya buku-buku referensi dikumpulkan tersendiri dan disebut “koleksi referensi” sedangkan ruang tempat penyimpanannya disebut ruang referensi.
Buku-buku referensi yang karena sifatnya sebagai buku petunjuk, harus selalu tersedia di perpustakaan sehingga dapat dipakai oleh setiap orang pada setiap saat. Buku-buku referensi tidak boleh dipinjam atau dibawa pulang. Yang memerlukan harus dating dan membaca di perpustakaan. Buku referensi disebut juga buku rujukan atau acuan.
Jenis buku referensi
Jumlah serta jangkauan buku referensi sangatlah luas. Buku referensi dapat dibagi berdasarkan jenis, format, maupun kriteria lainnya. Contoh buku referensi adalah kamus, ensiklopedia, sumber biografi, buku tahunan, almanak, sumber geografis, direktori, sumber rujukan mutakhir, sumber statistik, buku panduan dan pedoman (manual), dan bibliografi. 
B.      Layanan Sirkulasi
Layanan sirkulasi adalah kegiatan melayani peminjaman dan pengembalian buku-buku perpustakaan sekolah. Tugas pokok bagian sirkulasi antara lain melayani murid-murid yang akan mengembalikan buku-buku yang telah dipinjam dan membuat statistik pengunjung.


1.      Peminjaman Buku
Dalam proses peminjaman buku di perpustakaan sekolah ada 2 sistem yang berbeda, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup.
a)      Sistem terbuka (open acces system)
Pada perpustakaan sekolah yang proses peminjamannya menggunakan sistem terbuka murid-murid diperbolehkan mencari dan mengambil sendiri buku-buku yang dibutuhkan. Jadi pada sistem ini murid-murid boleh masuk ke ruang buku, apabila akan pinjam maka buku yang telah ditemukan dibawa ke bagian sirkulasi untuk dicatat seperlunya.
b)      Sistem tertutup (closed acces system)
Pada perpustakaan sekolah yang proses peminjamannya menggunakan sistem tertutup, murid-murid tidak diperbolehkan mencari, mengambil sendiri buku-buku yang dibutuhkan, dan masuk ke ruang buku.
2.      Pengembalian Buku
Tugas yang kedua bagian sirkulasi adalah melayani murid-murid yang akan mengembalikan buku-buku yang telah dipinjam. Pada setiap perpustakaan tentu ada peraturan tentang lamanya peminjaman, misalnya satu atau dua minggu. Adakalanya murid-murid mengembalikan buku-buku yang telah dipinjamnya sebelum waktunya, ada pula yang tepat waktunya, bahkan terlambat.
      agar tidak terjadi kesalahpahaman, peminjam yang mengembalikan pinjamannya perlu mendapat tanda bukti tertulis. Bukti itu bisa berupa tanda tangan pada kartu anggota atau dalam bentuk tanda terima lain. Bagi perpustakaan sekolah yang sudah otomasi, maka perlu dibuat system yang betul-betul teliti, akurat, dan luwes.



BAB 6
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MINAT BACA

A.     Pengertian
Pada bab-bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa perpustakaan sekolah didirikan bukan hanya sebagai menyimpan dan mengumpulkan bahan pustaka, tetapi dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan murid-murid secara lambat laun memiliki kesenangan membaca yang merupakan alat untuk belajar, baik itu di sekolah ataupun di luar sekolah. Apabila murid-murid gemar membaca maka dapat menambah pengetahuan, memperluas pandangan, mempunyai ide-ide baru bahkan dapat menambah kecerdasan yang beguna bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Belajar membaca sebenarnya telah diajarkan sejak pertama kali anak masuk sekolah, yang didalamnya terdapat beberapa model pelajaran membaca. Yaitu pelajaran membaca permulaan dan membaca lanjutan, di mana pelajaran membaca permulaan diberikan pada kelas satu dan dua, pelajaran membaca lanjutan diberikan pada mulai kelas tiga. Pelajaran lanjutan ada beberapa jenis berdasarkan tujuannya, misalnya yaitu:
1.      Pelajaran membaca tekhnis, yang tujuannya agar murid-murid memiliki kemampuan membaca yang diucapkan dan dilagukan secara tepat sesuai dengan isi dan makna bacaan.
2.      Membaca tanpa suara, yang tujuannya agar murid-murid mampu memahami isi bacaan.
3.      Membaca indah, yang tujuannya agar murid-murid mampu membaca yang menggambarkan penghayatan keindahan dari isi bacaan.
4.      Membaca bahasa, yang tujuannya agar murid-murid dapat meningkatkan kemampuannya di bidang berbahasa.
5.      Membaca pemahaman, yaitu tujuannya agar murid-murid mampu memahami isi bacaan yang sedang dibaca akhirnya menjadi tambahan pengetahuan bagi dirinya.
6.      Membaca cepat, yang tujuannya agar murid-murid mampu membaca sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
7.      Membaca sebagai minat, yang tujuannya adalah menambahkan kebiasaan dan rasa senang membaca pada diri murid-murid.
Pembagian pelajaran membaca tersebut di atas disimpulkan bahwa pada dasarnya bertujuan agar murid-murid mampu dan senang membaca. Dalam pelajaran membaca, pembinaan dan pengembangan minat baca ini tidak hanya bergantung pada guru pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, tetapi juga guru-guru bidang studi lainnya. Selain guru-guru bidang studi, orang tua juga berperan penting dalam pembinaan dan pengembangan minat baca, selain itu guru putakawan yang dalam hal ini guru yang bertanggung jawab sebagai pengelola perpustakaan juga berperan penting, harus berusaha semaksimal mungkin membina dan mengembangkan minat baca murid-murid sehingga perpustakaan sekolah benar-benar dapat mensukseskan tujuannya sebagai pusat atau sumber belajar.
Sebelum membahas lebih jauh tentang pembinaan dan pengembangan minat baca, ada baiknya mengetahui satu persatu arti dari kata-kata tersebut. Pembinaan dan pengembangan merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan pemeliharaan, penyempurnaan, dan peningkatan. Pembinaan dan pengembangan minat baca dapat berarti usaha memelihara, mempertahankan, dan meningkatkan minat baca. Apabila minat baca sulit untuk ditingkatkan maka setidaknya minimal bias dipertahankan. Minat baca merupakan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca. Minat baca ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca. Minat membaca sangat berpengaruh terhadap keterampilan memabaca, membaca merupakan suatu proses menangkap atau memperoleh konsep-konsep yang dimaksud oleh pengarangnya, menginterpretasi, mengevaluasi konsep-konsep pengarang, dan merefleksikan sebagamana yang dimaksud dari konsep-konsep tersebut.
Membina dan mengembangkan minat baca murid-murid tidak bisa terlepas dari pembinaan kemampuan membaca, sebab senang membaca tentunya harus mampu membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca tidak mungkin merasa senang membaca. Pembinaan kemampuan membaca dalam rangka pembinaan dan pengembangan minat baca ini akan berbeda-beda sesuai dengan tingkatan sekolah, semakin tinggi tingkatan sekolah maka semakin ringan pula pembinaannya, sebab semakin tinggi tingkatan sekolah seseorang akan lebih mampu membaca.

B.      Prinsip-prinsip
Perpaduan dari hasil penelitian, ada beberapa prinsip membaca yang perlu diperhatikan dalam pembinaan dan pengembangan minat baca murid-murid, antara lain:
1.      Membaca merupakan proses berpikir yang kompleks
2.      Kemampuan membaca setiap orang berbeda-beda
3.      Pembinaan kemampuan membaca atas dasar evaluasi
4.      Membaca harus menjadi pengalaman yang memuaskan
5.      kemahiran membaca perlu adanya latihan yang kontinu
6.      evaluasi yang kontinu dan komprehensif merupakan batu loncatan dalam pembinaan minat baca
7.      Membaca yang baik merupakan syarat mutlak keberhasilan belajar

C.      Kesiapan Membaca
Salah satu faktor yang amat penting untuk mencapai kesuksesan membaca dan belajar adalah faktor kesiapan untuk membaca. Ada sejumlah faktor yang ikut menentukan terhadap kesiapan murid-murid untuk membaca dan belajar. Kesemuanya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.      kesiapan mental
2.      kesiapan fisik
3.      kesiapan emosi
4.      kesiapan pengalaman


D.     Menumbuhkan Rasa Senang Membaca
Di sekolah mungkin terdapat murid-murid yang gemar membaca dan ada pula murid-murid yang kurang gemar membaca. Rasa senang membaca dapat ditentukan beberapa faktor, antara lain karena mereka tahu manfaat membaca, mereka menyadari bahwa buku-buku dan bahan pustaka lainnya yang baik dapat memperluas pengetahuannya.
Salah satu tugas guru pustakawan dalam rangka memfungsikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar adalah menumbuhkan rasa senang membaca pada murid-murid, sebab apabila pada diri murid-murid merasa senang membaca maka akan sendirinya murid-murid senang membaca dan memanfaatkan perpustakaan sekolah semaksimal mungkin.
Beberapa usaha yang dilakukan guru pustakawan untuk menumbuhkan rasa senang membaca pada murid-murid:
1.      memperkenalkan buku-buku
2.      memperkenalkan riwayat hidup tokoh-tokoh
3.      memperkenalkan hasil-hasil karya sastrawan
Usaha lain sebagai pendekatan memperkenalkan buku-buku perpustakaan sekolah adalah menyelenggarakan “display” dan pameran buku, disini mengatur buku-buku secara khusu yang lebih mencolok dan menarik. Biasanya buku yang di “display” ini adalah buku-buku baru, dengan tujuan selain memperkenalkan buku-buku baru juga sebagai usaha memberikan stimulus tertentu kepada murid-murid.