Senin, 09 September 2013

Dari Bahasa Menuju Matematika



Dari Bahasa Menuju Matematika


Hari Senin jam pertama selepas upacara bendera saya akan mengajarkan materi baru, membaca cepat 200 kata permenit.
Sebelum menuju ke kelas, saya pastikan bahwa hal-hal yang sudah saya siapkan tadi malam tidak ada yang terlewat. Saya sudah menyiapkan hal-hal yang menurut saya diperlukan, dari materi ajar, wacana yang akan dibaca siswa, daftar pertanyaan, serta kunci jawabannya. Tak lupa juga saya mengecek keberadaan aplikasi stopwatch di ponsel saya yang nantinya digunakan untuk mengetahui waktu membaca siswa.
Setelah dirasa siap, saya segera masuk ke kelas VIIB.
Brak brak,” suara meja yang dipukul oleh ketua kelas mengisyaratkan anak-anak lainnya untuk serentak memberi salam. “Selamat pagi Bu!” seluruh kelas menyapaku dengan penuh semangat.
Lalu seperti biasa, saya jawab salam itu dan saya lontarkan pertanyaan dengan nada penuh semangat pula, “Selamat pagi. Apa kabar?”
“Luaaar biasaaa!” anak-anak berseru.
“Bagaimana?” tanyaku lagi.
“Sukses belajarku! Yes yes yes!” anak-anak bersorai.
Begitulah kira-kira percakapan kami setiap kali mengawali pembelajaran. Sambutan semangat membara dari anak-anak tentu saja juga membakar semangat saya. Kemudian setelah bertanya jawab seputar kabar dan mengecek kehadiran siswa, saya mulai mengajak mereka pada materi pembelajaran hari ini.
“Anak-anak, pernahkah kalian membaca cepat?” tanya saya. Seketika keadaan kelas menjadi ramai. Anak-anak sibuk mencoba membaca dengan cepat apapun kalimat yang ada di sekitar mereka. “Bla bla bla bla….” suara gumaman anak-anak mendengung di tiap penjuru kelas. “Cukup cukup cukup,” saya mencoba menghentikan keributan itu.
Nampaknya mereka penasaran dengan materi pembelajaran kali ini. Selanjutnya saya menyampaikan bahwa anak-anak seusia mereka harus mampu membaca dengan cepat minimal 200 kata permenit.  Waaaaa…..” gumam anak-anak serentak. Tampak sekali ketakutan mereka, takut bahwa mereka tidak akan bisa mencapai target yang ditetapkan. Saya hanya tertawa. Seperti biasa, ketika saya melihat ketidakyakinan anak-anak akan suatu hal, saya langsung melontarkan pertanyaan “Apakah kalian bisa?” dan anak anak saya wajibkan menjawab “Pasti bisa!”
“Apakah kalian bisa?”
“Pasti bisa!”
“Apakah kalian bisa?”
“Pasti bisa!”
“Apakah kalian bisa?”
“Pasti bisa!”
Saya ulangi sampai mereka benar-benar yakin atas jawaban mereka. Anak-anakku, yakinlah bahwa kalian bisa! Kalian harus bisa! Dan kalian PASTI BISA! Pikir saya meyakinkan mereka dalam hati.
Baiklah saya segera menyampaikan materi, dan setelah dirasa cukup, saya membagikan wacana yang harus mereka baca. Saya jelaskan bahwa mereka harus memulai membaca setelah mendengar aba-aba dari saya, begitu juga untuk mengakhiri membaca. Ketika aba-aba dimulai, suasana kelas kembali menjadi seperti awal pertemuan tadi ketika saya mengajukan pertanyaan tentang pernahkah mereka membaca cepat. Huh… Suara gumaman mereka membahana memenuhi ruangan.  “Berhenti berhenti berhenti. Perhatikan!,” saya menghentikan aktivitas mereka dan perhatian anak-anak tertuju pada saya.
“Anak-anak, kan tadi sudah ibu sudah menjelaskan bahwa untuk bisa membaca lebih cepat dibandingkan dengan biasanya, kalian harus membaca dalam hati,” saya mengulangi materi yang tadi sudah saya sampaikan. Sambil bertanya jawab, saya yakinkan bahwa mereka harus memahami konsep dasar materi ini.
Nah, kalau sekarang saya yakin mereka sudah paham. Praktik membaca cepatpun dimulai. Mereka terlihat sangat berkonsentrasi. Setelah stopwatch di ponsel saya menunjukkan detik ke 60, saya menyuruh mereka untuk berhenti membaca dan memberi tanda pada kata terakhir yang mereka baca. Setelah itu saya menyuruh mereka untuk menghitung jumlah kata yang berhasil mereka baca dan menuliskannya di buku catatan. Kemudian saya memerintahkan mereka untuk menutup wacana yang baru saja mereka baca. Saya mengajak mereka untuk menjawab beberapa pertanyaan secara mencongak. Setelah selesai, kami memeriksa jawaban dengan cara saling tukar dengan teman sebangku.
Tak hanya bertugas menghitung jumlah jawaban benar, mereka juga saya tugasi untuk menghitung kecepatan membaca teman mereka dengan menggunakan rumus yang telah saya berikan, jumlah kata yang dibaca permenit dikalikan dengan jumlah jawaban benar dibagi jumlah soal.
Sambil menunggu mereka selesai menghitung, saya mengisi jurnal kelas. Bersama dengan selesainya mengisi jurnal kelas, saya bertanya kepada anak-anak, “Berapa kecepatan membaca teman kalian?”
“Belum, Buuu!” jawab mereka serentak. Ah, mereka selalu serentak.
Sambil menunggu lagi, saya melihat daftar absen, berusaha menghafal nama dengan wajah pemiliknya. Memperhatikan mereka sambil mengingat-ingat nama, saya melihat ada yang janggal pada mereka. Harusnya mereka asyik menghitung kecepatan membaca teman, tetapi kok malah mereka saling ribut.
“Sudah selesai?”
“Belum, Buuu!” jawaban yang masih sama dengan pertanyaan tadi.
Lama sekali, keluh saya dalam hati. Tak ingin berlarut dalam sebuah kejanggalan, saya beranjak menuju bangku terdekat. Saya melihat satu halaman buku anak itu menjadi ajang berhitung. Ya ampun, dari sekian banyak angka-angka yang ada, saya tak melihat ada hasil perhitungan yang tepat. Dengan penuh rasa heran, saya beralih ke bangku lainnya, hingga saya selesai melihat seluruh cara berhitung anak-anak saya di kelas ini.
Sekarang saya tahu jawabannya, mengapa mereka sungguh lama dalam menyelesaikan tugas yang saya berikan. Meskipun beberapa anak sudah berhasil mengetahui kecepatan membaca teman mereka, namun ternyata sebagian besar dari mereka kurang mahir dalam berhitung. Padahal saya pikir rumus menghitung kecepatan membaca ini masih dalam level dasar.
Hmmm… Tak ingin menyalahkan siapapun, saya kemudian berinisiatif untuk menerangkan kepada mereka tentang perkalian dan pembagian. Dimulai dari perkalian bersusun hingga penyederhanan pecahan.
Sedang asyik-asyiknya bermain dengan angka, lonceng tanda berakhirnya pembelajaran sudah berbunyi. Tanpa sempat menutup pembelajaran dengan sempurna, saya hanya mengakhiri dengan celetukan sederhana, “Besok kita belajar berhitung lagi yaaa…” dan anak-anak menjawab dengan riangmya, “Iya, Buuu…”
Dalam perjalanan menuju ruang guru, pikiran saya penuh tanda tanya disertai dengan rasa prihatin. Kalau keadaannya begini terus, bagaimana nasib mereka di mata pelajaran lain yang juga perlu hitung-menghitung. Bagaimana bisa mereka mengetahui percepatan maupun kecepatan suatu benda pada mata pelajaran fisika, atau bagaimana mereka bisa  mengetahui jumlah pajak yang harus dibayar pada mata pelajaran ekonomi, atau bagaimana mereka bisa menyelesaikan soal perkalian dan pembagian yang memang menjadi menu utama mata pelajaran matematika?
Ah, ini menjadi tugas kita bersama. Salam maju bersama!