Minggu, 22 April 2012

Pendekatan Tes Bahasa


BAB  I
PENDEKATAN TES BAHASA

PENGANTAR

Setelah membaca dan mendiskusikan materi Pendekatan Tes Bahasa ini, peserta diklat diharapkan memiliki wawasan umum tentang berbagai pendekatan tes bahasa yang memberikan landasan filosofis pengembangan perangkat penilaian pembelajaran bahasa Indonesia.  Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut, peserta diklat perlu menguasai beberapa indikator berikut.
(1)   Menjelaskan perkembangan pendekatan tes bahasa.
(2)   Menjelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan tradisional.
(3)   Menjelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan diskret.
(4)   Menjelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan integratif.
(5)   Menjelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan pragmatik.
(6)   Menjelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif.

URAIAN MATERI
A.  Pendahuluan
            Tes bahasa dan pengajaran bahasa merupakan dua kegiatan yang berhubungan secara erat. Yang pertama merupakan bagian dari yang kedua. Tes bahasa dirancang dan dilaksanakan untuk memperoleh informasi mengenai hal ihwal yang berkaitan dengan keefektifan pengajaran bahasa yang dilakukan. Apabila pengajaran bahasa dilakukan dengan tujuan, misalnya, untuk meningkatkan kemampuan membaca, maka kegiatan pengajaran bahasa dititikberatkan pada tugas-tugas untuk meningkatkan kemampuan membaca. Selanjutnya, tes bahasa yang dirancang dan diselenggarakan untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa itu adalah tes kemampuan membaca. Informasi yang didapatkan dari penyelenggaraan tes bahasa itu dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar tujuan pengajaran membaca itu dicapai.
            Sebagai suatu kegiatan yang bertolak dari bahasa, tes bahasa dan pengajaran bahasa tidak terlepas dari pengaruh bermacam-macam pendekatan yang berkembang  di dalam linguistik maupun ilmu-ilmu yang terkait dengan linguistik, seperti sosiolinguistik dan psikolinguistik. Seluruh penyelenggaraan  pengajaran bahasa, termasuk di dalamnya  tes bahasa,  dirancang atas dasar pendekatan yang ada dalam linguistik. Cara suatu bahasa dipahami dan disikapi menurut suatu pendekatan tertentu dalam linguistik, sosiolinguistik, ataupun psikolinguistik, berpengaruh pula  dalam penentuan tujuan pengajaran, strategi pengajaran, pemilihan bahan pengajaran, pemilihan tujuan dan isi tes bahasa, dan penentuan jenis dan bentuk tes bahasa. Singkatnya,  apabila di dalam linguistik atau sosiolinguistik, dan psikolinguistik terdapat perubahan trend ke suatu pendekatan tertentu, maka “gema” perubahan itu akan mempengaruhi pula dunia pengajaran bahasa dan termasuk di dalamnya tes bahasa.

B.   PERKEMBANGAN  PENDEKATAN TES BAHASA
            Sampai saat ini telah ada beberapa ahli tes bahasa yang secara khusus membahas perkembangan pendekatan  tes bahasa. Beberapa ahli tes bahasa itu adalah Spolsky (1978;1981), Oller (1979), Hinofotis (1981), Masden (1983),  Weir (1990), dan Brown (1996). Mereka telah berupaya menyajikan suatu  sejarah perkembangan pendekatan tes bahasa mulai dari masa pelahiran sampai dengan masa perkembangan mutakhirnya. Apabila diklasifikasikan,  terdapat tiga sudut pandang yang berbeda yang digunakan sebagai dasar perkembangan itu, yakni (1) segi keilmiahan yang mendasari tes bahasa (lihat Spolsky (1978;1981), Hinofotis (1981), dan Masden (1983)), (2) segi dominasi keilmuan yang mempengaruhi tes bahasa (lihat Spolsky (1978;1981), Weir (1990), dan Brown(1996)), dan (3) segi orientasi pandangan tentang hakikat bahasa (lihat Oller (1979)).
             Tabel 1 berikut ini menyajikan ringkasan perkembangan pendekatan tes bahasa dari keenam ahli tes bahasa tersebut di atas.

 

Tabel 1 Perkembangan Pendekatan Tes Bahasa dari berbagai Ahli


Spolsky (1978;1981)
Oller (1979)
Hinofotis
(1981)
Masden (1983)
Weir (1990)
Brown (1996)
·  pendekatan pra-ilmiah atau pendekatan tradisional
·  pendekatan modern atau pendekatan struktural-psikometrik
·  pendekatan pasca modern atau psiko- linguistik-sosiolinguistik

·  diskret
·  integratif
·  pragmatik
·  periode pra-ilmiah
·  periode strukturalis-psikometrik
·  periode integratif-so siolinguistik
·  tahap intuitif
·  tahap ilmiah
·  tahap komunikatif
·  era psikometrik- strukturalis
·  era psikolinguistik sosiolinguistik
·  gerakan prailmiah
·  gerakan strukturlis- psikometrik
·  gerakan integratif -so siolinguistik
·  gerakan komunikatif

           
Istilah periodisasi dihindari mengingat bahwa pelahiran pendekatan dalam tes bahasa sering terjadi secara simultan, tidak selalu kronologis, serta kecenderungan pemakaian satu pendekatan dengan pendekatan yang lain kerap kali terjadi dalam kurun waktu bersamaan di beberapa tempat yang berbeda di dunia ini. Walaupun juga tidak dapat dipungkiri bahwa ada satu atau dua pendekatan yang muncul sebagai akibat ketidakpuasan atas pendekatan yang terdahulu,  namun begitu, karena  fokus perhatian dalam makalah lebih pada aspek perkembangan pemikiran yang mendasari pelahiran masing-masing pendekatan  serta hal-hal yang mempengaruhinya, dan bukan pada pembabakan waktu pemakaian tes bahasa yang memiliki karakterisitik yang sama, maka  kajian tentang pelahiran pendekatan tes bahasa hingga tahap sekarang lebih memakai istilah perkembangan.
             Perkembangan pendekatan tes bahasa dimulai dengan pola pikir pra-ilmiah. Tes bahasa dalam periode ini hanya mendasarkan diri  pada intuisi, kesan dan subjektivitas guru, dan tidak mendasarkan diri pada bidang keilmuan  lain seperti psikologi dan linguistik. Pada perkembangan awal ini, tes bahasa yang dilakukan disebut  dengan  Pendekatan Tradisional.
Pada perkembangan berikutnya, pendekatan tes bahasa mulai  mendasarkan diri pada bidang-bidang keilmuan terkait seperti strukturalisme dalam linguistik,  audiolingualisme dalam pengajaran bahasa,   behaviorisme dan atau kognitivisme, serta psikometrik,  dalam bidang psikologi. Perkembangan pemikiran dalam bidang  linguistik dan psikologi ini di satu pihak, dan perkembangan pemikiran dalam model pengajaran bahasa di pihak lain, telah mendorong lahirnya  Pendekatan  Diskret dan Pendekatan Integratif dalam tes bahasa. Guru-guru bahasa di kelas mulai merancang tes, menyusun bentuk-bentuk tes, menyelenggarakan tes, dan mengukur hasil tes dengan menggunakan prinsip-prinsip baru yang ditemukan dan dikembangkan dalam linguistik, psikologi, dan pengajaran bahasa.
Yang terakhir, seiring dengan berkembangnya pemikiran dalam bidang psikolinguistik dan sosiolinguistik, serta pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa, maka pendulum dalam atmosfir penyelenggaraan tes bahasa mulai bergeser kembali. Tes bahasa  yang berkembang adalah tes bahasa dengan Pendekatan pragmatik dan Pendekatan komunikatif yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari pendekatan integratif. Dua pendekatan ini, untuk saat ini, dianggap sebagai pendekatan mutakhir dalam penyelenggaraan tes bahasa.




1.   Pendekatan Tradisional
            Pendekatan tradisional adalah istilah yang dipergunakan untuk mengacu pada penyelenggaraan (baca: perencanaan dan pelaksanaan) tes bahasa yang cenderung mengadopsi prinsip bahwa tes bahasa  dititikberatkan pada tes tatabahasa dan terjemahan.  Latar belakangnya  adalah adanya pengaruh mainstream pengajaran bahasa yang  dikenal dengan sebutan metode tatabahasa-terjemahan (grammar translation method). Metode ini, seperti yang dikemukakan oleh Richards dan Rogers (1988:3-4), memiliki prinsip-prinsip pengajaran antara lain: (a) mempelajari bahasa asing adalah mempelajari   bahasa dengan tujuan agar dapat membaca kesusasteraannya; (b) membaca dan menulis adalah fokus utama pengajaran, © ketepatan dalam penerjemahan sangat ditekankan, dan (d) tatabahasa harus diajarkan secara deduktif, yakni beranjak dari kaidah-kaidah lalu menuju pada contoh-contoh ilustrasinya.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, maka pendekatan  tes bahasa yang berkembang pada saat itu  mengisyaratkan pemakaian karya sastra. Karya sastra dalam hal ini dianggap merupakan pemakaian bahasa yang ideal dari penuturnya sehingga  evaluasi terhadap penguasaan bahasa seseorang dengan menggunakan tes bahasa dilakukan dengan menggunakan teks karya sastra. Kemudian bentuk tes bahasa yang dikembangkan adalah  penerjemahan dan atau penulisan esai. Dalam perkembangannya, tes bahasa dengan prinsip-prinsip, model, dan karakter seperti ini disebut pendekatan esai dan  terjemahan.
Selain terjemahan dan penulisan esai, pada tes bahasa model ini terdapat juga bentuk tes tatabahasa yang memuat pertanyaan-pertanyaan tentang bahasa dan bukan tentang penggunaan bahasa. Urgensi keberadaan tes tatabahasa ini di dalam pendekatan esai terjemahan adalah untuk menunjang kemampuan testi dalam keakuratannya penerjemahan teks karya sastra dan penulisan esai.
Pengembangan model tes bahasa yang disebut dengan pendekatan esai terjemahan itu, oleh Spolsky (1978;1981) dinamai Pendekatan Tradisional, oleh Masden (1983) disebut sedang berada dalam tahap intuitif, atau periode pra-ilmiah menurut Hinofotis (1981). Ada beberapa alasan yang diajukan berkaitan dengan penamaan “tradisional” dan bersifat “intuitif”, serta “pra-ilmiah”  itu. Pertama, pada perkembangan awal ini tes bahasa diselenggarakan tanpa berdasarkan pada teori linguistik dan psikologi tertentu. Tes bahasa hanya mengacu pada  model pengajaran tatabahasa terjemahan yang juga tidak memiliki dasar linguistik dan psikologi. Kedua,   tidak ada upaya dari para guru bahasa untuk memenuhi kriteria reliabilitas dan objektivitas suatu tes bahasa. Selain itu,  juga tidak digunakan metode-metode statistik parametrik untuk pengolahan hasil-hasil tesnya. Ketiga, pendekatan ini ditandai dengan model pemikiran yang intuitif, otoriter dan elitis (lihat juga van Els, dkk). Hal ini tampak dalam penilaian terhadap performansi testi yang hanya mengandalkan pada subjektivitas satu orang, yakni guru. Kebenaran penilaian terhadap performansi testi terletak sepenuhnya pada guru yang mengajar bahasa tersebut. Sebab asumsinya adalah siapa saja yang mengajar bahasa dianggap mampu menyelenggarakan tes bahasa, termasuk di dalamnya merancang dan  membuat  tes, melaksanakan tes,  dan menilai hasil tes.

2.  Pendekatan Diskret
Dalam pendekatan ini, istilah diskret oleh Savignon (1983) digunakan untuk menggambarkan dua  aspek yang berbeda dalam tes bahasa, yakni (1) isi atau tugas, dan (2) model jawaban dan penyekoran jawaban. Dari segi isi atau tugas, tes dengan pendekatan ini menyangkut satu aspek kebahasaan saja pada satu kesempatan pengetesan, misalnya aspek fonologi, morfologi, sintaksis, atau kosa-kata saja. Tiap satu butir soal hanya dimaksudkan untuk mengukur satu aspek kebahasaan saja.  Dari segi model jawaban, tes dengan pendekatan ini berupa penjodohan (matching), benar-salah (true-flase), pilihan ganda (multiple choiche), atau mengisi kotak kosong yang disediakan dengan jawaban yang sudah tersedia pada kolom lain. Dari segi penyekoran jawaban, model jawaban yang seperti itu sangat memudahkan guru atau korektor dalam memberikan penilaian. Penyekoran berdasarkan model jawaban seperti itu memiliki reliabilitas yang sangat tinggi. Dengan bantuan komputer misalnya, penyekoran jawaban hampir 100% tidak diragukan lagi keakuratannya. Cara-cara baru seperti ini dalam penyusunan dan pelaksanaan tes bahasa oleh Brown (1980) disebut menggunakan prosedur-prosedur ilmiah.
             Pendekatan diskret ini secara jelas mengadopsi prinsip-prinsip umum dalam  strukturalisme, behaviorisme, dan audiolingualisme. Dari strukturalisme, prinsip yang diambil adalah  (1) bahasa itu tuturan lisan dan bukan tulisan, dan  (2) bahasa itu merupakan suatu sistem. Pertama, prinsip bahwa bahasa itu tuturan lisan  telah menyadarkan para ahli tes bahasa bahwa tuturan lisan adalah bahasa yang pertama dan utama dari manusia. Karya sastra yang selama ini diagung-agungkan sebagai satu-satunya sumber pengetesan bahasa akhirnya disadari hanyalah rekonstruksi dari pemakaian bahasa yang sesungguhnya. Keyakinan baru akan prinsip ini kemudian membongkar kebiasaan lama pengetesan bahasa yang melulu hanya menggunakan karya sastra semata. Kedua, prinsip bahwa bahasa itu merupakan sistem menunjukkan bahwa bahasa dipandang memiliki sub-sub unit  yang saling berhubungan membentuk suatu struktur, mulai dari tingkat bunyi, kata, dan kalimat.  Dari prinsip ini diaplikasikan pengukuran kemampuan bahasa seseorang dapat dilakukan dengan mengukur pengetahuannya tentang bahasa melalui penguasaannya tentang aspek-aspek bahasa secara terpisah dan sendiri-sendiri.
Dari audiolingualisme dan behaviorisme, diperoleh prinsip bahwa belajar bahasa itu diasumsikan melalui penguasaan dengan pembiasaan terhadap elemen-elemen bahasa dan belajar kaidah-kaidah dengan mengkombinasikan elemen-elemen itu mulai dari fonem ke morfem, lalu ke kata, ke frasa, dan ke kalimat (Richards dan Rogers, 1988:51). Selain itu, karena deskripsi bahasa itu dimulai dari tingkat fonologi dan diakhiri pada tingkat kalimat, maka urutan ini juga dianggap sesuai dalam belajar-mengajar bahasa, dan terutama dalam tes bahasa. 
            Berdasarkan prinsip-prinsip strukturalisme dan audiolingualisme, serta ditambah dengan psikometrik, yakni penerapan matematika dan statistik untuk pengukuran, yang berkembang pesat pada tahun 1930’an, dan atas jasa dari Robert Lado yang mengaitkan ketiga bidang tersebut dalam tes bahasa Diskret, maka tes diskret mulai menggeser peran tes esai-terjemahan atau tes tradisional yang kurang lebih telah 100 tahun berjaya dalam dalam dunia tes bahasa di Eropa. Pada perkembangan ini, tes bahasa dengan Pendekatan Diskret mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan menyebarluasnya pengajaran bahasa Inggris di Amerika dengan Pendekatan Audiolingual, yang memakai dasar dan asumsi  dari  linguistik Struktural yang lebih dahulu berkembang di sana.
Tes diskret yang dikembangkan  ini memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan tes tradisional. Secara lebih rinci perbedaan-perbedaan karakteristik itu dapat dilihat dalam Tabel 2 berikut ini yang mencerminkan pergeseran pendulum tes dari tradisional ke tes diskret.
Tabel 2  Karakteristik Tes Tradisional dan Tes Diskret

Tes Tradisional
Tes Diskret
1.   bentuk tes esai-terjemahan
2.   bersifat subjektif
3.   bahan tes berupa karya sastra
tes tidak memperhatikan tingkat kesulitan, aspek validitas dan reliabilitas
4.   tes ini hanya memakai intuisi guru dalam penilaian
5.   tes ini disusun hanya berdasarkan minat dari guru dan tidak berdasarkan pendekatan tertentu dalam linguistik, psikologi, dan psikometrik

1.   bentuk tes jawaban pendek dan tes memilih
2.   bersifat objektif
3.   bahan tes berupa komponen-komponen bahasa dan berbahasa
4.   tes disusun dengan memperhatikan tingkat kesulitan, validitas dan reliabilitas
5.   tes ini memakai kriteria acuan penilaian yang jelas
6.   tes diskret disusun berdasarkan prinsip-prinsip dalam linguistik struktural, pendekatan audiolingual, psikologi behavioris dan psikometrik

Selain keenam ciri tes diskret yang langsung dapat dikontraskan dengan tes tradisional, beberapa kekhususan tes diskret dapat dijelaskan di sini, antara lain:   tes ini hanya  mengetes satu aspek kebahasaan pada satu waktu. Tiap satu butir soal hanya dimaksudkan untuk mengukur satu aspek kebahasaan, misalnya fonologi, morfologi, sintaksis, atau kosa kata. Hal ini didasari pandangan bahwa kompetensi bahasa testi dapat diukur dengan melihat tingkat penguasaannya terhadap masing-masing komponen itu secara “one point (of grammar) at a time” (lihat Oller, 1979:37).
Kedua, tes diskret menurut Oller (1979) ternyata tidak hanya menyangkut aspek kebahasaan saja, tetapi juga menyangkut aspek kemampuan berbahasa. Tes diskret dapat dilaksanakan untuk mengukur kemampuan berbahasa seperti berbicara, menyimak, membaca,  atau menulis secara terpisah-pisah. Itu berarti, dalam tes diskret kemampuan berbahasa yang diukur hanyalah satu kemampuan dalam satu waktu dan kemampuan yang lainnya diabaikan.
Berkaitan dengan hal itu, Oller (1979:175) menggambarkan ranah tes diskret tentang aspek-aspek kebahasaan yang dapat diujikan pada empat kemampuan berbahasa seperti yang terdapat dalam Tabel 3 berikut.
Tabel 3 Skema Representasi Analisis Komponen Bahasa Pada Kemampuan Berbahasa

                Input-Output MODE
Sensory-Motor
MODALITY


RECEPTIVE


PRODUCTIVE

AUDITORY/
ARTICULATORY

Listening
 

Phon-    Structure     Vocab-
ology                            ulary
Speaking
 


Phon-   Structure     Vocab-ology                            ulary


VISUAL/
MANUAL

Reading
 

 Graph-  Structure     Vocab-
  ology                        ulary
Writing
 

Graph-  Structure     Vocab-    ology                         ulary

Banyak bentuk tes diskret kebahasaan yang dapat dikembangkan berdasarkan Tabel 2 ini.    Pertama adalah tes bunyi bahasa. Tes bunyi bahasa dapat berupa: mengenal bunyi bahasa, membedakan bunyi bahasa, melafalkan bunyi bahasa, melafalkan kata-kata, melafalkan pasangan kata, melafalkan rangkaian kalimat, dan membaca teks.
Kedua adalah tes kosa kata. Tes ini bertujuan untuk mengungkapkan penguasaan kosa kata testi, baik secara pasif reseptif maupun aktif produktif.  Tes ini meliputi: menunjukkan benda berdasarkan kata yang disebutkan, memperagakan berdasarkan kata yang disebutkan, memberikan padanan kata, memberikan sinonim kata, memberikan lawan kata, dan melengkapi kalimat.
Ketiga adalah tes tatabahasa. Tes ini meliputi pembentukan kata, pembentukan frasa, dan pembentukan kalimat. Variasi bentuk tes ini antara lain (a) pada pembentukan kata: menunjukkan asal kata, membentuk kata turunan, menyesuaikan bentuk kata; (b) pada pembentukan frasa: menyusun kata-kata, melengkapi kata menjadi frasa, membentuk frasa, menjelaskan makna frasa; (c) pembentukan kalimat: mengenal kalimat, membentuk kalimat, menyusun kalimat, dan mengubah kalimat.
Banyaknya variasi jenis tes yang muncul dalam pendekatan diskret, sebagai alternatif terhadap tes esai-terjemahan, mulai membuka cakarawala pandang para ahli tes bahasa.  Banyak yang mendukung pendekatan baru ini, namun banyak pula yang mengkritiknya. Secara umum, dukungan terhadap tes diskret ini diarahkan pada kecocokannya untuk mengukur kompetensi linguistik dan keunggulannya dalam mendiagnosis kesulitan belajar bahasa, khususnya dalam tahap awal proses belajar bahasa (lihat Cornell, 1981). Dari segi para pengkritiknya, van Els dkk.  (1984:321) menyatakan ada banyak argumen yang dikemukakan untuk menolak tes diskret ini, antara lain:
(a)    kemampuan bahasa itu lebih daripada sekedar penjumlahan dari komponen-komponen bahasa yang terpisah;
(b)    tidak mungkin mengumpulkan suatu sampel yang representatif dari semua komponen-komponen bahasa;
(c)    tidak mungkin menilai atau menaksir sumbangan dari komponen-komponen bahasa secara individual pada kemampuan bahasa yang utuh;
(d)    sangat tidak bermakna mengisolasi komponen-komponen bahasa itu dari konteksnya masing-masing.

3.  Pendekatan Integratif
            Seiring dengan populernya Pendekatan Diskret, yang dikenal juga sebagai masa gerakan  ilmiah atau struktural-psikometrik dalam tes bahasa,  muncul suatu pendekatan baru dalam tes bahasa yang mengoreksi Pendekatan Diskret. Pendekatan baru tersebut oleh Carroll (1961) disebut  pendekatan integratif. Jika dalam pendekatan diskret, aspek-aspek kebahasaan dan kemampuan berbahasa itu diperlakukan secara terpisah, maka dalam pendekatan integratif aspek-aspek bahasa dan kemampuan berbahasa itu dicakup secara bersamaan. Dasar pemikiran yang diacu dalam penyusunan tes integratif adalah bahasa itu merupakan suatu integrasi dari bagian-bagian terkecil yang membentuk bagian-bagian yang lebih besar, dan pada akhirnya merupakan bentukan terbesar yang berupa bahasa.
            Menurut Oller (1979) jika dalam tes diskret hanya diujikan satu aspek kebahasaan saja pada satu waktu, maka dalam tes integratif berusaha diukur beberapa aspek kebahasaan secara bersamaan.  Prinsip ini sesuai dengan pandangan  psikologi Gestalt yang intinya “bahwa tingkah laku itu dipelajari sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan atau “gestalts” (lihat Richards, dkk, 1993).
Berdasarkan pandangan ini, maka tes integratif tidak secara khusus mengeteskan salah satu aspek kebahasaan seperti fonologi, morfologi, sintaksis, atau kosa kata, atau salah satu dari kemampuan berbahasa  seperti membaca, menulis, berbicara, atau menyimak, melainkan sebuah tes dalam satu waktu meliputi beberapa aspek kebahasaan dan kemampuan berbahasa sekaligus. Pada tes integratif, terdapat penggabungan  dari aspek-aspek  terkecil itu ke dalam satu butir tes. Penggabungan itu dapat terjadi antar bagian dalam kemampuan bahasa atau berbahasa, atau  bagian dalam kemampuan bahasa dengan bagian lain dalam kemampuan berbahasa.
Tes bahasa dengan pendekatan integratif melakukan pengukuran penguasaan kemampuan berbahasa atas dasar penguasaan testi terhadap gabungan antara beberapa komponen bahasa dan kemampuan berbahasa. Mengubah bentuk suatu kalimat menjadi bentuk kalimat yang lain, misalnya, tidak saja menuntut kemampuan testi tentang pengetahuan struktur kalimat, melainkan juga memerlukan penguasaan perubahan bentuk kata, dan bahkan makna kata yang merupakan bagian dari penguasaan kosa kata.
Dalam perkembangannya, pendekatan integratif mendapatkan kritikan yang cukup keras   berkaitan dengan  masih berkutatnya tes ini pada pengetesan kompetensi bahasa atau menurut Widdowson (1984:3) lebih  berorientasi pada usage dan bukan use. Di samping itu, pendekatan ini juga melupakan peran konteks dalam komunikasi yang senyatanya dan masih bersifat artifisial.

4.  Pendekatan Pragmatik
            Tes integratif yang berkembang sebagai reaksi terhadap pendekatan struktural psikometrik pada dasarnya hanyalah  pelibatan beberapa aspek kebahasaan atau ketrampilan berbahasa dalam tes yang diujikan pada saat yang bersamaan. Tes integratif yang demikian seringkali sulit dibedakan secara tegas dengan tes diskret, khususnya tes diskret yang melibatkan konteks kalimat. Selain itu, tes integratif yang dikembangkan pada periode itu masih terisolasi dari konteks komunikasi yang nyata dan masih berkutat pada pengetesan kompetensi bahasa. Pada perkembangan selanjutnya, ketika bidang psikolinguistik dan sosiolinguistik mulai menancapkan pengaruhnya, tes bahasa mengalami perkembangan yang cukup mendasar. Prinsip yang semula diyakini dalam pendekatan tes integratif bahwa “bahasa itu merupakan suatu integrasi dari bagian-bagian terkecil yang membentuk bagian-bagian yang lebih besar, dan pada akhirnya merupakan bentukan terbesar yang berupa bahasa” dipertajam lagi oleh temuan dalam psikolinguistik mengenai unitary competence, yakni kompetensi bahasa yang ada dalam diri seseorang tidak dapat dipisah-pisahkan atas kompetensi linguistik dan non-linguistik.
Implikasi dari teori unitary competence ini  kemudian  mengukuhkan pandangan bahwa bahasa itu merupakan suatu kesatuan padu, yang oleh Vollmer (1981) dan Vollmer (dalam  Hughes dan Porter (eds.), 1983) disebut sebagai one dimensional. Prinsip ini  tidaklah sama dengan penjumlahan keseluruhan komponen bahasa seperti yang dianut dalam tes integratif. Selain itu, juga tidak sesuai dengan prinsip tes diskret yang memperlakukan bahasa secara terpisah-pisah atas komponen-komponennya. Dalam hal ini ada “sesuatu” yang hilang yang merupakan sifat alami bahasa jika bahasa diperlakukan terpisah-pisah atau diskret atas komponen-komponennya, atau   bahasa diperlakukan sebagai kumpulan dari komponen-komponen yang terpisah atau integratif.
            Menurut Read (dalam Weir, 1990:4) kontribusi sosiolinguistik tampak dalam orientasi ke kompetensi komunikatif di dalam tes bahasa. Kompetensi komunikatif ini merupakan perluasan dari  kompetensi ala Chomsky yang hanya mengacu sebagai pengetahuan aturan-aturan pembentukan kalimat gramatikal. Kompetensi komunikatif ini dimaknai sebagai kompetensi untuk menggunakan kalimat-kalimat itu secara tepat dalam konteks-konteks yang berbeda.
Pengaruh sosiolinguistik dalam tes bahasa ini tampak dalam pemaknaan ciri integratif yang melekat pada tes integratif itu.  Carrol (1972) memaknai ciri integratif itu secara fungsional, yakni “focus on the total communicative effect”. Oller (1979), berkaitan dengan ciri integratif yang seperti itu, memperkenalkan istilah pragmatik untuk pendekatan terhadap tes bahasa yang mengukur seberapa baik testi mempergunakan elemen-elemen bahasa sesuai dengan konteks komunikasi yang nyata, termasuk semua kendala yang umumnya ada pada penggunaan bahasa sehari-hari. Menurut Djiwandono (1996:12) Pendekatan Pragmatik mengaitkan bahasa dengan penggunaan senyatanya, yang melibatkan tidak saja unsur-unsur kebahasaan seperti kata-kata, frasa, atau kalimat, melainkan unsur-unsur di luarnya juga, yang selalu terkait dalam setiap bentuk penggunaan bahasa.
Bentuk tes bahasa dengan pendekatan pragmatik yang ditawarkan oleh Oller (1979:39) adalah dikte dan tes cloze. Termasuk perkembangan terbaru dari dua tes itu, yakni tes graduated dictation atau dikte berjenjang dari Kaga (dalam Porter dan Upshur, 1991) dan tes C dari Klein-Braley dan Raatz (1984). Sesuai dengan pandangan yang dianut  terhadap bahasa,  keempat tes ini  dianggap memenuhi ciri-ciri pragmatik. Keempat tes itu selalu menggunakan wacana yang mengandung konteks, bukan semata-mata kalimat atau kata-kata lepas.
Namun dalam perkembangannya, pendekatan pragmatik dari Oller (1979) dengan tes dikte dan tes cloze, serta bentuk pengembangannya seperti tes C banyak mendapat kritikan dari ahli-ahli lain seperti Morrow dan Carroll (lihat Weir, 1990:6-10) dan Jafarpur (1995). Morrow menyatakan bahwa tes dikte dan tes cloze yang diusulkan Oller (1979) pada dasarnya masih menekankan pada kemampuan (kompetensi) kebahasaan daripada performansi aktual.  Dengan kata lain, dua tes itu pada dasarnya bergantung pada pengetahuan sistem bahasa daripada kemampuan untuk melakukan sistem itu dalam latar yang sebenarnya.
Sementara itu, Carroll sampai pada kesimpulan yang sama, yakni tes yang diusulkan Oller (1979) pada dasarnya masih bersandar pada usage. Tugas-tugas yang diberikan tidak menunjukkan komunikasi interaktif yang sesungguhnya dan performansi berbahasa testi yang sesungguhnya belum teruji. Tugas-tugas komunikasi yang ada masih bersifat artifisial, ada manipulasi, ada rekayasa, dan ada kontrol.
Berbeda dengan Morrow dan Carroll, Jafarpur (1995) melihat bahwa tes pragmatik seperti tes Cloze dan tes C ini kelihatan lebih sebagai teka-teki daripada  suatu tes kemampuan berbahasa. Lebih parah lagi, tes C lebih banyak dilihat sebagai tes mengeja dan hanya cocok untuk anak-anak.

5.   Pendekatan Komunikatif
Karena Pendekatan Pragmatik bagaimanapun juga masih  dipandang banyak memiliki kekurangan dan masih terjebak pada aspek usage dan bukan use dalam pengetesan bahasa, maka Savignon (1972; 1985);  Morrow (1981),   dan Carroll (1983) mengembangkan tes bahasa yang lebih komunikatif. Tes bahasa yang benar-benar komunikatif adalah tes bahasa yang mengukur performansi testi dalam komunikasi yang sesungguhnya yang di dalamnya tercermin kompetensi gramatikal, kompetensi  sosiolinguistik,  dan kompetensi strategik (lihat  Canale dan Swain, 1980). Menurut Brown (1996), Savignon adalah orang pertama yang menganjurkan tes yang seperti itu. Dia menganjurkan pengukuran kemampuan komunikasi testi dengan tes langsung (direct test) dalam empat konteks komunikatif yang berbeda-beda, yakni diskusi, mencari atau menggali informasi, melaporkan, dan deskripsi. Sementara itu Morrow (1981) mengajukan beberapa aspek yang harus ada dalam tes bahasa yang komunikatif, yakni  berdasarkan pada interaksi,  segi ketakteramalan data,  konteks situasi maupun konteks linguistik,   tujuan,   performansi,   keotentikan, dan   berdasar pada tingkah laku.
 Dalam Pendekatan Komunikatif ini, peranan konteks diperluas, yakni dengan memperhatikan unsur-unsur yang  mengambil bagian dalam terwujudnya suatu komunikasi yang baik. Oleh karena perlu dalam tes bahasa dengan pendekatan komunikatif perlu diadakan apa yang oleh Carroll (1983:19) disebut analisis kebutuhan komunikatif, yang terdiri atas: identifikasi partisipan, tujuan komunikasi, latar, pola interaksi, dialek, aktivitas-aktivitas kejadian, dan sebagainya.
Apa yang dikemukakan oleh Savignon (1972; 1985); Canale dan Swain (1980), Morrow (1981),  dan Carroll (1983) di atas dapat digunakan sebagai indikator penting untuk melihat seberapa komunikatifnya suatu tes bahasa itu. Dalam tes bahasa, penerapan pendekatan komunikatif menurut Djiwandono (1996) berdampak terhadap beberapa segi penyelenggaraannya, terutama jenis dan isi wacana yang digunakan, kemampuan berbahasa yang dijadikan sasaran, serta bentuk tugas, soal dan pertanyaannya. Semua itu harus harus ditentukan atas dasar ciri komunikatif, yakni hubungan dan kesesuaiannya dengan penggunaan bahasa dalam komunikasi senyatanya. Apabila dikonkretkan maka indikator-indikator tes bahasa yang komunikatif itu dapat dirumuskan  secara rinci seperti yang terdapat dalam Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4 Indikator Tes Komunikatif
No.
Indikator Tes Komunikatif
1.
2.
3.
4.

5.
6.
 Berdasarkan  performansi testi     
 Berdasarkan pada  interaksi 
 Bersifat langsung (Direct test)
 Dilakukan analisis kebutuhan komunikatif (partisipan, tujuan, latar atau
 konteks situasi, pola interaksi)
 Berdasarkan pada Keotentikan
 Berdasarkan pada Ketakteramalan data
Keenam indikator ini merupakan satu kesatuan yang melekat dalam tes bahasa komunikatif. Artinya adalah satu indikator mengisyaratkan terpenuhinya indikator lainnya sebagai prasyarat terlaksananya tes bahasa yang komunikatif. Berikut ini keenam indikator itu akan dibahas satu persatu.


a.      Berdasarkan Performansi Testi
            Dalam tes bahasa komunikatif yang diukur adalah kemampuan testi  yang konkret terlihat, terbaca, terdengar, dan terucapkan dalam interaksi berbahasa. Itu semua terungkap dalam penampilan testi ketika melakukan tugas-tugas berbahasa yang diisyaratkan. Apabila yang diukur itu adalah kemampuan produksi lisan, maka yang diobservasi oleh guru atau penilai adalah tuturan yang diucapkan dalam interaksi berbahasa itu dengan mempertimbangkan kompetensi gramatikal, kompetensi  sosiolinguistik,  dan kompetensi strategik yang tersirat di dalamnya.
b.   Berdasarkan pada  interaksi dengan bahasa
Tes bahasa komunikatif harus bertitik tolak dari adanya interaksi.  Rasionalnya adalah bahasa yang sedang digunakan terlihat di dalam interaksi antara dua partisipan atau lebih, baik partisipan itu berperan sebagai pembicara dan pendengar ataupun penulis dan pembaca. Bahkan dalam kasus seperti menulis surat, misalnya, penulis surat itu ketika mengungkapkan ide dan gagasan selalu mempertimbangkan faktor pembaca yang ditujunya. Semua ungkapan, gaya bahasa,  pilihan kata, dan struktur kalimat yang dibuatnya tidak terlepas dari pemahaman penulis tentang status sosial, keadaan diri, karakteristik, sifat-sifat maupun kebiasaan dari pembacanya. Interaksi dalam hal ini menjadi penting dalam tes bahasa komunikatif karena interaksi memfasilitasi keberadaan konteks dalam berbahasa. 
c.   Bersifat langsung (Direct test)
            Tes yang bersifat langsung adalah tes yang paling mendekati tugas-tugas komunikasi autentik seperti dalam pemakaian senyatanya. Apabila tujuan dari tes bahasa ini adalah untuk mengukur kemampuan berbicara maka  tes yang diberikan haruslah berupa tugas-tugas produktif berbicara dalam berbagai konteks seperti diskusi, mencari atau menggali informasi dalam interview, melaporkan, dan mendeskripsikan. Apabila tujuan dari tes bahasa ini adalah untuk mengukur kemampuan menulis maka tes yang diberikan haruslah berupa tugas-tugas produktif tulis dan bukannya tes struktur wacana dan struktur kalimat.

d.   Analisis kebutuhan komunikatif
           Tes bahasa dikatakan memenuhi sifat komunikatif  apabila dalam penyelenggaraannya  secara jelas dipersiapkan siapa dan sebagai apa partisipan yang terlibat di dalam komunikasi itu dan bagaimana status sosialnya. Kejelasan mengenai komponen partisipan ini akan menentukan pola interaksi yang terjadi. Selain komponen partisipan, komponen tujuan pembicaraan juga merupakan faktor kunci dalam tes komunikatif. Tujuan pembicaraan yang jelas antara dua partisipan akan menentukan apa saja yang mesti diungkapkan dan apa saja yang tidak boleh diungkapkan dalam interaksi itu, termasuk juga nada dan gaya komunikasinya. Berikutnya adalah latar atau konteks yang memfasilitasi terjadinya komunikasi tersebut. Morrow (dalam Alderson dan Hughes, 1981) menunjukkan bahwa konteks dapat dibagi menjadi dua, yakni (1) konteks situasi seperti lingkungan fisik, sikap dan tingkat keformalan; dan (2) konteks linguistik seperti kohesi tekstual.
e.  Keotentikan dan Kealamiahan
Ukuran keotentikan dan kealamiahan memang selalu dikembalikan ke dalam penggunaan bahasa senyatanya dalam  kehidupan sehari-hari. Ukuran-ukuran itu antara lain topik yang dibicarakan aktual, bahan yang digunakan, situasi yang melingkupi pembicaraan, ragam bahasa yang dipakai, partisipannya yang terlibat di dalamnya, dan media penyampainya. Dalam tes bahasa di kelas,  menciptakan pemakaian bahasa yang seratus persen otentik atau alamiah tidaklah mungkin karena pembelajaran di sekolah itu sendiri adalah suatu bentuk manipulasi. Bahasa yang sedang dipelajari di kelas adalah bahasa antara, yang penuh dengan penyederhanaan dalam kosa kata ataupun strukturnya. Demikian juga dengan bahasa yang digunakan oleh guru, atau teacher talk, selalu penuh dengan penyederhanaan di sana-sini.
Yang dapat dilakukan dalam tes bahasa komunikatif  adalah mengusahakan agar semakin banyak ukuran keotentikan itu muncul dalam bahan tes, tugas-tugas yang dilakukan testi, situasi pengetesan, partisipan yang terlibat dalam interaksi, ragam bahasa yang digunakan dalam tes, dan sebagainya. Apabila ukuran-ukuran ini dipenuhi, paling tidak dapat dikatakan bahwa kadar keotentikan dalam tes bahasa sangat tinggi, walaupun tidak mungkin mencapai keotentikan obsolut atau 100%.
Banyak tes bahasa yang dapat memiliki keotentikan tinggi asalkan tes-tes tersebut memanfaatkan prinsip-prinsip dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Misalnya, bahan-bahan tes yang digunakan adalah alami dan tidak dimanipulasi, seperti teks bacaan dari majalah dan surat kabar, rekaman tape atau video dari acara-acara yang ada di televisi dan radio. Tugas-tugas dalam tes yang diberikan mendekati pemakaian bahasa yang sesungguhnya, seperti tugas menulis surat  atau tugas berbicara dengan interview dan pidato dengan mempertimbangkan komponen-komponen sosiolinguistik seperti apa, siapa, mengapa, kapan, bagaimana, dan di mana.
f.   Ketakteramalan data
            Dalam tes bahasa komunikatif, satu indikator yang terkait dengan masalah keotentikan dan kealamiahan adalah ketakteramalan data. Data dalam pengertian ini adalah tuturan yang merupakan respon atau jawaban atas tuturan yang dihasilkan oleh salah satu partisipan dalam interaksi. Dalam tes bahasa yang komunikatif, respon atau jawaban dalam interaksi bersifat unpredictable atau tidak dapat diramalkan atau ditebak terlebih dahulu. Respon atau jawaban dapat A atau B atau C tergantung pada siapa yang mengatakan, dalam situasi apa, dan dengan cara bagaimana.

C.  PENUTUP
            Pendekatan tes bahasa sampai saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat dinamis. Kedinamisan itu tidak terlepas dari banyaknya dan cepatnya pengaruh bidang-bidang keilmuan terkait seperti linguistik, psikologi dan psikometrik, psikolinguistik, sosiolinguistik, dan pengajaran bahasa yang merambah ke dalam dunia tes bahasa. Ironisnya, di Indonesia, gaung perkembangan mutakhir dari pendekatan tes bahasa ini belum sepenuhnya sampai ke sekolah-sekolah umum kita. Masih banyak guru-guru bahasa (Indonesia)  tidak atau belum sepenuhnya mengerti pendekatan tes bahasa mutakhir, yang diisyaratkan dalam kurikulum bahasa Indonesia kita, yakni tes komunikatif. Hal yang lebih parah lagi adalah bentuk-bentuk tes bahasa yang dipajankan dalam berbagai buku teks bahasa (Indonesia) kebanyakan juga tidak mencerminkan pemakaian pendekatan tes bahasa yang komunikatif.

LATIHAN
Diskusikan beberapa pertanyaan berikut dan buatlah laporan hasil diskusi dalam bentuk paparan!
1.       Jelaskan perkembangan pendekatan tes bahasa serta tokoh-tokoh yang berperan!
2.       Jelaskan (a) karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan tradisional, (b) landasan filosofis pendekatan tradisional, (c) bentuk-bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan tradisional, dan (d) kelemahan dan keunggulan bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan tradisional!
3.       Jelaskan (a) karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan diskret, (b) landasan filosofis pendekatan diskret, (c) bentuk-bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan diskret, dan (d) kelemahan dan keunggulan bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan diskret!
4.       Jelaskan (a) karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan integratif, (b) landasan filosofis pendekatan integratif, (c) bentuk-bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan integratif, dan (d) kelemahan dan keunggulan bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan integratif!
5.       Jelaskan (a) karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan pragmatik, (b) landasan filosofis pendekatan pragmatik, (c) bentuk-bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan pragmatik, dan (d) kelemahan dan keunggulan bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan pragmatik!
6.       Jelaskan (a) karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif, (b) landasan filosofis pendekatan komunikatif, (c) bentuk-bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan komunikatif, dan (d) kelemahan dan keunggulan bentuk tes yang dikembangkan berdasarkan pendekatan komunikatif!

RANGKUMAN

Terdapat tiga sudut pandang yang digunakan sebagai dasar perkembangan tes bahasa, yakni (1) segi keilmiahan yang mendasari tes bahasa, (2) segi dominasi keilmuan yang mempengaruhi tes bahasa, dan (3) segi orientasi pandangan tentang hakikat bahasa. Tes bahasa dengan Pendekatan Tradisional mendasarkan diri  pada intuisi, kesan dan subjektivitas guru, dan tidak mendasarkan diri pada bidang keilmuan  lain seperti psikologi dan linguistik. Pendekatan  Diskret dan Pendekatan Integratif dalam tes bahasa mulai  mendasarkan diri pada bidang-bidang keilmuan terkait seperti strukturalisme dalam linguistik, audiolingualisme dalam pengajaran bahasa, behaviorisme dan atau kognitivisme, serta psikometrik,  dalam bidang psikologi. Tes bahasa dengan Pendekatan pragmatik dan Pendekatan komunikatif didasarkan pada berkembangnya pemikiran dalam bidang psikolinguistik dan sosiolinguistik,

EVALUASI
1.    Jelaskan perkembangan pendekatan tes bahasa!
2.    Jelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan tradisional!
3.    Jelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan diskret!
4.    Jelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan integratif!
5.    Jelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan pragmatik.
6.    Jelaskan karakteristik tes bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif.