Selasa, 21 Februari 2012

Contoh Laporan KKL



Laporan KKL 2010
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia







Disusun oleh:
ü Bagus Hanni Pradana             (2101407010)
ü Pranoto Utomo                       (2101408030)
ü Yanuaris Fernanda                  (2101408032)
ü Annisa Citra Sparina               (2101408034)
ü Wigaring Tyas A.                    (2101408038)



Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
2010




DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .ii
BAB I      PEMBUKA
1.1 Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.2  Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2
1.3 Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2
1.4  Waktu dan  Tempat Pelaksanaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
1.5 Objek KKL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3
BAB II    HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Kunjungan Studi ke Studiklub Teater Bandung (STB) . . . . . . . . . . 4
2.2 Kunjungan Studi ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) . . . .10
2.3 Kunjungan Studi ke Puspendik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12
2.4  Kunjungan Wisata ke Cibaduyut . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
2.5  Kunjungan Wisata ke Gelanggang Samudera . . . . . . . . . . . . . . . . 13
2.6 Kunjungan Wisata ke Dufan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .14
BAB III   PENUTUP
3.1 Simpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .16
3.2 Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .16
LAMPIRAN
Lampiran 1: Artikel Bagus Hanni Pradana  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17
Lampiran 2: Artikel Pranoto Utomo. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25
Lampiran 3: Artikel Yanuaris Fernanda . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .30
Lampiran 4: Artikel Annisa Citra Sparina . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34
Lampiran 5: Artikel Wigharing Tyas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 37
Lampiran 6: Urutan Keaktifan Anggota Kelompok . . . . . . . . . . . . . . . . . 40


 BAB I
PEMBUKA


1.1 Latar Belakang
Pengetahuan akan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dalam pembangunan dewasa ini merupakan hal yang penting untuk dijadikan suatu pembekalan bagi mahasiswa khususnya masalah lapangan pekerjaan yang lambat laun semakin sempit. Di satu sisi, setiap tahun jumlah  lulusan sarjana maupun diploma semakin bertambah dan sulit tertampung di bidang-bidang usaha. Sehingga pembekalan ini dapat dijadikan pembelajaran penanggulangan masalah-masalah tersebut baik secara pragmatis maupun secara interdisipliner.
Pada era globalisasi dan pasar bebas ini kompetisi dalam setiap bidang semakin ketat, termasuk dalam bidang lapangan pekerjaan. Persaingan terbuka dengan berbagai negara di dunia sudah tidak dapat dihindari lagi. Hal ini mengakibatkan tiap individu dituntut untuk mampu bersaing dan mengimbangi setiap kemajuan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Penguasaan bahasa universal dan komunikasi yang baik serta pengetahuan mengenai segala informasi merupakan faktor penting yang sangat berpengaruh pada kemampuan individu untuk mampu bersaing. Fakultas Bahasa dan seni Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia diharapkan memiliki mahasiswa calon tenaga kerja yang profesional di bidang kependidikan serta teknologi komunikasi dan informasi serta mampu  menjawab tantangan zaman, mampu bersaing baik secara domestik maupun internasional.
Sebagai calon sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia kita sangat membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam serta pembekalan yang nyata mengenai kemajuan suatu lingkungan usaha dan persaingan di dunia usaha serta permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya. Latar belakang itulah yang mendasari  kami mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Unnes angkatan 2008 mengadakan Kuliah Kerja Lapangan dan Studi Banding di Jakarta dan Bandung. Harapan kami kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kemajuan jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Unnes.

1.2 Tujuan
a.    Memberikan bekal nyata kepada mahasiswa agar  lebih menghayati masalah yang sangat komplek yang dihadapi oleh lulusan sarjana dalam masalah ketenagakerjaan dan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan di lingkungan kependidikan
b.    Memberikan bekal nyata kepada mahasiswa tentang lingkungan pendidikan dan permasalahan-permasalahan yang ada didalamnya serta belajar bagaimana menjadi tenaga kerja di bidang pendidikan yang baik dan jujur.
c.    Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dan terjun langsung dalam diskusi ilmiah mengenai bagaimana lembaga penilaian pendidikan melakukan  kerjanya dalam menjaga mutu pendidikan di Indonesia.
d.   Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar bagaimana suatu pentas teater dilaksanakan sehingga kebudayaan Indonesia dapat diwariskan ke anak bangsa. Hal ini bertujuan agar menjadi innovator, motivator dan problem solver dalam menyikapi setiap permasalahan baik dalam masyarakat ataupun lingkungan.

1.3 Manfaat
a.    Mahasiswa mendapatkan bekal nyata agar  lebih menghayati masalah yang sangat komplek yang dihadapi oleh lulusan sarjana dalam masalah ketenagakerjaan dan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan di lingkungan kependidikan
b.    Mahasiswa mendapatkan bekal nyata tentang lingkungan pendidikan dan permasalahan-permasalahan yang ada didalamnya serta belajar bagaimana menjadi tenaga kerja di bidang pendidikan yang baik dan jujur.
c.    Mahasiswa dapat belajar dan terjun langsung dalam diskusi ilmiah mengenai bagaimana lembaga penilaian pendidikan melakukan  kerjanya dalam menjaga mutu pendidikan di Indonesia.
d.   Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana perkembangan suatu teater di daerah lain.

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang dilaksanakan pada:
hari, tanggal keberangkatan : Senin, 02 Agustus 2010
hari, tanggal kedatangan        : Kamis, 05 Agustus 2010

1.5 Objek KKL
Adapun tempat pelaksanaan KKL adalah Bandung dan Jakarta. Objek studi di bandung meliputi Gedung Keseniana Rumangkang Siang STB (Studiklub Teater Bandung), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Cibaduyut sebagai objek wisatanya. Sedangkan objek studi di Jakarta adalah Puspendik (Pusat Penilaian Pendidikan), serta objek wisatanya adalah Gelanggang Samudra dan Dunia Fantasi.






BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN


2.1 Kunjungan Studi ke Studiklub Teater Bandung (STB)
Studiklub Teater Bandung (STB) merupakan kelompok teater modern tertua di Indonesia. Jim Adhilimas dan Suyatna Anirun adalah dua tokoh penting di balik berdirinya STB pada tanggal 30 Oktober 1958. Alasan utama yang patut dikedepankan untuk menilai khalayak (Bandung) yang menganggap STB sebagai kelompok teater tertua adalah fakta bahwa STB merupakan organisasi teater modern yang mula-mula menghasilkan pencapaian-pencapaian artistik teater yang mumpuni dengan segenap idealisme dan profesionalisme kerja teater mereka, dan terus berkesinambungan, bahkan sampai saat ini pada usianya yang hampir 52 tahun. Dan semua pencapaian itu diraih dalam konteks penikmatan teater sebagai ajang klangenan (pemuas rasa batin untuk kesenangan/pemuliaan kebutuhan rohaniah semata-mata) para pelaku dan anggota-anggotanya.
STB muncul dari gumpalan rasa cinta dan senang yang begitu besar dari para anggotanya terhadap seni teater; sebuah kecintaan yang membuahkan semangat pengabdian tanpa pamrih untuk terus berkarya dalam situasi sesulit apa pun. Hal tersebut menjadi kekuatan yang memungkinkan STB bisa terus mempertahankan prinsip-prinsip penciptaan teater mereka hingga saat ini. Sebuah perjalanan kreativitas yang tak tertandingi bahkan oleh kelompok-kelompok teater yang muncul kemudian.
Kepeloporan STB dimulai pada saat ‘demam teater’ tahun 1950-an begitu membahana di berbagai kota besar di Indonesia. Ledakan seni teater yang sayangnya terlampau banyak melahirkan produksi-produksi teater yang asal menghibur, permukaan (tidak mendalam), dan sangat amatiran, karena rata-rata senimannya tidak hendak menggeluti dunia teater dengan sungguh-sungguh. Namun, sejak awal berdirinya, STB adalah murni pengabdi estetika teater yang tak pernah tergoda untuk melacurkan keseniannya menjadi alat pemuas kebutuhan fisik (jasmaniah) dan mengubah orientasi keseniannya ke arah yang dipenuhi pernak-pernik materi. STB merupakan organisasi teater pertama yang dikelola oleh orang-orang yang menguasai dan benar-benar fasih tentang tata drama, sastra, filsafat, dan prinsip-prinsip pemanggungan teater modern sebagaimana sumber-sumber aslinya, untuk kemudian diterjemahkan ke atas pentas dengan pola-pola kajian dan pendekatan dramaturgi yang total, juga karena mereka menguasai benar aspek-aspek praktiknya. Atas kesungguhan dan idealisme mereka dalam menyelami seni drama, seni akting, dan seni teater (pertunjukan) secara mendalam itulah mereka benar-benar bisa dianggap telah menciptakan tradisi teater modern yang baru pada jamannya, tanpa terpengaruh oleh kondisi maupun pendekatan-pendekatan kerja kreatif kelompok-kelompok teater saat itu. Yang sangat jelas dan sangat fundamental pada (peran) STB adalah upayanya untuk terus menciptakan generasi teater (di kota Bandung) yang berlapis-lapis dan tak putus-putus, melalui program Pelatihan Dasar Seni Peran, atau dikenal juga dengan istilah Acting Course, yang pertama kali diberlangsungkan pada tahun 1959, dan terus berlanjut hampir setiap tahun hingga saat ini. Hal yang selalu dikatakan mendiang Suyatna Anirun semasa hidupnya, Acting Course STB bukan wahana untuk menjadikan seseorang sebagai aktor secara mendadak dalam 1 atau 2 bulan kursus, dengan 3 kali pertemuan dalam seminggu. Pelatihan itu lebih merupakan daya penyengat pertama untuk meyakinkan para pesertanya bahwa dunia seni akting itu unik, menarik, tapi tidak mudah. Maka orang harus bekerja keras untuk bisa menguasainya, dengan mempertaruhkan waktu seluruh hidupnya.
Acting Course STB menjadi titik awal bagi penumbuhan minat dan bakat para peserta untuk terus menggeluti seni peran. Dari belasan atau puluhan peserta dalam tiap angkatan, tentu tidak semua peserta kemudian terus tertarik dan bersungguh-sungguh menggeluti dunia akting atau teater. Acting Course diperuntukkan bagi peserta secara umum, yang setidaknya telah lulus dari pendidikan lanjutan atas. Maka tidak heran jika pesertanya kebanyakan adalah mahasiswa berbagai perguruan tinggi, baik dari Bandung maupun dari luar kota. Tak terkecuali juga mahasiswa-mahasiswa jurusan teater perguruan tinggi seni. Selain mahasiswa biasanya ada juga peserta dari kalangan pegawai pemerintah, maupun swasta, yang tujuannya lebih untuk mendapatkan pendidikan karakter guna menambah kepercayaan diri. Juga peserta dari sanggar-sanggar atau perkumpulan teater. Materi kursus yang diajarkan cukup menjanjikan dan menjadi tantangan tersendiri. Materi olah tubuh, olah sukma, olah vokal, diberikan sebagai jembatan untuk menguasai materi utama: pemeranan (biasanya pemeranan dengan pendekatan metode Stanislavskian). Materi-materi penunjang teoritik, seperti psikologi peran, pengetahuan jenis drama (tragedi, komedi, tragikomedi, dan melodrama), gaya atau aliran drama (dari realisme hingga absurd), sejarah teater, pengetahuan tata pentas, dasar-dasar seni rupa, juga diberikan pada peserta. Materi penunjang praktik berupa dasar-dasar ballet, dasar-dasar tari Jawa, dasar-dasar seni bela diri tradisional, senam irama dan aerobik, dan lain-lain, yang sangat penting untuk pembentukan sikap-sikap dasar gestur tubuh.
Para pengajar dan instrukturnya terdiri dari senior-senior STB yang menguasai bidangnya masing-masing. Semasa hidup Suyatna Anirun, materi utama pemeranan selalu berada di bawah kontrolnya, yang begitu setia memerhatikan dan menyentuh satu per satu pesertanya dengan sabar dan penuh pengertian. Kontrol juga diarahkan pada semua intsrukturnya, agar tidak melenceng dari benang merah kursus yang telah digariskan. Di akhir kursus peserta harus menempuh ujian, baik praktik maupun teori, plus ujian utama di mana peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk memainkan penggalan dari sebuah lakon tertentu yang disiapkan panitia. Mereka mulai mencoba berperan dalam arti yang sebenarnya. Pada saat itulah hasil dan pencapaian kursus akan terlihat. Termasuk mana yang berbakat dan tidak, yang bekerja keras dan tidak. Peserta dinyatakan lulus mengikuti kursus kalau bisa mengumpulkan standar nilai tertentu, akumulasi dari semua materi pembelajaran. Biasanya tidak semua peserta lulus. Ijazah bagi yang tidak lulus biasanya hanya dicantumkan keterangan ‘pernah mengikuti’.
Kendati tidak semua pelaku maupun kelompok teater penting di kota Bandung merupakan ‘anak kandung’ STB, tapi satu hal tak dapat ditegasi oleh siapapun bahwa gemuruh pertumbuhan dan kehidupan teater di kota Bandung tidak bisa dipisahkan dari kepeloporan STB dalam menegakkan tiang pancang teater Bandung yang amat kokoh. Rata-rata seniman teater Bandung, baik dari lapis generasi tua hingga generasi terkini, mempelajari dengan baik dasar-dasar seni teater yang benar, sebagaimana yang pernah dicontohkan dengan baik oleh STB, terutama melalui personalitas dan kualitas artistik Suyatna Anirun, yang kerap dianggap sebagai ‘empu teater’ oleh masyarakat teater Bandung. Bahkan mereka yang tidak sempat langsung bersentuhan dengan STB dan atau Suyatna Anirun, sedikit banyak tentu akan pula merasakan pengaruh itu.
STB mampu bertahan hidup dan terus melangsungkan perjalanan artistiknya hingga kini selepas ‘sang empu’ berpulang, tak lain karena roda organisasi bergulir di bawah sebongkah visi organisasi yang impresif. Dalam catatan-catatan harian Suyatna, yang lantas dibukukan dalam buku yang menyerupai sebuah biografi kesenimanannya, Kiprah: Suyatna Anirun dalam Kenangan (2004), terdapat intisari visi STB. Bahwa STB didirikan untuk mengembangkan seni teater dalam arti yang dalam dan luas, meliputi studi teoritik dan praktik, yang mesti dijalankan dengan sungguh-sungguh, dalam semangat kebersamaan dan gotong-royong (ensemble). Juga untuk mengadakan hubungan dengan siapa pun selama tidak merugikan organisasi.
Bukan hanya visi organisasi, STB juga memiliki falsafah seninya sendiri, yang sekaligus juga menjadi landasan moral-spiritual bagi kiprah seniman kelompok itu. Falsafah tersebut identik dengan prinsip kredotik kesenimanan Suyatna Anirun yang terkenal: “memanusiakan ide-ide”. Arti harfiahnya bisa diserap dengan mudah dari salah-satu dari dua kitab yang sangat penting dari perjalanan kesenimanan Suyatna Anirun: Menjadi Aktor (1998) dan Menjadi Sutradara (2002). Bahwa teater bukan hanya musik, bukan hanya sastra, bukan hanya filsafat, arsitektur dan seni rupa. Bukan hanya laku, bukan pula hanya peristiwa dramatik (happening), tetapi secara khusus ia adalah denyut kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang berdarah daging, begelora dan bercita-cita. Ia nyata, karena pengusung utamanya adalah tubuh dan sukma manusia yang bersatu menyalakan suatu semangat. Teater adalah hakikat kekuatan manusia, bukan teknologi atau ide-ide semata. Segudang ide belum menjadi karya kalau ia belum dimanusiakan di atas pentas. Seperti lukisan, nilai itu harus terungkap pada kanvas. Ide-ide yang dijajakan oleh sutradara dan kelompoknya di atas pentas akan kehilangan makna jika tidak lahir menjadi peristiwa teater. Proses pemanusiaan merupakan upaya untuk memupus jarak antara beragam karakter manusia, dari latar belakang yang berbeda-beda, melalui proses latihan dan persiapan pertunjukan.
STB lebih merupakan wadah atau wahana tempat orang saling memberi dan menerima beragam pengetahuan dan pengalaman mengenai dunia teater dan kebudayaan khususnya, dan umumnya sebagai sarana untuk pengkajian persoalan-persoalan kemanusiaan, sesuai namanya ‘studiklub’. Tanpa harus mengikat orang-orang dengan sistem keanggotaan formal yang seringkali malah terasa kaku dan mengganggu. Satu-satunya ikatan yang ada hanyalah perikatan moral untuk sama-sama memiliki STB sebagai keluarga besar yang terus tumbuh.
STB adalah tempat pertemuan kemanusiaan dari orang-orang yang datang dan pergi. Seperti padepokan atau perguruan atau pesantren. STB merupakan tempat orang mengaji ilmu. Maka di dalamnya sudah barang tentu tidak mengandung hal ihwal yang berkaitan dengan urusan jual-beli demi keuntungan duniawi. Yang ada adalah semangat untuk menyampaikan risalah, untuk melihat sisi terdalam dari coreng-moreng kemanusiaan. Orang-orang STB banyak yang direkrut ke dalam institusi seni; dari redaktur/wartawan seni, birokrat seni, karyawan seni, hingga pengajar-pengajar seni. Misalnya: Suyatna Anirun sendiri menjadi Redaktur Seni-Budaya Pikiran Rakyat selain Dosen Teater di STSI Bandung dan IKJ, Jim Adhilimas sebagai aktor profesional untuk teater dan film di Perancis, Sutardjo A. Wiramihardja sebagai Guru Besar Psikologi Universitas Padjadjaran, Saini KM sebagai Guru Besar Seni-Budaya di STSI Bandung selain mantan Direktur Direktorat Kesenian Dirjen Kebudayaan RI, Mohamad Sunjaya sebagai senior broadcaster radio di Bandung, Koswara Soemaamidjadja sebagai Senior Broadcaster radio BBC di Australia, Sugiyati SA sebagai staf inti Departemen Pekerjaan Umum di Bandung, Yayat Hendayana mantan Wartawan Senior Pikiran Rakyat/mantan Ketua PWI Jawa Barat kini kepala Gedung Kesenian Rumentang Siang. Tjetje Raksa Muhamad. Eka Gandara WK, Yoyo C. Durachman, Arthur S. Nalan, Sis Triaji, Rachman Sabur, Joko Kurnain, Iman Soleh, Retno Dwimarwati, Nandi Rifandi, Rusman Nurdin, Fathul A. Husein, dan Yani Mae, adalah sederet nama aktivis STB dalam lapis-lapis generasi yang lebih muda yang kini menjadi staf pengajar di Jurusan Teater STSI Bandung. Sekedar menyebut beberapa nama.
    
2.2 Kunjungan Studi ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia menaungi dua program studi yaitu Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (nonpendidikan) Kedua program studi ini satu sama lain memiliki arah pengembangan yang berbeda. Program studi pendidikan mengembangkan disiplin ilmu kependidikan, dan program studi nonpendidikan mengembangkan pendidikan disiplin ilmu. Sesuai dengan struktur kurikulum, program studi pendidikan  membekali mahasiswa dengan mata kuliah dasar keahlian profesi keguruan, mata kuliah keahlian dan mata kuliah keahlian lainnya. Program studi nonpendidikan membekali mahasiswa dengan mata kuliah disiplin ilmu sastra. Dengan demikian, lulusan program studi pendidikan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dan  program studi pendidikan memperoleh gelar Sarjana Sastra (S.S.). Penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Jalur SNMPTN, PMDK, Kerja sama, UM-UPI, dan Lanjutan.
Tujuan penyelenggaraan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia salah satu di antaranya adalah mendidik mahasiswa calon tenaga kependidikan yang profesional dan berkelayakan dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia sehingga dengan kemmapuan yang dimilikinya itu, mereka dapat berkiprah dalam pembangunan negara. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia memberikan dorongan dan peluang kepada para mahasiswa untuk menimba pengalaman melalui aktivitas akademik dan organisasi kemahasiswaan.
Para mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia banyak terlibat dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan, penelitian, pengabdian pada masyarakat, minat bakat, keagamaan, kesenian dan lain-lain yang berkaitan dengan pengembangan dan pembinaan kesadaran mereka dalam memanfaatkan ilmu, teknologi, seni, dan agama bagi masyarakat, sehingga mereka terdorong untuk menerapkannya dalam pembangunan masyarakat (Pedoman Akademik UPI, 2005:56). Keikutsertaan para mahasiswa dilakukan dalam bentuk penelitian dengan para dosen, pengembangan media pembelajaran, pengembangan program-program kerjasama dengan penerbit, tutorial mahasiswa, pengabdian pada masyarakat dan lain-lain. Posisi mahasiswa dalam kegiatan komisi-komisi tersebut pada umumnya sebagai tenaga pembantu atau tenaga pelaksana. Berbagai macam kegiatan kemahasiswaan, khususnya dalam tataran jurusan, dikoordinasikan langsung oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA SATRASIA) yang dipimpin oleh seorang ketua dibantu oleh seorang sekretaris umum, dua orang bendahara, dan tiga orang ketua bidang. Ketua Bidang yang terdapat di HIMA membawahi beberapa subbidang yang secara khusus berperan dalam menjalankan dan mengkoordinasikan program kerja HIMA.
Sebagai sebuah unit kerja yang bergerak dalam upaya mempersiapkan tenaga pendidik bahasa Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia telah bekerjasama dengan sejumlah lembaga lain yang relevan, misalnya dengan:
a.    MGMP: Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UPI aktif berkoordinasi dengan kelompok MGMP bahasa Indonesia di sekolah menengah di Bandung dan Jawa Barat. Beberapa dosen aktif menjadi narasumber bagi kelompok ini. Kerjasama juga dilakukan dengan cara mengundang perwakilan dari MGMP untuk bersama-sama mengadakan seminar dan pelatihan untuk para guru sekolah menengah.
b.    SLB Jatis Hurip: Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia aktif melakukan kemitraan dengan SLB ini dalam rangka pengembangan metode Linguistik Klinis dalam terapi anak-anak autis. Kemitraan yang dijalin selama ini sudah memasuki tahun ke-2 dan dalam segi pendanaan dibantu oleh Dirjen Dikti melalui proses hibah kemitraan bersaing.
c.    Masyarakat Linguistik Indonesia: Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menjalin kemitraan dengan organisasi ini dalam rangka pengembangan penelitian bahasa. Kerjasama ini ditandai dengan banyaknya dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang menjadi anggota dan pengurus dalam organisasi ini.

2.3 Kunjungan Studi ke Puspendik
Pusat Penilaian Pendidikan atau Puspendik ialah sebuah lembaga negara yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional bidang Pengembangan dan Penelitian yang berperan sebagai lembaga yang mengatur garis-garis besar evaluasi pendidikan di Indonesia dengan tujuan utama ialah peningkatan mutu pendidikan.
Visi lembaga ini ialah menjadi lembaga tingkat nasional yang profesional di bidang penilaian pendidikan. Dengan misinya ialah mengembangkan dan menyelenggarakan sistem penilaian pendidikan dalam rangka pengawasan dan pengendalian mutu pendidikan, serta mengembangkan instrumen, mekanisme, dan mengembangkan penilaian berkualitas untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu.

2.4 Kunjungan Wisata ke Cibaduyut
Cibaduyut adalah nama tempat di Bandung yang sangat terkenal dengan pengrajin sepatunya. Sepatu cibaduyut sangat terkenal sampai ke luar kota, karena disana anda dapat mendapatkan sepau kualitas bagus dengan harga miring. Kualitasnya tak kalah dengan yang ada di mall-mall. bahkan biasa pedagang-pedagang toko di mall membeli sepatu di Cibaduyut, lalu memasangkan merek toko masing-masing.
Pusat sepatu Cibaduyut di Bandung telah ada sejak dulu, dan dinobatkan sebagai pasar penjual sepatu terpanjang di dunia. Para pengrajin lokal saling berkreasi untuk membuat model-model yang tak ketinggalan zaman.

2.5 Kunjungan Wisata ke Gelanggang Samudera
Gelanggang Samudra Ancol merupakan sebuah oseanarium. Oseanarium merupakan taman mamalia laut dan mahluk laut lainnya. Selain menikmati rekreasi bersama keluarga, di sini pengunjung akan mendapatkan berbagai pengetahuan yang menarik mengenai mamalia laut seperti lumba-lumba, paus, singa laut, dan binatang laut lainnya. Gelanggang Samudra Ancol juga menjadi sarana konservasi satwa laut.
Ada 4 wahana utama yang terdapat di Gelanggang Samudra, Ancol. Pertama, adalah wahana pertunjukan Aneka Satwa, wahana pertunjukan Singa Laut, wahana pertunjukan Lumba-Lumba dan Paus Putih, serta wahana Sinema 4D.
 Gelanggang Samudra Ancol dapat menjadi tempat rekreasi yang mendidik. Selain dapat mengenalkan berbagai satwa pada anak, terdapat akuarium air tawar yang menampilkan berbagai ikan air tawar yang berada di sungai baik di Indonesia maupun luar negeri. Pengunjung juga dapat mengunjungi akuarium air laut yang akan menyajikan berbagai ikan air laut yang lucu dan unik atau area wisata belajar sebagai sarana belajar.
Selain berbagai sarana edukasi, terdapat juga beberapa permainan menarik berupa wahana ride seperti Kiddy Bumper Car yang disebut Laga Logon, Boto-boto yaitu permainan miniatur pesawat yang berputar-putar untuk anak-anak, serta Ubur-ubur yaitu ballon ride. Wahana permainan ini dapat menambah kesenangan berekreasi di Gelanggang Samudra.

2.6 Kunjungan Wisata ke Dufan
Dufan atau Dunia Fantasi merupakan tempat hiburan terbesar di Jakarta yang menarik. Dunia Fantasi yang biasa disingkat Dufan yang terletak di kawasan Ancol Taman Impian, Jakarta Utara, menjadi tempat tujuan rekreasi bagi warga Jakarta maupun luar kota Jakarta, baik untuk keluarga atau kaum muda. Walaupun tempat ini sudah tidak asing bagi warga Jakarta, tetapi ada banyak hal yang membuat pengunjung tidak bosan untuk mengunjunginya lagi.Hal ini tidak mengherankan, karena tempat wisata yang berlogo primata bekantan ini memiliki keunggulan untuk menarik pengunjung.
Ada banyak aneka permainan menarik dengan teknologi tinggi dan telah dijamin keamanannya yang dapat dicoba. Pengunjung dapat mencoba memacu adrenalin dengan mencoba permainan yang ada di Dufan.
Misalnya Tornado, dimana saat Anda berada di ketinggian tertentu, tubuh pengunjung akan diputar selama berkali-kali dengan kecepatan tinggi. Atau Kora-Kora, dengan menyerupai perahu besar, pengunjung akan diayun sampai posisi hampir 90 derajat sehingga tubuh hampir tegak lurus dengan tanah. Halilintar juga akan memacu adrenalin, dengan menaiki kereta 6 gerbong, kereta ini akan berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi, lalu menikung dengan cepat dan puncaknya akan berputar dengan posisi menghadap ke tanah. Power Surge atau Kicir-Kicir wajib dicoba, permainan yang akan mengangkat kursi, memutar-mutar dan akan membolak-balik tubuh pengunjung.
Untuk menikmati tontonan simulator, ada teater simulator Turbo Tour dengan kursi yang dapat bergerak-gerak sehingga membuat pengunjung seolah-olah  ikut merasakan apa yang ada di film. Agar tidak bosan, pihak pengelola secara periodik mengganti film yang akan ditonton. Tontonan ini meski singkat namun cukup menegangkan dan membuat petualangan pengunjung di Dufan semakin menarik. 

   


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Sebagai calon sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia kita sangat membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam serta pembekalan yang nyata mengenai kemajuan suatu lingkungan usaha dan persaingan di dunia usaha serta permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya. Latar belakang itulah yang mendasari  kami mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Unnes angkatan 2008 mengadakan Kuliah Kerja Lapangan dan Studi Banding di Jakarta dan Bandung.
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang dilaksanakan pada tanggal 2-5 Agustus 2010.
Adapun tempat pelaksanaan KKL adalah Bandung dan Jakarta. Objek studi di bandung meliputi Gedung Keseniana Rumangkang Siang STB (Studiklub Teater Bandung), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Cibaduyut sebagai objek wisatanya. Sedangkan objek studi di Jakarta adalah Puspendik (Pusat Penilaian Pendidikan), serta objek wisatanya adalah Gelanggang Samudra dan Dunia Fantasi.

3.2 Saran
Hendaknya pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan benar-benar mengacu pada tujuan yang ingin dicapai.





LAMPIRAN

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA dan SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Universitas Pendidikan Indonesia didirikan pada tanggal 20 Oktober 1954 di Bandung, diresmikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran Mr. Muhammad Yamin. Semula bernama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), didirikan dengan latar belakang sejarah pertumbuhan bangsa, yang menyadari bahwa upaya mendidik dan mencerdaskan bangsa merupakan bagian penting dalam mengisi kemerdekaan. Beberapa alasan didirikannya PTPG antara lain: Pertama, setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, bangsa Indonesia sangat haus pendidikan. Kedua, perlunya disiapkan guru yang bermutu dan bertaraf universitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang akan merintis terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
Gedung utama UPI bermula dari puing sebuah villa yang bernama Villa Isola, merupakan gedung bekas peninggalan masa sebelum Perang Dunia II. (Pada masa perjuangan melawan penjajah, gedung ini pernah dijadikan markas para pejuang kemerdekaan). Puing puing itu dibangun kembali dan kemudian menjelma menjadi sebuah gedung bernama Bumi Siliwangi yang megah dengan gaya arsitekturnya yang asli.
Di sinilah untuk pertama kalinya para pemuda mendapat gemblengan pendidikan guru pada tingkat universitas, sebagai realisasi Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia (Nomor 35742 tanggal 1 September 1954 tentang pendirian PTPG/Perguruan Tinggi Pendidikan Guru).
Pada mulanya PTPG dipimpin oleh seorang Dekan yang membawahi beberapa jurusan dan atau balai, yakni:
·                     Ilmu Pendidikan
·                     Ilmu Pendidikan Jasmani;
·                     Bahasa dan Kesusastraan Indonesia;
·                     Bahasa dan Kesusastraan Inggris;
·                     Sejarah Budaya;
·                     Pasti Alam;
·                     Ekonomi dan Hukum Negara; dan
·                     Balai Penelitian Pendidikan.
Sejalan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No. 40718/S pada waktu itu, yang menyatakan bahwa PTPG dapat berdiri sendiri menjadi perguruan tinggi atau perguruan tinggi dalam universitas, maka seiring dengan berdirinya Universitas Padjadjaran (UNPAD), pada tanggal 25 November 1958 PTPG diintegrasikan menjadi fakultas utama Universitas Padjadjaran dengan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA dan SENI
Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas pokok dan fungsi FPBS UPI adalah melakukan pembinaan sumber daya manusia dalam disiplin ilmu kependidikan dan pendidikan disiplin ilmu bahasa, sastra, dan seni untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan kompetitif, serta memiliki kompetensi dalam dunia pendidikan, industri, dan wirausaha.
FPBS UPI membina 10 jurusan dan 4 program studi. Kesepuluh jurusan tersebut adalah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis, Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan, Jurusan Pendidikan Seni Tari, dan Jurusan Pendidikan Seni Musik. Sedangkan keempat program studi tersebut adalah Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, dan Prodi Bahasa Inggris. Program Studi Nonkependidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Prodi Bahasa Inggris didirikan berdasarkan SK Dirjen Dikti Depdiknas Nomor 386/DIKTI/KEP/1999, tanggal 18 Agustus 1999 sebagai wujud perluasan peran (wider mandate) FPBS UPI dalam dunia pendidikan.
Tujuan
Menyelenggarakan pendidikan bagi calon tenaga kependidikan/ nonkependidikan dan meningkatkan kualifikasi pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan, serta program-program lain yang relevan.
Melaksanakan penelitian dan pengkajian dalam rangka mengembangkan dan menerapkan ilmu bahasa dan seni.
Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian institusional terhadap pembangunan pendidikan nasional dalam rangka mengaplikasikan hasil-hasil pendidikan dan penelitian.
Menggalang kerjasama dengan lembaga-lembaga lain, baik vertikal maupun horizontal, untuk mengadakan upaya pembinaan program dan personil, dalam rangka mendukung program internal FPBS sendiri dan lembaga lain yang terkait.
Jurusan dan Program Studi
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menaungi dua program studi yaitu Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (nonpendidikan) Kedua program studi ini satu sama lain memiliki arah pengembangan yang berbeda. Program studi pendidikan mengembangkan disiplin ilmu kependidikan, dan program studi nonpendidikan mengembangkan pendidikan disiplin ilmu. Sesuai dengan struktur kurikulum, program studi pendidikan  membekali mahasiswa dengan mata kuliah dasar keahlian profesi keguruan, mata kuliah keahlian dan mata kuliah keahlian lainnya. Program studi nonpendidikan membekali mahasiswa dengan mata kuliah disiplin ilmu sastra. Dengan demikian, lulusan program studi pendidikan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dan  program studi pendidikan memperoleh gelar Sarjana Sastra (S.S.). Penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Jalur SNMPTN, PMDK, Kerja sama, UM-UPI, dan Lanjutan.
Jurusan/ProgramStudi Pendidikan Bahasa Daerah Jurusan ini sejak awal berdirinya konsisten mengemban tugas mengembangkan budaya lokal Jawa Barat, yakni bahasa Sunda. Oleh karena itu jurusan ini sering disebut Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah. Dalam perkembangannya, jurusan Pendidikan Bahasa Daerah senantiasa bekerja sama dengan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam turut serta mendorong kebijakan pemerintah provinsi terutama dalam memberlakukan muatan lokal bahasa Sunda dalam kurikulum di sekolah dasar dan menengah. Perkembangan jurusan/ program studi  ini secara konsisten mempertahankan program kependidikan. Sampai saat ini jurusan Pendidikan Bahasa Daerah belum mewacanakan untuk membuka program nonkependidikan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa animo masyarakat Jawa Barat terhadap pendidikan bahasa daerah masih cukup besar.
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Seperti halnya jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris juga menaungi dua program studi, yakni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris  dan Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris (nonpendidikan). Kurikulum yang dikembangkan oleh program studi  pendidikan  untuk memberi bekal ilmu kependidikan sedangkan kurikulum program studi  nonpendidikan  mengembangkan disiplin ilmu bahasa Inggris yang memungkinkan lulusannya memiliki kompetensi untuk menjadi translater  (penerjemah) dan kompetensi lainnya. Lulusan program studi  pendidikan  Bahasa Inggris memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), dan lulusan program studi  Bahasa Inggris memperoleh gelar Sarjana Sastra (S.S.). Penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Jalur SNMPTN, PMDK, Kerja sama, UM-UPI, dan Lanjutan.
Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman membekali disiplin ilmu kependidikan bahasa Jerman bagi para mahasiswanya, sehingga ketika mahasiswa tersebut lulus memiliki kompetensi menjadi tenaga kependidikan dan kompetensi lainnya seperti konsultan bahasa, staf ahli kedutaan, penerjemah, dan lain-lain.Dalam mengembangkan kelembagaan, jurusan pendidikan bahasa Jerman telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, terutama yang ada hubungan dengan bahasa Jerman, seperti dengan Dinas Pertukaran Akademisi Jerman (Deutscher Akademischer Austauschdienst/DAAD), Pusat Kebudayaan Jerman (Goethe Institut) dan Pädagogische Hochschule Heidelberg. Ketiga lembaga tersebut memberikan kesempatan kepada dosen-dosen untuk mengikuti  pendidikan lanjut dan seminar serta mengadakan penelitian, juga kepada mahasiswa yang berprestasi untuk mengikuti kursus bahasa dan, studi di Universitas dan untuk mengadakan penelitian di Jerman.
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Pendidikan Bahasa Arab mengembangkan dan membekali disiplin ilmu kependidikan bahasa Arab bagi para mahasiswanya. Dengan disiplin ilmu tersebut, lulusan memiliki kompetensi untuk menjadi tenaga pendidikan bahasa Arab dan sekaligus memiliki kompetensi ilmu pendidikan agama Islam. Hal tersebut dimiliki mahasiswa dan alumni karena kurikulum jurusan pendidikan Bahasa Arab dilengkapi dengan Mata Kuliah Perluasan dan Pendalaman (MKPP) yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam. Penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Jalur SNMPTN, PMDK, UM-UPI, Lanjutan, dan Kerja Sama. Pengembangan kelembagaan terus dilakukan oleh pimpinan jurusan dan para dosen melalui berbagai kerja sama dengan berbagai lembaga seperti Balai Bahasa ITB, Universitas Islam Bandung (Unisba), dan SMA. Kerja sama tersebut menyangkut pengembangan bahasa Arab melalui program Lesson Study. Kerja sama juga dilakukan dengan Kedutaan Besar negara Arab.   
Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang merupakan salah satu jurusan yang banyak dipilih oleh calon mahasiswa baik melalui jalur SPMB (sekarang: SNMPTN), PMDK, Jalur Ujian Masuk (UM) UPI,  Lanjutan, maupun jalur Kerja Sama. Mahasiswa yang diterima melalui jalur-jalur tersebut akan memperoleh disiplin ilmu kependidikan bahasa dan sastra Jepang yang handal dengan kompetensi berbahasa   Jepang yang baik.Dalam pengembangan kelembagaan, jurusan ini melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga seperti The Japan Foundation atau Nipon Foundation melalui kegiatan penelitian, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran bahasa Jepang di Indonesia baik untuk pendidikan tinggi maupun untuk pendidikan menengah; Pusat Kebudayaan Jepang; dan lembaga bahasa Jepang lainnya.
Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis sedang berupaya melakukan sosialisasi ke berbagai lembaga sekolah guna memberikan informasi yang seluas-luasnya berkenaan dengan status kelembagaan jurusan, penerimaan calon mahasiswa, dan informasi akademik lainnya. Melalui kegiatan tersebut diharapkan animo masyarakat terhadap bahasa Prancis semakin meningkat dan terjalinnya kerja sama dengan lembaga sekolah di samping kerja sama yang sudah dilakukan dengan beberapa instansi lain seperti Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia melalui Service de Coopération et d’Action Culturelle (Bidang Biro Kerjasama Pendidikan Kebudayaan) dan Centre Culturel Français de Bandung (Pusat Kebudayaan Prancis Bandung) dan Alliance Française de Bandung (AFB). Kurikulum dirancang dengan mempertimbangkan kompetensi disiplin ilmu kependidikan bagi para mahasiswa, di samping kompetensi lainnya. Lulusan jurusan ini memperoleh sebutan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Jalur SNMPTN, PMDK, UM-UPI, Lanjutan, dan Kerja Sama.
Jurusan Pendidikan Seni Rupa Pada awalnya jurusan ini memiliki dua program studi, yakni Program Studi Pendidikan Seni Rupa dan Program Studi Pendidikan Ukir Kayu. Sejalan dengan kebijakan dan animo masyarakat, jurusan ini sejak beberapa tahun yang lalu hanya memiliki satu program studi, yakni Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Jurusan ini sampai saat ini konsisten mengembangkan jalur kependidikan. Hal ini mengingat mata pelajaran Pendidikan Seni yang ada di sekolah-sekolah menengah di dalamnya terdapat muatan Seni Rupa. Meskipun demikian, lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa yang memiliki gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) tidak hanya menjalani profesi sebagai guru tetapi sebagian di antara mereka ada yang memposisikan diri sebagai seniman seni rupa. Untuk itulah, sesuai dengan perkembangan zaman, Jurusan ini senantiasa berupaya mengembangkan program studi nonkependidikan, yaitu program studi Disain Komunikasi Visual (DKV). Penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Jalur SNMPTN, PMDK, Kerja sama, UM-UPI, dan Lanjutan.
Jurusan Pendidikan Seni Musik Sejak berdiri pada tahun 1980-an hingga akhir tahun 2008 Jurusan Pendidikan Seni Musik masih berstatus program studi dan berada di bawah naungan Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS UPI. Pada awal tahun 2009 program studi ini resmi menjadi jurusan setelah melalui proses panjang pengusulan ke universitas, hingga akhirnya Senat Universitas memberikan persetujuan perubahan status program studi pendidikan Seni Musik menjadi jurusan yang ditadai dengan terbitnya SK Rektor nomor 1324/H40/KL/2009.
Jurusan Pendidikan Seni Musik merupakan salah satu jurusan yang banyak diminati oleh calon mahasiswa dari berbagai pelosok wilayah sehingga jumlah peminat yang daftar ke jurusan ini rata-rata berjumlah 350 orang, sedangkan kuota daya tampung berkisar antara 80-100 orang untuk jalur PMDK, UM-UPI, SNMPTN, Lanjutan, dan Kerja sama. Lulusan Program Studi Pendidikan Seni yang bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) tidak hanya berprofesi sebagai guru baik di sekolah-sekolah maupun di tempat kursus seni musik tetapi ada pula yang berprofesi sebagai seniman.  Untuk memperluas jaringan, jurusan senantiasa melakukan kerja sama dengan berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta, dalam dan luar negeri seperti PT Gudang Garam, Djarum Super, Departemen Pariwisata & Kebudayaan RI, Pemprov Jabar, Taman Budaya Jabar, Sabuga, dan Unsri Palembang.
Jurusan Pendidikan Seni Tari Seperti halnya jurusan pendidikan Seni Musik, Jurusan Pendidikan Seni Tari pun awalnya merupakan bagian dari Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS UPI. Sejak awal tahun 2009 bersama Jurusan Pendidikan Seni Musik, Jurusan Pendidikan Seni Tari memperoleh persetujuan perubahan status program studi menjadi jurusan dari Senat Akademik UPI yang diperkuat dengan SK Rektor nomor 1324/H40/KL/2009. Sejak berdirinya pada tahun 1981 jurusan Pendidikan Seni Tari berkembang sangat pesat. Hal ini ditunjukkan dengan kualitas dan kuantitas lulusan yang sangat kompetitif di lapangan kerja (sekolah dan dunia entertainment). Seperti halnya jurusan lain, jurusan ini terus mengembangkan diri dengan membina mahasiswa di jalur kependidikan untuk menghasilkan Sarjana Pendidikan (S.Pd.) di bidang seni tari. Mahasiswa jurusan ini dierima melalui Jalur PMDK, UM-UPI, SNMPTN,  Kerja sama, dan Lanjutan. Mahasiswa, selain aktif dalam perkuliahan juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan atau acara  baik di dalam maupun di luar universitas. Kerja sama yang dilaksanakan oleh jurusan adalah kerja sama dengan KBRI Malaysia, KBRI Singapura, pemerintah Jepang, Pemprov Jabar, Taman Budaya Jabar, KONI Jabar, pemerintah Afrika Selatan, dan Monash University.
(Bagus Hanni Pradana,2101407010, Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar