Kamis, 22 Maret 2012

Laporan Hasil Wawancara Mata Kuliah Perpustakaan Sekolah


Laporan Hasil Wawancara




Oleh:
ü Nur Hamid                            2101405074
ü Daryat                                   2101405551
ü Yoga Mustafa                       2101407099
ü Annisa Citra Sparina           2101408034
ü Ainun Nusroh                      2101408053
Rombel          : 1



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011


Sistem Layanan Perpustakaan


Perpustakaan merupakan pintu gerbang pengetahuan, menyediakan kebutuhan dasar bagi pembelajaran sepanjang hayat, serta pengembangan kebebasan dan budaya, baik bagi individu maupun kelompok.
Perpustakaan dapat diartikan sebagai suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang menghimpun, mengelola bahan-bahan pustaka, baik itu berupa buku-buku maupun berupa bukan berupa buku yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh pemakainya. Sedangkan perpustakaan sekolah adalah suatu perpustakaan yang ada di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah.
Sistem layanan perpustakaan, biasanya ditentukan oleh banyak hal yang menyangkut jumlah pustakawan, jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan, jumlah pemakai yang dilayani, jenis layanan, macam layanan yang tersedia, dan. besar kecilnya gedung perpustakaan. Sistem layanan di perpustakaan ada dua macam, yaitu:

1.        Perpustakaan dengan Sistem Layanan Terbuka (Open Acces)
Dalam sistem layanan terbuka (open acces), para pengguna perpustakaan bebas mencari sendiri informasi yang terekam dalam suatu dokumen berupa buku atau non buku (book material atau pun non book material).
Sistem terbuka membebaskan pengunjung ke tempat koleksi perpustakaan dijajarkan. Mereka dapat melakukan browsing, melihat-lihat buku, dan mengambil sendiri buku yang diinginkan. Biasanya diterapkan pada perpustakaan-perpustakaan yang memiliki volume koleksi yang besar, dengan tenaga layanan yang jumlahnya sedikit.

Dalam perpustakaan dengan sistem terbuka mempunyai keuntungan di antaranya:
·      Pengguna perpustakaan akan leluasa memilah-milah sendiri buku
·      Tenaga yang dibutuhkan tidak banyak.
Selain itu, perpustakaan dengan sistem terbuka juga mempunyai kelemahan, antara lain:
·      Pemakai banyak yang salah mengembalikan koleksi pada tempat semula
sehingga koleksi tercampur aduk
·      Petugas setiap hari harus mengontrol rak-rak untuk mengetahui buku
yang salah letak
·      Kehilangan koleksi relatif besar.


2.        Perpustakaan Layanan Tertutup (Close Acces)
Dalam sistem layanan tertutup (close acces), para pengguna perpustakaan tidak bisa mengambil sendiri buku yang diperlukan. Untuk mengetahui macam, jenis, subyek koleksi perpustakaan, pengguna harus terlebih dahulu melihat pada katalog yang berkaitan dengan topik atau pokok bahasan yang harus selalu melayani, mengambil dan mengembalikan buku sehingga banyak memakan waktu. Pengunjung tidak diperkenankan masuk rak-rak buku untuk membaca ataupun mengambil sendiri koleksi perpustakaan.
Kalau petugas layanan jumlahnya memadai, sistem ini menguntungkan perpustakaan, namun bilaman tenaganya terbatas, maka sistem ini akan melelahkan bagi petugas perpustakaan.
Seperti perpustakaan dengan sistem terbuka, perpustakaan dengan system tertutup juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan perpustakaan sistem tertutup:
·       Koleksi akan tetap terjaga kerapiannya
·       Koleksi yang hilang dapat diminimalkan

Sedangkan kelemahan sistem tertutup:
·      Banyak waktu yang diperlukan untuk memberikan pelayanan
·      Banyak waktu yang diperlukan untuk mengisi formulir dan menunggu bagi yang mengembalikan bahan-bahan pustaka
·      Pemakai tidak dapat browsing.





Teks Wawancara


Sejak kapan Mak Rinda menjadi petugas Kombat?
Sejak tahun 2006

Sejak kapan Kombat menjadi perpustakaan dengan sistem tertutup?
Lebih jelasnya sejak kapan, saya kurang tahu. Namun sebelum saya di sini, Kombat sudah menjadi perpustakaan dengan sistem tertutup.

Menurut Mbak Rinda, apa kelebihan perpustakaan dengan sistem tertutup?
Buku lebih rapi, tertata, sesuai dengan tempat semula, mengurangi resiko buku hilang.

Lalu, apa kekurangan perpustakaan dengan sistem tertutup?
Kekurangannya ya paling hanya capek ngambil-ngambilin.

Bagaimana dengan perpustakaan sistem terbuka, apa kelebihan dan kekurangannya?
Kalau perpustakaan sistem terbuka petugas tidak perlu repot-repot mencarikan buku yang diinginkan pengunjung. Pengunjung perpustakaan dapat dengan leluasa memilih buku yang mereka inginkan, atau mungkin menemukan buku judul alternatif dari buku yang mereka perlukan. Namun perpustakaan sistem terbuka harus ada pengamanan dan pengawasan yang lebih ketat dibanding dengan perpustakaan sistem tertutup karena lebih berpotensi terjadi kecurangan yang dilakukan oleh pengunjung perpustakaan.

Selama Mbak Rinda menjadi petugas Kombat, apakah pernah mengubah sistem layanan perpustakaan?
Ada beberapa yang saya ubah, namun saya tidak mengubahnya secara total. Pada awalnya semua koleksi pustaka, meliputi skripsi dan buku teks saya buat sistem tertutup total, jadi pengunjung tidak boleh memilih sendiri buku ataupun skripsi yang mereka inginkan. Pengunjung hanya diperbolehan memilih koleksi pustaka yang mereka inginkan dari katalog. Lama-kelamaan saya merasa kewalahan dengan sistem seperti ini, karena kekurangan tenaga petugas perpustakaan. Lalu khusus untuk koleksi skripsi, saya putuskan untuk memberlakukan sistem terbuka. Jadi bisa dikatakan bahwa Kombat merupakan perpustakaan dengan sistem semi tertutup.

Selain perubahan sistem seperti itu, ada perubahan atau perkembangan lain tidak, Mbak?
Bagi saya tidak ada perubahan atau pun perkembangan yang signifikan, yang ada hanya pertambahan koleksi pustaka tiap tahunnya. Penambahan koleksi tersebut berasal dari sumbangan mahasiswa, anggaran jurusan, dan beberapa dari uang denda.

Apakah tidak ada perubahan pengelolaan menggunakan sistem komputer?
Beberapa tahun yang lalul memang pernah menggunakan sistem komputer, namun terkendala oleh jaringan listrik yang kurang stabil, selain itu juga terkendali jaringan internet yang menghubungkan perpustakaan jurusan dengan perpustakaan Unnes pusat. Sering terjadi listrik padam ketika jaringan listrik kurang tersebut tidak stabil. Hal ini menyebabkan sistem pelayanan dan pengelolaan terkendala. Selain itu jika terjadi kerusakan pada jaringan internet maupun sistem komputer, tidak bisa memperbaiki sendiri, jadi harus mendatangkan teknisi dari perpustakaan Unnes pusat. Namun terkadang tidak ditangani secara cepat, sang teknisi sering kali datang satu minggu atau bahkan lebih dari waktu pengaduan. Jadi daripada menghambat jalannya pelayanan dan pengelolaaan, Kombat meninggalkan sistem komputer, dan kembali menggunakan sistem manual saja.



Apa suka dan duka Mbak Rinda menjadi petugas Kombat?
Sukanya, bisa membaca buku-buku secara gratis dan bisa bercengrama dengan mahasiswa-mahasiswa, bisa juga menambah wawasan dan mengembangkan diri.
Dukanya, mahasiswa sulit diatur, tidak menaati peraturan, jika diperingatkan tidak begitu mengindahkan, misalnya, mahasiswa sulit sekali diarahkan untuk menggunakan rak sepatu dan tas yang telah disediakan. Kebanyakan mahasiswa membiarkan sepatunya berserakan di depan pintu, membawa tas masuk ke ruangan, tidak menjaga ketenangan dan keheningan perpustakaan, makan dan minum di dalam ruangan perpustakaan, dan banya lagi tingkah polah mahasiswa yang membuat emosi. Ya begitulah mahasiswa, ngeyelan....hha....
Selain ulah mahasiswa tadi, dukanya yaitu kekurangan tenaga perpustakaan. Saya merasa keberatan jika harus mengelola, melayani, dan mengawasi perpustakaan seorang diri. Akibatnya, sering kehilangan koleksi pustaka karena pengawasan yang kurang terhadap pengunjung yang datang ke Kombat.

Kenapa tidak minta tambahan petugas perpustakaan lagi, Mbak?
Prosedur menjadi petugas perpustakaan disini lumayan susah, harus secara terpadu melalui perpustakaan Unnes pusat. Dulu ketika Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia masih diketuai oleh Bapak Wagiran, pernah ada beberapa mahasiswa yang ditugaskan untuk membantu saya. Namun kebijakan tersebut menemui beberapa kendala, diantaranya mahasiswa tersebut tidak bisa siaga di Kombat karena terbentur oleh jadwal kuliah selain itu juga mahasiswa tersebut tidak hapal koleksi-koleksi pustaka yang dimiliki oleh Kombat.

Apakah pernah mendapat teguran atau keluhan, Mbak?
Sekretaris Jurusan pada saat itu Ibu Prapti pernah menegur saya ketika saya laporan kepada beliau bahwa ada beberapa skripsi yang hilang, ada pula beberapa skripsi yang hanya tertinggal sampulnya saja, sedangkan isinya sudah hilang. Pada saat itu saya dimarahi kenapa bisa kehilangan banyak skripsi. Kan yang ngambil mahasiswa, kenapa saya yang kena marah. Kalau dari mahasiswa rata-rata mengeluh tentang keterbatasan koleksi pustaka. Memang saya akui koleksi di Kombat  masih jauh dari cukup jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan pustaka mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, apalagi kurikulum kedua jurusan tersebut hampir sama, jadi kebutuhan pustaka antara mahasiswa kedua jurusan tersebut relatif sama pada waktu yang bersamaan pula.

Apa harapan Mbak Rinda untuk Kombat?
Harapan saya sederhana saja, yaitu perpustakaan fakultas segera terealisasi. Ada wacana bahwa perpustakaan di masing-masing jurusan yang terdapat di Fakltas Bahasa dan Seni akan digabung menjadi satu. Namun sampai sekarang keberadaan perpustakaan tersebut belum terealisasikan.


Profil Narasumber

Nama               : Arinda Rachmawati
TTL                 : Surakarta, 1 September 1984
Alamat                        : Jalan Melati III/ Nomor 3, Wijaya Kusuma 1, Demak
Profesi             : Pustakawan
Unit Kerja       : Komunitas Batja (Kombat)
                          Referensi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Masa bakti       : 5 tahun