Jumat, 17 Februari 2012

Kau Boleh Mencekikku di Akhirat Nanti


Maaf, siapapun kamu,
maaf, aku tidak bermaksud merebut kekasihmu,
akupun perempuan, pasti bisa merasakan.
Aku tak tahu harus apa,
maafkan aku yang tidak sanggup melawan rasa ini.

Maafkan aku!
Maafkan aku menyayangi yang tak seharusnya ku sayangi,
mencintai yang tak semestinya ku cintai,
maafkan aku mengambil kebahagiaanmu.
Entah sepenuhnya ini salahku,
salahnya,
ataukah takdir yang musti disalahkan.

Aku bersimpuh disertai linangan air mata.
Tanda penyesalan atas sebuah keegoisan.
Maafkan aku, yang telah merebut kekasihmu.
Aku memang bangsat,
kau boleh mencekikku di akhirat nanti.

Sekali lagi aku minta maaf.
Kau berhak untuk tidak memaafkan aku.