Minggu, 08 April 2012

Kritik Sastra


A.    PENGERTIAN KRITIK SASTRA           
            Istilah ”kritik” (sastra) berasal dari bahasa Yunani yaitu krites yang berarti ”hakim”. Krites sendiri berasal dari krinein ”menghakimi”; kriterion yang berarti ”dasar penghakiman” dan kritikos berarti ”hakim kasustraan”. Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni.
   Menurut Graham Hough (1966: 3) bahwa kritik sastra itu bukan hanya terbatas pada penyuntingan dan penetapan teks, interpretasi , dan pertimbangan nilai, melainkan kritik sastra meliputi masalah yang lebih luas tentang apakah kesusastraan itu, untuk apa, dan bagaimana hubungannya dengan masalah-masalah kemanusiaan yang lain.
Abrams dalam Pengkajian sastra (2005: 57) mendeskripsikan bahwa kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.
   Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Studi sastra (ilmu sastra) mencakup tiga bidang, yakni: teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan saling mengait. Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra.
B.     FUNGSI KRITIK SASTRA
Menurut Pradopo fungsi utama kritik sastra dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:
1.      Untuk perkembangan ilmu sastra sendiri. Kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Hal ini tersirat dalam ungkapan Rene wellek “karya sastra itu tidak dapat dianalisis, digolong-golongkan, dan dinilai tanpa dukungan prinsip-prinsip kritik sastra.”.
2.      Untuk perkembangan kesusastraan, maksudnya adalah kritik sastra membantu perkembangan kesusastraan suatu bangsa dengan menjelaskan karya sastra mengenai baik buruknya karya sastra dan menunjukkan daerah-daerah jangkauan persoalan karya sastra.
3.      Sebagai penerangan masyarakat pada umumnya yang menginginkan penjelasan tentang karya sastra, kritik sastra menguraikan (mengsnalisis, menginterpretasi, dan menilai) karya sastra agar masyarakat umum dapat mengambil manfaat kritik sastra ini bagi pemahaman dan apresiasinya terhadap karya sastra (Pradopo, 2009: 93).

Berdasarkan uraian di atas dapat digolongkan kembali fungsi kritik satra menjadi dua:
1.      Fungsi kritik sastra untuk pembaca:
a.       Membantu memahami karya sastra
b.      Menunjukkan keindahan yang terdapat dalam karya sastra,
c.       Menunjukkan parameter atau ukuran dalam menilai suatu karya sastra,
d.      Menunjukkan nilai-nilai yang dapat dipetik dari sebuah karya sastra.
  1. Fungsi kritik sastra untuk pengarang:
a.       Mengetahui kekurangan atau kelemahan karyanya,
b.      Mengetahui kelebihan karyanya,
c.       Mengetahui masalah-msalah yang mungkin dijadikan tema karangannya.

C.    MANFAAT KRITIK SASTRA
Manfaat dari kritik sastra dapat diuraikan menjadi:
  1. Manfaat kritik sastra bagi penulis:
a.       Memperluas wawasan penulis baik yang berkaitan dengan soal bahasa, objek atau tema-tema karangan, maupun teknik bersastra.
b.      Menumbuhsuburkan motivasi untuk mengarang.
c.       Meningkatkan kualitas karangan.
  1. Manfaat kritik sastra bagi pembaca:
a.       Menjembatani kesenjangan antara pembacakepada karya sastra.
b.      Menumbuhkan kecintaan pembaca kepada karya sastra.
c.       Meningkatkan kemanpuan mengapresiasi karya sastra.
d.      Membuka mata hati dan pikirtan pembaca akan nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra.
  1. Manfaat kritik sastra bagi perkembangan sastra:
a.       Mendorong laju perkembangan sastra baik kualitatif maupun kuantitatif.
b.      Memperluas cakrawala atau permasalaha yang ada dalam karya sastra.

D.    Jenis-jenis pendekatan kritik sastra
Berdasarkan pendekatannya terhadap karya sastra. Menurut Abrahams (1981: 36-37) membagi kritik sastra dalam empat tipe, yakni kritik mimetik (mimetic criticism), kritik pragmatik (pragmatic criticism), kritik ekspresif (ekspresive criticism) dan kritik objektif (objective criticism).

1) Kritik mimetik
Menurut Abrams, kritikus pada jenis ini memandang karya sastra sebagai tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan pencerminan/penggambaran dunia kehidupan. Sehingga kriteria yang digunakan kritikus sejauh mana karya sastra mampu menggambarkan objek yang sebenarnya. Semakin jelas karya sastra menggambarkan realita semakin baguslah karya sastra itu.
Kritik jenis ini jelas dipengaruhi oleh paham Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan.
Di Indonesia, kritik jenis ini banyak digunakan pada Angk. 45. Contoh lain misalnya:
  1. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik, Jakob Sumardjo
  2. Novel Indonesia Populer, Jakob Sumardjo

2) Kritik pragmatik
Kritikus jenis ini memandang karya sastra terutama sebagai alat untuk mencapai tujuan (mendapatkan sesuatu yang daharapkan). Sementara tujuan karya sastra pada umumnya: edukatif, estetis, atau politis. Dengan kata lain, kritik ini cenderung menilai karya sastra atas keberhasilannya mencapai tujuan.
Ada yang berpendapat, bahwa kritik jenis ini lebih bergantung pada pembacanya (reseptif). Kritik jenis ini berkembang pada Angkatan Balai Pustaka. STA pernah menulis kritik jenis ini yang dibukukan dengan judul Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan.
3) Kritik ekspresif
Kritik ekspresif menitikberatkan pada pengarang. Kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus cenderung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan pengelihatan mata batin pengarang/keadaan pikirannya.
Pendekatan ini sering mencari fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang sadar/tidak, telah membuka dirinya dalam karyanya. Umumnya, sastrawan romantik jaman BP/PB menggunakan orientasi ekspresif ini dalam teori-teori kritikannya. Di Indonesia, contoh kritik sastra jenis ini antara lain:
  1. Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arif Budiman
  2. Di Balik Sejumlah Nama, Linus Suryadi
  3. Sosok Pribadi Dalam Sajak, Subagio Sastro Wardoyo
  4. WS Rendra dan Imajinasinya, Anton J. Lake
  5. Cerita Pendek Indonesia: Sebuah Pembicaraan, Korrie Layun Rampan

4) Kritik objektif
Kritikus jenis ini memandang karya sastra sebagai sesuatu yang mandiri, bebas terhadap sekitarnya, bebas dari penyair, pembaca, dan dunia sekitarnya. Karya sastra merupakan sebuah keseluruhan yang mencakupi dirinya, tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalinan erat secara batiniah dan mengehndaki pertimbangan dan analitis dengan kriteria-kriteria intrinsik berdasarkan keberadaan (kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling berhubungan antarunsur-unsur pembentuknya)
Jadi, unsur intrinsik (objektif)) tidak hanya terbatas pada alur, tema, tokoh, dsb; tetapi juga mencakup kompleksitas, koherensi, kesinambungan, integritas, dsb.
Pendekatan kritik sastra jenis ini menitikberatkan pada karya-karya itu sendiri.
Kritik jenis ini mulai berkembang sejak tahun 20-an dan melahirkan teori-teori:
  1.  New Critics (Kritikus Baru di AS)
  2. Kritikus formalis di Eropa
  3. Para strukturalis Perancis
Di Indonesia, kritik jenis ini dikembangkan oleh kelompok aliran Rawamangun.
1.      Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia, Boen S. Oemaryati
2.      Novel Baru Iwan Simatupang, Dami N. Toda
3.      Pengarang-pengarang Wanita Indonesia, Th. Rahayu Prihatmi
4.      PerkembanganNovel-Novel di Indonesia, Umar Yunus
5.      Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern, Umar Yunus
6.      Tergantung Pada Kata, Teeuw