Jumat, 17 Februari 2012

Sedangkan Aku Seorang Perempuan?

      Malam itu, meski capek karena kegiatan seharian, tapi badan terasa segar karena habis mandi. Aku tidur mengenakan daster dan selimut lebar. Saat membaringkan tubuh di kasur, terasa enak dan rileks sekali segenap urat dan nadiku. Meski pikiranku sempat berkeliaran, namun akhirnya aku tertidur juga. Bermimpi dicumbu dan dipeluk oleh Julia. Dan memang, dalam tidur nyenyak itu, aku dikagetkan oleh sebuah sosok yang tiba-tiba sudah berbaring di sampingku, mendempek tubuhku atas ranjang yang sempit itu. Ah, Julia, mau apa dia. Masih bingung dan tak berani menolak, aku diamkan saja.
      Kurasakan dengus nafasnya yang tidak teratur, mendengu-dengus menerpa pipiku. Hangat rasanya. Lengannya memeluk erat tubuhku. Aku berdiam dan pura-pura tibur. Sedikit gemetaran dan sungkan, membuat aku tak berani berbuat apapun, meski sekedar menyingkirkan lengannya yang mendekapku. Pelan namun pasti, kurasakan pipinya semakin mendekat ke pipiku...dan akhirnya, cup, sebuah kecupan lembut kurasakan hangat dan basah. Bibirnya terus menempel di pipiku, dan aku tetap mendiamkannya. Sampai di sini, meski dadaku berdetak cepat, rasa ngantuk kembali menyerang, dan pelan-pelan aku kembali tertidur dalam dekapan Julia. Entah apa yang dilakukan Julia terhadap tubuhku di ranjang sempit itu saat aku mulai tertidur. Tiba-tiba saja aku merasa tenang dan damai dalam tidurku. Terasa dilindungi dan diayomi, terlebih dekapan itu terasa kian hangat dan menentramkan.
      Bengongku tersentak oleh kecupan Julia di bibirku. Agak lama, sambil dia memelukku. Sampai akhirnya, aku bisa tertidur juga lama setelah itu. Dalam tidurku, aku bermimpi bertemu Julia entah di dunia mana. Dia mencium bibirku. Dia memelukku. Tiba-tiba, aku terjaga, mendapatkan Julia telah benar-benar memelukku di ranjang atas yang sempit. Dan selanjutnya kami saling memberi dan menerima. Tak ada kata rasa risih dengan cinta sejenis ini, karena cinta selalu bicara keindahan.
      Ach, rasanya tak pantas jika kuceritakan “malam pertamaku” itu bersama Julia. Yang jelas, orang masih saja menghakimi aku sebagai abnormal. Dunia diciptakan untuk lelaki dan perempuan, begitu salah satu komentar. Maksudnya jelas, orang seperti aku tidak diperuntukkan bagi dunia ini. Lalu, di mana tempat yang layak bagiku? Apakah orang seperti aku benar-benar tak boleh ada di dunia ini?
      Aku tak terlalu dungu untuk sebuah renungan. Aku telah merenung bertahun-tahun. Memikirkan dan mempertimbangkan, apakah jalan hidupku ini benar adanya. Nyatanya aku juga pernah pacaran sama cowok. Aku masih sendiri, kesepian, dan mencoba menegakkan kaki. Aku terus melanjutkan hidupku, dengan sederet cita-cita. Tentu, cita-cita yang sama seperti orang lain yang menganggap dirinya normal. Ingin bekerja, ingin hidup mapan, ingin dihargai. Tapi, aku tak mau dinilai murahan. Aku tetap menjaga prestasi akademik. Masih melibatkan diri di beberapa organisasi. Sayang, teman-teman cewek di organisasiku belum satu orang pun yang kukira sama arah jalannya denganku.