Rabu, 22 Mei 2013

Kain Songke Manggarai


Flores itu cantik, Flores itu menarik. Alam, budaya, dan masyarakatnya sungguh tak hentinya membuat takjub. Hal lain yang juga ikut mencuri hati wisatawan adalah kain songket, tenun khas Flores. Setiap daerah di Flores memiliki ciri khas pada corak gambar dan warna kain songket.
Orang Manggarai biasa menyebut kain songket dengan songke. Corak, warna dan gambar pada kain songke ini, tidak dibuat asal-asalan. Ada makna tertentu yang tersirat dalam 'wajah' kain songke tersebut.
Warna dasar hitam pada songke melambangkan sebuah arti kebesaran dan keagungan orang Manggarai serta kepasrahan bahwa semua manusia akhirnya akan kembali pada Yang Maha Kuasa. Sedangkan aneka motif bunga pada kain songke mengandung banyak makna sesuai motif itu sendiri seperti motif wela kawong bermakna interdependensi antara manusia dengan alam sekitarnya. Motif ranggong (laba-laba) bersimbol kejujuran dan kerja keras. Motif ju’i (garis-garis batas) pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Motif ntala (bintang) terkait dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa porong langkas haeng ntala, supaya senantiasa tinggi sampai bintang. Maksudnya, agar senantiasa sehat, umur panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup. Motif wela runu (bunga runu), yang melambangkan sikap atau ethos bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini.

Selain dalam bentuk kain dan sarung, songke juga ada variasi lain lho... Yaitu berupa syal dan peci.
Ini lho syalnya
Peci dari kain songke
Membuat sehelai kain songke bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Bahkan terkadang ada yang mengerjakannya sampai berbulan-bulan. Pantas saja, kalau harga kain songke ini sangatlah mahal. Meski begitu, harga berbanding lurus dengan bagusnya songke yang dihasilkan. Tingkat kesulitan dan lama waktu pengerjaan menjadi pertimbangan harga. Setiap kain memiliki harga paling murah sekitar Rp 400.000.

Ketika berkunjung ke desa tradisional Waerebo, saya berkesempatan memegang alat tenun. Hha… Hanya kursus singkat yang tak mungkin menghasilkan selembar kain, tapi yang jelas menghasilkan berjuta makna. Ternyata menenun itu tak semudah yyang dibayangkan. Tek tek tek. Bunyi yang dihasilkan alat tenun ketika kita merangkai helaian benang itu. Susah minta ampun, hasil yang kudapat tak kunjung rapi. Benang yang kuanyam tak kunjung rapat. Mau jadi kain bagaimana ini. Belum lagi membentuk motifnya. Wuaaaa.... Swear patutlah kita acungi banyak jempol untuk hasta karya ini.

Ibunya ramah n baik hati banget

Menenun di kolong rumah