Sabtu, 14 September 2013

Tangan yang Saling Berjabat



Tangan yang Saling Berjabat

Berjabat tangan sepertinya sudah menjadi tradisi dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan bisa dipastikan bahwa semua orang di dunia ini pasti pernah berjabat tangan. Berjabat tangan saat bertemu, berjabat tangan saat berpisah, berjabat tangan saat berkenalan, berjabat tangan bentuk kesepakatan, berjabat tangan tanda maaf, dan lain sebagainya.
Di rumah, ketika saya masih bersekolah, hampir setiap pagi saat berpamitan berangkat ke sekolah saya selalu berjabat tangan dengan ibu, dibarengi mencium punggung tangannya sebagai bentuk rasa sayang dan hormat. Bahkan ketika saya lupa karena terburu-buru berangkat, tak jarang ayah menegur, “Nah tho, pamit dulu sana.” Berpamitan di sini tentunya dalam artian sambil berjabat tangan. Ketika pulang dari sekolah pun demikian, masuk rumah sambil mengucapkan salam dan berjabat tangan. Hal ini kami lakukan hampir setiap hari. Meskipun sekarang sudah tidak bersekolah, hal serupa tetap saya lakukan, terutama ketika akan keluar rumah untuk sekadar pergi belanja atau bermain ke rumah teman.
Di sekolah, pagi-pagi sekali bapak ibu guru sudah berjajar di halaman menyambut siswa-siswanya. “Selamat pagi”, begitu kami saling menyapa sambil berjabat tangan diiringi dengan percakapan singkat sebelum masuk ke kelas masing-masing. Di kelaspun,  saya dan teman-teman juga mempunyai kebiasaan serupa. Satu per satu teman-teman berdatangan, tak langsung menuju bangkunya, namun berjabat tangan terlebih dahulu dengan teman-teman lain yang sudah terlebih dahulu hadir. Kami berjabat tangan ala muda-muda, beberapa menggunakan fariasi gaya salaman alay khas genk mereka. Seusai jam pelajaran, siswa-siswa berhamburan menuju gerbang sekolah diantar bapak ibu guru yang sudah berjajar di halaman. “Selamat siang”, begitu ujar mereka saat berjabat tangan yang biasanya diiringi pesan hati-hati di jalan. Hal ini kami lakukan hampir setiap hari.
Saat berkunjung ke rumah orang, hal pertama yang dilakukan setelah mengucap salam, pastilah berjabat tangan dengan tuan rumah. Begitu pun ketika akan berpamitan pulang, selalu ditutup dengan berjabat tangan pula. Hal ini selalu dilakukan pada waktu kapan pun dan saat berkunjung di rumah siapa pun.
Di masjid, seusai salat berjamaah kami selalu berjabat tangan. Sore hari menjelang magrib juga terlihat anak-anak mengantri berjabat tangan kepada ustadz sebagai bentuk terima kasih dan penghormatan karena sudah mengajari mereka mengaji.
Berjabat tangan juga sering dilakukan saat memberi ucapan selamat. Selamat ulang tahun, selamat menempuh hidup baru, selamat atas prestasi yang di raih, atau pun ucapan selamat hari raya. Nah ini nih, saat umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri, mereka akan saling berjabat tangan. Berjabat tangan saat Idul Fitri diartikan sebagai tindakan saling memaafkan, biasanya disertai dengan kata-kata maaf untuk mempertegas maksud itu.
Banyak sekali momen yang memungkinkan dua orang saling berjabat tangan. Itu tadi kebiasaan berjabat tangan yang sering saya temui dan alami di Jawa. Berbeda lagi kebiasaan berjabat tangan yang saya temui di Manggarai.
Kegiatan berjabat tangan di Manggarai hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, terutama saat pertama kali bertemu. Kami berjabat tangan sambil berkenalan mengucapkan nama masing-masing. Jabat tangan juga dilakukan saat akan berpisah untuk waktu yang relatif lama dan pemberian ucapan selamat.
Saya ceritakan saat pertama kali saya berangkat ke sekolah baru saya, SMPK Sinar Ponggeok. Masuk ruang guru untuk yang pertama kali, tentunya belum saling kenal, maka kami berjabat tangan sembari berkenalan. Ini hal biasa. Hal yang tidak biasa adalah ketika akan pulang sekolah. Lonceng jam pelajaran terakhir sudah berbunyi, itu artinya kami para guru dan siswa-siswa yang tidak tinggal di asrama akan pulang ke rumah masing-masing. Sambil berkelakar, kami menuju keluar ruangan. Saya sempat menyodorkan tangan saya kepada salah satu rekan guru yang akan pulang. Namun sepertinya guru tersebut tidak menyadari dan berlalu hanya dengan ucapan selamat siang. Dhinar, teman yang satu penempatan sepertinya menangkap niat saya mengajak berjabat tangan namun dicuekin begitu saja. Diapun berbisik lirih “Iki salaman ora tho?” berjabat tangan tidak ya, begitu tanyanya. Sama-sama belum tahu, kami pun tertawa bersama. Akhirnya kami mengamati satu per satu rekan guru yang meninggalkan kantor. Ternyata mereka saling berucap salam tanpa saling berjabat tangan. Oh, pertanyaan terjawab.
Ada lagi cerita ketika saya berkunjung ke rumah tetangga. Berjabat tangan di awal pertemuan itu biasa. Namun ketika berpamitan pulang sambil berjabat tangan, apa yang terjadi? Tuan rumah bertanya kepada kami dengan raut muka agak sedih “Tidak akan berkunjung ke sini lagi kah?” Oh, rupanya tuan rumah mengartikan jabat tangan kami sebagai tanda perpisahan. Seperti yang telah saya katakan, salah satu momen jabat tangan di Manggarai yaitu dilakukan saat akan berpisah untuk waktu yang relatif lama. Tidak ingin tuan rumah larut dalam salah paham, kami pun segera menjelaskan kebiasaan kami di Jawa, dan akhirnya tuan rumah mengerti. Kami pun pulang diantar dengan senyum ramah.
Jika ada dua atau beberapa orang Manggarai yang berpapasan di jalan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka bisa ditebak, jika bukan pertama kali bertemu, dapat dipastikan bahwa itu adalah pertemuan pertama setelah sekian lama tidak bertemu.
Ya itulah kebiasaan yang bisa dikatakan sebagai tradisi. Masing-masing dari kita mempunyai tradisi yang unik, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyesuaikan diri. Ada pepatah ‘di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung’. Mudah-mudahan sesampainya saya di Jawa nanti, saya tidak lupa akan kebiasaan berjabat tangan yang hampir setiap hari dilakukan. Bisa-bisa saya dianggap sebagai anak yang kurang ajar jika saya keluar masuk rumah nyelonong begitu saja tanpa berjabat tangan dengan ayah dan ibu, atau ketika saya bludhas bludhus bertamu ke rumah orang tanpa berjabat tangan. Hehehe…