Selasa, 21 Februari 2012

Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan di Sekolah Bilingual


Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan
di Sekolah Bilingual
Oleh: Annisa Citra Sparina


Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Itulah bunyi Sumpah Pemuda yang ketiga. Momentum 28 Oktober, sebagai hari Sumpah Pemuda, senantiasa mengingatkan kepada kita akan pentingnya bahasa Indonesia. Coba bayangkan kalau tidak ada bahasa Indonesia, komunikasi antara orang Jawa dengan orang Sunda saja yang masih satu pulau akan terhambat, apalagi jika sudah melampaui batas pulau. Melalui bahasa Indonesia ratusan etnis di kepulauan nusantara dipersatukan.
Seperti halnya para pemuda jaman dahulu yang terus bergerak untuk menuju kemerdekaan  bangsa Indonesia, pemuda Indonesia sekarang pun harus tetap bergerak menjaga kemerdekaan, salah satunya dengan berbahasa Indonesia dengan baik. Keinginan untuk melestarikan bahasa tentunya merupakan niat yang mulia dan patut didukung. Hanya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana hal tersebut sebaiknya harus diwujudkan. Lalu bagaimana pula kita menjunjung tinggi bahasa Indonesia di sekolah bilingual?
Ada hal menarik yang terjadi belakangan ini.  Banyak sekolah di Indonesia berusaha mengubah dirinya menjadi sekolah bilingual yang cenderung lebih mengutamakan kemahiran berbahasa Inggris. Sehari-hari para siswa diharuskan memakai bahasa Inggris padahal belum tentu bahasa Indonesia yang mereka gunakan sudah baik, sopan dan sesuai dengan aturannya. Bahasa pengantar yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar didominasi oleh bahasa Inggris. Di sisi lain bahasa Indonesia sangat diminati warga asing. Saat ini ada 45 negara yang ada mengajarkan bahasa Indonesia, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya.
Sekolah bilingual merupakan sekolah yang saat ini cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Para orang tua berlomba-lomba memasukkan anak mereka di sekolah bilingual dengan alasan bahwa sekolah bilingual lebih bermutu atau hanya sekadar alasan prestige. Begitu pula anak-anak mereka, rajin mengikuti bimbingan belajar untuk dapat diterima di sekolah bilingual, yang bisa dibilang sebagai sekolah unggulan.
Mengapa bahasa Inggris begitu gencar digalakkan di Indonesia? Hal ini tentu saja karena tantangan pengaruh globalisasi. Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa internasional, jika kita tidak menguasainya kita akan kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat dunia atau internasional.
Sebagai contoh, siswa yang mengikuti lomba tingkat internasional tidak bisa banyak berkata menjawab soal. Bukan karena mereka tak kompeten dalam bidangnya, namun karena penguasaan bahasa Inggris yang minim. Tentu saja kondisi ini amat disayangkan.
Kondisi seperti ini tentunya jangan sampai terjadi lagi. Seperti halnya bahasa Indonesia yang mempersatukan ratusan etnis di kepulauan nusantara, begitu pula bahasa Inggris yang mempersatukan ratusan negara di dunia. Dunia sudah masuk ke lingkungan pergaulan global. Jadi tidak ada salahnya bangsa Indonesia menggalakkan pemakaian bahasa Inggris, karena menutup diri berarti menghalangi kemajuan bangsa kita sendiri.
Lalu bila kita belajar dan menggalakkan pemakaian bahasa Inggris, apakah kita jadi tidak mencintai bahasa Indonesia?
Berkenaan dengan hal itu, yang terpenting adalah bahwa bila kita ingin melestarikan bahasa Indonesia kita harus ‘memampukan’ pengguna bahasanya. Jangan sampai upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia justru ‘mengerdilkan’ pengguna bahasa itu sendiri. Bahasa tidak akan berkembang tanpa dukungan dari pengguna bahasa itu, dan sebaliknya pengguna bahasa itu juga takkan dapat berbuat banyak bila mereka ada dalam keadaan terpinggirkan.