Minggu, 08 April 2012

GEJALA PENGARUH DALAM SASTRA BANDINGAN


GEJALA PENGARUH DALAM SASTRA BANDINGAN

1.                 GEJALA PENGARUH
            Karya sastra kreatif tercipta tidak dalam kekosongan. Pasti ada yang merangsang sehingga sesuatu (karya) dihasilkan. Sesuatu yang kuasa merangsang seseorang berkarya disebut “Pengaruh”. Masalah pengaruh ini merupakan kajian dalam Sastra Bandingan.
            Tokoh-tokoh yang sering membicarakan dan mengkaji soal pengaruh itu antara lain “Baldenspager”, “Van Tieghem”, dan “Jean Marie Carre” ketiga tokoh itu dari mazhab Perancis dan bertolak dari premis Sastra Nasional membandingkan dan mencari soal pengaruh antara karya-karya sastra Perancis dengan karya-karya sastra Jerman atau karya-karya Inggris.
            Puncak kajian awal ialah kajian sastra dua buah Negara: persoalannya: siapa mempengaruhi siapa yang sering menjadi permasalahan ialah hubungan tema, sikap dan teknik antara pengarang yang satu dengan pengarang lain, atau antara dua kumpulan karya yang berlainan etnik. Hal yang selalu mengelirukan ialah masalah selalu mengaitkan biografi pengarang dengan karyanya. Hal ini terjadi karena biasanya pada awal kepengarangannya, seorang pengarang mewujudkan karyanya bercorak biografi.
            Pendekatan biografik dan mengaitkan dengan karyanya, ini dilakukan oleh Jeane-Marie Carre. Kemudian dikaji pula soal-soal yang nyata (“Rapport de fait”) yang terdapat dalam karya ini yang dianggap termasuk dalam pembicaraan mengenai pengaruh. Hal ini dilakukan dengan pandangan inter-literature saja, bukan intra literature yang mencari-cari persamaan dan perbedaan pada satu lingkungan sastra nasional, misalnya membandingkan novel “Perang” karya Putu Wijaya dengan seluruh novel sastra Indonesia.
            Kritikus Amerika menolak pendekatan ini. Mereka tidak setuju bila yang dikaji hanyalah soal emperik atau rapport de fait saja; karya sastra adalah seni maka masalah estetik atau keindahan karya juga perlu mendapat perhatian yang seimbang. Seni sastra bukanlah bersifat dokumentasi juga tidak hanya berwujud lahir saja. Sejarah sastra haruslah diutamakan untuk melihat kajian pengaruh yang dikaji:

Emperik + Estetik + Sejarah Sastra                                   Pengaruh dalam Karya Kreatif.

            Untuk menikmati estetika atau keindahan karya, kritikus harus membaca teks asal, dan berbahasa dalam karya perlu mendapat kajian utama karena bahasa merupakan bidang terpenting dalam karya sastra. Sejarah sastra dan kritik sastra haruslah dilakukan bersama dalam menilai karya sastra. Bila keduanya dipisahkan, tentulah penialaian karya sastra itu tidak tepat. Konsep “rapport de fait” dari Carre ini juga ditentang oleh Wellek dan Harry Lavin.
            Dari Mazhab baru yang menentang konsep Carre yang lain adalah Claudio Guillen. Menurut Guillen, pengaruh adalah satu proses “By Which Work are created, hence located in the mind of the writer rather than in is work”.
Guillen juga menolak soal emperik semata-mata, dan menegaskan pentingnya unsur pada pengarang itu sendiri.
            Mengenai pengaruh, Guillen mempunyai pengetahuan dan pandangan yang lebih luas. Pandangannya juga lebih membina dengan meletakkan pengaruh pada tahap hubungan antar beberapa buah karya sastra yang pernah tersiar. Hubungan antarkarya sastra itu dapat dilihat oleh pembaca, bukan pengarang, lazimnya tidak tahu atau tidak sadar bahwa karya sastra mempunyai persamaan dengan karya sastra pengarang lain. Pengarang juga takut dicap sebagai penitu (plagiator) karya pengarang lain. Kemungkinan terwujudnya pengetahuan seorang pengarang tentang karya yang lebih awal juga tidak dapat diduga secara menyeluruh. Masalah hubungan dan kita yang berbentuk pengaruh biasanya dibesar-besarkan oleh kritikus. Hal ini akan menimbulkan hubungan yang kurang menyenangkan antara pengarang dengan kritikus.
            Guillen menekankan bahwa konsep itu hanyalah “literary relationship” (hubungan sastera), bukan pengaruh. Hal ini disetujui pula oleh Ilhab Hasan (mazhab baru). Gullen dan Ilhab Hasan tidak meletakkan kajian pengarang sebagai kegiatan penting dalam disiplin sastra bandingan. Susungguhnya hal ini juga penting demi mendukung sarana atau penemuan misalnya pengarang A telah terpengaruh karya X yang dihasilkan lebih awal.
            Konsep ini berlawanan dengan konsep yang dikemukakan oleh Haskel Block : kajian pengaruh adalah sesuatu yang sangat penting dalam disiplin sastra bandingan. Pengaruh dapat dikonsepkan kepada beberapa bagian penting, sebagai:
(a)    Sebagian daripada seni atau penciptaan seni; masalah menggunakan yang silam sebagai inspirasi.
(b)    Faktor hubungan antara pengarang dengan pengarang.
(c)    Sesuatu wujud yang tidak sengaja, mungkin hanya sama
(d)   Sumber terus terhadap proses penciptaan.
(e)    Sesuatu yang menjurus kepada “rapports interious” bukan sesuatu yang mudah dilihat dengan mata kasar; dan “rappots interiouus” ini menimbulkan interaksi astetik dalam karya sastra yang dikaji.

2.     PROSES GEJALA PENGARUH
            Haskel Block melihat pengaruh sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pengarang, yaitu pada proses penciptaan yang dilakukannya. Hal ini merupakan pandangan yang positif. Block juga tidak setuju dengan penggunaan perkataan “tradisi” karena konotasinya menyesatkan. Masalah pengaruh memerlukan seorang pengkaji yang mempunyai pengetahuan secara yang luas., di dalam dan di luar premis sastra nasionalnya; aspek pengaruh sebaiknya dikaji sebagai satu penerangan terhadap proses penciptaan suatu karya. Soal wujudnya banyak persamaan dan sedikit perbedaan pada karya-karya yang dibandingkan, tidaklah harus dihukum tanpa bukti yang cukup, pada suatu simpulan yang negatif serta merugikan kajian itu sendiri.
            Henry Peyre dan Block menyarankan agar konsep pengaruh tersebut banyak diamalkan oleh pengkaji. Adapun prasyarat pengkajian pengaruh itu antara lain :
(a)     pengaruh haruslah memberi ruang wawasan kepada kedua pribadi yang menjadi bahan kajian.
(b)    Pengkaji mestilah membina imaginasi dan sensivitas membaca yang tinggi dan baik.
(c)     Pengkaji mestilah membina konsepsi sejarah kesusasteraan, dan hubungan antara sejarah sastra dengan kritik sastra.
(d)    Pengunaan aspek pengaruh pada batas yang lebih tepat.
(e)     Pengaruh merupakan bagian instrinsik pengalaman mengarang dan ilmu sastra seseorang: pengaruh amat tinggi nilainya pada seorang pengarang, dan amat sukar dipisahkan kala (pengaruh) itu telah mendarah daging pada diri pengarang itu.

            Prasyarat terakhir menunjukkan bahwa pendapat Block sesuai dengan pendapat Wellek dan Levin tentang pentingnya pengaruh bagi seorang pengarang. Seorang pengarang terutama pemula, sangat perlu membaca, menimba ilmu pengetahuan, pengalaman dan bahan-bahan estetik dari pengarang-pengarang lain yang sudah ‘mapan’, disegani dan diminatinya. Pengarang pemula juga mudah dipengaruhi oleh bahan-bahan bacaannya: masalah tema, gaya mengaran, teknik penulisa, sedikit banyak menjadi ikutan pengarang pada hasil karyanya setelah membaca karya pengarang lain yang sangat diminatinya.
            Seorang pengkaji yang akan melaksanakan kajiannya tentang pengaruh terhadap sebuah karya sastra haruslah memiliki kecakapan dan pengetahuan yang luas dalam bidang sastra, serta dengan membandingkan pengetahuan yang baru didapat dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Proses:
            Apabila seorang pengarang melihat atau mengalami sesuatu yang baru dan menarik, dia (pengarang) mungkin terpengaruh. Pengaruh tersebut mungkin menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang mempengaruhinya, bahkan mungkin berbeda sama sekali; biasanya memiliki ciri-ciri persamaan pada ruang dan masa tertentu. Guillen berpendapat bahwa “art limates directly nature, and only indirectly art”.
            Masalah peniruan ini apabila tidak dilakukan sepenuhnya, telah menjadi pengaruh. Seorang pengarang dapat dipengaruhi oleh seorang pengarang, atau oleh sekumpulan pengarang yang lain (satu angkatan). Begitulah seharusnya proses pengaruh berlaku, dari titik mula bergerak kearah satu titik akhir pada garis yang sama : melalui dua tahap penting, yaitu transmisi dan reorganisasi.
            Seorang pengarang mendapat sumber penulisan apabila mendapat sesuatu yang baru dan menarik. Sumber ini perlu dikaji, mula-mula disusun melalui tranmisi dan reorganisasi. Hasil terakhir, setelah digabung dengan permainan symbol dan bahasa, terjemahlah sebuah karya baru dengan cita rasa serta nilai yang baru pula.
            Sebagai contoh kita lihat pada Genre (bentuk) puisi. Apabila seorang penyair menggunakan segala kekuatan tanggapan, cita rasa, pengalaman dan pengetahuan untuk mencipta sebuah karya sastra. Sumbernya mungkin dari alam, dari musik yang didengar, dari perang yang disaksikan, dari kelaparan anak-anak di Negara miskin, atau dari buku bacaan mengagumkan dan mengharukan, dan mengolah kembali wawasan-wawasan dalam dirinya itu menjadi suatu kenyataa: menjadi bait-bait puisi. Bentuk puisi tetap sama, dengan baris-baris kalimat, symbol, imagi, dan alat bhasa yang disusun sehingga berwujud struktur dengan nilai estetiknya sehingga tergolong Genre puisi.
            Yang berbeda hanyalah isi, tema, dan permasalahan. Dalam proses pengolahan puisinya ini (transmisi dan reorganisasi), penyair melakukan perubahan, tambahan, dan pengurangan dll dari sumber asalnya dengan wawasan dan kebenaran sendiri hingga sampai titik B. maka terciptalah sebuah puisi. Penilaian terhadap puisi ini, soal pengaruh yang terdapat di dalamnya, akan ditemui nanti oleh kritikus ketika melaksanakan kajiannya atau membacanya.
            Menurut Guillen, pengaruh hanya terjadi pada diri (pengetahuan) pengarang. Sesungguhnya pengaruh dapat terjadi pada diri pengarang dan pada “rapports de fait” (kenyataan), pada bahan tercetak itu (intrinsik karya sastra itu sendiri). Dalam proses transmisi pengaruh dapat mengakibatkan timbulnya tiga bentuk kelemahan, yaitu:
(a)     ia memberi implikasi bahwa pengaruh merupakan suatu hubungan hakiki antara sumber dan karya.
(b)    Pengaruh juga memberi implikasi terlalu mendekatkan dua buah karya (karya sumber dan karya yang kemudian) sedangkan hal sebenarnya tidak selalu terjadi.
(c)     Pengaruh sering keliru dengan persamaan teks (textual semiarities) yang dapat menjurus kepada tuduhan plagiatarisme.
            Menghadapi masalah pengarh dalam kajian sastra bandingan sesungguhnya melakukan kerja membandingkan bahan bacaan : antara yang sedang dihadapi dengan semua bacaan yang telah silam. Seorang pengkaji pengaruh haruslah orang yang memiliki ingatan yang kuat. Pengkaji pengaruh harus memiliki pengetahuan dan kesusastraan yang luas; memiliki pandangan yang lias, metodologi; yang baik dan rasional.
            Pengaruh patut dikaji, karena kajian ini menghubungkan dua buah karya sastra dengan perantara bahasa. Kajian itu mungkin dilakukan secara kesejajaran (parallels) tanpa disadari oleh pengarang, bila kita menggunakan kaidah linguistik Fendinand de Saussure, mencari dimensi sinkronik atau diakronik. Pengalaman membacalah yang menjadi asas paling utama untuk kajian pengaruh baik.
            Seorang pengkaji pengaruh juga harus mengetahui bahwa selain teks yang berbentuk penerbitan (buku), media lain seperti radio, TV, musik bahan seni yang lain juga dapat mempengaruhi seorang pengarang pada waktu proses penciptaan berlangsung.
            Untuk menentukan wujud pengaruh harus mempunyai alasan dan bukti-bukti yang cukup kuat dan bersifat ilmiah, sebelum diketengahkan. Masalah pengaruh dan keberhasilan karya sastra sepatutnya tidak dicampuradukan dalam pengkajian ini.
  







DAFTAR PUSTAKA

Baribin, Raminah. 2003. Sastra Bandingan. Paparan kuliah. Semarang: UNNES PRESS