Selasa, 21 Februari 2012

MAKNA, SEMANTIK, DAN SEMIOTIK


a.    Makna
1.   Makna adalah konsep abstrak pengalaman manusia, tetapi bukanlah pengalaman orang per orang. (Semantik, I Dewa Putu Wijaya, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1999)
2.   Makna adalah  ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik yang disebut dasar atau morfem afiks. (Ferdinand De Sausure, 1989:287).
3.   Aspek makna menurut Palmer (1976) dapat dipertimbangkan dari fungsi, dan dapat dibedakan atas
a.       sense ‘pengertian’
b.      feeling ‘perasaan’
c.       tone ‘nada’
d.      intension ‘tujuan’
(Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna, Prof. Dr. T. Fatimah Djajasudarma, 1993: 2)
4.   Dalam buku “The Meaning of Meaning”, Ogden dan Richards, telah memperbincangkan meaning / makna dengan panjang lebar.
Batasan-batasan makna, makna adalah:
a)     Suatu sifat intrinsik.
b)     Suatu hubungan khas yang tidak teranalisis dengan hal-hal/ benda-benda lain.
c)      Kata-kata lain yang digabungkan dengan sebuah kata dalam kamus.
d)     Konotasi suatu kata.
e)     Suatu esensi, intisari pokok.
f)       Suatu kegiatan yang diproyeksikan ke dalam suatu objek.
g)     -Suatu peristiwa yang diharapkan
- Suatu kemauan
h)     Tempat atau wadah sesuatu dalam suatu sistem.
i)       Konsekuensi-konsekuensi praktis suatu hal atau benda dalam pengalaman masa depan kita.
j)       Konsekuensi-konsekuensi teoritis yang terlibat atau terkandung dalam suatu pernyataan.
k)     Emosi yang ditimbulkan oleh sesuatu.
l)       Yang secara aktual berhubungan dengan suatu tanda oleh suatu hubungan tertentu.
m)   - Efek-efek yang membantu terhadap sesuatu perangsang asosiasi-asosiasi yang diinginkan.
- Beberapa kajian terhadap mana efek-efek yang membantu ingatan pantas  dan cocok.
- Terhadap maka suatu tanda diinterprestasikan sebagai cikal bakalnya.
- Segala sesuatu yang disarankan oleh sesuatu dalam hal lambang-lambang.
- Segala sesuatu yang secara aktual merupakan tempat mengacu sang pemakai lambang.
n)     Wadah, tempat pemakai suatu lambang harus mengacukan diri. Wadah, tempat pemakai sesuatu lambang meyakini dirinya diacukan
o)     Wadah, tempat penafsir suatu lambang
1.   Mengacu
2.   Meyakini dirinya diacukan
3.   Meyakini pemakai diacukan
(Ogden & Richards, 1956:186-187)
5.   Makna sering diartikan sebagai pertautan yang ada di antara unsure-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). Makna menurut Palmer (976: 204) hanya menyangkut intrabahasa. Sejalan dengan pendapat tersebut, Lyons (1977:204) menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dengan kata-kata lain.

b.    Semantik
1.    Semantik berasal dari bahasa Yunani mengandung makna to signify atau memaknai. Sebagai istilah teknis semantik mengandung pengertian studi tentang makna. (Aminuddin [1988 : 15])
2.    Semantik adalah cabang linguistik yang membahas  arti atau makna. Contoh jelas dari perian atau “deskripsi” semantis adalah leksikografi: masing-masing leksem diberi perian artinya atau maknanya: perian semantis. (Asas-Asas Linguistik Umum, J. M. W. Verhar bab ii halaman 13)
3.   Kata semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti ‘menandai’ atau ‘melambangkan’. (Chaer 1990:2 dan Djajasudarma 1993:1)
4.    Semantik adalah ‘pengertian’ atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. (Linguistik Umum, Drs. Abdul Chaer bab vii halaman 287)
5.   Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan studi dalam linguistic yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. (Chaer 1990:2 dan Lyons 1995:3)

c.     Semiotika
1.   Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. “Ilmu ini menganggap bahwa kejadian sosial di masyarakat dan kebudayaannya merupakan tanda-tanda”. (Preminger, 2001:89)
2.   Semiotika menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).
3.   Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri. (Piliang, 1998:262).